
Menjelang tidur Syifa memeluk mamanya yang baru saja merebahkan diri di sampingnya.
"Ma, Syifa boleh bertanya tentang Mama?" tanyanya sedikit ragu.
"Apa, Fa? mau tanya ya tanya saja. Tumben pakai basa-basi dulu," tutur Rosa sembari memejamkan mata.
"Hehehe ...! Emm, Mama kenapa tidak mau menikah?" tanya Syifa dengan hati-hati.
"Memangnya Mama pernah bilang begitu?" Rosa balik bertanya.
"Waktu kecil Syifa pernah dengar, nenek sama ummi Syarifah membicarakan Mama. Nenek bilang, Mama lagi-lagi menolak lamaran laki-laki yang datang. Meskipun saat itu Syifa masih SD tapi kata-kata nenek Fatimah saat itu, Syifa masih ingat betul hingga sekarang," ungkap Syifa.
Rosa seketika membuka mata. Dia tidak langsung menjawab. Masih terdiam beberapa saat setelah mencerna perkataan putrinya dan mencoba mengingat-ingat kembali pada masa lampau.
Kala itu Syifa masih berumur 4 tahun dan dia baru berumur 25 tahun. Ada seorang laki-laki datang ke rumahnya bersama ibunya untuk mengajaknya bertaaruf. Laki-laki itu sesungguhnya pria yang baik. Dia salah seorang sahabat Imron saat di pondok. Imron dan Syarifah lah yang bermaksud menjodohkan keduanya.
Di saat itu Rosa menceritakan keadaannya yang telah memiliki seorang putri. Ibu pemuda terus bertanya hingga akhirnya Rosa berterus-terang tentang latar belakangnya hingga memiliki seorang anak di luar nikah. Pria itu nampak menerima masa lalu Rosa dengan lapang dada. Sebab, Imron sudah memberitahu sebelumnya pada laki-laki itu. Rosa pun merasa tenang karena laki-laki itu bisa menerimanya apa adanya.
Namun, selang beberapa hari sang ibu dari laki-laki itu mengajaknya bertemu empat mata. Di antara dua tembok besar pemisah kampung Arab dan kampung abdi keraton mereka berbicara. Beliau merasa keberatan jika putranya yang masih bujang dan nyaris sempurna dari segi penampilan maupun kemapanan itu mendapatkan seorang perempuan seperti Rosa yang mempunyai latarbelakang yang buruk. Ia merasa malu jika keluarga besarnya sampai tahu. Akhirnya ia membujuk Rosa untuk menolak lamaran anaknya.
"Nak, Ibu minta maaf sebelumnya. Ibu tahu kamu perempuan yang baik. Tapi, anak Ibu itu masih perjaka, Ibu ingin anak Ibu juga mendapatkan perempuan yang masih gadis. Keluarga Ibu pasti tidak akan setuju nantinya ketika mengetahui masa lalu mu, Nak. Ibu mohon ... tolong tolak lamaran anakku!"
Deg.
Rosa seketika lemas. Ia meremass samping bajunya tanpa ibu itu ketahui.
"Ibu yakin suatu saat kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik, Nak!" tutur ibu itu dengan lirih, namun cukup menyentil perasaannya jika sesungguhnya ia yang ditolak untuk menjadi menantunya.
Rosa terdiam terpaku. Pertama kalinya ia hendak mencoba bangkit dari rasa rendah diri dan keterpurukan setelah dilecehkan oleh kakak iparnya, namun harus kecewa seketika. Dengan lesu ia mengangguk. Namun, mulutnya tak dapat berkata-kata.
Sakit hati, tentu saja. Rosa merasakan sakit hati yang luar biasa dalam. Merasa terhina dengan kata-kata ibu itu meski diucapkan dengan baik-baik. Namun, maknanya begitu tajam seolah pedagang yang menghujam dadanya. Demi harga dirinya akhirnya ia pun setuju dengan keinginan ibu itu. Tidak baik juga menikah tanpa restu orang tua, begitu pikirnya.
Ketika anaknya datang kembali untuk mengkhitbahnya Rosa pun menolaknya. Sontak semuanya terkejut. Tak hanya laki-laki itu, Fatimah, Imron dan Syarifah menyayangkan akan keputusan Rosa kala itu.
__ADS_1
Namun, Rosa tidak menceritakan tentang pertemuannya dengan ibu dari laki-laki tersebut pada siapa pun termasuk ummi Fatimah maupun Syarifah. Ia simpan rapat-rapat sakit hatinya itu seorang diri. Ia tidak ingin membuat ummi Fatimah sedih. Hal itu pun membuatnya trauma. Setiap ada laki-laki baik yang datang padanya ia akan merasa rendah diri dan memilih menolak lamarannya.
Rosa pun tak sanggup menceritakan hal itu pada Syifa. Ia tidak ingin putrinya itu memiliki rasa minder dan rendah diri seperti dirinya, setelah mendengar ceritanya nanti. Lebih baik ia tetap merahasiakan hal itu dari putrinya. Agar putrinya bernasib memiliki semangat hidup yang lebih baik.
