Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Haram


__ADS_3

Usai berbicara dengan mamanya Rosa keluar mencari keberadaan Syifa. Samar-samar ia mendengar suara orang mengobrol di arah belakang. Ia pun segera menuju ke dapur.


"Syifa ...!" serunya saat memasuki dapur.


"Rosa, sudah selesai berbicara dengan mama?" tanya Rosita saat melihat kemunculan Rosa.


"Iya Kak, aku menyuruh mama untuk beristirahat!" jawab Rosa.


"Kalian juga beristirahatlah! Kalian pasti capek 'kan? kamarmu masih terjaga dengan baik Rosa. Mama selalu memintaku untuk membersihkan kamarmu," ujar Rosita.


Rosa terdiam kembali merasa terharu. Tidak menyangka jika selama ini ternyata keluarganya masih mengingatnya. "Terima kasih, Kak?"


"Sama-sama, Ros. Ajak anakmu beristirahat!" perintah Rosita.


Walaupun sesungguhnya ada banyak pertanyaan di dalam benaknya. Namun, ia urungkan untuk menanyakannya sekarang. Sebab ia mengerti jika mereka butuh istirahat setelah bepergian jauh.


Rosalina mengangguk lalu segera beranjak menuju kamarnya. Betapa terkejutnya ia ketika sampai di kamarnya dan mendapati kamarnya terlihat tidak banyak berubah dari terakhir kalinya ia tinggalkan. Bahkan barang-barangnya masih terjaga di tempatnya.


"Ini foto Mama? cantik sekali waktu mama masih muda!" ujar Syifa saat menemukan sebuah bingkai foto yang terpasang pada dinding kamar ibunya.


Rosa mendekat ke samping putrinya dan tersenyum melihat fotonya saat muda dulu. Ada perasaan bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat bernostalgia dengan masa lalunya di rumah ini.


"Ma, apa Mama punya foto papanya Syifa? Syifa ingin melihatnya!" tanya Syifa.


Mendengar hal itu wajah Rosa seketika menjadi muram. Ia tidak tahu harus berkata apa pada putrinya itu.


"Em ... Syifa, kepala Mama terasa pusing. Mama ingin beristirahat dulu ya?" ujar Rosa beralasan.


Syifa mengangguk menanggapi. Ia tahu jika sesungguhnya mamanya hanya ingin menghindari pertanyaannya saja. Namun, Syifa juga tidak ingin memaksa mamanya untuk berbicara jika itu akan membuat mamanya bersedih.


Meskipun ia yakin jika ada sesuatu peristiwa pahit yang terjadi menyangkut mamanya di masa lalu hingga mamanya itu tidak pernah mau bercerita tentang papanya. Syifa kemudian melepas niqobnya dan membaringkan diri di samping mamanya.


......................

__ADS_1


Sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang. Rosa terbangun dan melihat Syifa masih terlelap di sampingnya dengan wajah yang terlihat lelah. Rosa membangunkan Syifa dengan pelan agar tidak kaget. Dan tak berapa lama Syifa pun terbangun.


"Bangun, Fa. Ayo sholat ashar dulu!" ujar Rosa pada putrinya.


"Ia, Ma!" jawab Syifa patuh. Ia segera memakai kembali niqobnya lalu beranjak keluar kamar untuk mengambil wudhu di kamar mandi belakang.


Setelah itu mereka bergantian salat di kamar itu. Sebab kamarnya cukup sempit. Sehingga tidak muat jika salatnya berbarengan.


Usai melaksanakan salat Rosa keluar dari kamarnya menuju ke dapur. Rupanya Rosita tengah menyelesaikan memasaknya.


"Kakak tidak tidur siang ya? cepat sekali sudah matang masakannya!" ujar Rosa.


"Tenang saja, aku kan hanya menganggur jadi ada banyak waktu untuk beristirahat!" ujar Rosita. "Oh ya Ros, katakan siapa ayah biologis Syifa? apakah dia anak Edward?" tanya Rosita dengan setengah berbisik.


Rosalina terdiam kemudian mengangguk pelan. "Benar, Kak!"


Rosita nampak membungkam mulutnya ia tidak menyangka jika Rosalina selama ini menanggung anak yang dikandungnya di luar pernikahan akibat perbuatan Edward.


"Apa sebelum-sebelumnya Edward pernah melecehkanmu juga?" tanya Rosita.


"Lantas bagaimana kamu menjalani hari-harimu ketika mendapati kamu mengandung Syifa. Dan, kalian tinggal di mana selama ini? tanya Rosita ingin tahu.


"Aku tinggal di kota XXX, tepatnya di kampung Arab, Kak. Ada seseorang yang menolongku lalu membawaku pada seorang janda tua, di sanalah aku tinggal. Namun, sekarang ummi Fatimah sudah meninggal. Rumahnya diminta kembali oleh ahli warisnya."


