Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Usai Pesta pernikahan.


__ADS_3

Syifa sudah di rias dengan sangat cantik dan anggun mengenakan gaun putih indah bak seorang putri. Sebuah mahkota kecil bertengger di atas kepalanya. Tidak lupa ia kenakan cadar berwarna putih senada dengan gaun dan khimarnya.


Sebuah ketukan di pintu membuat Syifa seketika mengalihkan pandangannya.


"Sebentar biar saya lihat siapa yang datang ya, Mbak!" ucap seorang MUA yang telah selesai merias Syifa.


Saat pintu di buka ternyata yang datang adalah Iqbal. Ia sudah siap untuk menjemput Syifa menuju ballroom hotel tempat diselenggarakannya acara resepsi.


"Mas Iqbal toh, silakan Mas. Mbak Syifa juga sudah selesai dirias!" ucap perias itu.


Iqbal mengangguk lalu beranjak masuk ke dalam kamar mereka. Ia berhenti tepat di hadapan Syifa. Sejenak mengamati riasan istrinya itu dalam diam hingga membuat Syifa menunduk malu karena ditatap dengan sangat intens dari jarak yang cukup dekat oleh suaminya itu.


Tiba-tiba Iqbal memberikan sebuah buket bunga lily berwarna putih yang sangat indah ke hadapan Syifa. Hal itu membuat Syifa perlahan mengangkat wajahnya untuk memandang ke arah Iqbal.


"Ayo kita turun!" ucap Iqbal seraya memberikan lengannya agar digenggam oleh Syifa.


Syifa menerima bunganya lalu dengan perlahan menggenggam lengan Iqbal. Tak ada percakapan yang terjadi di sepanjang perjalanan menuju ballroom. Namun, beberapa kali mereka saling melempar pandangan tanpa kata. Cukup mata yang berbicara, jika keduanya tengah diliputi bunga-bunga asmara.


Sesampainya di ballroom semua mata memandang ke arah mereka. Syifa nampak sedikit gugup saking banyaknya tamu undangan yang datang. Rupanya Iqbal mengundang para rekan bisnisnya.


Satu tangan Iqbal tiba-tiba menggenggam jemari Syifa yang terkait di lengannya. Iqbal bisa merasakan jika Syifa tengah nervous. Dengan menggenggamnya ia berharap akan membuat Syifa merasa tenang karena ada Iqbal di sampingnya.


Syifa pun dapat menangkap maksud suaminya itu. Ia merasa lebih nyaman dan tanpa ragu melangkah bersama Iqbal, menyusuri karpet merah yang tergelar.


Di sepanjang jalan menuju singgasana, mereka ditaburi bunga yang membuat kedua mempelai itu bak ratu dan raja. Bahkan dekorasinya pun sangat megah dihiasi dengan berbagai bunga-bunga indah di setiap tempat.


Syifa merasa haru dengan pesta pernikahan yang sangat berkesan yang telah Iqbal siapkan untuknya.


Suasana bahagia pun dapat dirasakan seluruh tamu yang datang. Semua berjalan dengan sangat baik tanpa halangan hingga acara berakhir.


Ada rasa haru yang tercipta saat Syifa akan berpisah dengan keluarga besarnya. Keluarga papanya, nenek dan tantenya akan kembali ke Surabaya. Ia juga tidak akan pulang ke rumah abi dan mamanya melainkan setelah ini ia akan tinggal di kediaman Iqbal.

__ADS_1


Dipeluknya satu persatu keluarga besarnya, sebelum mereka pulang. Syifa bahkan menangis sendu saat memeluk mamanya.


"Mama ...," ucapnya memeluk sang mama.


"Mulai sekarang kamu harus berbakti dengan suamimu, Fa. Berbahagialah dan jadilah istri dan ibu yang baik kelak. Sesekali datanglah ke rumah dengan suamimu jika rindu Mama!" tutur Rosa.


Syifa hanya bisa mengangguk tanpa bisa menjawabnya. Tangisnya pecah karena harus berpisah dengan mamanya. Wanita hebat yang selalu ada untuknya hingga ia tumbuh dewasa.


"Jaga Syifa baik-baik ya nak Iqbal. Tolong bimbing Syifa agar menjadi istri yang baik!" pesan Rosa pada menantunya.


"Baik, Ma. Percayakan Syifa pada Iqbal!" jawab Iqbal.


