Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Terjadi lagi


__ADS_3

Syifa semakin merasa tidak nyaman berada di rumah itu. Sudah bisa dipastikan jika Anthony barusan tengah mengintipnya. Beruntungnya Syifa hanya sekedar membuka niqobnya, sehingga Anthony hanya melihat wajahnya.


Dia tidak habis pikir jika sampai Anthony mengintipnya saat mandi. Pasti Syifa akan sangat terpuruk karenanya.


Sudah berulangkali mendapat perlakuan yang tidak pantas dari lawan jenis membuat Syifa kehilangan rasa percaya dirinya saat menjumpai lawan jenis. Dalam benaknya bertanya-tanya. Adakah laki-laki baik di muka bumi ini yang benar-benar memandang wanita dengan kasih yang tulus dan suci.


Ya Allah, ku mohon lindungilah kesucianku! gumam Syifa dalam doanya seusai melaksanakan salat.


Tiba-tiba terdengar pintu terbuka, dan menampakkan keberadaan mamanya yang tengah memasuki kamar.


"Ma ...!" seru Syifa dengan cepat menghampiri mamanya yang baru saja mendudukkan diri di tepian tempat tidur.


"Ada apa, Fa?" tanya Rosa.


"Ma, kita harus segera pergi dari rumah ini, Ma. Syifa takut terjadi sesuatu jika kita masih tinggal di rumah ini!"


"Iya, Fa. Sabar dulu ya? besok Mama akan mencari tempat tinggal untuk kita. Kamu tenang dulu, ya?" ujar Rosa sembari menepuk bahu putrinya.


"Ma, tadi itu--," ucapan Syifa terpotong saat ada ketukan di pintu.


"Nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan kita!" ujar Rosa kemudian beranjak bangkit dari duduknya dan membukakan pintu.


"Rosa, aku mau keluar sebentar. Apa kalian mau menitip sesuatu?" tanya Rosita.


Terlihat Anthony berdiri dibelakang tak jauh dari tempat Rosita berdiri melihat ke arah dalam kamar.


Menyadari hal itu, Syifa segera berbalik dan memakai niqobnya.


"Tidak, Kak. Terima kasih!" tolak Rosa secara halus.


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu!"


Usai berpamitan Rosita dan Anthony pun meninggalkan rumah.


Sepeninggal mereka Syifa merasa lega. Ia benar-benar merasa tidak nyaman selama ada Anthony di rumah, seperti firasat awalnya ketika melihat Anthony pertama kali di rumah ini.


"Ma, tadi sewaktu Syifa wudhu ada--." Lagi-lagi perkataan Syifa terpotong.


"Ros ..., Ros ...!" seru suara nenek memanggil.


"Sebentar ya, Fa. Sepertinya nenek membutuhkan Mama!" Rosa beranjak kembali ke kamar mamanya.

__ADS_1


Syifa menghela nafas panjang. Sepertinya sedari tadi selalu saja obrolannya dengan mamanya terganggu. Ia pun memilih untuk beristirahat di kamar dan memikirkan bagaimana cara agar bisa segera pergi dari rumah ini. Hingga lama-kelamaan ia tertidur.


......................


Keesokan harinya Rosa sudah rapih dan siap untuk mendatangi tempat kerjanya kemarin. Sebelum itu dia pergi sarapan pagi terlebih dahulu dengan putrinya.


"Syifa, nanti tolong jaga Nenek, ya?" ujar Rosa.


"Baik, Ma!" jawab Syifa patuh seraya menyuapi neneknya.


Terlihat Rosita juga sudah rapih dengan setelan kemeja dan celana panjang khas pekerja kantoran.


"Kamu kerja di mana, Rosa?" tanya Rosita seraya mendudukkan diri di meja makan untuk bergabung sarapan bersama.


"Belum ditempatkan, Kak. Masih menjalani pelatihan di yayasan penyalur tenaga kerja," jawab Rosa.


"Oh, begitu. Jadi pembantu?" tanya Rosita.


"Iya, Kak."


"Aku heran sama kamu, di suruh kerja enak malah pilih jadi pembantu. Tapi ya terserah lah!" ujar Rosita meremehkan.


"Pembantu itu pekerjaan yang halal, Tante. Meski penghasilannya tidak banyak tapi hasilnya insyaaAllah membawa keberkahan!" Syifa membela mamanya.


"Ekhm ..., suamimu kenapa tidak ikut sarapan, Kak?" tanya Rosa untuk mengalihkan perdebatan.


"Dia sedang tidak enak badan. Tadi sudah aku bawakan sarapannya ke kamar," ujar Rosita.


