Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Terbongkar


__ADS_3

Syifa pun tertabrak badan mobil itu kemudian terpental ke belakang dan jatuh pingsan saat kepalanya membentur aspal.


Pengemudi mobil itu kemudian turun dari mobil dan mengecek keadaan orang yang tertabrak oleh mobilnya. Pengemudi mobil itu nampak kaget karena melihat gadis yang ditabraknya ternyata tak sadarkan diri dan terdapat luka di kepalanya.


Ia lalu meminta bantuan warga sekitar yang juga menyaksikan peristiwa itu untuk menaikkannya ke dalam mobilnya agar bisa segera dibawa ke rumah sakit.


Melihat Syifa tertabrak Anthony segera bersembunyi. Ia tidak ingin disalahkan akan hal itu. Ia lantas kembali ke rumah dan mengemasi barang-barang yang berharga milik Rosita yang bisa ia bawa. Kemudian mengambil kunci mobil untuk di bawanya pergi. Sudah cukup baginya untuk berpura-pura menjadi suami yang baik.


Sementara nenek Sofia yang tadi sempat mendengar kegaduhan yang terjadi di rumahnya, antara Syifa dan Anthony membuatnya sangat khawatir dengan keadaan Syifa.


Namun, ia tak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa dengan kondisinya yang lumpuh. Ia hanya bisa menangis meratapi cucunya yang entah bagaimana keadaannya sekarang.


......................


Sesampainya di UGD di rumah sakit Syifa segera ditangani oleh dokter. laki-laki paruh baya yang tadi mengemudikan mobil bersama dengan salah seorang saksi menunggu di luar ruang tindakan.


Setelah lima belas menit berlangsung, akhirnya dokter yang menangani Syifa keluar.


"Wali dari korban kecelakaan!" seru dokter yang menangani Syifa.


"Saya, Dokter!" ujar laki-laki tadi mendekat ke arah dokter berada.


"Begini, Pak. Nona tadi hanya pingsan karena luka benturan yang terjadi di kepalanya. Namun, lukanya tidak terlalu serius. Saat ini dia hanya mengalami shock pasca terjadi benturan. Kami memberinya obat agar dia bisa beristirahat. Untuk sementara waktu biarkan dia tidur!" ujar dokter.


"Baik, terima kasih dokter!" ujar si pengemudi.


Laki-laki itu kemudian menunggu di kursi tunggu depan UGD. Ia kemudian menelepon seseorang.


"Iya, halo. Aku baru saja terkena musibah. Saat ini aku lagi di rumah sakit untuk mengantar korban yang tadi tertabrak oleh mobilku untuk berobat. Tapi kamu tidak usah khawatir karena aku baik-baik saja. Kondisi orang yang tertabrak pun tidak terlalu buruk. Hanya saja ia perlu dirawat untuk sementara waktu, mungkin aku akan terlambat pulang malam ini!" ujarnya.


"Iya, kamu juga baik-baik di rumah ya!" ujarnya kemudian memutus teleponnya.


Beberapa saat ia hanya menunggu Syifa bangun dari tidurnya sembari mengecek email yang masuk melalui handphonenya. Sementara saksi mata memilih untuk pulang karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Hingga pada akhirnya Syifa mulai mengerjapkan mata, saat ia mulai terbangun dari tidurnya. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu dengan bingung. Ia masih belum mengingat apa yang terjadi pada dirinya hingga bisa berada di rumah sakit.


"Anda, siapa?" tanya Syifa.

__ADS_1


"Saya pengemudi mobil yang tadi bertabrakan denganmu. Apa yang kau rasakan? sebelah mana yang masih sakit?" tanyanya perhatian.


"Bertabrakan!" pekik Syifa.


Syifa kemudian mengingat-ingat kembali apa yang terjadi padanya baru-baru ini. kemudian serangkaian peristiwa pun bermunculan di kepalanya. Ia bisa kembali mengingat apa yang terjadi padanya tadi sebelum ia roboh karena menabrak mobil.


"Benar. Kamu tidak mengingatnya?" tanyanya.


"Saya baru ingat, Tuan. Maaf itu salah saya. Terima kasih telah membawa saya kemari!" ujar Syifa.


"Sama-sama. Oh ya, siapa namamu? Aku tidak tahu identitasmu karena kamu tidak membawa apapun. Warga di sekitar pun tidak mengetahui siapa kamu," ujarnya.


Syifa pun memakluminya sebab ia merupakan orang baru di tempat tinggalnya sekarang. Jadi sangatlah wajar jika warga sekitar tidak ada yang mengenalinya. Apalagi Syifa jarang keluar rumah.


"Asyifa, panggil saja Syifa. Saya memang baru beberapa hari tinggal di sana," ujar Syifa.


"Oh, pantas saja. Tadi itu kamu hendak ke mana?" tanyanya heran, sebab gadis yang ditabraknya itu tadi berlari sampai tidak memperhatikan jalan.


