
Syifa duduk bersandar di tempat tidur sembari memikirkan perdebatannya dengan sang ibu. Ada rasa bersalah karena selama ini ia selalu menolak untuk dinikahkan kembali tanpa mengerti perasaan sang mama yang turut bersedih.
Bukan karena terlalu mencintai Arjuna hingga enggan menikah lagi, tidak. Melainkan karena rasa bersalahnya pada Arjuna yang telah mengorbankan dirinya demi menolongnya.
Tiba-tiba handphonenya berdering. Sebuah telepon masuk dari Antika. Syifa segera mengangkat teleponnya.
"Hallo. Assalamualaikum, Tik!"
"Wa'alaikumsalam, Fa. Semalem telepon ada apa, Fa? maaf aku udah tidur," jawab Antika.
"Emm, gak apa-apa kok, Tik. Aku cuma mau curhat aja kok."
"Kebetulan aku lagi on the way nih mau ke rumah ayah. Nanti aku mampir ke rumah kamu ya?" tutur Antika.
Syifa seketika panik. Jika mamanya tahu ada Antika yang datang ke rumah disaat situasi sedang panas begini, bisa-bisa mamanya akan semakin marah. Alih-alih bisa curhat dengan Antika.
"Jangan, Tik. Jangan ke rumah. Kita ketemu di toko kue mama aja!" Tolak Syifa.
"Oke baiklah. Sampai ketemu di sana ya, Fa. Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam."
Telepon diputus.
Syifa kembali ke luar kamar dan meminta ijin kepada abi untuk pergi ke toko kue mamanya. Beruntung hari itu mamanya tidak berangkat ke toko dan meminta pegawainya untuk mengurus toko. Sehingga hal itu dapat dijadikan alasan jika Syifa ingin bantu-bantu menjaga toko mumpung tidak ada kegiatan selagi weekend.
Syifa naik sepeda menuju toko. Rumah almarhum nenek Fatimah lah yang kini dijadikan toko kue oleh abi Imron. Dengan tujuan agar rumah yang penuh kenangan itu tetap terawat sekaligus dapat dijadikan tempat usaha bagi istrinya untuk berjualan kue ontbijtkoek agar dapat lebih mudah dicari bagi pembeli dan lebih dikenal karena menempati tempat berjualan yang pasti.
Sesampainya di toko tak lama Antika juga tiba. Ia diantar oleh suaminya, Hanif. Alika dan Afif putra mereka ikut serta.
__ADS_1
Berawal menjadi pelatih renang Alika semasa SD, Antika menjadi dekat dengan Alika. Dari sanalah Antika mencoba mencuri perhatian papa Alika. Dan hal itu berhasil mengantarkan mereka ke jenjang pernikahan hingga dikaruniai putra yang kini berumur lima tahun.
"MasyaaAllah, cantiknya Alika. Sekarang kamu udah gede aja Al. Tingginya bahkan hampir melebihi mamanya!" sapa Syifa saat Alika menyalaminya.
"Tante Syifa bisa aja, sih!" jawab gadis berumur 16 tahun itu malu-malu.
Setelah membekali kue pada anaknya, Antika meminta Hanif untuk meninggalkannya bersama Syifa.
"Mas, tolong bawa anak-anak ke rumah ayah duluan ya! Aku mau ngobrol dulu sama Syifa. Nanti aku nyusul!" ujar Antika kepada Hanif.
"Oke, Sayang. Duluan ya, Fha!"
Syifa mengangguk menanggapi.
Sepeninggal mereka Syifa pun menceritakan jika ia dikhitbah oleh Iqbal. Syifa menceritakan ketika akhirnya kembali bertemu dengan Iqbal sebagai kuasa hukumnya hingga Iqbal mengkhitbahnya lewat abi.
Antika cukup terkejut mendengar hal itu. Ia turut bahagia karena ia tahu Iqbal sebenarnya laki-laki yang baik meski dulu sangat pendiam di kelas. Ia juga tahu jika Iqbal seperti dewa penolong bagi Syifa kala itu.
"Terima Iqbal, Syifa. Mungkin kalian emang ditakdirkan berjodoh setelah beberapa kali kalian ditakdirkan bertemu kembali!" ucap Antika menyemangati agar sahabatnya bangkit.
Ia ingat betul Syifa dulu sering datang ke rumahnya hanya untuk mencari tahu kabar dari Arjuna. Namun, Hanif juga tidak mengetahui kabar terbaru dari adik mendiang istri pertamanya itu.
Sesekali mama Arjuna menghubungi Alika untuk bertukar kabar. Namun, beliau tidak memberi tahu dimana tepatnya keberadaan mereka di luar negeri.
