Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Pesona Iqbal


__ADS_3

Untuk pertama kalinya, Syifa merasa bingung harus memasak apa untuk disajikan pada Iqbal sebagai suaminya. Setelah menilik isi kulkas yang cukup lengkap dan banyak bahan sayuran, Syifa memutuskan untuk membuat capcay sayur.


Syifa menambahkan potongan daging dan udang agar terlihat spesial. Menu andalannya itu selalu membuat abi Imron dan Ilham nagih untuk menyantapnya. Dan akan ludes habis karena mereka mempunyai selera makan yang sama dengan Syifa.


Memang benar, masakan Syifa beraroma harum menggugah selera saat Iqbal sekilas melihatnya pertama kali. Namun, saat Syifa menuang sebagian ke dalam piring Iqbal, ia baru melihat sesuatu yang sangat ia hindari di meja makan. Yaitu cabai.


Sebab Iqbal tidak doyan pedas. Sedangkan capcay sayur buatan Syifa nampak berkuah merah dan berisi irisan cabai yang cukup banyak. Melihatnya saja Iqbal sudah bisa membayangkan bagaimana rasanya nanti. Pasti rasanya sangat pedas. Padahal ia trauma dengan masakan pedas sejak kecil.


Saat itu Iqbal masih kecil. Aqila yang tengah bermain masak-masakan menyuruhnya memakan buah merah yang dipetik dari pot tanaman nenek. Iqbal yang tidak tahu jika sesuatu yang dipetiknya dan berwarna merah merona itu adalah cabai, ia menurut dan langsung menggigitnya. Iqbal kecil seketika menangis kepedasan. Dan hal itu membuatnya trauma dengan rasa pedasnya cabai.


Namun, ini masakan pertama Syifa yang dimasak khusus untuknya. Bahkan saat ini Syifa tengah menunggunya untuk menyuap makanan itu ke dalam mulutnya. Iqbal merasa tidak tega jika tidak mencicipi lebih dulu masakan istrinya itu karena Syifa sudah bersusah payah membuatnya.


Iqbal menyendok sedikit capcay buatan Syifa yang kiranya tidak terdapat irisan cabai. Lalu dengan terpaksa ia memakannya.


"Uhuukk!" Iqbal langsung tersedak saat tenggorokannya mulai terbakar dengan rasa pedas masakan Syifa.


Telinganya seketika memanas, lidahnya terbakar, dan sudut matanya berair. Ternyata dari sedikit kuahnya pun sudah terasa sangat pedas bagi Iqbal yang tidak pernah makan masakan pedas.


Melihat reaksi Iqbal yang seperti itu saat menyantap makanannya, Syifa sudah bisa menyadari jika Iqbal tidak doyan makan pedas. Dengan sigap ia segera menuang air minum untuk Iqbal.


"Ini minum!"


Iqbal segera menerimanya dan meneguknya sampai habis tak bersisa.


Syifa merasa sangat bersalah akan hal itu. Seharusnya ia bertanya dahulu sejak awal, sehingga hal ini tidak terjadi. Setelah menikah ia memang belum sempat berbicara lebih dalam tentang pribadi pria yang kini menjadi pendamping hidupnya itu. Ia tidak terlalu memperhatikan makanan yang dimakan oleh Iqbal saat di pernikahan maupun di rumah. Dan masih banyak yang lainnya yang belum Syifa ketahui dari suaminya itu.


"Maaf, aku nggak tahu kalau kamu nggak suka pedas ...," ucap Syifa dengan penuh rasa bersalah.


"Nggak apa-apa. Ini bukan salahmu!" ucap Iqbal seraya mengelap mulutnya.


"Emm, gimana kalau aku masakin omelette saja yang cepet? Kamu pasti udah lapar kan?" tanya Syifa.


"Boleh!" jawab Iqbal.

__ADS_1


Syifa bergegas beranjak menuju kulkas untuk mengambil dua butir telur. Lalu iya menuju dapur untuk memasaknya. Tiba-tiba Iqbal datang menghampirinya.


"Perlu aku bantu?" tanyanya.


"Nggak usah. Kamu tunggu aja di meja makan!" jawab Syifa.


"Aku temani!" jawab Iqbal tanpa mau beranjak dari sisinya.


Syifa sekilas menatap ke arah Iqbal yang bersikeras. Hal itu malah membuatnya gugup.


"Mm, mau pakai daun bawang?" tanya Syifa seraya mengalihkan pandangan.