Namun, ia lihat ummi Farida dan bu Maya terlihat memperlakukan Syifa dengan baik. Hal itu cukup membuatnya merasa tenang. Setidaknya putrinya tidak akan merasakan kekecewaan yang sama seperti yang pernah dialaminya dulu.
"Mama bukannya tidak ingin menikah. Tapi saat itu Mama belum siap Syifa. Mama tidak yakin mereka bisa menyayangimu dengan tulus. Lebih baik Mama sendiri saja. Karena Mama tidak ingin kamu kekurangan kasih sayang jika Mama harus dituntut fokus dengan keluarga baru Mama," tutur Rosa beralasan.
"Mama ...!" Syifa semakin erat memeluk mamanya itu. Ia yakin mamanya pasti sangat kesepian.
Ya, Allah. Ku mohon di sisa hidup mama. Kirimkan teman hidup yang bisa menyayangi mama dan menjaga mama hingga hari tuanya! gumam Syifa di dalam hati.
......................
Drrrttt drrrttt drrtttt.
Ada sebuah pesan masuk di ponselnya. Syifa yang telah menyelesaikan salatnya segera mengintip di layar handphonenya. Sebuah pesan dari Nafisa.
[ Nafisa : Assalamualaikum, Fa. Nanti sore kamu dan mamamu ke rumahku ya! insyaAllah ba'da Ashar kami ingin mengadakan pengajian di rumah sekalian untuk mendoakan calon buah hatiku. ]
[ Nafisa : Aamiin. Oke. Aku tunggu, Fa. ]
Usai berkirim pesan Syifa kembali ke dapur membantu mamanya berkemas kue.
"Ma, nanti sore diundang Nafisa ke rumahnya. Katanya mau ada acara pengajian di rumahnya," tutur Syifa.
"Oh ya, berapa usia kandungan Nafisa?" tanya Rosa seraya merapihkan kue yang hendak di masukkan ke dalam box.
"Kemaren waktu bertemu di masjid dekat kampus seingat Syifa dia bilang empat bulan, Ma."
"Jam, berapa acaranya?" tanya Rosa.
"Ba'da salat Ashar," jawab Syifa.
__ADS_1
"Oh, kalau begitu nanti Mama usahakan pulang lebih cepat untuk bersiap-siap."
......................
Sore harinya Syifa sudah berdandan rapih dan siap untuk pergi ke acara pengajian di rumah Nafisa. Saat bercermin ia tiba-tiba teringat pada Ilham. Mungkin karena akan mendatangi rumah Nafisa ia merasa rindu pada sosok Ilham. Sosok laki-laki pertama yang ia kenal cukup baik. Yang penuh perhatian dan selalu berusaha menjaganya. Tidak sabar rasanya ingin segera melihat pemuda itu pulang ke Indonesia.
"Syifa, kok malah bengong sih!" seru Rosa saat melihat Syifa tidak menyahut saat ia mengajaknya untuk segera berangkat.
"Eh, astaghfirullah. Maaf, Ma. Emm, Mama udah siap?" tanya Syifa gagap.
"Ya udah dong. Kan dari tadi Mama panggil-panggil. Eh, kamu malah diem aja di depan cermin!" omel Rosa.
"Hehehe ...! Maaf, Ma. Tadi, Syifa nggak denger. Ya udah yuk berangkat sekarang!"
Mereka berdua pun segera keluar dari kamar dan menuju ke depan. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat mereka memilih untuk menunggu becak yang lewat. Di kawasan itu cukup banyak berseliweran alat transportasi yang masih tradisional itu. Dan, tak butuh menunggu terlalu lama ada tukang becak menghampiri mereka.
Sesampainya di rumah Nafisa ternyata sudah cukup ramai tamu-tamu yang hadir. Syifa dan mamanya segera masuk pada bilik khusus tamu wanita. Tamu yang datang kebanyakan dari tetangga dekat, kerabat dan jamaah pengajian di masjid Jami' yang sebagian besar penduduk keturunan Arab. Antika pun turut hadir dalam acara itu.
Acara pengajian pun segera di mulai dan ditutup dengan doa pada calon buah hati yang berada di dalam kandungan Nafisa, agar sehat dan lahir menjadi anak yang saleh solehah.
"Naf, itu bukannya cewek yang bernama Syifa yang tempo hari kita lihat di butik waktu mengantar kamu mengambil baju pengantin itu, kan?" tanya Antika setengah berbisik.
"Iya, Tik. Rupanya dia itu sepupu suamiku. Namanya juga Asyifa. Sama kayak kamu, Fa. Orangnya baik kok, nanti aku kenalin deh!"
"Nama lo, pasaran deh, Fa! Hehehe ...!" ejek Antika seraya terkekeh.
"Biarin. Itu tandanya nama aku bagus, makanya banyak yang pakai untuk menamai anak mereka!" kilah Syifa.
"Ihh, sudah-sudah. Jangan berisik. Nanti dia denger!" tegur Nafisa.
"Syifa, nanti seusai acara jangan pulang dulu ya. Ada yang ingin Abi bicarakan dengan kamu dan mamamu!" bisik Nafisa.
Syifa hanya mengangguk pelan menanggapinya. Namun, di dalam hatinya bertanya-tanya, apakah gerangan yang hendak dibicarakan oleh Abi Imron?
__ADS_1
...______Ney-nna______...