
Rossa berjalan menyusuri sepanjang jalan raya kota. Sudah beberapa tempat ia datangi, namun mereka tidak membutuhkan pegawai baru. Hingga akhirnya Rossa melihat sebuah spanduk yang bertuliskan lowongan sebagai asisten rumah tangga dan baby sitter.
Spanduk itu berada di sebuah kantor jasa penyalur tenaga kerja. Rossa kemudian berfikir untuk mencoba melamar kerja di tempat itu.
Rosa berjalan masuk menuju kantor penyalur tenaga kerja tersebut.
"Assalamu'alaikum," ucap Rossa usai mengetuk pintu yang sudah terbuka sebagian itu.
"Wa'alaikumsalam, ada yang bisa saya bantu Bu, tanya seorang perempuan yang berada di meja depan.
"Saya melihat spanduk yang terpasang di depan, apa benar kantor ini memerlukan tenaga kerja?" tanya Rosa.
"Oh iya, benar. Kami sedang membutuhkan tenaga kerja untuk seorang ART dan babysitter apa Ibu berminat untuk mengisi lowongan tersebut?" tanya wanita itu.
"Iya saya sedang mencari pekerjaan. Jika diperbolehkan saya ingin mengisi lowongan tersebut. Tapi, adakah yang tidak perlu menginap? saya harus berada di rumah ketika malamnya," tutur Rossa.
"Kebetulan sekali ada klien kami yang sedang mencari seorang ART yang diperkerjakan dari pagi hingga sore, jika ibu berminat maka kami akan beri pelatihan terlebih dahulu setelah itu jika anda cukup baik secepatnya bisa langsung bekerja. Sebab klien kami sudah sangat menantikan seorang ART baru, karena kerepotan mengurus seorang balita dan mengurus pekerjaan rumah."
"Iya, saya berminat, Bu!" jawab Rosa.
"Baik, sebelumnya saya harus mengecek dokumen data diri Ibu, apakah Ibu membawa dokumen data diri semacam CV ( Curiculum Vitae) dan surat lamaran kerja?"
Rosa segera menyerahkan data diri yang sudah dibawanya berkeliling mencari kerja sejak pagi. "Ini, silakan di cek!" ujarnya sembari mengulurkan sebuah map yang berisi data dirinya.
"Pendidikan Anda dan pengalaman Anda kerja cukup baik, apa Anda yakin tidak masalah untuk menjadi ART?" tanya wanita itu memastikan.
"Iya, saya sedang membutuhkan pekerjaan. Apa pun itu asalkan pekerjaan halal akan saya kerjakan!" ujarnya.
"Baiklah, Anda kami terima. Besok kami tunggu pada pukul 08.00, untuk diberikan pelatihan sebelum terjun langsung pada tempat kerja Anda.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu!"
"Sama-sama, Bu."
................
Sesampainya di rumah Rosa segera memberitahukan hal tersebut kepada Syifa. Setidaknya jika ia mengambil pekerjaan itu maka ia tetap bisa berkumpul dengan keluarga ketika malamnya.
"Mama yakin tidak apa menjadi seorang pembantu, Ma?" tanya Syifa.
"Tidak apa-apa Syifa, bukankah yang Mama lakukan hanya mengerjakan pekerjaan rumah seperti keseharian kita mengurus rumah jadi apa susahnya," ujar Rosa.
"Baiklah, tapi bagaimana dengan Syifa, Ma? Syifa tidak ingin lama-lama tinggal di sini, Ma!" ujar Syifa.
"Tentu, Sayang. Besok sepulang dari pelatihan Mama akan mencari kontrakan untuk kita tinggal. Kamu sabar dulu, ya!"
"Oh, ya. Ini handphone Mama. Kamu hubungi Antika. Dia pasti kebingungan mencari mu!" Rosa menyerahkan handphone itu kepada Syifa.
Setelah itu Rosa keluar kamar untuk menjumpai mamanya.
Syifa segera melakukan panggilan kepada Antika. Pada dering ke dua Antika sudah mengangkat teleponnya.
"Assalamu'alaikum, Fa. Lo ke mana aja sih, Fa?" terdengar suara Antika yang terdengar tidak sabaran.
"Wa'alaikumussalam, Tik. Aku di Surabaya," jawabnya.
"Ngapain di Surabaya? Pantesan aja gue samperin ke rumah lo beberapa hari sepi gak ada orang!"
"Aku pulang ke kampung halaman mama. Aku di usir dari rumah nenek Fatimah, Tik!"
__ADS_1
"Innalilahi, kok lo nggak cerita ke gue? siapa yang ngusir?" tanya Antika yang nampak terkejut.
"Ahli warisnya, keponakan nenek Fatimah. Aku tidak ingin merepotkan kalian semua, Tik!"
"Yaelah, lo tuh sahabat gue dari kecil Fa. Setidaknya lo cerita dulu sama gue. Nafisa sekarang juga sedang terkena musibah, Ummi masuk rumah sakit lagi!"
"Innalilahi, semoga ummi Syarifah baik-baik saja!"
"Aamiin. Ya udah, nanti kita sambung lagi ya, Fa. Gue mau kebelakang dulu udah gak tahan! hehehe ...," ujarnya sambil nyengir kuda.
"Okey, ya udah Assalamualaikum!"
"Waalaikumussalam!"
Telepon terputus.
Usai bertelepon Syifa pun kemudian pergi ke kamar mandi hendak mengambil wudhu.
Sesampainya di kamar mandi ia menaruh cadarnya pada gantungan baju yang ada di kamar mandi. Lalu ia mulai mengambil wudhu.
Brakkk!
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yang cukup keras di luar kamar mandi.
Syifa segera memakai niqobnya dan membuka pintu.
Sekilas ia melihat Anthony berlari ke luar dari pintu dapur. Selain itu di samping pintu kamar mandi, Syifa melihat ada sebuah kursi kayu yang patah di bagian salah satu kakinya.
"Astaghfirullah, apa yang dia lakukan di sini barusan?" pekik Syifa dengan mata membola. Ia merasa geram dengan tingkah suami tantenya itu.
__ADS_1
...______Ney-nna______...