Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Kembali ke masa itu


__ADS_3

Sembilan belas tahun berlalu sehingga sudah banyak perubahan di sekitar jalan menuju kampungnya. Namun, Rosa masih ingat betul patokan jalan menuju rumahnya.


"Pak, berhenti di sini!" ujarnya pada sopir taxi yang mengantarkannya hingga ke depan rumahnya dulu.


Syifa segera membayar sejumlah uang pada sopirnya dan beranjak turun. "Yang mana rumahnya, Ma?" tanyanya.


Rosa menunjuk salah satu rumah yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. "Yang itu, Fa!"


Rosa mengedarkan pandangannya ke sekitar rumahnya. Rumah itu tidak banyak berubah. Hanya ada beberapa perbaikan namun bangunan aslinya masih terlihat sama. Rosa menatap haru pada bangunan rumahnya. Banyak kenangan di rumah itu bersama mama dan saudara kembarnya semasa kecil.


"Ayo, Ma!" ujar Syifa menggandeng mamanya menuju rumah yang tadi ditunjuk.


Rosa melangkah dengan sedikit ragu menuju ke rumahnya.


Terdapat sebuah bel di depan pintu rumah itu. Syifa segera memencetnya.


Cukup lama mereka berdiri namun tidak kunjung datang si empunya rumah.


"Apa mungkin mereka sedang tidak di rumah, Ma?" tanya Syifa.


"Mungkin juga, coba kita tanya ke tetangga sebelah!"


Mereka pun berbalik hendak menuju ke rumah tetangga.


Ceklek!


Tiba-tiba terdengar pintu terbuka. Syifa dan Rosa seketika berbalik melihat ke arah pintu.


Seorang wanita yang sangat mirip dengannya berdiri tepat di ambang pintu.


"Rosa! kau Rosa, kan?" ujar wanita itu.


Rosa terdiam terpaku di tempatnya dengan mata berkaca-kaca dan mulut bergetar. Ia mulai terisak ketika kembali teringat oleh masa lalunya. Saat kakaknya itu menyeretnya dengan paksa keluar rumah dan menyuruhnya pergi sejauh mungkin.


Wanita itu berlari menuju ke arah Rosa, dan bersimpuh di kakinya.


"Rosa, kakak minta maaf. Kakak bersalah padamu. Semenjak saat itu kakak menyesal. Bertahun-tahun aku mencoba mencarimu, tapi aku tidak menemukanmu. Tolong maafkan aku!" ujar Rosita dengan air mata yang menganak sungai di kedua pipinya.


Melihat hal itu Syifa ikut merasa haru. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi di antara mereka. Ia melihat mamanya pun menangis tersedu-sedu. Membuatnya menerka-nerka siapa wanita yang tengah berlutut di hadapan mamanya itu. Namun, wajahnya sangatlah mirip dengan mamanya.


Tubuh Rosa merosot lalu memeluk wanita yang ada di hadapannya itu. "Semua sudah terjadi, Kak. Aku lega jika kamu menyadari kesalahpahaman yang terjadi di antara kita. Aku sudah dapat mengambil hikmah atas semua yang terjadi padaku!"


"Terima kasih, Rosa. Terima kasih!"


"Selama ini kamu tinggal di mana? kami menantikan kepulanganmu, tapi kamu tak kunjung pulang. Kakak benar-benar menyesal dulu telah mengusirmu dari rumah ini. Mama sangat marah kepadaku saat itu, hingga mama menjadi sakit-sakitan memikirkanmu. Mama terus saja menantikan kepulanganmu!" tutur Rosita.


"Sekarang Mama ada di mana, Kak? aku ingin bertemu dengan Mama!" ujar Rosa.


"Mama ada di kamarnya. Ayo masuklah!"


"Ayo, Fa!" ujar Rosa menggandeng tangan putrinya.


"Rosa siapa dia? tanya Rosita saat menyadari keberadaan Syifa.


"Dia putriku, Kak. Namanya Asyifa!" jawab Rossa.


Syifa segera mengeluarkan tangannya hendak menjabat tangan Rosita. Sedangkan Rosita dengan sedikit ragu mengulurkan tangannya juga menyambutnya.


"Kau berpindah agama?" tanyanya.


Rosita memperhatikan penampilan Rosa dan Syifa dari atas hingga bawah. Dilihatnya Rosa nampak menggunakan kerudung sedangkan penampilan Syifa yang mengenakan jilbab panjang lengkap dengan cadarnya. Baru kali ini melihat yang seperti itu dari dekat.


"Iya kak aku menjadi mualaf. Ceritanya panjang. Tolong izinkan aku untuk bertemu dengan Mama, Kak!" pinta Rosa.


"Tentu, mari aku antar ke kamar mama!"

__ADS_1


Rossa dan Asyifa mengikuti Rosita ke dalam rumah itu hingga ia sampai di sebuah pintu yang merupakan kamar mamanya.


Rosita membuka pintu itu dan masuk ke dalam lebih dulu. "Ma, lihat siapa yang datang!"


Nampak seorang wanita tua duduk di sebuah kursi roda menghadap ke jendela.


