
Keesokkan harinya usai melaksanakan salat subuh, Syifa dibuat terkejut saat melihat ada notifikasi pesan dari Antika yang mengabarkan jika ummi Syarifah dibawa ke rumah sakit. Rupanya ummi Syarifah kelelahan hingga keadaannya drop.
Keluarga segera membawanya ke rumah sakit. Menjelang pagi Nafisa dan suaminya diminta untuk pulang oleh Abi. Namun, baru saja menginjakkan kaki di rumahnya. Mereka mendapatkan kabar jika ummi Syarifah telah menghembuskan napas terakhirnya.
Berita itu segera menyebar di kampung arab, termasuk di desa Antika. Banyak warga yang merasa kehilangan sosok almarhum yang semasa hidupnya sangat baik.
"Innalillahi wa innaa ilaihi rajiuun!" pekik Syifa dan seketika matanya berkaca-kaca saat tahu wanita yang dikenalnya dengan sangat baik itu telah tiada.
"Syifa ..., ada apa?" Rosa segera menoleh ke arah Syifa saat mendengar putrinya melafazkan kalimat istirja.
"Ummi Syarifah, Ma. Ummi ... menghembuskan nafas terakhirnya!" ucap Syifa dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Innalillahi wa innaa ilaihi rajiuun!" ucap Rossa. "Apa yang terjadi Syifa? kemarin sore mbak Syarifah masih terlihat baik-baik saja. Kapan meninggalnya?" tanyanya lagi.
Rosa nampak sangat terkesiap saat mendengar meninggalnya Syarifah. Ia tidak menyangka wanita yang sudah sangat membantu dirinya dan dianggapnya seperti saudaranya itu begitu cepat pergi.
Tanpa terasa air matanya pun luruh mengingat kebaikan beliau.
"Semalam keadaan ummi drop, Ma. Abi Imron membawa ummi ke rumah sakit. Namun, pagi ini ummi dikabarkan sudah tidak dapat bertahan lagi dan akhirnya menghembuskan napas terakhirnya," tutur Syifa seraya terisak.
Begitu juga dengan Ilham. Ia pasti sangat sedih jika tahu hal ini. Saat ia berada jauh dari rumah untuk menuntut ilmu dengan harapan membuat orang tuanya bangga dengan pencapaiannya saat ini, justru ia harus menerima kenyataan kehilangan orang yang paling ia sayang di tanah air.
Setelah mendapat kepastian dari Antika tentang keberadaan jenazah ummi saat ini, Syifa dan mamanya bergegas membersihkan diri dan bersiap-siap menuju ke rumah Nafisa.
__ADS_1
Setibanya di rumah Nafisa, Syifa segera menjumpai Nafisa yang masih menangis di kamarnya. Sementara suami Nafisa dibantu dengan kerabat dekat lainnya mempersiapkan untuk acara pemakamannya. Sementara jenazah ummi Syarifah belum datang.
"Sa!" panggil Syifa lalu menghambur memeluk sahabatnya itu. Nafisa nampak mengeluarkan air mata dengan tangis yang tertahan. Mencoba untuk tegar menghadapi musibah yang tengah menimpa keluarganya. Rasanya begitu berat saat kehilangan orang yang paling ia sayang.
Syifa pun turut meneteskan air matanya melihat keadaan sahabatnya itu. Diusapnya punggung sahabatnya itu berkali-kali untuk memberi kekuatan. Antika yang juga berada di sana dan lebih dahulu sampai, turut merasa haru dan larut dalam suasana duka.
Selang satu jam terdengar suara ambulance datang. Jenazah ummi Syarifah segera dimandikan dan dikafani. Setelah itu para pelayat yang datang bergantian menyolatkan jenazahnya, tak hanya duduk-duduk saja. Mengingat betapa baiknya dan ringan tangannya beliau.
Setelah serangkaian acara dilaksanakan, jenazah pun dikebumikan.
Nafisa tampak terdiam menatap pusara ibunya. Syifa terus mendampingi sahabatnya itu agar Nafisa dapat mengikhlaskan. Ia mencoba ikhlas agar almarhumah umminya dapat kembali dengan tenang di sisi Allah.
__ADS_1
...______Ney-nna______...