
"Ada apa ini?" tanya Mia yang baru saja datang. Ia melihat ke arah Rosa dan suaminya secara bergantian.
Edward dan Rosa seketika memandang ke arah sumber suara yang sangat mereka kenali.
"Mia!" seru Edward terkejut mendapati istrinya yang kini tengah berdiri di ambang pintu dapur.
"Apa kalian saling mengenal? apa yang kalian ributkan?" tanya Mia lagi. Ia sungguh penasaran saat mendengar suara orang ribut dari arah depan saat ia baru saja datang.
"Em ... tidak. Aku hanya memintanya membuatkan kopi, Sayang. Tapi, dia sepertinya terkejut melihatku hingga menjatuhkan mangkuk yang sedang dipegangnya," tutur Edward dengan sedikit gugup. Ia berusaha untuk bersikap biasa di depan istrinya.
"Kopinya tidak jadi saja. Aku akan berangkat ke kantor sekarang!" ucap Edward sembari menatap ke arah Rosa.
Melihat sikap Edward yang seolah masih ingin menutup-nutupi kebenaran, dalam hati Rosa merasa sangat geram pada laki-laki di hadapannya itu. Namun, ia tidak dapat berkata apa-apa. Sebab, Edward lah yang seharusnya mengungkapkan kebenaran ini kepada istrinya, namun rupanya Edward semakin mempersulit keadaan dengan berpura-pura tidak ada apa-apa di antara mereka.
"Ayo, bantu aku bersiap!" ujar Edward seraya menggiring istrinya meninggalkan dapur dan pergi menuju kamarnya.
Rosa menghela nafas beratnya. Kini ia justru merasa gelisah dan tidak enak kepada Mia. Rosa memikirkan kemungkinan terburuk jika nantinya Mia tahu akan kebenaran ini. Apa yang akan terjadi dengannya ketika Mia tahu nanti. Ia merasa situasinya sudah tidak nyaman untuk tetap bekerja di rumah Edward dan Mia.
Sebab, seandainya Mia tahu akan kisah masa lalu di antara mereka pastilah Mia akan salah paham karena Edward lagi-lagi menyembunyikan hal ini pada istrinya.
Rosa bergegas menyelesaikan pekerjaannya. Tak berapa lama Edward terlihat menuruni tangga dan lalu pergi dari rumah. Mia berjalan mengikutinya dari belakang. Sepertinya tidak terjadi masalah pada mereka. Itu artinya Edward belum juga memberitahu Mia.
Saat mobil Edward mulai meninggalkan rumah, Mia terlihat buru-buru melakukan sambungan pada telepon. Namun, Rosa tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya dengan seseorang di seberang telepon itu. Tidak butuh waktu lama, Mia sudah memutus sambungan telepon itu. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam rumah, lalu menuju kamarnya.
"Ya Allah, aku harus bagaimana sekarang? apa sebaiknya aku mengatakan pada Bu Mia untuk berhenti kerja saja. Perasaanku rasanya tidak karuan!" gumam Rosa.
Saat melihat Mia menuruni tangga, Rosa segera mendekatinya. Namun, belum sempat ia mengatakan sepatah kata pun, Mia lebih dulu menyelanya, "Mbak, aku pergi dulu ya, tolong jaga rumah!" ucap Mia.
Tanpa menunggu jawaban dari Rosa, Mia langsung beranjak pergi dengan tergesa-gesa. Tidak biasanya setelah mengantar anak-anaknya Mia kembali pergi. Biasanya ia akan tetap berada di rumah hingga waktu menjemput anaknya tiba baru ia keluar rumah. Melihat hal itu pun membuat pemikiran Rosa kembali gelisah.
***
__ADS_1
"Kamu di mana, Sayang?" tanya Edward pada seseorang dari seberang telepon.
"Baiklah, Papa ke sana sekarang!" ujar Edward lalu mematikan teleponnya.
Edward pun akhirnya berputar arah. Ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantor, dan berbalik menuju pada alamat yang baru ia dapatkan dari pesan masuk pada ponselnya.
Sementara di tempat lain Syifa baru saja sampai di sebuah alamat rumah yang ia dapatkan dari data rumah sakit tentang alamat rumah Iqbal. Syifa segera membuka pintu taxi dan turun setelah membayar ongkosnya.