Flashback lima tahun silam ....
Seminggu menjelang hari H, Arjuna berniat memberi sebuah hadiah kejutan karena Syifa telah diterima magang di salah satu kantor Advokat. Ia hendak menjemput Syifa dan akan mengantarnya pulang. Namun ternyata Syifa lebih dulu pulang bersama temannya beberapa menit sebelumnya.
Arjuna pun akhirnya berniat untuk menyusul ke rumah Syifa. Rencananya ia akan memberikan hadiahnya sesampainya di rumah Syifa sekaligus membahas persiapan acara pernikahan yang akan diselenggarakan seminggu lagi.
__ADS_1
Di perjalanan ternyata ada sebuah kecelakaan yang baru saja terjadi. Arjuna melihat mobil teman Syifa menabrak pembatas jalan. Saat itu belum ada yang menolong karena jauh dari pemukiman warga. Arjuna segera menepikan mobilnya lalu turun untuk mengecek keadaan Syifa dan temannya.
Arjuna dibantu pengendara motor yang lebih dulu berhenti segera menolong Syifa dan temannya ke luar dari dalam mobil. Keduanya nampak terluka namun masih dalam keadaan sadar. Sementara dari arah yang berlawanan nampak sebuah mobil pickup mengalami ringsek di bagian depan. Supirnya mengalami kesulitan untuk keluar dari kursi kemudinya. Ia berteriak meminta tolong.
Saat Juna hendak menolong supir itu, tiba-tiba Arjuna terpental jauh. Dari arah belakang sebuah truk menabrak mobil pickup tersebut. Terjadilah tabrakan beruntun yang mengakibatkan Juna terluka parah, sementara supir yang hendak di tolong meninggal di tempat.
Melihat kejadian itu Syifa menangis histeris. Juna nampak tidak sadarkan diri dan mengeluarkan banyak darah. Dan akibat kecelakaan itu Juna mengalami lumpuh pada kedua kakinya. Syifa benar-benar merasa sedih karena Juna mengalami hal itu setelah menolongnya. Syifa semakin bersalah saat Juna tidak mau bertemu dengannya usai menjalani operasi.
Setiap hari Syifa datang ke rumah sakit untuk menjenguk Arjuna. Namun Arjuna tetap bersikeras tidak mau bertemu dengan Syifa. Berulangkali mama Arjuna membujuk, tetap gagal untuk mempertemukan mereka.
Hingga menjelang hari H, keluarga berunding perihal acara pernikahan yang sudah dijadwalkan. Arjuna meminta agar pernikahannya dibatalkan. Sedangkan Syifa bersikeras ingin tetap menikah dengan Arjuna apapun keadaannya. Keluarga pun merencanakan hendak mengadakan acara akad di rumah sakit.
Namun, tepat di hari H acara akad tidak dapat dilaksanakan. Tanpa sepengetahuan Syifa dan yang lain, Arjuna telah meminta asisten pribadinya untuk mengurus kepergiannya berobat ke luar negeri. Hingga bertahun-tahun Arjuna tidak memberi kabar.
Flashback Off.
......................
Malam harinya di sepertiga malam Syifa melaksanakan salat istikharah meminta petunjuk atas khitbah dari Iqbal. Dua hari Syifa banyak berdiskusi dengan keluarganya dan juga dengan Ilham.
Ilham juga setuju Syifa menikah dengan Iqbal setelah mendengar cerita tentang Iqbal dari orang tuanya dan juga Syifa. Ilham juga meminta untuk bertemu dengan Iqbal secara empat mata untuk menilai keseriusan Iqbal sebelum menentukan untuk menerima khitbah dari Iqbal.
Dari pertemuan itu Ilham merasa jika Iqbal adalah laki-laki yang baik dan dapat diharapkan untuk menjaga Syifa. Meskipun secara pribadi Syifa masih belum mengenal seperti apa kepribadian Iqbal dalam kesehariannya. Namun Syifa menyadari jika berungkali Iqbal telah menyelamatkan dirinya dari musibah yang menimpanya.
Syifa lalu mengatakan kepada kedua orang tuanya jika ia menyetujui untuk menerima khitbah Iqbal.
Mama Rosa yang mendengar hal itu menangis bahagia karena setelah sekian lama Syifa mau dinikahkan. Terlebih dengan Iqbal yang ia yakini adalah pria yang cocok untuk putrinya.
Abi Imron segera menghubungi Iqbal untuk datang ke rumah pada sore harinya untuk memberi jawaban. Iqbal menyanggupinya dan mengajak serta neneknya untuk datang.
__ADS_1
Namun, di saat itu juga datanglah tamu yang tidak diundang.
..._____Ney-nna_____...