Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Mama Alika


__ADS_3

Syifa tengah membantu mamanya membuat kue. Rosa sudah mulai berjualan kue lagi semenjak dua hari yang lalu. Merry memberi kabar jika ada tempat kosong di food court yang dapat disewa. Mendengar hal itu Rosa bergegas menemui pengelola dan akhirnya didapatnya stand berjualan kue lagi.


Bersyukur beberapa pelanggan lamanya yang sudah tahu bagaimana rasa kue buatan Rossa, menyambut dengan cukup antusias. Apalagi di hari pertama, Rosa memberikan sample gratis bagi siapa saja yang hendak mencicipi. Yang kebetulan tepat di hari Jum'at, saat yang tepat untuk bersedekah.


Terbukti, dagangan Rosa laris manis karena rasa kuenya yang bikin nagih. Mereka tak segan-segan melarisi kue buatan Rosa yang memang cukup enak dan terjangkau.


"Ros, kangen banget sama kue buatanmu ini. Sering-sering promo, ya? semoga laris manis!" ujar salah satu pembeli yang juga teman sesama penjual di salah satu Ruko.


Untuk membuat kuenya, Rosa menggunakan dapur umum yang berada di kost. Beruntungnya penghuni kost yang lain tidak ada yang protes atau keberatan akan hal itu. Justru mereka senang karena Rosa tidak pelit untuk membagi kuenya pada tetangga kostnya yang kedapatan tengah berada di dapur saat ia membuat kue.


Begitupun dengan Alika yang setiap hari berlangganan membeli kue di tempat Rosa ia selalu meminta pada eyangnya untuk dibelikan kue buatan Rosa.


"Eyang, ayo beliin kue di tempat Kak Syifa, Eyang!" rengek bocah itu meminta dibelikan kue Onbijtkoek di tempat mamanya Syifa.


"Baiklah..., ini uangnya. Alika ke sana sendiri ya? Eyang lelah!" tutur eyang Alika seraya menyerahkan selembar uang berwarna biru.


Bocah itu semakin lama semakin menempel pada Syifa. Setiap hari sepulang sekolah iya akan datang untuk mencari Syifa. Syifa yang belum mendapatkan pekerjaan hanya berdiam di kostnya sembari mencari info lowongan kerja yang mau menerima lulusan ulya atau jika di sekolah formal setara SMA.


Hal itu tidak lah mudah. Sebab kebanyakan lowongan yang dicari adalah yang berpenampilan menarik. Cukup sulit mencari yang cocok dengannya yang mengenakan niqob.


"Assalamualaikum, Kakak!" seru Alika dari luar kamar kostnya.


"Wa'alaikumussalam!" ucap Syifa seraya beranjak membukakan pintu. "Alika ..., baru pulang sekolah, ya?"


"Iya. Alika mau beli kue," ujarnya seraya menyodorkan selembar uang yang tadi diberi oleh eyangnya. Sebelumnya eyang Alika memang sudah pesan kuenya, dan hari ini Syifa sudah menyisakan satu box untuk diberikan pada Alika. Dan, selebihnya Rosa membawa semuanya ke tempat ia berjualan.


"Ini kuenya sudah Kakak siapkan untuk Alika!" ujar Syifa seraya menyodorkan sebuah box kue Ontbijtkoek kepada Alika.


"Wah ..., makasih Kakak!" seru bocah itu girang.


"Sama-sama, Sayang. Sebentar Kakak ambilkan kembaliannya!"


Seusai mengambil kembalian, Syifa memasukkan uang kembaliannya ke dalam kantong berbentuk tas selempang kecil yang menempel pada dress yang dikenakan Alika.

__ADS_1


"Nanti kembaliannya jangan lupa diberikan sama eyang, ya!" titah Syifa.


Anak itu pun mengangguk patuh dengan kepada Syifa.


Namun, bukannya pulang bocah itu justru langsung membuka box kuenya dan memakannya.


"Alika, kuenya tidak dibawa pulang dulu? nanti eyang nanyain, lhoh," tanya Syifa.


"Alika masih mau main sama Kakak!" ujar bocah itu. Dan seperti yang sudah-sudah, akhirnya Syifa mengajaknya bermain seolah pengasuhnya saja. Hingga anak itu mulai tertidur di tempat kost Syifa setelah lelah bermain.


......................


Sepulang kerja dan tidak mendapati putri semata wayangnya tidak ada di rumah membuat Hanif mencari-cari keberadaan putrinya itu.


Hanif bekerja sebagai dosen di salah satu universitas di kotanya. Kali ini ia pulang lebih awal dari biasanya. Ia berniat mengajak putrinya itu bermain. Sebab ia sadar diri jika ia tidak punya banyak waktu untuk putrinya dilain hari. Namun, sesampainya di rumah putrinya itu tidak ada di mana pun.


