
Di sela-sela mengemasi baju-bajunya Syifa meneteskan air matanya. Ia merasa berat jika harus meninggalkan rumah yang sedari lahir ia tinggali. Terlalu banyak kenangan indah bersama mamanya dan juga nenek Fatimah yang ia lalui di rumah ini. Meskipun hanya sederhana, namun di rumah ini ia tumbuh dan dibesarkan.
"Syifa, ambil saja beberapa barang yang penting dan tinggalkan yang lainnya. kita tidak mungkin membawa semuanya. Cukup bawa beberapa set pakaian untuk ganti dan barang-barang yang berharga, namun yang kecil-kecil saja!" ujar Rosa. Ia berusaha tegar dihadapan Syifa meskipun di dalam hatinya serasa hancur juga.
Bagaimana pun hal ini cukup berat baginya. Terlebih jika memikirkan bagaimana ia dapat bertahan hidup kedepannya nanti. Ia hanya memiliki sedikit uang simpanan yang hanya cukup untuk bertahan hidup selama beberapa bulan saja. Itu pun dengan hidup yang sangat sederhana.
Kedepannya ia pun tidak tahu harus kerja apa agar dapat menghasilkan uang untuk bertahan hidup. Sebab, ia tidak bisa berjualan kembali karena kios pun harus ia serahkan kepada keponakan nenek Fatimah yang serakah itu.
Hal ini mengingatkan dirinya pada masa lalunya. Terpaksa harus meninggalkan tempat ternyaman dan dipaksa meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun selain tubuhnya dan beberapa pakaian saja.
Rasanya sangat menyesakkan dada dan menguras emosi. Ingin marah namun kepada siapa. Semuanya terasa percuma saja. Sekarang ia tidak tahu harus bagaimana kedepannya dan hendak ke mana.
"Ma, apa benar-benar tidak bisa mempertahankan rumah ini?" tanya Syifa.
__ADS_1
Rosa menggeleng dengan pasti. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain selain pergi dari rumah ini.
......................
Keesokannya keponakan nenek Fatimah benar-benar datang pagi-pagi sekali untuk menagih janjinya. Melihat ia datang Syifa dan juga Rosa bergegas keluar rumah seraya menenteng tas besarnya.
"Assalamualaikum," ucap Ali memasuki pekarangan rumah.
"Waalaikumussalam," jawab Syifa dan mamanya lirih.
"Sudah saya katakan, itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan menukar diriku dengan apa pun yang Anda tawarkan Tuan. Lebih baik aku pergi sekarang karena tidak ada gunanya juga berbicara dengan Anda lagi!" ujar Rosa dengan tegas.
Rosa menyerahkan surat-surat rumah dan juga dokumen yang yang berhubungan dengan sertifikat kios yang disimpannya dulu. Kemudian, ia beranjak pergi dengan Syifa.
__ADS_1
"Ayo, Syifa kita pergi sekarang!" ujarnya.
"Hey, ente yakin tidak ingin singgah dulu. Ane akan mengijinkan kalian menginap di sini sebelum menemukan tempat tinggal," seru Ali berusaha menahan mereka. Ia merasa kesal karena kehilangan dua bidadari itu.
Syifa berbalik sebentar intuk memandang rumah itu untuk yang terakhir kalinya.
"Tuan, ketika rumah itu sudah beralih padamu. Maka kami pastikan tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di sana!" ujarnya kemudian kembali pergi menyusul mamanya.
Syifa dan mamanya berjalan menyusuri gang kampung arab dengan sendu. Derai air mata pun membasahi cadar yang tengah ia kenakan. Selangkah menjauh dari rumah, kakinya terasa lemas. Namun, ia tetap memaksakannya.
"Ma, sekarang kita akan kemana?" tanya Syifa.
"Kita cari tempat penginapan yang terjangkau Syifa. Setelah itu kita pikirkan lagi hendak ke mana," jawab Rosa.
__ADS_1
Mereka menyusuri sepanjang jalan raya untuk mencari penginapan yang murah.
..._______Ney-nna_______...