Syifa nampak terkejut melihat sebuah rumah mewah yang kini ada di hadapannya. Ia kembali memeriksa alamat yang tertera dalam selembar kertas yang dibawanya. Namun, tidak ada yang salah. Sebab alamatnya sudah sesuai dengan yang tertulis pada selembar kertas itu.
Sejenak Syifa hanya berdiri sembari memperhatikan keadaan rumah mewah di hadapannya. Ada perasaan ragu muncul untuk bertamu di sana. Terlebih mengingat ia tidak mengenal Iqbal dengan baik. Yang ia tahu hanya sebatas nama dan bagaimana menyebalkannya sosok laki-laki bernama Iqbal itu ketika diajak berbicara.
"Rumah semewah ini tidak mungkin adalah kos-kosan. Jadi dia membohongiku lagi! Sungguh cowok menyebalkan!" gumam Syifa merasa geram mengingat tingkah Iqbal yang bisa-bisanya berbohong jika ia tidak punya keluarga dan tinggal di rumah kost-kostan.
Syifa pun mengurungkan niatnya untuk bertamu dan lebih memilih menunggu papanya terlebih dahulu.
Tanpa Syifa ketahui ada sebuah mobil berhenti tidak terlalu jauh dari rumah itu. Ia menepikan mobil itu di sisi jalan dengan perlahan.
"Siapa wanita itu?" gumam seorang laki-laki yang berada di dalam mobil sembari memperhatikan gerak-gerik syifa dari dalam mobil.
Tak berapa lama gerbang itu terbuka sendiri dengan perlahan. Syifa segera menjauh dan bersembunyi di balik pohon yang terletak di dekat trotoar tepat di samping mobil tadi terparkir. Dan seseorang yang tadi memperhatikan Syifa dari dalam mobil pun semakin jelas melihat Syifa.
Gadis bercadar di depan rumahku? ini menarik! gumamnya sembari memandang lekat ke arah Syifa dari balik kaca jendela mobilnya.
Klek!
Pintu mobil pun terbuka. Laki-laki itu turun dari mobilnya dan berjalan ke arah Syifa berada.
"Cari siapa?" tanyanya.
Syifa terkesiap saat melihat seorang laki-laki yang kini tengah berdiri tepat di hadapannya itu. Laki-laki yang sangat dikenalnya. Syifa reflek menjauh dan memundurkan langkahnya dengan susah payah. Jantungnya berdetak dengan kencang dan mulutnya bergumam menyebutkan namanya tanpa suara.
__ADS_1
Kak Devan!
Syifa sangat ketakutan. Dia hendak berlari, namun tertahan karena Devan lebih dulu mencekal salah satu lengannya.
"Siapa kamu?" tanya Devan.
Syifa berontak mencoba melepas tangannya yang dicekal oleh Devan.
"Lepaskan!" serunya.
Merasa tidak asing dengan suara wanita di hadapannya ini, Devan menarik paksa cadar yang dikenakan Syifa. Devan terkejut melihat gadis yang pernah mengisi hatinya itu.
"Syifa!" gumamnya.
Tepat di saat itu cekalan di lengan Syifa pun terlepas. Syifa tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk segera berlari dari hadapan Devan.
"Jack ... kejar dia sampai dapat!" seru Devan pada anak buahnya yang tadi membuka pintu gerbang rumahnya.
Devan menyunggingkan salah satu sudut bibirnya sembari menatap kepergian Syifa. Ia tidak menyangka setelah dua tahun lebih meninggalkan kota X dan pindah ke Surabaya tanpa ia duga bisa berjumpa lagi dengan wanita pujaan hatinya.
"Semakin cantik saja dia! aku rasa kita memang berjodoh, Syifa! buktinya kau justru datang sendiri menghampiriku! kali ini aku tidak akan melepaskan mu!" gumam Devan.
Syifa terus berlari dengan kencang. Ia tidak mau jika sampai tertangkap. Sebab sudah bisa dipastikan jika sampai ia tertangkap Devan akan memperlakukannya dengan kejam. Sementara sepanjang yang ia lewati adalah kanan dan kirinya adalah jurang dan sebuah lahan kosong di sisi lain.
Brukk!
Syifa terjerembab karena tersandung. Hal itu dimanfaatkan anak buah Devan untuk menangkapnya. Syifa berontak tapi tenaganya tidak sebanding dengan laki-laki yang mengejarnya itu.
Tiba-tiba ...
Bug!
__ADS_1
Seseorang memukulnya hingga anak buah Devan terhuyung ke belakang.
..._____Ney-nna_____...