"Boleh. Aku hanya tidak suka cabai. Jadi kamu bisa membuat masakan apa saja untukku asal tidak pakai cabai," tutur Iqbal.


"Baiklah!" ucap Syifa lalu segera mengambil daun bawang di dalam kulkas dan memotongnya sebagai bahan pelengkap omelette.


Kini ia harus ekstra berhati-hati untuk melakukan sesuatu. Jangan sampai ia salah lagi menentukan apapun sebelum bertanya. Sebab ia belum mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai suaminya itu.


Sedikit ada rasa canggung ketika Iqbal terus memperhatikannya yang tengah memasak. Dari ekor matanya Syifa dapat merasakan jika gerak-geriknya tak luput dari pandangan Iqbal. Syifa menjadi salah tingkah sampai-sampai menjatuhkan cangkang telur di atas teflon.


"Apa kamu merasa tidak nyaman aku ada di sini?" tanya Iqbal.


"Emm, jujur iya. Aku tidak terbiasa berdekatan dengan lawan jenis sebelumya!" jawab Syifa apa adanya.


"Mulai sekarang kamu harus membiasakannya!" ucap Iqbal.


Ia berjalan ke arah belakang Syifa. Mengungkung Syifa dengan memegang tepian dapur di samping kanan dan kiri Syifa. Hal itu seketika membuat Syifa terkejut.


Hembusan nafas Iqbal tepat di pipi kirinya membuat Syifa bergidik. Pipinya bersemu merah dan jantungnya berdegup kencang seakan mau lompat.


Iqbal memegang tangan Syifa yang tengah memegang spatula dan menggerakkannya untuk menggulung tepian omelette.


"Kalau kamu diam saja, omelette nya bisa gosong!" ucap Iqbal lirih di samping telinga Syifa.

__ADS_1


"Ekhm. Itu karena kamu yang tiba-tiba begini!" jawab Syifa yang sudah bisa menguasai dirinya lagi.


"Memangnya kenapa kalau aku begini?" tanya Iqbal seraya memandang lekat ke arah Syifa.


Ditanya begitu Syifa reflek menoleh ke arah samping. Hal itu malah membuatnya terperangkap karena kini wajah mereka berhadap-hadapan dengan jarak yang sangat dekat. Syifa benar-benar tak bisa berkutik.


Perlahan Iqbal memajukan wajahnya memutus jarak diantara mereka.


Tikk!!


Reflek jemari Syifa memutar pemantik kompor hingga api padam.


Hal itu membuat Iqbal menghentikan aksinya yang baru sekian detik mendaratkan bibirnya.


"Ma-af,-" ucap Syifa merasa bersalah.


"No problem. Kita lanjutkan nanti malam!" ucap Iqbal menggodanya.


Iqbal lalu berbalik dan menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. Ia beranjak kembali menuju meja makan.


Mendengar hal itu membuat bulu kuduk Syifa merinding. Apapun yang akan dilakukan Iqbal padanya itu memang sudah semestinya dilakukan sebagai sepasang suami istri. Cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi dan ia tidak dapat menolaknya. Justru ia harus bisa melayani suaminya itu dengan baik karena hal itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri.


Syifa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Ia harus bisa menguasai dirinya kembali. Ia menaruh omelette itu ke atas piring dan menyajikannya ke hadapan Iqbal.


"Kenapa kamu memaksakan untuk memakannya tadi jika kamu tidak suka pedas?" tanya Syifa seraya duduk di kursinya.


"Itu masakan pertamamu yang kamu masak untukku. Maka aku harus mencicipinya," jawab Iqbal.


Syifa menatap dalam ke arah Iqbal. Ia merasa begitu tersanjung dengan jawaban Iqbal. Iqbal sudah tahu itu pedas tapi nekad memakannya hanya karena itu masakan pertama yang Syifa masak untuknya. Syifa merasa Iqbal begitu menghargainya sebagai seorang istri.


Apa dia sangat mencintaiku? batin Syifa.


"Sampai kapan kamu akan terus mengagumi wajahku yang tampan dan tidak segera makan?" ucap Iqbal di sela-sela makan.

__ADS_1


Syifa seketika mengalihkan pandangan dan bergegas menyantap makanannya. Di dalam hati ia menahan malu karena tindakannya kepergok oleh Iqbal. Suaminya itu ternyata diam-diam menghanyutkan.


..._____Ney-nna_____...


__ADS_2