Rosita membalikkan kursi roda itu hingga menghadap ke arah pintu


"Mama ...," ucap Rossa lalu menghambur ke arah mamanya iya memeluk erat, ibunya yang sangat ia rindukan.


"Rosalina ... akhirnya kamu datang juga, Nak. Ke mana saja kamu pergi?" tanya wanita tua itu dengan suara sedikit serak.


Sembilan belas tahun tidak bertemu dengan anaknya, tentu saja membuat Sofia kini sangat senang. Ia masih diberi kesempatan untuk bisa melihat anaknya yang telah lama pergi.


"Mama bahagia melihatmu baik-baik saja, Nak!" ucapnya sembari mencakup wajah Rosalina dengan kedua telapak tangannya.


"Mama, maafkan Rosa karena tidak pernah menjenguk Mama! Selama ini Rosa tidak berani pulang," tutur Rosalina.


Tangis pun kembali pecah bagi mereka semua yang menyaksikan hal itu.


Rosita mengajak Syifa keluar untuk meninggalkan mereka berdua.


"Ayo, ikut dengan Tante!" ajaknya.


Syifa menurut saja dengan Tantenya itu. Rosita mengajaknya ke dapur.


"Duduklah, Tante buatkan minum!"


Syifa pun menurut dan segera duduk.


"Berapa umurmu?" tanya Rosita.


"Delapan belas tahun, Tante," jawab Syifa.


"Saya tidak tahu siapa papaku, Tante," jawab Syifa lagi.


Deg!


Rosita seketika berbalik melihat ke arah Syifa. "Bolehkah aku melihat wajahmu?"


Tanpa menjawab Syifa menurunkan cadarnya. Rosita seketika membungkam mulutnya tatkala melihat wajah Syifa. Ia tidak menyangka jika peristiwa sembilan belas tahun silam telah membuat Rosa harus mengandung seorang anak diluar pernikahan.


Melihat reaksi Rosita, Syifa menjadi bingung sendiri. "Apa Tante tahu siapa papaku?" tanyanya.


"Mamamu tidak menceritakan padamu apa yang terjadi dengannya?" Rosita balik bertanya.


Syifa menggeleng.


Rosita semakin merasa bersalah. Itu artinya selama ini Rosalina harus menghadapi kenyataan pahit ini seorang diri. Sebab ia bisa melihat ada kemiripan antara Syifa dengan Edward mantan suaminya.


"Di mana kalian tinggal selama ini?" tanya Rosita seraya menyerahkan secangkir teh ke hadapan Syifa.


"Di kota XXX, Tante. Terima kasih tehnya," ujar Syifa.


****


"Ini adalah salah, Mama. Tidak seharusnya saat itu Mama menukarmu dengan kakakmu. Sejak awal, memang kamu yang diinginkan, dan bukan kakakmu. Tapi, Mama menukarnya dengan Kakakmu. Mama tidak menyangka jika Edward tidak terima dan hanya menginginkan mu!" tutur Sofia.


"Maksudnya, Ma?" tanya Rosa tidak mengerti.


Flashback On ....


"Rosa, ayo cepatlah!" ujar Sofia memanggil salah seorang putrinya.


"Iya, Ma," seru Rosa seraya bergegas keluar dari dalam kamarnya.

__ADS_1


"Ayo kita berangkat sekarang, Sayang!"


Rosa pun mengangguk dengan patuh mengikuti mamanya. Mereka segera menaiki taxi yang sudah menunggu.


Mereka hendak mendatangi pertemuan komunitas Indo-Belanda ( keturunan Belanda ) yang tinggal atau lahir dan besar di kawasan kota ini.


Pada pertemuan yang diadakan setiap tiga bulan sekali itu ada juga kedatangan anggota yang langsung datang dari Belanda. Sebab sudah pindah ke Belanda mengikuti keluarganya yang tinggal di sana. Rasa rindu dengan tanah kelahirannya membuatnya rela datang jauh-jauh ke Indonesia untuk bernostalgia masa kecilnya atau masa mudanya selama tinggal di Indonesia.


Sofia sendiri ayahnya tinggal di Belanda dan sudah tidak diketahui kabarnya sejak dipulangkan ke negara asal oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1957. Sedang ibunya adalah seorang gundik dari Jawa. Sofia yang masih bayi dirawat oleh ibunya seorang diri. Dan, ketika dewasa ia dinikahi oleh pemuda sesama keturunan Indo-Belanda.


Tak berapa lama mereka sampai di restoran yang menjadi tempat pertemuan itu. Sebagian banyak anggotanya sudah lansia dan berambut putih. Sehingga ada juga yang datang bersama pasangan maupun anaknya.


Dari sanalah Rosalina bertemu dengan Edward. Karena baru pertama bertemu Rosalina memperkenalkan dirinya dengan nama Rose. Mereka mulai mengobrol dan dari situlah Edward mulai tertarik pada Rose.


Usai dari pertemuan itu Edward meminta pada orang tuanya untuk melamar Rose. Orang tua Edward kemudian menghubungi Sofia dan memberitahu jika mereka akan berkunjung untuk melamar putrinya.