"Mengenai kehamilanku, tentu saja semua yang terjadi tidak mudah bagiku untuk kembali bangkit dari keterpurukan. Banyak cobaan yang terjadi padaku. Namun, aku beruntung karena memiliki orang-orang baik yang telah menolongku. Meskipun banyak yang mencemoohku dan menghinaku, namun pada akhirnya aku bisa bertahan di sana karena dukungan dari orang-orang yang baik padaku dan menganggapku seperti saudaranya sendiri," tutur Rosalina.


"Kakak benar-benar minta maaf Rosa, karena kamu harus menanggung semua penderitaan itu seorang diri!" tutur Rosita dengan penuh penyesalan.


"Sudahlah Kak, semuanya sudah terjadi tidak usah membahas hal itu lagi. Aku tidak ingin mengingat kisah kelam itu kembali. Mari kita mulai dengan lembaran yang baru sebagai keluarga yang saling menyayangi dan saling menjaga!"


"Baiklah tapi mengapa kamu tidak menceritakan tentang Edward pada Syifa?" tanya Rosita.


"Entahlah Kak, aku merasa belum siap untuk mengatakan hal itu pada Syifa. Aku tidak ingin dia mengetahui peristiwa kelam itu. Syifa bahkan pernah dilecehkan hingga mengalami depresi, aku tidak ingin dia kembali trauma jika mengingat masa lalu yang buruk yang pernah terjadi padanya dan juga terjadi padaku!" ujar Rosa panjang lebar.

__ADS_1


Rosita mengangguk paham. Ia tahu jika dia sendiri pun merasa kesulitan saat ditinggalkan dan diceraikan oleh suaminya. Beruntungnya iya kembali menemukan seorang laki-laki yang hingga kini menerima iya apa adanya.


"Ya sudah kalau begitu ayo makan dulu. Panggil Syifa untuk makan bersama, kalian pasti lapar karena sejak tadi siang belum makan. Nih, aku sudah memasak banyak untuk kalian!"


"Baik Kak, terima kasih!"


Sebelum dipanggil Syifa lebih dulu datang menghampiri ke meja makan. Rosa menyendok nasi ke piringnya dan juga di piring Syifa. Namun, saat ia hendak mengambilkan Syifa masakan yang di masak Rosita, Syifa segera mencegahnya.


"Tunggu, Ma!" ujarnya seraya memegang lengan tangan rosa.


Syifa mengecek pada masakan Rosita. Ternyata Rosita memasak opor ayam untuk menyambut mereka. Mengetahui jika kepercayaan mereka berbeda Syifa menjadi ragu untuk memakannya. Sebab, bisa jadi makanan itu tidak halal.


Saat Rosita meninggalkan mereka, lantas Syifa berbisik pada mamanya.


"Ma ini opor ayam kan? kita tidak boleh memakannya, Ma! bagaimana jika tidak halal? belum tentu kan Tante Rosita membelinya dari penjual daging yang menyembelihnya secara halal."


"Astagfirullah, mama hampir lupa tentang hal itu. Kamu benar Syifa, lantas bagaimana ini apa kita tidak usah makan saja? dan jujur pada tantemu," tutur Rosa.


Syifa beranjak berdiri melihat bahan makanan yang ada di kulkas.


"Ma, ada telur. Mendingan kita masak telur aja buat lauknya!" tutur Syifa


"Benar juga, ya sudah biar Mama saja yang masak Syifa. Kamu duduk saja!" perintah Rosa.


Mendengar ada suara penggorengan. Rosita lantas menuju ke dapur untuk memeriksa. Ia mengernyitkan dahi saat melihat Rossa tengah memasak. Sementara makanan yang tadi ia masak terlihat tidak tersentuh sama sekali.


"Rosa, kenapa kamu masak telur? kalian tidak suka daging ayam?" tanya Rosita.


"Maaf Kak, bukannya aku tidak menghargai apa yang Kakak berikan kepada kita, aku tahu Kakak berniat baik pada kita, tapi aku tidak bisa makan sesembelihan yang belum tentu halal ...," tuturnya dengan hati-hati.


Rosita mendengus dengan kasar mendengar hal itu.


"Aneh sekali Rosa, kamu bahkan sudah sangat banyak berubah! apa agamamu mengajarkan untuk menampik kebaikan dari golongan yang lain?!" tanya Rosita dengan sedikit kesal.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, Tante. Tapi kami umat muslim mempunyai aturan tersendiri. Untuk makanan yang kami makan haruslah disembelih dengan menyebut atas nama Allah. Kami tidak bermaksud untuk tidak menghargai kebaikan, Tante. Misal bukan sembelihan InsyaaAllah kami tidak mempermasalahkan hal itu, Tante. Nasinya juga akan kami makan kok, bukankah telur ini juga punya, Tante. Kami akan memakannya kok. Tolong jangan salah paham, Tante!" ujar Syifa.


...______Ney-nna______...


__ADS_2