Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Terkunci


__ADS_3

Ketika dalam perjalanan pulang Syifa bertemu Antika di jalan menuju rumahnya.


"Tik, dari mana?" tanya Syifa seraya menghentikan sepedanya di hadapan Antika.


"Nih, beli lauk di warung depan. Kamu sendiri dari mana?" tanya Antika lalu beralih melihat bingkisan yang ditenteng oleh Syifa.


"Sepedaan aja, tadinya mau ke rumah Nafisa, nggak taunya ketemu di seberang ujung gang. Nih, dikasih kenang-kenangan sama kak Ilham!" ujarnya seraya mengulurkan paper bag ke hadapan Antika. "Oh ya, tadi kak Ilham berpesan, minta maaf karena nggak sempet pamitan langsung sama kamu, soalnya nanti malem berangkatnya," tutur Syifa.


Antika menerima bingkisan itu kemudian menengok ke dalam isinya. "Oh, kerudung ya ...," ujarnya lalu memasukkan kembali bingkisannya. "Eh, tunggu ... barusan kamu bilang mau berangkat, emangnya mau berangkat ke mana?"


"Ke Kairo lah, kan kak Ilham dapat beasiswa dari universitas Al-Azhar, nanti malam berangkatnya," tutur Syifa mengingatkan.


"Oh, yang itu! Alhamdulillah semoga diberi kelancaran. Kamu juga dapat kerudung, Fa?" tanya Antika seraya melirik pada paper bag milik Syifa.


"Tuh, punyaku di keranjang!" Syifa menaikkan alisnya seraya memandang ke arah keranjang sepedanya.


"Coba gue lihat!" Tanpa menunggu jawaban dari Syifa, Antika langsung menyerobot bingkisan milik Syifa dan melihat ke dalam isinya.


"Eh ...!" Syifa menggantungkan ucapannya karena Antika sudah lebih dulu melihat isinya.


"Wow, pelanggaran nih, kak Ilham. Masa punya kamu warna baby pink sedangkan yang buat aku warna biru tua!" Antika mensejajarkan miliknya dengan milik Syifa yang jauh lebih manis untuk anak muda. "Gue tuker ah!"


Antika menyembunyikan kerudung warna baby pink di belakang punggungnya, kemudian menjulurkan yang warna biru tua ke hadapan Syifa.


"Eh, jangan dong, Tik. Itu punya aku!" ujar Syifa yang seketika panik. Sebab itu adalah warna kesukaan Syifa, terlebih Ilham sudah berpesan agar jangan sampai tertukar. Saat tahu miliknya berwarna baby pink, Syifa yakin Ilham sengaja memilihkan kerudung itu untuknya, sesuai dengan warna kesukaannya.


"Sama aja, 'kan? yang ini juga dari kak Ilham!" goda Antika kepada Syifa.


Sebenarnya Antika sudah tahu jika kerudung warna pink ini khusus untuk Syifa. Terlihat dari kartu ucapan yang tergantung pada hang tagnya.


"Tapi ...." Syifa nampak ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Yaelah, kamu terlalu lembek, Fa. Jika ini memang milikmu, seharusnya kamu tetap ngotot untuk mempertahankannya. Nih, uda dibaca belom?" Antika menunjukkan kartu ucapan yang tergantung pada hang tagnya.

__ADS_1


Asyifa, ijinkan aku menyebut namamu di dalam doaku. Baca Syifa di dalam hati.


Deg.


Syifa seketika membulatkan mata melihatnya. Dia merasa sangat malu karena hal itu juga terbaca oleh Antika. Pipinya pun seketika merona dibuatnya.


"Ciye ... ciye ... yang disebut namanya di dalam doanya kak Ilham!" goda Antika seraya menjawil dagu runcing Syifa.


"Apa sih, Tik. Udah ah, aku mau pulang!" ujar Syifa dengan wajah tertunduk. Dia segera memasukkan kembali kerudungnya ke dalam paper bag, lalu kembali mengayuh sepedanya meninggalkan Antika sendiri.


Di perjalanan Asyifa masih dapat mendengar seruan dari Antika yang menggodanya. Asyifa semakin tersipu karenanya.


Sesampainya di rumah Syifa tersenyum sembari memandangi kartu ucapan itu. Dia merasa tidak percaya jika Ilham menyimpan rasa suka kepadanya.


Ada rasa bahagia, malu, dan rasa tidak percaya, semua bercampur menjadi satu. Hingga jantungnya pun berdebar-debar mengingatnya.


......................


Jam terakhir pun di mulai, Bu Endah tidak seramah biasanya saat menyapa.


