Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Ke Butik


__ADS_3

Sore harinya Syifa dan mamanya berbelanja untuk kebutuhan di kost dan juga peralatan untuk membuat kue. Untuk bahan-bahannya Rosa memilih tidak membelinya terlebih dahulu. Sebab belum bisa dipastikan kapan ia bisa memulai berjualan lagi. Mengingat ia belum menyewa tempat untuk berjualannya.


Saat di supermarket, secara tidak sengaja Syifa dan mamanya bertemu dengan tante Merry, teman Rosa yang juga berjualan di pusat grosir kain saat berbelanja di supermarket.


Dari pertemuan itu Merry mengatakan jika sampai saat ini kios nenek Fatimah tetap dibiarkan kosong. Padahal di dalamnya masih banyak gulungan kain peninggalan milik nenek Fatimah. Sungguh disayangkan karena keponakannya itu tidak mengelola dengan baik.


"Balik jualan kue lagi aja, Ros. Gampang mah kalau jualan makanan kan kamu tinggal sewa lapak di tengah khusus untuk food court! Besok aku bantuin bilang ke Pak Dodi, deh!" seloroh Merry yang berniat membantu meminta ijin sewa pada pengelola gedung.


"Makasih ya, Mer!" ujar Rosa seraya tersenyum.


"Beres! Berapa nomor handphone kamu?" tanyanya.


Kemudian mereka bertukar nomor.


......................


Ketika malam harinya, ternyata di kost itu cukup ramai. Di kamar paling ujung sepertinya ditinggali oleh anak laki-laki yang masih remaja. Terlihat ada beberapa anak laki-laki yang terlihat keluar masuk dari kamar itu. Kemudian menjelang malam suara petikan gitar disertai lantunan lagu terdengar dari arah kamar itu.


Di sebelah kamarnya, sepertinya ditinggali oleh sebuah keluarga kecil. Terdengar ada suara anak kecil yang sesekali merengek entah meminta apa pada orang tuanya.


"Ma, di sini ramai, ya?" ujar Syifa seraya duduk di depan jendela yang memperlihatkan suasana di luar kamar kostnya.


"Iya, Fa. Namanya juga tempat kost. Dalam satu kamar saja ada beberapa orang, dikalikan jumlah kamar yang ada di sini berapa? pastilah sangat ramai dan beragam Semoga orangnya baik-baik dan tidak aneh-aneh!" tutur Rosa sembari membereskan baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam almari.


"Iya, Ma. Syifa harap kita bisa betah tinggal di sini!" ujarnya.


"Mama capek, Fa. Mama mau istirahat duluan, ya?" ujar Rosa setelah selesai beberes. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Kamar kost itu terdiri dari satu kasur dengan ukuran cukup besar yang cukup nyaman jika dipakai untuk tidur dua orang. Di dalamnya terdapat kamar mandi yang berada di dalam. Terdapat juga sebuah almari dua pintu dan masih tersisa sedikit ruang gerak yang cukup.

__ADS_1


Sengaja memang Syifa mencari kamar mandi yang berada di dalam kamar. Ia takut terjadi yang tidak diharapkan jika berbagi kamar mandi dengan penghuni kost yang lain. Bukan karena masalah antrenya, ia sudah terbiasa antre waktu di pondok. Tapi ia khawatir ada yang berbuat nakal karena ada penghuni kost laki-lakinya.


Syifa baru saja akan beranjak dari duduknya tiba-tiba ada telepon masuk dari papanya. Ia segera mengangkat telepon itu.


"Hallo, Pa!" ujar Syifa.


"Syifa, Rosita bilang kamu ke kota XX. Kalian baik-baik saja, kan?" tanya Edward.


"Aku dan mama baik-baik aja kok, Pa. Masalah Papa dengan istri Papa bagaimana?" tanya Syifa ingin tahu.


"Dia belum mau pulang ke rumah. Aku belum bisa membujuknya pulang," ujar Edward terdengar pilu.


"Papa, sampaikan pada istri Papa ... Syifa dan mama akan menetap di kota ini. Kami tidak akan mengusik keluarga kalian lagi. Syifa harap dengan hal itu keluarga kalian akan kembali utuh dan harmonis," seloroh Syifa.


