Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Bertemu Orang lama


__ADS_3

Syifa terus memperhatikan wajah wanita setengah baya yang berada di hadapannya itu.


Seperti tidak asing tapi siapa ya? gumam Syifa di dalam hati.


"Maaf, apa Anda mengenal saya?" tanya Syifa.


Saya ibunya Arjuna. Apa kamu ingat?" tanya perempuan paruh baya itu.


"Oh iya Tante, saya ingat," jawab Syifa.


"Waktu khanza memanggil namamu saya langsung ingat denganmu. Terlebih karena kornea matamu yang sangat khas itu!" ujar Maya.


"Oh, iya Tante. Ini ...?" tanya Syifa yang penasaran apa hubungannya dengan Khanza.


"Ini anak dari kakaknya Arjuna. Kebetulan mamanya tidak bisa mengantar karena sedang ada rapat di kantornya jadi omanya yang mengantar," tutur Maya.


"Oh iya, Tante. Ayo sayang masuk ke kelasmu ya, Oma harus pulang dulu!" bujuk Syifa.


"Nggak mau, mau sama Oma!" rengek Khanza.


"Tante, karena sudah hampir satu bulan lebih maka anak-anak tidak boleh ditunggu lagi. Mereka harus belajar mandiri. Jadi meskipun dia menangis sebaiknya tetap ditinggal saja. Nanti saya akan berusaha membujuknya agar dia terbiasa dengan gurunya," tutur Syifa kepada Maya.


"Baiklah, saya percaya padamu, Syifa. Saya titip Khanza ya?" ujar Maya.


"Bisa diantar sampai ke dalam kelasnya terlebih dahulu nanti setelah bel masuk berbunyi boleh ditinggalkan, Tante," ujar Syifa.


"Oh begitu, baiklah terima kasih ya, Syifa!"

__ADS_1


Syifa mengangguk sopan seraya tersenyum untuk menanggapinya.


Setelah berbaur dengan teman-temannya dan mulai bermain akhirnya Khanza mau ditinggal oleh omanya.


"Syifa, saya permisi dulu ya. Assalamu'alaikum," pamit Maya.


"Baik Tante, Wa'alaikumussalam. Hati-hati di perjalanan, Tante," tutur Syifa.


Syifa pun kembali masuk ke kelas untuk mengajar. Menghadapinya dengan cara yang paling seorang anak balita memang gampang-gampang susah. Ada saja yang lucu dan menggemaskan, pendiam, penakut, bandel, dan suka jahil. Tentunya hal itu memerlukan sebuah kesabaran yang luar biasa.


Sebab dunia anak-anak penuh warna. Mereka membutuhkan perhatian yang lebih, dan harus diperlakukan dengan lembut, dengan usapan agar mereka menurut dan patuh pada gurunya.


"Baiklah anak-anak. Pelajaran hari ini cukup. Setelah pulang jangan lupa untuk beristirahat dahulu ya jangan langsung main! Sampai berjumpa lagi anak-anak. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam, Ustadzah!"


Sepulang sekolah masih ada beberapa murid yang belum dijemput, sebab orang tua mereka agak terlambat dalam menjemput. Termasuk Khanza yang sudah mulai cemberut karena walinya belum datang. Sehingga Syifa yang merupakan wali kelas dari Khanza harus mendampinginya.


Terlihat tante Maya berlari kecil dengan tergopoh-gopoh. Khanza segera berdiri saat melihat Omanya datang.


"Oma ...!" ujar anak itu dengan netranya yang berkaca-kaca berlari kecil menyambut omanya.


"Khanza maaf kan Oma terlambat datang ya? Tadi Oma lupa kalau pulangnya jam sebelas," ujarnya seraya merengkuh cucunya ke dalam pelukannya.


"Mama mana? Khanza mau Mama!" ujar anak itu menangis mencari ibunya.


"Mama belum pulang, Sayang. Mama masih bekerja," tutur Maya.

__ADS_1


"Aku mau Mama!" rengek lagi.


Melihat ada keributan Syifa pun ikut mendekat.


"Ada apa, Tante?" tanya Syifa.


"Dia merengek minta mamanya yang jemput. Sedangkan mamanya baru mulai masuk kerja hari ini. Jadi tidak bisa menjemput. Kedepannya saya yang akan menjemputnya," tutur Maya.


"Oh, iya, Tante coba saya bantu bujuk." Syifa beralih berjongkok di depan Khanza untuk membujuknya, "Khanza, anak salihah tidak boleh marah. Ayo pulangnya sama Oma dulu ya!"


Namun Khanza tetap menangis dan meminta mamanya.


"Ada apa, Ma?" tanya seseorang laki-laki yang baru muncul.


"Om, Khanza mau Mama!" ujar Khanza beralih menuju Arjunya yang baru datang. Karena agak lama menunggu di dalam mobil akhirnya Arjuna masuk ke dalam untuk menyusul.


"Tentu saja, Sayang. Nanti kita telepon mama kalau sudah sampai di rumah. Sekarang kita jalan-jalan dulu sama Oma. Khanza mau ikut Om jalan-jalan?"


"Ayo Om, Khanza mau ikut jalan-jalan!" Anak itu pun berubah riang. Dan bersemangat untuk pulang bersama omnya.


"Baiklah ayo!" Arjuna menggendong keponakannya itu.


"Syifa, Tante pamit yah!" ujar Maya.


Arjuna seketika menoleh ke arah yang di sebut oleh mamanya.


Syifa! batin Arjuna terkejut. Ia terkesiap saat mendengar nama itu disebut. Ia tidak menyangka setelah sekian lama sejak Syifa pindah sekolah ke pondok, akhirnya ia dapat bertemu Syifa kembali.

__ADS_1


...________Ney-nna_______...


__ADS_2