Seusai keluarga besarnya pulang ke tujuannya masing-masing, Iqbal membawa Syifa pulang ke kediamannya. Mereka di sambut baik oleh nenek Maryam. Mereka makan siang bersama dan melaksanakan salat berjemaah.


Setelahnya Iqbal mengajak Syifa menuju kamarnya yang kedengarannya akan menjadi kamar mereka berdua. Syifa cukup terkesan melihat kamar suaminya. Cukup besar dan sangat komplit. Sangat nyaman untuk ditempati sebagai pengantin baru.


Iqbal lalu menyuruh Syifa istirahat lebih dahulu dan memberi tahu jika besok ia akan mengajak Syifa ke suatu tempat. Sementara Iqbal masih ada yang hendak diurusnya.


Sore harinya Iqbal membangunkan Syifa dengan mengusap-usap pipinya saat Syifa belum juga bangun.


"Setelah mandi, aku tunggu di bawah. Akan aku kenalkan kamu dengan seseorang!" ucapnya lalu mengecup kening Syifa.


Syifa hanya diam terpaku, karena Iqbal selalu melakukan hal yang tiba-tiba dan tidak terduga. Syifa baru bangkit setelah Iqbal meninggalkan kamar mereka.


Syifa segera melaksanakan salat kemudian mandi sore. Saat ia hendak berganti baju ia sangat terkejut mendapati kopernya yang sudah kosong.


"Astaghfirullah dimana baju-bajuku!" ucap Syifa panik. Ia hanya mengenakan bathrope yang tersedia dan tidak mungkin mengenakan bajunya yang ia kenakan tadi.


Syifa melirik pada sebuah almari yang berada di kamar itu. Sebenarnya ia tidak berani membukanya takut dikira lancang. Namun, ia harus mengenakan sesuatu. Perlahan dibukanya almari itu yang sebelah kanan. Di dalamnya terdapat baju-baju laki-laki yang tertata rapih. Syifa kembali menutupnya dan membuka sisi yang satunya.


"Alhamdulillah ya Allah!" pekik Syifa saat melihat baju-bajunya sudah tertata rapih di sana. Ia segera memilih salah satunya lalu bergegas memakainya.

__ADS_1


Sembari bersiap ia berpikir siapa yang membereskan kopernya dan menata semua pakaiannya ke dalam almari. Ia sungguh malu karena ada baju-baju ********** juga. Seumur-umur ia selalu mengurus segala sesuatunya sendiri. Atau jika ada yang membantu itu pasti mamanya.


Sebuah ketukan di pintu membuatnya berpaling. Rupanya itu suaminya. Iqbal masuk ke dalam kamar lalu duduk di samping Syifa.


"Kenapa tidak segera turun, kan aku udah bilang aku tunggu di bawah?" tanyanya.


"Em maaf, tadi aku kesulitan mencari bajuku. Nggak taunya udah ditaruh di almari," ucap Syifa.


"Kamu tadi tidur sangat pulas. Aku suruh bibi beresin koper kamu tadi saat kamu tidur!"


"Oh maaf, tadi aku ngerasa lelah banget," ucap Syifa. Namun ia lega ternyata bibi yang merapikan kopernya.


"Gak apa-apa. Aku tahu itu. Dan barang-barang kamu yang lain, aku taruh di laci itu!" sambung Iqbal seraya menunjuk pada laci di sebelah tempat tidur.


Astaghfirullah. Jadi dia juga ikut membongkarnya? kalau gitu sih sama aja! batin Syifa.


"Eh, em ... terima kasih. Seharusnya biarkan saja. Nanti kan bisa aku bereskan sendiri," jawab Syifa.


"Aku nggak keberatan!"


"Tapi ...,-" Syifa tidak melanjutkan ucapannya.


Khawatir menyinggung perasaan suaminya.


"Sudahlah. Ayo aku kenalkan kamu pada seseorang!" tutur Iqbal seraya menggandeng tangan Syifa.


"Siapa?" tanya Syifa penasaran.


"Nanti kamu juga tahu. Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya jika kamu ingat," ucap Iqbal.


"Hah ..., Kenal?" Syifa semakin dibuat penasaran.

__ADS_1


Bukan jawaban yang Syifa dapat. Iqbal terus membawanya keluar kamar dan turun ke bawah menuju kamar seseorang.


...______Ney-nna______...


__ADS_2