
Syifa mengusap-usap telapak tangannya yang terasa dingin. Ada rasa nervous yang ia rasakan menjelang acara akad yang akan segera dilaksanakan. Namun kabarnya Iqbal belum sampai. Ia merasa sedikit cemas khawatir ditinggalkan di hari pernikahan untuk yang kedua kalinya.
"Kenapa, Fa? grogi ya? tenang udah ditelepon kok sama Bang Ilham. Katanya masih on the way. Jalanan macet katanya," ucap Nafisa menenangkan.
"Beneran udah ditelepon sama Kak Ilham?" tanya Syifa.
"Udah kok, Dek. Baru aja Mas Ilham kasih tahu ke, Mbak," ucap Asyifa istri Ilham yang juga ikut mendampingi Syifa di ruang tunggu untuk mempelai wanita.
"Yaelah yang mau nikah udah nggak sabar aja, Fa. Kalau sampai Iqbal nggak datang nanti aku susul ke rumahnya deh aku seret ke hadapan kamu," canda Antika berusaha menghibur sahabatnya.
"Ummi-ummi ..., Om Iqbal udah sampai!" Seru Afifa putri Nafisa. "Wah ... Tante Syifa cantik banget. Fifa juga mau didandani. kayak gini, Ummi!"
"Fifa mau nikah muda?" tanya Antika.
"Gak lah, Tante. Fifa mau sekolah dulu, kuliah dan sukses kaya Tante Syifa," ucap Afifa.
"Semangat belajar dan suksesnya boleh di contoh. Tapi keras kepalanya jangan yah. Nungguin lama-lama nggak tahunya jodohnya temen sekolah!" kelakar Antika.
__ADS_1
Syifa seketika mencubit pinggang Antika.
"Aduh sakit tauk, Fa!" Antika meringis merasakan cubitan Syifa.
"Nak Iqbal sudah siap?" tanya abi Imron.
Terdengar suara abi Imron lewat mikrofon yang cukup terdengar jelas dari ruang tunggu.
"Eh ... sssttt. Acara akadnya udah mau dimulai!" tukas Nafisa sembari meletakkan jari manisnya di depan bibir.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan Asyifa Greetuida binti Rossalina Greetuida dengan mas kawin uang tunai senilai satu miliar dan seperangkat alat salat tunai!" ucap imron.
"Bagaimana saksi?" tanya Imron kepada kedua orang saksinya.
"Sah!" ucap kedua saksi secara serentak.
"Alhamdulillah."
__ADS_1
Mendengar hal itu Syifa merasa haru. Netranya berkaca-kaca, merasakan lega yang teramat sangat di hatinya. Akhirnya setelah perjalanan panjang yang penuh dengan lika-liku hidup yang ia jalani sebagai anak yang lahir di luar nikah, anak dari keluarga yang tak punya, dan berulangkali mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan, kini semua harapannya telah terwujud.
Syifa yang dulu sempat dibully dan dipandang sebelah mata, tumbuh dewasa menjadi wanita karir yang sukses dan kini telah menikah dengan laki-laki yang bisa dibilang mendekati sempurna.
"Syifa ..., selamat ya, sayang. Mama sangat bahagia atas pernikahanmu. Semoga rumah tangga kalian nanti selalu dilimpahkan kebaikan dan kebahagiaan oleh Allah!" Mama Rosa memeluk putrinya dengan rasa haru.
"Aamiin. Terima kasih, Ma!" ucapnya disaat membalas pelukan sang mama.
Setelahnya Syifa dipertemukan dengan Iqbal.
Syifa yang awalnya percaya diri melangkah menuju bagian dalam masjid, tiba-tiba dadanya bergemuruh saat Iqbal memandang ke arahnya. Setiap langkahnya terasa lambat padahal jaraknya tidaklah terlalu jauh.
Bahkan saat Syifa telah sampai di hadapan Iqbal, ia masih dapat mendengar bunyi detak jantungnya yang bertalu-talu.
Prosesi pernikahan dilanjutkan dengan memasangkan cincin pernikahan. Saat memasangkan cincin ternyata jemari Iqbal terasa sama dinginnya. Hal itu seolah menjawab jika apa yang Syifa rasakan, dirasakan juga oleh Iqbal. Namun, Iqbal pandai menutupinya karena ia terbiasa dengan karakternya yang introvert.
Usai melaksanakan ijab qobul semua tamu yang merupakan kerabat dekat menikmati sajian yang telah terhidang. Baru setelahnya mereka kembali ke rumah abi Imron untuk beristirahat. Dan, keesokannya acara resepsi akan digelar di ballroom hotel.
__ADS_1
...______Ney-nna______...