"Oh, begitu!"


"Jadi suami Tante akan tetap di rumah?" tanya Syifa.


"Benar. Tapi kamu tenang saja Syifa. Kamu tidak perlu repot ikut merawatnya. Dia hanya perlu istirahat. Nanti siang Tante akan segera pulang! Mau aku antar sekalian Ros?" ujar Rosita.


Syifa terkejut mendengarnya. Ia mulai was-was jika harus berada di rumah ini hanya bertiga dengan Anthony dan neneknya. Meskipun Anthony sedang tidak enak badan, tetap saja ia tidak tenang.


"Apa tidak merepotkan, Kak?" tanya Rosa.


"Tentu tidak, aku tunggu di depan!" Rosita beranjak berdiri menuju kamarnya untuk mengambil tasnya.


"Fa, kamu tidak apa-apa kan, membereskan meja makan sendirian?" tanya Rosa.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, tapi bisakah Syifa ikut saja dengan Mama?" tanya Syifa dengan penuh harap.


"Siapa yang akan menjaga nenek, Sayang? Kamu jaga diri baik-baik, ya!" Rosa beranjak bangkit dan pergi menuju kamarnya.


Setelah membereskan meja makan, Syifa membawa neneknya ke depan untuk menghirup udara segar pagi hari. Syifa hanya bisa menatap sedih pada kepergian mama dan tantenya.


Syifa kemudian menyibukkan diri dengan menyapu halaman selagi nenek berjemur. Dalam beberapa saat ia masih merasa aman saat berada di luar rumah dengan neneknya.


"Syifa, antar Nenek ke kamar, ya! sudah cukup berjemurnya, Nenek ingin beristirahat," tutur Sofia setelah lima belas menit dibawah sinar mentari pagi.


Syifa mengangguk mengiyakan. Ia kemudian mendorong kursi roda neneknya masuk ke dalam rumah.


Setelah membantu nenek berbaring, Syifa kembali ke teras rumah. Mengingat ada Anthony di dalam rumah, ia khawatir jika terjadi sesuatu atau terjadi fitnah.


Hingga masuk waktu dzuhur tantenya belum juga kembali. Syifa akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam untuk melaksanakan salat terlebih dahulu sebelum menyiapkan makan siang untuk neneknya.


Setelah selesai salat Syifa menuju dapur untuk mengambil makan siang untuknya juga untuk nenek.


Namun tiba-tiba ada sebuah tubuh kekar berdiri tepat di belakangnya. Kedua tangannya mengunci Syifa di antara meja makan.


"Kau ternyata menyembunyikan wajah cantikmu ini dibalik penutup wajahmu, Syifa!" bisik Anthony tepat di samping wajah Syifa seraya menarik niqob yang Syifa kenakan.


"Akhh ...!" pekik Syifa terkejut.


Tak.


Nampan yang berisi piring dan gelas yang tadinya hendak ia bawa ke kamar neneknya pun terjatuh di atas meja saking terkejutnya


Ia lalu mencoba mendorong tubuh Anthony agar menjauh darinya. Namun Syifa kalah kuat. Tidak sampai di situ Syifa kemudian menyikut perut Anthony agar bisa terlepas dari dekapan laki-laki kurang ajar itu.


"Jangan sentuh aku!" ujarnya saat dekapan itu terlepas.


Anthony meringis kesakitan.


Syifa segera berlari menuju ke depan rumah. Namun Anthony lebih cepat menangkap jilbab Syifa yang menjulur ke belakang. Hingga langkah Syifa pun terhenti.


Anthony segera mendorong tubuh Syifa ke tembok dan berusaha untuk menciumnya.


Syifa berontak dengan sekuat tenaga. "Tolong ..., tolong ...!" serunya menjerit berharap akan ada yang mendengarnya.


Dengan cepat ia menendang bagian inti Anthony. Saat Anthony kesakitan ia segera berlari menuju ke luar rumah. Namun, rupanya Anthony masih bisa mengejarnya.

__ADS_1


Syifa berniat berlari menuju jalan raya yang ramai dengan orang-orang. Namun, tepat di pertigaan ke luar gang ada sebuah mobil yang hendak berbelok masuk gang . Pengemudi mobil itu mengerem mendadak namun tentu saja mobilnya tidak dapat berhenti seketika, karena jaraknya yang sudah cukup dekat. Dan, akhirnya tubuh Syifa pun tertabrak badan mobil itu kemudian terpental ke belakang dan jatuh pingsan saat kepalanya membentur aspal.


...______Ney-nna______...


__ADS_2