Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Terjaga


__ADS_3

Sebuah handphone meluncur ke lantai dari arah belakang bersamaan jatuhnya Ilham.


"Arrghh! Astaghfirullah ...!" pekik seorang perempuan.


"Maaf ..., saya tidak sengaja karena Anda tiba-tiba berhenti mendadak," ucap perempuan itu dengan cemas.


Ilham segera mengikat tali sepatunya kemudian mengambil handphone yang terjatuh tak jauh dari hadapannya. Lalu ia beranjak berdiri dan menyerahkan handphone tersebut ke hadapan Syifa.


"Maaf ... saya benar-benar tidak sengaja. Silakan di cek. Jika ada kerusakan saya akan bertanggung jawab untuk biaya perbaikannya. Tetapi sebaiknya Anda juga tidak memainkan handphone saat sedang berjalan!" ucap Ilham seraya menyerahkan handphone kepada perempuan itu.


Perempuan itu menunduk malu. Ia sadar jika yang dikatakan Ilham benar karena ia tadi sempat bermain handphone ketika sedang berjalan.


"Yah ..., handphone aku nggak bisa nyala!" ucap perempuan itu sendu melihat handphonenya rusak.


"Boleh saya lihat? Jika Anda tidak keberatan biar saya bawa ke counter untuk diperbaiki!" tawar Ilham berusaha untuk bertanggung jawab.


"..."


Perempuan itu tidak segera menjawab. Justru ia mencoba meneliti penampilan Ilham. Khawatir jika memberikan handphonenya kepada orang yang tidak tepat. Bagaimana jika laki-laki yang berada di hadapannya itu bukan orang yang baik-baik. Tapi setelah beberapa saat menelisik penampilannya ia justru dibuat kagum akan ketampanan Ilham.


Penampilannya rapih dengan kemeja koko dan celana panjang lengkap dengan kupluk di atas kepalanya membuat ia terlihat agamis. Ditambah ciri khusus yang sangat dominan terlihat jelas dari wajahnya jika laki-laki di hadapannya ini sesuku dengannya. Yaitu sama-sama keturunan Arab.


"Mbak Asyifa sepupunya suami Nafisa 'kan?" ucap Syifa menyela pembicaraan mereka seraya mendekat ke arah perempuan itu.


Perempuan itu seketika tersenyum saat mengenali Syifa. "Iya betul. Anda jenguk Nafisa?" tanya perempuan itu yang juga bernama Asyifa.


"Iya Mbak, ini mau jenguk ponakan baru. Mbak juga mau ke sana? wah nggak nyangka malah ketemu di sini. Oh ya, kenalkan ini kak Ilham abangnya Nafisa!" ucap Syifa memperkenalkan Ilham pada Asyifa sepupu suami Nafisa.


Asyifa mengangkat kedua tangannya di depan dada sembari tersenyum ramah. Sedangkan Ilham hanya mengangguk kecil menanggapi.


"Ya udah yuk, Mbak. Barengan aja ke sananya!" ajak Syifa ramah.


Asyifa Aulia mengangguk setuju.


"Namanya sama?" tanya Ilham setengah berbisik kepada Syifa adik tirinya.


"Heem," jawab Syifa singkat.


"Namanya pasaran!" celetuk Ilham lalu berjalan lebih cepat meninggalkan dua perempuan bernama Asyifa itu.

__ADS_1


"Yee ... biarin. Itu artinya namanya bagus tau, Kak!" seru Syifa agar didengar oleh Ilham.


Asyifa yang turut mendengarnya pun ikut tersenyum melihat keakraban mereka.


"Jangan diambil hati ya, Mbak. Kak Ilham emang suka begitu kalau bercanda. Aslinya baik banget kok orangnya!" tutur Syifa. "Oh ya, Mbak. Handphonenya biar Kak Ilham aja yang bawa ke counter. Mbak Syifa tenang aja, kak Ilham orangnya bertanggung jawab kok!" tambahnya.


"Ya udah deh ini aku nitip ke kamu aja ya, tolong berikan ke Kak Ilham!" ucap Asyifa Aulia seraya menyerahkan handphonenya kepada Syifa.


"Siap, Mbak!" ucap Syifa lalu memasukkan handphone Asyifa ke dalam sling bagnya.


"Mbak Syifa dari rumah atau dari mana, Mbak?" tanya Syifa.


"Aku tadi dari kampus, Dek. Abah sama ummi udah di sini. Aku disuruh nyusul ke sini," jawab Asyifa.


Mereka berdua pun segera menyusul Ilham menuju ke kamar Nafisa sambil mengobrol mengakrabkan diri. Sesekali Asyifa mencuri pandang ke arah Ilham. Ia sering mendengar dari Nafisa tentang abangnya. Ia tidak menyangka jika abang Nafisa ternyata cukup tampan dan sangat menjaga pandangannya.


Sesampainya di depan kamar rawat Nafisa terlihat ada beberapa orang yang sedang menunggu di kursi tunggu. Kedatangan mereka langsung disambut hangat oleh suami dan mertua Nafisa. Selain itu juga terlihat orang tua dari Asyifa. Sedangkan di dalam ada Abi dan mama Rossa.


Ilham dan Asyifa meminta ijin untuk masuk ke dalam menyusul Abi dan mama Rossa ke dalam kamar rawat Nafisa. Begitu masuk Syifa langsung menghambur untuk memeluk Nafisa. Ia turut bahagia melihat sahabatnya sudah melahirkan.


