Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Tulus


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Arjuna berjalan perlahan lalu menepi di depan sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari rumah Syifa. Arjuna mencoba mencari tempat umum yang nyaman untuk mengobrol. Dengan penampilan Syifa yang sangat tertutup Arjuna sudah paham jika Syifa lebih protektif lagi dalam menjaga dirinya dari pada dahulu.


"Di sini saja bagaimana?" tanya Arjuna seraya melirik ke arah kaca spion.


Syifa tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah tempat yang dimaksud oleh Arjuna untuk memastikan terlebih dahulu seperti apa keadaan lokasi tersebut. Dilihatnya sebuah cafe yang cukup ramai dengan pengunjungnya yang kebanyakan dari kalangan anak muda.


Syifa sadar diri jika satu porsi harga minuman di sana seandainya ditukar dengan makanan sudah dapat mengenyangkan perut dua porsi orang dewasa. Namun, demi menghormati Arjuna, Syifa pun menyetujuinya.


"Baiklah, Kak," jawab Syifa.


Arjuna memarkirkan mobilnya di pelataran kafe tersebut, kemudian mereka berdua turun dari mobil dan beranjak masuk ke dalam kafe itu. Arjuna memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Suasananya sangat nyaman untuk mengobrol.


Seorang pelayan cafe menyodorkan buku menu kepada mereka.


"Mau minum apa, Fa?" tanya Arjuna.


Syifa membuka buku menunya dan mengecek pada isinya. Dan apa yang dilihat sesuai dugaannya. Semuanya serba mahal.


Syifa menutup buku menunya kembali dan menaruhnya di atas meja.


"Kak Juna saja yang pesankan," ujar Syifa.


"Oke. Kamu mau milkshake, cofee atau minuman yang bersoda?" tanya Arjuna.


"Emm, aku nggak begitu suka dengan yang seperti itu sebenarnya, Kak," tutur Syifa.


"Oke. Mas saya pesan caffe latte satu, banana smoothies'nya satu ya!" ujar Arjuna pada pelayan kafe.


"Baik, Mas. Mohon ditunggu!" ujar si pelayan kafe.


"Apa kegiatan kamu sekarang, Fa?" tanya Arjuna mengawali obrolan.

__ADS_1


"Aku bantu Mama jualan dan ngajar di taman kanak-kanak aja kok, Kak," jawab Syifa.


"Kamu nggak kuliah, Fa?" tanya Arjuna lagi.


"Enggak, Kak!"


"Kenapa? kamu kan pinter, Fa. Kamu bisa ikut seleksi untuk mengikuti beasiswa seharusnya, Fa!" ujar Juna menyayangkan hal itu. Ia yakin jika gadis sepintar Syifa pasti akan bisa kuliah.


"Aku kan hanya lulusan pondok kak, bukan SMA Negeri. Kalau pun dapat beasiswa kuliah ya ke universitas islam yang berada di luar negeri," tutur Syifa.


"Terus sebenarnya apa yang terjadi sama kamu dan Devan waktu itu? kenapa kamu dan Devan sama-sama pindah sekolah?" tanya Arjuna.


"Itu masalah pribadi aku, Kak. Aku nggak bisa ngasih tau, ke Kakak!" ujar Syifa sendu.


"Terus waktu itu kamu pacaran sama Devan itu pasti karena ada sesuatu kan?" tanya Arjuna.


Syifa sebenarnya merasa kesal jika harus kembali mengingat tentang kejadian di masa lalunya dengan Devan saat itu. Sebab, hal itu seperti mimpi buruk baginya yang tak bisa ia lupakan begitu saja.


"Iya benar Kak. Memang ada sesuatu, tapi aku nggak bisa menceritakan hal itu karena ada janji yang harus aku tepati. Aku hanya bisa minta tolong sama Kak Juna, tolong maafin aku. Saat itu gara-gara aku dan ulah Kak Devan pasti membuat Kakak menjadi kesal aku benar-benar minta maaf telah membuat kakak merasa tidak nyaman." tutur Asyifa tulus.


"Terima kasih, Kak. Tapi saat itu Kak Devan terus mengawasiku, aku nggak bisa berbuat apa-apa, Kak. Untuk sekarang aku mohon sama Kakak tolong jangan ungkit lagi masalah itu ya, Kak. Aku sedang mencoba untuk menerima semuanya apapun yang pernah terjadi pada diri aku, aku ikhlas. Aku hanya ingin fokus ke depan untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik dari sebelumnya," tutur Syifa panjang lebar.


Sebab baginya peristiwa itu menyangkut aibnya dan ia tidak mungkin untuk menceritakan hal yang sangat pribadi itu.


"Baiklah, Syifa. Demi menghormati privasi mu aku tidak akan membahasnya lagi jika hal itu membuatmu tidak nyaman," ujar Arjuna pasrah. Meskipun ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi hingga mengubah Syifa menjadi sangat tertutup dan tidak seceria dulu.


Syifa, andai saja kamu tahu aku tulus menyayangimu dan ingin menjagamu! gumam Arjuna.


"Terima kasih, Kak!" ujar Syifa.


"Permisi, Mbak, Mas, ini pesanannya. Satu caffe latte dan satu buah banana smoothies. Selamat menikmati!" ujar pelayan tersebut kemudian kembali ke tempatnya.

__ADS_1


"Minum dulu, Fa!" perintah Juna.


Syifa mengangguk mengiyakan. Kemudian meminum minumannya.


"Syifa, tapi bisakah kita tetap berteman?" tanya Arjuna dengan penuh harap.


Syifa menatap sebentar ke arah Arjuna. Tatapan matanya bahkan masih sama dengan dahulu saat mereka menjalin pertemanan yang cukup dekat. Syifa merasa tidak enak hati jika akhirnya hanya akan mengecewakan laki-laki sebaik Arjuna.


"Aku tidak akan memutus silaturahmi dengan Kakak. Hanya saja mungkin kita akan sama-sama sibuk dengan kesibukan masing-masing. Kak Juna kuliah di mana?" tanya Syifa mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Di universitas XX," jawab Juna menyebutkan salah satu universitas ternama.


"Oh, bagus dong. Semoga kuliahnya lancar ya, Kak!"


"Iya, terima kasih, Syifa. Aku berdoa semoga suatu saat kamu bisa mendapat kesempatan untuk kuliah Syifa. Kita tidak akan pernah tahu dengan apa yang akan terjadi kedepannya."


"Aamiin, terima kasih, Kak! Em, aku musti pulang ke rumah, Kak. Nanti aku ada jadwal untuk mengajar TPA anak-anak di masjid."


"Baiklah, ayo aku antar kamu pulang sekarang!" ujar Arjuna.


Setelah membayar minuman mereka pun kembali ke tempat semula.


Saat Syifa turun dari mobil, Arjuna memanggilnya lagi.


"Syifa!" serunya.


"Iya, Kak?" tanya Syifa.


"Ini kartu nama aku. Tolong simpan ya! Mungkin saja suatu saat kamu sedang membutuhkan aku, jangan sungkan untuk menghubungi aku!"


"Baik, Kak. Terima kasih! Assalamualaikum!" ujar Syifa kemudian berjalan lebih dahulu menuju ke rumahnya.

__ADS_1


Tanpa mereka tahu ada yang sejak tadi melihat hal itu dari kejauhan.


..._____Ney-nna_____...


__ADS_2