Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Ditinggalkan


__ADS_3

Iqbal nampak terkejut saat membaca biodata Syifa yang tertulis masih single. Mereka seumuran dan umumnya wanita di umur 30 tahun sudah menikah bahkan memiliki anak. Terlebih Syifa yang ia ketahui dulu adalah gadis yang cantik. Apa yang menyebabkan Syifa masih betah melajang hingga sekarang? Hal itu membuat Iqbal sangat penasaran.


Apa peristiwa itu yang membuatnya insecure untuk menikah? batin Iqbal menerka-nerka.


Jika dugaannya benar, ia sungguh merasa bersalah karena selama ini telah menyembunyikan kebenarannya dari Syifa.


"Tom, cari tau apa alasan yang membuatnya hingga kini belum menikah!" titah Iqbal pada asistennya.


Tom seketika melirik pada Iqbal dari kaca mobil yang dikemudikannya. Kali ini ia merasa heran dengan perintah bosnya.


"Apa ada masalah, Bos?" Tom balik bertanya.


"Sudah kubilang jangan banyak bertanya, Tom. Perhatikan jalanan di depanmu!" tukas Iqbal.


"Emm, ba-baik Bos!" jawab Tom dengan sedikit terbata.


Apapun yang diperintahkan oleh atasannya itu adalah tugas yang tidak terbantahkan. Tom seketika fokus pada pandangan di hadapannya dengan penuh tanya dalam benaknya.


......................


Dua hari kemudian Syifa dijadwalkan untuk bertemu saksi mata yaitu pengasuh Iqbal waktu kecil. Syifa dan Dina pun menuju ke kediaman Iqbal karena beliau tinggal di sana.


Tak berapa lama mereka telah sampai di kediaman Iqbal yang cukup mewah. Keduanya di sambut oleh Tom. Sedangkan Iqbal sendiri tidak terlihat batang hidungnya.


Tom membawa mereka masuk ke dalam hingga ke teras belakang yang berhadapan dengan kolam dan rumah kaca. Tom kemudian kembali berjalan dan menghilang ke dalam rumah kaca tersebut.


Beberapa saat kemudian Tom kembali muncul dengan dua orang wanita lansia. Keduanya berjalan mendekat ke arah Syifa sembari melempar senyum ramah. Syifa dan Dina segera bangkit untuk menyambut kedatangan mereka.


"Bu Syifa, perkenalkan ini nyonya Maryam nenek tuan Iqbal dan yang satunya adalah bu Aminah pengasuh tuan Iqbal!" tutur Tom memperkenalkan kedua wanita di sampingnya.


Syifa dengan sopan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan keduanya.


Nenek Maryam dan bu Aminah terkesima saat Syifa mencium punggung tangan keduanya. Sebab Syifa cukup santun dalam memperlakukan orang yang lebih tua.

__ADS_1


Nenek Maryam dengan ramah mempersilakan tamunya untuk duduk. Lalu beliau pamit meninggalkan mereka untuk masuk ke dalam rumah. Tinggal lah Syifa, Dina, bu Aminah dan asisten Tom.


Menjelang siang nenek Maryam menjamu tamunya dengan sangat baik. Syifa dan Dina tidak diperkenankan pulang sebelum makan siang bersama. Syifa akhirnya menurut demi menghormati tuan rumah.


"Nek, sebelumnya bolehkah saya menumpang sholat di sini?" tanya Syifa.


"Tentu, Nak. Mari kita sholat bersama sembari menunggu hidangannya siap!"


Syifa mengangguk sembari tersenyum. Ia tidak menyangka jika nenek bahkan mengajak untuk salat berjamaah. Mereka semua lantas menuju mushola yang ada di rumah itu.


Saat hendak salat di mushola, Syifa sedikit terkejut dengan kehadiran seseorang yang tidak terlihat sejak tadi. Tiba-tiba saja muncul Iqbal dengan mengenakan kemeja koko lengan pendek dan sarung berjalan ke arah depan dengan gagahnya. Sekilas pandangan mereka bertemu saat Iqbal menoleh ke arah belakang untuk memastikan semua telah siap untuk melaksanakan salat. Salat pun dilaksanakan dengan Iqbal sebagai imam.


Dalam hati Syifa merasa kagum terhadap Iqbal. Ia tidak menyangka jika laki-laki misterius yang sejak dulu tak pernah ia kenal dengan baik ternyata dibalik sikapnya yang tertutup mempunyai sisi baik yang baru ia ketahui.


Usai salat nenek mengajak mereka menuju ke meja makan untuk makan siang bersama. Tak lama Iqbal muncul ikut bergabung di meja makan. Ia bahkan sudah berganti baju dengan setelan jas dan celana panjang rapih seperti biasanya. Ia langsung makan tanpa menghiraukan keberadaan orang-orang di sekitarnya.