"Kamu bicara apa Syifa! Masalah Papa ini disebabkan karena kesalahan Papa sendiri, kalian sama sekali tidak salah. Aku tidak mau melihat kalian hidup menderita lagi. Pulanglah Syifa, Papa akan menyelesaikan masalah Papa tanpa membuat kalian menderita!" Suara Edward terdengar gusar.


"Syifa dan mama lebih senang berada di sini, Pa. Ini tempat kelahiran Syifa, dan ini adalah kemauan Syifa untuk kembali ke kota ini. Percayalah jika Syifa dan mama akan baik-baik saja tinggal di sini, Pa. Syifa tidak akan melupakan kebaikan Papa dan sampai kapan pun Papa tetap Papanya Syifa."


Di seberang telepon nampak hening. Agaknya papanya itu tengah mencerna perkataan Syifa.


"Pa, beri kabar secepatnya jika Papa sudah berbaikan dengan keluarga Papa ya. Itu yang akan membuat Syifa bangga memiliki Papa yang bertanggungjawab kepada keluarganya. Syifa mau tidur dulu ya, Pa. Papa juga harus segera tidur, ingat untuk selalu menjaga kesehatan Papa!" pungkas Syifa.


"Baiklah, Papa akan mengikuti perkataan mu. Papa sangat bangga dengan kebesaran hatimu. Tolong kabari Papa jika kamu memerlukan bantuan!"


"Pasti, Pa. Selamat malam, Pa!"


"Selamat malam, Sayang!"


Sambungan diputus.

__ADS_1


Syifa menaruh handphonenya ke atas nakas, lalu turut merebahkan diri di samping mamanya.


......................


Keesokan paginya Syifa dan mamanya datang ke rumah Nafisa untuk membantu persiapan acara akad nikah Nafisa yang akan dilakukan besok. Ummi Syarifah sangat senang melihat Syifa dan Rosa kembali ke kota ini.


Beliau meminta Rosa untuk membuatkan kue Ontbijtkoek yang akan dijadikan suguhan bagi para tamu dan juga buah tangan besannya.


Rosa menyambut orderan pertamanya dengan suka cita. Ia dibantu oleh saudara ummi Syarifah untuk membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Sebab banyak yang harus mereka beli mengingat jumlah yang akan mereka buat cukup banyak.


"Syifa, tolong kamu temani Nafisa ke butik ya untuk mencoba baju pengantinnya. Ummi tidak sanggup menemani Nafisa ke butik karena masih banyak yang harus dipersiapkan!" ujar Ummi Syarifah.


"Baik, Ummi!" ujar Syifa patuh.


Syifa dan Nafisa pun segera menuju butik yang telah dipercayakan oleh ummi Syarifah untuk menyiapkan baju pengantin Nafisa yang akan mereka kenakan besok. Tidak lupa mereka juga mengajak Antika untuk ikut serta.


......................


Sesampainya di butik, mereka disambut seorang wanita paruh baya dengan senyuman ramah.


"Assalamualaikum, Tante Habibah!" ucap Nafisa seraya menyalimi wanita cantik berdarah Arab itu.


"Waalaikumussalam. Akhirnya kamu datang juga, Sayang. Bajunya sudah Tante jadikan sejak dua hari yang lalu, lhoh!" ucap Habibah.


"Maaf, Tante. Kemarin masih sibuk. Oh ya, ini sahabat Nafisa, Tante!" ujar Nafisa memperkenalkan Syifa dan Antika. Mereka pun segera menyalimi Habibah.


"MasyaAllah, cantik-cantik sekali kalian ini. Ayo masuk! Tante juga punya banyak koleksi gaun yang bagus-bagus untuk bridesmaids lhoh, Sayang!" ujar Habibah dengan ramah.


Syifa hanya menelan ludah melihat gamis-gamis cantik di hadapannya. Ia tidak mungkin sanggup membeli baju-baju indah di butik ini. Meskipun saat ini ia masih memegang uang dari papanya, namun ia lebih memilih untuk berhemat mempergunakan uangnya untuk membeli kebutuhan hidupnya dengan sang mama.

__ADS_1


...______Ney-nna______...


__ADS_2