"Saya tadi tengah dikejar seseorang," ujar Syifa.


"Dikejar? memangnya apa yang terjadi?" tanyanya.


"Maaf, saya tidak bisa memberitahukannya kepada anda!" ucapnya enggan untuk menceritakan dengan detail peristiwa yang terjadi padanya.


"Baiklah. Oh ya, kamu belum makan siang kan? Ini makanannya kamu makan dulu. Nanti jika kamu sudah merasa lebih baik dan siap untuk pulang saya akan mengantar pulang ke rumahmu. Ini kartu nama saya, jika ada sesuatu yang terjadi pasca tabrakan ini kamu bisa hubungi saya di nomor itu untuk mendapatkan pertanggungjawaban," ujarnya.


Syifa mengangguk mengiyakan. Ia hendak bergerak mengambil kotak makan yang sudah disiapkan dari rumah sakit. Namun, saat bergerak kepalanya terasa sakit.


"Aww ...!" pekiknya sembari memegangi kepalanya.


"Apa sangat sakit? apa perlu dilakukan pengecekan lebih lanjut lagi?" tanyanya.


Syifa menggeleng. "Hanya sedikit terasa ngilu dan terasa pusing!" tutur Syifa.


Laki-laki itu lalu mengambilkan kotak makan itu dan menyerahkannya kepada Syifa.


"Makanlah aku akan menyelesaikan administrasi rumah sakitnya terlebih dahulu!"

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan!" ujar Syifa.


"Iya, sama-sama," ujarnya kemudian bangkit berdiri meninggalkan Syifa di ruangan itu.


Tak berapa lama laki-laki itu pun kembali. Dan, Syifa sudah menyelesaikan makannya.


"Bagaimana? apa masih mau di sini atau mau saya antar pulang?" ujar laki-laki itu.


Syifa merasa canggung menerima kebaikan laki-laki itu. Namun, ia bisa merasakan bahwa bapak-bapak itu terlihat tulus saat menolongnya.


"Apa tidak merepotkan Anda Tuan? bagaimana kalau keluarga anda mencari Anda?" tanya Syifa.


"Kamu tenang saja, saya sudah memberi kabar kepada istri saya. Saya merasa harus bertanggung jawab untuk mengantarmu dengan selamat pulang ke rumahmu!"


"Oh ya, jangan-jangan keluargamu sedang khawatir mencarimu. Silakan jika mau memberitahu keluargamu, pakai saja handphoneku!" ujarnya seraya mengulurkan handphone ke hadapan Syifa.


"Tidak perlu Tuan, saya tidak ingin Mama saya cemas mengetahui keadaan saya. mendingan saya langsung pulang ke rumah aja. Nenek saya pasti sudah menunggu!" ujar Syifa saat teringat bagaimana keadaan neneknya sepeninggalnya tadi.


"Baiklah mari saya antar!" ujarnya.


......................


Sementara Rosita yang baru saja pulang dari bekerja sangat terkejut saat melihat kondisi rumah yang sedikit berantakan dan nampak sepi. Dia bahkan tidak menemukan keberadaan Syifa dan juga suaminya.


Ia pun bergegas menuju kamar mamanya. Betapa terkejutnya dia saat melihat mamanya tidur menelungkup di bawah lantai.


"Mama ..., Mama ...!" serunya seraya berjongkok dan mengguncang pelan bahu mamanya. Namun, tidak ada respon sama sekali dari mamanya.


"Mama, sebenarnya apa yang terjadi di rumah ini?" seru Rosita dengan shok karena mamanya tidak sadarkan diri.


Rosita pun merasa ada yang tidak beres yang terjadi di rumah ini selama ia tidak berada di rumah. Ia menumpahkan air matanya melihat keadaan mamanya yang tidak baik-baik saja. Dengan susah payah ia kembali membaringkan mamanya di atas tempat tidur seorang diri.


Setelah itu ia menelepon dokter langganannya yang biasa ia panggil untuk memeriksa keadaan mamanya.


Saat hendak membuatkan minum untuk mamanya, ia terkejut melihat dapur yang sangat berantakan. Ia kemudian kembali mengecek kamarnya dengan lebih teliti. Dan, akhirnya ia menyadari bahwa perhiasannya yang berada di almari telah raib. Kunci mobilnya pun tidak ada di tempat biasa ia menyimpan. Ia segera berlari ke garasi rumahnya dan benar saja ia tidak mendapati mobilnya.


"Brengzekk kau Anthony! apa yang telah kamu lakukan?!" umpatnya dengan geram. "Aku tidak akan membiarkanmu hidup jika kau dibalik semua ini! Akan ku kejar kau sampai dapat dan tidak akan aku ampuni!" Rosita meluapkan emosinya.

__ADS_1


...______Ney-nna______ ...


__ADS_2