Setelah makan siang Iqbal bergegas pamit kepada neneknya untuk kembali ke kantor.


Syifa mengangguk sembari tersenyum ramah di balik cadarnya.


Sementara Iqbal hanya melirik sekilas dan lalu pergi tanpa berkata sepatah katapun.


"Cucuku yang satu itu memang sifatnya pendiam sejak kecil. Tapi sebenarnya ia sangat peduli kepada orang-orang di sekitarnya," tutur nenek Maryam seolah ingin menepis anggapan buruk tentang cucunya.


Syifa dan Dina hanya tersenyum menanggapinya. Rupanya apa yang ada di dalam benak mereka tentang kesan introvert terhadap Iqbal terbaca oleh sang nenek.


Syifa kemudian juga pamit kepada nenek Maryam karena mereka juga harus segera kembali ke kantor. Saat berjalan meninggalkan ruang makan dan melewati ruang tengah Syifa tanpa sengaja menangkap sebuah gambar foto yang terpasang di dinding rumah itu.


Entah mengapa foto itu begitu mencuri perhatian Syifa dan membuat kakinya ingin berhenti melangkah. Nampak sebuah foto yang terpasang pada dinding yang menampilkan sepasang anak laki-laki dan perempuan lalu seorang pemuda yang berada di tengahnya tengah memeluk mereka sembari tersenyum senang.


"Itu foto Iqbal waktu kecil bersama mendiang saudara kembarnya dan yang paling besar ini adalah anak bungsu saya," tutur nenek Maryam yang tiba-tiba berdiri di samping Syifa.


Syifa menoleh ke arah nenek Maryam yang juga tengah memandangi foto itu. Wajah beliau terlihat menyiratkan kesedihan dan kerinduan yang mendalam.

__ADS_1


Syifa kembali memandang pada foto itu. Ia merasa tidak asing dengan pemuda yang berada di tengah. Ia merasa pernah bertemu dengan anak bungsu nenek sebelumnya. Tapi entah di mana ia tidak bisa mengingatnya.


"Em, maaf jika membuat Anda bersedih," ucap Syifa merasa tidak enak hati.


"Tidak, Nak. Justru setiap melihat foto itu saya merasa bahagia karena foto ini satu-satunya kenangan indah yang tersisa saat-saat kebersamaan mereka," ucap nenek Maryam sembari tersenyum melihat pada pigura foto di hadapannya.


"Kalau boleh saya tahu di mana putra Anda sekarang?" tanya Syifa penasaran.


"Dia ada di kamarnya. Sudah lama ia tidak sehat. Ia hanya bisa berbaring di kamarnya," tutur nenek.


Syifa terkejut mendengarnya. Ia semakin tak enak hati pada nenek.


"Em, Nek ... semoga Allah memberikan kesembuhan bagi putra Anda," ucap Syifa lirih.


"Aamiin. Terima kasih, Nak Syifa."


Syifa kemudian memutuskan untuk segera berpamitan karena merasa tidak enak pada nenek. Semakin lama ia berada di rumah itu semakin banyak yang ia tahu. Namun, rupanya banyak kesedihan yang terjadi di dalam keluarga itu. Dan hal itu membuatnya semakin tidak nyaman.


Di dalam mobil Dina tidak henti-hentinya mengoceh.


"Mbak Syifa, saya benar-benar tidak menyangka jika pak Iqbal teh ternyata sekeren itu ...," ungkap Dina dengan sumringah.


"Ingat sama yang di rumah, Din!" tukas Syifa.


"Ih Mbak Syifa ini, saya mana mungkin berani macam-macam sama pak Iqbal. Saya mah sadar diri atuh, Mbak. Dilirik sama beliau pun tak mungkin!" ucap Dina. "Eh, tapi kalau sama Mbak Syifa mah cocok. Mana ganteng, pengusaha sukses dan masih single lagi, Mbak!"


"Hush. Ngawur kamu, Din!" Syifa melirik tajam sekilas ke arah Dina lalu kembali fokus pada mobil yang tengah dikemudikannya.


"Ih, beneran atuh, Mbak. Jika tahu seperti apa cantiknya mbak Syifa, laki-laki mana sih yang bisa menolak pesonamu, Mbak!" kelakar Dina.


Syifa terdiam tidak lagi menanggapi perkataan Dina. Sebab nyatanya ia memang ditinggalkan oleh laki-laki yang awalnya sangat menginginkan untuk menikahinya.


...______Ney-nna______...

__ADS_1


__ADS_2