Begitupun dengan Ilham yang terlihat tersenyum bahagia atas kelancaran persalinan adiknya. Ia mengusap lembut pucuk kepala Nafisa.


"Masih di ruangan bayi, Bang. Tadi katanya mau diobservasi dulu," tutur Nafisa.


Setelah beberapa saat puas mengobrol dan melepas rindu dengan Nafisa, mereka memutuskan untuk keluar sejenak memberi kesempatan bagi yang lain untuk menjenguk Nafisa. mereka pun beralih menuju ruangan bayi untuk melihat bayi Nafisa.


Kini giliran Asyifa dan orang tuanya untuk masuk ke dalam menjenguk Nafisa.


Sesampainya di ruangan bayi, mereka hanya dapat melihat bayinya dari balik kaca. Sebab untuk menjaga agar ruangan bayi tetap steril. Imron merasa haru melihat cucu pertamanya yang begitu menggemaskan dan sangat cantik. Ia bersyukur cucunya lahir dengan selamat dan sehat.


Beberapa saat kemudian abi Imron dan mama Rosa meninggalkan ruang bayi untuk kembali ke kamar rawat Nafisa.


Mengingat ekspresi Abi Imron yang tersenyum bahagia, Syifa pun berbicara kepada Ilham, "Kak, ini kode. Giliran kak Ilham yang harus segera kasih cucu buat Abi!" canda Syifa kepada Ilham yang sedang fokus melihat ke arah bayi Nafisa.


"Kenapa tidak kamu saja yang duluan. Kak Ilham gampang nanti belakangan. Misiku masih belum selesai ...," ucap Ilham.


"Misi apa?" tanya Syifa penasaran.


"Misi buat jagain kamu!" jawabnya.

__ADS_1


"Jagain aku? kenapa? emang aku anak kecil yang musti dijagain sebegitu intensnya?" tanya Syifa.


"Meskipun aku tidak ditakdirkan untuk menjaga kamu sebagai pendamping hidupmu. Setidaknya biarkan aku menuntaskan misiku untuk menjagamu sebagai seorang kakak pada adiknya, hingga kamu menemukan kekasih halalmu!" tuturnya lalu memberi jeda. "Kakak akan merasa lega ketika nantinya tugas kakak buat jagain kamu sudah ada yang melanjutkan. Yaitu oleh suamimu!"


Syifa haru mendengarnya. Seketika Syifa teringat masa kecilnya. Ilham sangat melindungi dan menjaganya selayaknya ia menjaga Nafisa. Dengan tulus Ilham memberinya bantuan tanpa diminta. Mengantar pulang saat ia usai belajar mengaji bersama ummi, dan masih banyak lagi kebaikan dan perhatian Ilham padanya.


Rasanya ia menyadari satu hal. Ketika ia berharap Ilham menepati janjinya sebelum berangkat ke Kairo, ia justru terjaga pandangannya pada laki-laki lain. Ia tidak berminat untuk menjalin cinta dengan pemuda lain meskipun tidak sedikit yang menyatakan cinta kepadanya. Ia hanya menjaga satu nama yang berada jauh darinya. Bisa jadi harapannya yang mendalam terhadap Ilham lah, yang menjaganya untuk tidak terjerumus pada hubungan yang tidak halal dengan lawan jenis. Dan hanya mengagumi satu nama dalam diamnya.


"Heh! malah bengong sih!" seru Ilham saat Syifa diam saja.


"Selama ini Kak Ilham sudah menjaga Syifa. Sekarang sudah saatnya Kak Ilham menikah. Syifa belum ingin menikah. Syifa mau lulus dulu baru menikah. Kakak kan sudah matang nanti keburu tua loh!" canda Syifa.


"Apanya yang matang? kamu pikir aku buah? Kamu ini suka sekali ngeledek!" ucap Ilham seraya tersenyum. "Kamu kan bisa tetap kuliah selagi menikah seperti Nafisa," ujar Ilham.


"Enggak, Kak. Tekad Syifa sudah bulat. Syifa ingin buat mama bangga dengan prestasi Syifa. Syifa nggak pengen nanti terkendala kuliah karena suatu hal. Bisa aja kan suamiku nanti gak setuju aku lanjut kuliah karena sudah ada anak dan menginginkan aku fokus mengurus anak dan keluarga. Pokoknya Syifa nggak pengen buru-buru nikah! lagi pula ...." Syifa menggantungkan ucapannya lalu diam.


Hal itu membuat Ilham seketika menoleh karena penasaran. "Lagi pula apa?"


...______Ney-nna______...


Assalamualaikum,


Hai reader's, Neyna ucapkan terima kasih atas dukungan kalian semua pada karya ini. Neyna tidak menyangka kalian masih setia buat ngikutin kelanjutan kisah Syifa meski Neyna keseringan hiatus. Jujur Neyna juga sedih membuat kalian menunggu. Semoga kita semua diberi kesehatan. Karena kehadiran kalian adalah semangat Neyna untuk menuntaskan novel ini.


Sesuai janji Neyna akan umumkan 3 pemenang yang akan mendapatkan sedikit hadiah dari Neyna, langsung saja untuk pemenangnya :



Kak Rahma


Kak Wury Ayra


Kak Manda



Yeyyy 🎉🎉🎉 Selamat ya, semoga bermanfaat.


Bagi pemenang silakan PC saya ya!

__ADS_1


Wassalamu'alaikum 💕💕😘


__ADS_2