Sofia tahu yang dimaksud Rose adalah Rosalina sang adik. Sebab Rosalina yang menemaninya datang pada acara pertemuan itu.


Tepat di hari itu Rosalina ada acara penting di tempat kerjanya dan tidak bisa meminta cuti. Sementara Rosita belum bekerja. Sofia merasa iba pada Rosita yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Ia pun berpikir lebih baik Rosita saja yang lebih dulu dinikahkan. Sehingga akan ada sosok laki-laki yang akan menghidupinya dan menjaganya. Toh mereka berdua mempunyai wajah yang sama persis karena mereka kembar.


Akhirnya di hari itu ia memperkenalkan Rosita pada keluarga Edward. Edward menyangka Rose itu adalah panggilan nama dari Rosita. Ia juga tidak tahu jika mereka kembar sehingga menyetujuinya begitu saja. Hingga tiba pada hari pernikahan Sofia pun tidak mengijinkan Rosalina menghadiri pernikahan itu.


Hingga usai pernikahan berlangsung Edward tahu jika Rosita mempunyai saudara kembar.


Rosalina sedikit terkejut jika yang menikahi kakaknya adalah Edward. Namun, dia turut bahagia dengan pernikahan kakaknya.


Namun, lama kelamaan Edward menangkap keganjilan. Ia merasa gadis yang dikenalnya pada acara pertemuan kala itu karakternya berbeda dengan istrinya. Justru ia menangkap ada kesamaan pada adik iparnya.


Hingga suatu ketika saat Rosita mengantar ibunya ke kota. Edward sengaja mengambil cuti agar bisa berbicara empat mata dengan Rosalina. Ia menahan Rosalina yang hendak berangkat kerja.


"Rose ...!" panggilnya pada adik iparnya itu.


Rosalina seketika menoleh karena di rumah itu hanya ada mereka berdua. "Kakak, memanggilku?" tanyanya.


"Rose yang aku temui saat di pertemuan komunitas Indo-Belanda itu kau, kan?" tanya Edward.


Rosalina nampak ragu untuk menjawabnya. "Iya, Kak. Memangnya ada apa?" tanya Rosa.


"Kalian sengaja membohongiku? harusnya kau yang aku nikahi, kenapa bisa menjadi kakakmu yang aku nikahi?" tanya Edward dengan nada meninggi.


Rosalina yang tidak mengerti akan perihal mamanya yang menukarnya dengan sang kakak pun menjadi bingung apa salahnya sehingga kakak iparnya itu terlihat sangat marah kepadanya.


"Membohongi apa, Kak? aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Maaf, Kak ... aku harus berangkat kerja sekarang. Permisi!" ujar Rosalina hendak berjalan keluar dari rumahnya karena dia harus bekerja.


Merasa diabaikan Edward pun semakin emosi. Ia menarik paksa Rosa kembali ke dalam rumah dan memaksanya masuk kembali ke dalam kamarnya. Edward yang kalap tidak bisa menahan keinginannya untuk memiliki adik iparnya. Gadis yang dicintainya pada pandangan pertama. Hingga terjadilah apa yang tidak seharusnya terjadi di antara mereka.


Tepat di saat itu Rosita sudah kembali dari mengantar mamanya. Betapa terkejutnya ia saat mendapati Edward keluar dari kamar Rosita dengan penampilan acak-acakan dan pergi dari rumah begitu saja.


Sementara Rosalina tidak mengenakan sehelai pakaian pun dari balik selimutnya. Kamarnya berantakan dan bajunya berserakan di lantai.


Melihat hal itu Rosita naik pitam merasa dikhianati oleh adiknya sendiri. Ia menuding Rosalina telah menggoda suaminya.


"Cepat kenakan pakaianmu dan kemasi barang-barang mu! dasar j*l*ng kau!" umpat Rosita dengan emosi meluap-luap.


Setelah beberapa saat Rosita menyeret Rosalina menuju stasiun yang tak jauh dari rumah mereka. Ia sama sekali tidak mau mendengar penjelasan adiknya. Ia paksa Rosalina masuk ke dalam kereta yang entah akan membawanya ke mana. Hingga sampailah Rosa di salah satu kota yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Ia terus berjalan kaki hingga ia sampai di samping suatu bangunan besar yang megah di pinggiran kota.


Bunyi dari pengeras suara yang terdengar membuat batinnya merasa teduh dan nyaman untuk singgah di sana. Di situlah ia terdampar, di masjid jami kampung Arab.


Flashback Off.


"Sudah, Ma. Aku mohon jangan membahas itu lagi, Ma! Semua sudah terjadi. Lagi pula saat ini kakak sudah berbahagia bukan, dengannya!" ujar Rosa dengan isak tangisnya kala harus mengingat hal itu lagi.


"Tidak Rosa, mereka pada akhirnya bercerai. Edward tidak mencintai Rosita. Ia hanya mencintaimu!" ujar Sofia.


..._______Ney-nna_______...

__ADS_1


__ADS_2