Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Kedatangan Devan


__ADS_3

Saat mendatangi ruang kelas Syifa, Devan meresa kecewa karena kekasih pura-purnya itu tidak masuk. Meski pacarannya hanya pura-pura namun rasa sukanya pada Syifa bukan kepura-puraan.


Devan benar-benar terpesona pada paras cantik Syifa yang sangat berbeda dari kebanyakan gadis yang pernah ia temui. Terlebih Syifa karena Syifa belum tersentuh oleh laki-laki lain sehingga membuatnya tertantang untuk memilikinya.


"Eh, kamu temen deket Syifa, 'kan? kenapa cewek gue nggak masuk lagi?" tanya Devan kepada Laila.


"Katanya masih sakit, Kak!" jawab Laila dengan sedikit rasa takut.


"Kak Devan kan pacarnya, harusnya Kak Devan lebih tau dong dari pada kita-kita. Kalau pacar sakit ya dijenguk dong ke rumahnya!" ujar Nida yang tiba-tiba ikut nimbrung.


"Bukan urusan, lo!" jawab Devan ketus. Merasa kesal karena tidak mendapati Syifa lagi di hari kedua, ia pun segera keluar dari kelas Syifa.


Devan segera mencari Rian di tempat tongkrongannya saat istirahat sekolah.


"Bro, nanti sepulang sekolah lo temenin gue ke rumah Syifa. Gue penasaran kenapa dia dua hari gak masuk sekolah!" ujar Devan.


"Ciee ... baru dua hari nggak lihat aja udah uring-uringan aja. Bilang aja lo sebenarnya udah rindu berat kan sama cewek itu?" ejek Rian.


"Kalau iya kenapa? emang masalah buat lo! pokoknya gue nggak bakalan biarin dia lepas dari gue dan siapapun nggak boleh memiliki dia selain gue!" tutur Devan dengan percaya diri tinggi.


"Iya iya gue tahu, siapa juga sih yang berani ngerebut cewek lo. Arjuna aja udah nyerah tuh nggak berani deketin Syifa lagi!" tutur Ryan.

__ADS_1


"Satu lagi ya lo suruh orang buat cari tahu latar belakang Syifa. Supaya gue tahu kelemahan dia apa!"


"Oke, beres!" jawabnya.


Sedangkan di rumahnya, Syifa memilih untuk melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci baju-baju kotor. Sementara mamanya menenjaga di toko Abi Imron.


Setelah mencuci baju Syifa menjemurnya di halaman depan. Namun, ada sesuatu yang membuatnya berpaling ke seberang jalan tanpa sengaja iya melihat ada dua orang wanita paruh baya tengah berbisik-bisik sambil melihat ke arahnya!" Syifa paham jika mereka tengah bergunjing tentangnya.


Syifa pun merasa geram dan memilih masuk kembali ke dalam rumah. Ia tidak habis pikir kepada orang diluaran sana, ia adalah korban tapi seolah-olah mereka membicarakannya seperti seorang tersangka. Syifa kemudian menutup pintu rumahnya rapat-rapat.


Nenek Fatimah yang melihat seperti terjadi sesuatu pada Syifa pun bertanya, "Ada apa, Fa?"


"Syifa nggak tahu bagaimana cara untuk menghentikan mereka, Nek. Mereka terus saja menggunjing Syifa, Nek. Apa salah, Syifa?" ujar Syifa dengan sangat kesal.


Syifa pun menurut, kemudian mendudukkan diri di samping neneknya. "Iya, Nek ada apa?" tanya Syifa.


"Syifa, cobaan yang datang kepada kita itu datangnya dari Allah. Tapi, mengapa haru kamu? Kenapa harus kamu orangnya yang mendapat cobaan? Karena Allah tahu bahwa kamu mampu untuk melewatinya. Karena itulah kamu harus sabar dan ikhlas menerimanya, sebab itu adalah cara Allah untuk mengukur seberapa kuat keimanan kita. Hal itu juga agar umatnya yang mendapatkan cobaan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semua itu pasti ada hikmahnya!" tutur nenek menasehati panjang lebar.


"Segala perkataan buruk orang tentang dirimu jangan kamu telan mentah-mentah. Atau nantinya kamu sendiri yang akan rugi. Jika kamu terus berputus asa dan berlarut-larut dalam keterpurukan maka kamu hanya akan menjadi pribadi yang gagal."


"Ketika ada orang yang berkata buruk tentangmu dan menggunjingmu maka hal itu akan hantarkan pahala dan kebaikan mereka padamu. Maka kamu tidak tetaplah sabar dan jangan pedulikan omongan orang. Jadikan hal itu sebagai penempa diri agar kamu menjadi lebih kuat dan tunjukkan bahwa kamu tidak seperti apa yang mereka katakan!"

__ADS_1


"Iya, Nek. InsyaaAllah Syifa akan lebih sabar lagi!" tutur Syifa patuh.


"Hari Senin nanti, Nenek ingin kamu kembali ke sekolah. Kamu harus semangat belajar jangan putus asa kalau kamu berhenti di sini kamu akan kalah dan nantinya kamu akan menyesal di kemudian hari!" ucap nenek lagi.


"Iya, Nek. Syifa akan kembali ke sekolah. Terima kasih ya, Nek. Nenek selalu ada untuk memberi petunjuk bagi Syifa!" ujarnya kemudian memeluk sang nenek.


"Bagus, sekarang istirahat ya! Kamu pasti capek dari tadi beres-beres rumah terus. Nenek mau ke pengajian dulu!" ujar nenek kemudian menyampirkan tas di bahunya sebelah kiri. "Nenek, berangkat ya! Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati, Nek!" jawab Syifa. Ia lalu merebahkan diri di sofa ruang tamu seraya melihat televisi. Karena merasa lelah tak terasa ia tertidur di depan TV.


*****


Hari itu hari Sabtu, sehingga anak-anak sekolah pulang lebih cepat dari hari-hari biasanya. Devan pun berniat untuk berkunjung ke rumah Syifa sepulang sekolah. Ia mengendarai sepeda motornya bersama dengan Ryan.


"Sesampainya di halaman rumah, Syifa. Ia melihat bahwa rumah itu nampak sepi. Devan memberanikan diri untuk mengetuk pintu utama rumah itu.


Tok tok tok.


Namun tidak ada jawaban dari si pemilik rumah. Karena pintunya tidak terkunci dan masih ada celah sedikit. Devan pun tergugah untuk mengintip kecela-celah pintu itu. Dan, ia menemukan Syifa yang tengah tidur di sofa dengan televisi yang masih menyala.


Devan nekad menerobos masuk ke dalam rumah, sedangkan Ryan menunggu di halaman rumah. Devan pun tergiur untuk melakukan sesuatu saat melihat rok Syifa yang sedikit terangkat sehingga menampakkan kakinya yang putih mulus itu.

__ADS_1


...______Ney-nna______...


__ADS_2