"Ummi, Alika di mana?" tanya Hanif pada ibunya.


"Anakmu itu setiap hari mana betah di rumah? Sejak pulang sekolah ia langsung bermain ke kostan sebelah," tutur ummi Farida.


Semenjak Syifa ngekost di tempat kostnya, putrinya itu tak henti-hentinya membicarakan aktivitasnya bersama gadis bercadar itu pada eyangnya. Awalnya Hanif tak begitu peduli tapi kini ia tidak menyangka, rupanya pengaruh gadis itu cukup terasa.


Putrinya itu seringkali minta dipakaikan kerudung, kemudian bersenandung lagu anak-anak seperti yang diajarkan di taman kanak-kanak, dan tak jarang bergumam membaca surat-surat pendek. Ketika ia lupa lanjutan ayatnya, maka ia akan bertanya padanya atau pada eyangnya.


"Alika di sekolah diajarkan itu?" tanya Hanif ketika mendengar hafalan putrinya.


"Emm, iya. Tapi Alika belum hafal. Terus diajarin sama Kakak jadi lebih hafal," seloroh Alika.


"Alika beruntung sekali mengenal gadis itu. Dia baik dan sabar menangani Alika. Andaikan mamanya masih ada, pasti anak itu tidak akan kesepian dan mencari perhatian dari orang lain!" gumam Farida sendu karena sejak dilahirkan cucunya itu tidak mengenal mamanya yang telah pergi untuk selama-lamanya.


Hanif terdiam mendengar hal itu. Ia tidak mampu berkata-kata jika kembali mengenang istrinya yang telah tiada. Wanita yang ia kenal sebagai rekan kerjanya itu adalah cinta pertamanya. Tanpa berpacaran ia meminangnya. Siapa sangka jika ternyata langsung diterima. Rupanya diam-diam keduanya telah menyimpan rasa yang sama.


Satu tahun menikah akhirnya istrinya itu hamil. Namun, cobaan datang saat Amanda melahirkan. Istri hanif itu mengalami perdarahan usai melahirkan dan akhirnya tidak terselamatkan.

__ADS_1


Selama lima tahun ia membesarkan putrinya dibantu oleh sang ibu. Awalnya ibu mertuanya menawarkan diri untuk membantu merawat Alika agar Hanif bisa fokus bekerja. Namun, tak berapa lama kakak iparnya juga melahirkan seorang putri. Dan ia menitipkan pada ibu mertuanya itu. Akhirnya hanif memilih tetap mengasuh sendiri putrinya itu.


"Hanif!" seruan dari Farida membuat Hanif tersadar dari lamunannya. "Kamu selalu saja melamun setiap kali Ummi membahas soal Amanda. Sudah lima tahun berlalu, Hanif. Mulailah membuka hatimu untuk wanita lain. Putrimu membutuhkan seorang ibu!"


"Bagaimana jika tidak bisa menyayangi Alika, Ummi?" tukas Hanif.


"Jika begitu carilah yang menyayangi putrimu. Kemudian tugasmu adalah mencoba membuka hatimu untuk menyayangi perempuan itu!" tutur Farida.


Tok tok tok.


Ketukan di pintu membuat keduanya beralih menatap ke arah depan. Hanif beranjak menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Sayup-sayup terdengar suara isak tangis dari putrinya.


Saat pintu terbuka nampak putrinya yang tengah menangis dalam gendongan Syifa.


"Alika ...! Kamu kenapa, Sayang?" pekik Hanif panik melihat putrinya menangis.


"Dia terjatuh saat mengejar kucing di halaman. Maaf saat Alika jatuh saya sedang di dapur. Tapi saya sudah memberinya minyak zaitun pada lututnya yang lecet!" ujar Syifa dengan sedikit gelisah. Takut jika akan disalahkan karena hal ini.


Hanif tidak langsung menjawab. Sekilas ia memandang pada sorot mata Syifa yang nampak berkata jujur.


"Terima kasih sudah menjaganya!" ujar Hanif.


Syifa mendongak melihat ke arah Hanif beberapa detik. Ia tidak menyangka jika laki-laki dihadapannya itu langsung percaya pada ucapannya dan tidak mempermasalahkan perihal putrinya yang terluka.


"Alika, ayo Papa gendong!" bujuk Hanif.


Alika segera mengulurkan kedua tangannya ke arah papanya. Dan anak itu pun kini berpindah pada dekapan sang papa.


"Saya permisi. Assalamualaikum!" ucap Syifa segera undur diri saat bocah itu sudah berada bersama orang yang tepat.


"Wa'alaikumussalam!" ucap Hanif.


Sepertinya saya punya ide yang bagus untuk Alika dan gadis itu, batin Hanif.

__ADS_1


Ia lalu membawa putrinya masuk ke dalam rumah setelah Syifa tak terlihat lagi.


...______Ney-nna_______...


__ADS_2