
Sepeninggal Syifa dan Sofia, Rosa kemudian duduk di salah satu kursi yang berada di teras sebelum memulai obrolan dengan Edward.
Edward nampak diam seraya memperhatikan pergerakan Rosa dengan ekspresi tak terbaca. Entah apa gerangan yang membuat Rosa kali ini berniat untuk mengobrol dengannya. Sebab, biasanya Rosa tidak pernah tertarik untuk mengobrol dengannya. Usai pulang dari kerja Rosa selalu masuk ke dalam rumah dan tak pernah terlihat keluar lagi. Seringnya Edward hanya ditemani oleh Syifa dan Sofia.
"Kak, terima kasih atas semua yang kamu lakukan untuk Syifa. Aku tidak akan bisa menggantinya," tutur Rosa memulai percakapan.
"Itu adalah kewajibanku, Ros. Itu sudah semestinya aku lakukan sebagai bentuk tanggungjawab ku kepadanya. Aku ingin Syifa bahagia, meski semua yang kulakukan ini tidak sebanding dengan perjuangan mu membesarkannya seorang diri selama ini," papar Edward.
Rosa mengangguk seraya menyunggingkan senyumannya.
"Kak, apa Kakak sudah berkeluarga?" tanya Rosa dengan hati-hati.
Edward terdiam mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Rosa untuknya. Ia tak segera menjawab pertanyaan itu justru ia nampak tengah berpikir seraya menunduk.
Rosa menoleh ke arah Edward sembari menantikan jawaban darinya. Melihat Edward tak kunjung menjawab Rosa mulai bisa menebak jawabannya sendiri dai raut wajahnya yang nampak meragu.
"Tolong katakan yang sejujurnya, Kak!" desak Rosa.
__ADS_1
"Em... ya, aku memang sudah berkeluarga, Ros," jawab Edward dengan lirih.
"Istri Kakak belum tahu tentang Syifa?" tebak Rosa.
"Aku belum mengatakannya, tapi aku pasti akan mengatakannya jika waktunya sudah tepat," jawab Edward meyakinkan.
"Aku harap kamu berterus terang pada keluargamu, Kak. Aku tidak mau nantinya hal itu akan menjadi masalah buat Syifa dan juga untuk keluarga Kakak sendiri. Sebab, takutnya terjadi kesalahan pahaman dan akan ada pihak yang tersakiti, " tutur Rosa.
"Ia, Ros. Aku pasti akan mengatakannya cepat atau lambat, " ujar Edward.
"Ya, baiklah. Aku akan memastikan semua baik-baik saja. Jangan khawatirkan hal itu, Ros. Oh ya, apa kau tidak kesulitan bekerja menjadi ART? aku bisa mencarikanmu pekerjaan yang lebih baik, Ros, " tanya Edward.
"Aku rasa aku sudah mulai nyaman dengan pekerjaan ku, Kak. Majikanku juga sangat baik. Aku rasa untuk saat ini aku ingin tetap bertahan saja. Belum tentu juga aku cocok ditempat lain kan?" tutur Rosa.
"Ya sudah kalau begitu. Oh ya, Ros aku berniat untuk membeliksn Syifa sepeda motor. Syifa bisa menggunakannya untuk pergi kuliah daripada kesulitan mencari kendaraan umum, " ujar Edward.
"Apa itu tidak berlebihan, Kak? Kakak sudah keluar banyak sekali uang untuk biaya kuliah Syifa. Aku tidak ingin nantinya merepotkan Kakak terus-menerus! " tukas Rosa.
__ADS_1
"Tentu tidak. Syifa akan sangat membutuhkannya nanti, " tukas Edward.
"Baiklah terima kasih. Sebaiknya kakak segera pulang, sebentar lagi petang, " tutur Rosa.
Edward mengangguk mengiyakan, sebab ini memang sudah menjelang maghrib. Ia lalu berpamitan pada Rosa dan juga pada Syifa. Setelah itu ia bergegas pulang ke rumahnya.
......................
Sesampainya di rumahnya, Edward langsung di sambut oleh pelukan hangat putra putrinya.
"Papi...!" teriak si bungsu dan langsung mendatangi Edward. "Papi, ayo makan ice cream bersama!"
"Baiklah, Boy! Tapi ijinkan Papi mandi dulu ya?" ujar nya seraya mengusap pucuk kepala putranya yang masih balita itu.
"Papi, aku ingin liburan!" seru si sulung yang terlihat berpaling dari layar televisi yang tengah ditonton nya.
..._______Ney-nna______...
__ADS_1