"Asyifa, Hanida, Rida dan Anya, tolong maju ke depan!" ujar bu Endah dengan lantang.


Keempat anak yang di sebut seketika berpandangan, kemudian dengan langkah gontai berjalan maju ke depan kelas.


"Asyifa, Hanida, Rida dan Anya ... tolong jelaskan kepada Ibu, bagaimana bisa nilai kalian sama persis dan mempunyai kesalahan di bagian yang sama!"


Syifa terdiam seraya menunduk. Memang ketiga temannya itulah yang meniru jawabannya, namun Syifa turut bersalah karena mengijinkan Nida mencontek jawabannya.


"Oke, karena tidak ada yang mau menjelaskan, untuk kalian berempat silahkan mengulang kembali testnya. Sementara kalian dua meja ini, silakan pindah duduk ke belakang di kursi yang kosong!" Bu Endah meminta empat anak yang duduknya paling depan untuk pindah ke belakang.


"Kalian berempat silakan duduk di depan untuk mengulang testnya. Dan, bagi yang lain buka buku paketnya, silakan mengerjakan halaman, 21!" tutur bu Endah dengan tegas.


Nida seketika menatap tajam kepada Syifa, kemudian duduk di salah satu bangku bagian depan sesuai dengan arahan bu Endah.

__ADS_1


Bu Endah membagikan soalnya kepada keempat siswi yang remidi kemudian berdiri di antara dua bangku itu untuk mengawasi. Sedikitpun mereka tidak bisa berkutik untuk bertukar jawaban dengan yang lain. Sebab, bu Endah sangat jeli. Nida dan kedua temannya hanya bisa pasrah mengerjakan sebisanya. Sedangkan Syifa dengan telaten mengerjakan testnya.


Setelah jam usai, Nida menatap tajam ke arah Syifa seolah Syifa adalah yang paling bersalah dalam hal ini. Terlebih karena Syifa yang tadinya dapat nilai 96, setelah remidi mendapatkan nilai sempurna. Sedangkan dia dan teman-temannya hanya mendapat nilai pas-pasan diangka enam.


Tidak hanya di situ bu Endah juga memberikan hukuman kepada mereka untuk membersihkan kamar mandi di samping kelas mereka sebelum pulang. Padahal dalam hal ini Syifa pun turut serta dihukum.


"Arif, kamu sebagai ketua kelas Ibu tugaskan untuk mengawasi apakah mereka mengerjakan tugas dengan baik, ya? jika ada yang curang laporkan hal itu kepada ibu!" ujar bu Endah.


Nida dan genknya semakin kesal dengan bu Endah. Mau tidak mau mereka menurut.


"Heh, lo ngadu ya sama bu Endah?" tanya Nida saat membersihkan toilet laki-laki bersama Syifa.


"Enggak, Nid. Untungnya apa aku mengadukan hal itu? toh kamu lihat sendiri aku juga dihukum sama seperti kalian," tutur Syifa membela diri. "Nida, gaya mencontek kamu itu terlalu kentara makanya bu Endah tahu jika kamu mencontek seluruhnya. Karena sama persis dengan punya aku. Aku pikir kemarin kamu hanya butuh beberapa jawaban yang kamu benar-benar nggak bisa, kenapa malah meniru semuanya, terlebih teman-teman kamu melakukan hal yang sama."


Nida semakin kesal mendengar Syifa mengguruinya. Dia mendorong Syifa ke tembok dan menekan bahu Syifa. "Huh, dasar sok pintar dan keganjenan, lo. Mentang-mentang lo populer dan dapat nilai bagus lo bisa sombong ya, lihat aja gue akan balas atas penghinaan, lo!"


Nida kemudian ke luar dari kamar mandi dan mengunci pintunya.


"Rif, kita udah selesai, lo bisa pulang!" ujar Nida melapor ke Arif yang menunggu di dalam kelas.


"Oke, gue cek dulu!" ujar Arif hendak beranjak dari duduknya menuju ke kamar mandi.


"Nggak perlu, udah sana pulang!" Cegah Nida.


"Tapi, gue musti ngecek dulu!"


"Lo nggak percaya sama gue? Nih, ambil dan segera pergi sekarang juga!" ujar Nida seraya memasukkan selembar uang seratus ribuan ke kantong baju Arif.


"Tapi, Nid ...."


"Pulang! atau lo mau cari masalah sama gue?!" gertak Nida.


Arif segera menyabet tasnya dan beranjak pergi. Sayup-sayup Arif mendengar suara minta tolong namun dia tidak menggubrisnya.

__ADS_1


"Tolong ... tolong ...!"


..._________Ney-nna_________...


__ADS_2