Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Mencari tempat tinggal


__ADS_3

Syifa melangkah masuk ke pekarangan rumah peninggalan nenek Fatimah. Banyak dedaunan yang berserakan di halaman rumah hingga membuat rumah itu terlihat kotor. Ia menuju teras dan mengintip ke dalam rumah melalui kaca jendela.


Matanya berkaca-kaca menatap ke dalam isi rumah yang masih utuh. Perabot rumahnya masih tertata dengan rapih sama seperti sebelum ditinggalkan.


Sebab, Rosa dan Syifa tidak membawa perabotan rumah saat mereka meninggalkan rumah ini. Yang mereka bawa hanya baju dan benda berharga yang bisa di masukkan ke dalam travel bag. Dan, ternyata rumah ini memang dibiarkan begitu saja oleh keponakan nenek Fatimah.


"Nenek ... Syifa rindu!" lirihnya sembari mengusap bulir-bulir air mata yang jatuh. Ia terkenang masa-masa kecilnya disaat nenek Fatimah masih hidup.


Syifa terduduk di kursi teras merasai badannya yang terasa lemas. Seketika dia ingat saat nenek Fatimah membuatkannya baju untuk dipakainya mengaji. Tepat di bangku yang ia duduki sekarang, nenek Fatimah dan dirinya sering menghabiskan waktu dengan bercerita.


Usapan lembut di bahu Syifa membuatnya tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah belakang dan melihat mamanya sudah berada tepat berdiri di belakangnya.


"Sabar ya, Fa. Doakan yang terbaik untuk nenek!" ujar Rosalina kemudian duduk di bangku yang sama.


Syifa membenamkan wajahnya di pelukan sang mama.


"Ma, jika suatu saat Syifa punya uang ... Syifa pasti akan membeli kembali rumah ini!" ujar Syifa.


"Aamiin. Semoga suatu saat hal itu dapat terlaksana," ujar


Rossa menanggapi.


"Kita, tinggal di sini aja ya, Ma?" tanya Syifa.


"Tapi kita tidak bisa masuk, Fa. Pintunya di gembok!" tutur Rosa seraya menatap pada gembok yang terpasang di bagian pintu.


Syifa seketika tertunduk lesu. Ia kecewa karena tidak bisa masuk ke dalam rumah.


Drrttt drrtt drrrtt.


tepat di saat itu handphone Syifa bergetar ada pesan masuk dari Antika. Syifa segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum. Halo, Tik!"


"Wa'alaikumsalam. Kamu jadi pulang, Fa?" tanya Antika.


Sebelumnya Syifa sudah mengabari Antika jika akan pulang ke kota ini.


"Iya, Tik. Ini aku ada di depan rumah nenek Fatimah," jawab Syifa.


"Ngapain? mending kamu ke rumahku aja. Aku lagi sendirian di rumah. Kamu ke sini ya!" pinta Antika.


"Oke, baiklah!"


"Ya udah aku tunggu!


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


......................


"Assalamualaikum!" ucap Syifa saat berada di depan pintu gerbang rumah Antika. rumah yang masih sama dengan pintu gerbang menjulang tinggi.


"Waalaikumsalam!" Terlihat seorang gadis cantik membukakan pintu.


"MasyaAllah, Antika kamu tambah cantik aja!" ucap Syifa yang melihat perubahan di diri Antika yang semakin cantik dan terawat.


Tentu Syifa tahu karena Antika pernah cerita jika ia saat ini sudah menjalin hubungan baik dengan mama kandungnya. Mamanya pasti memberi perhatian yang lebih pada Antika setelah sekian lama mereka terpisah.


"Alah lo bisa aja sih, Fa. Gue kangen banget sama, lo!" mereka berdua lalu berpelukan. Setelah itu Antika menyalami Rosa.


"Yuk masuk, Fa, Tante!" ujarnya mempersilahkan mereka masuk.


"Ayah kamu nggak di rumah, Tik?" tanya Syifa.


"Seperti biasa, ayah ke ruko!"


"Oh iya, kamu nggak kuliah, Tik?"


"Masih nanti sih agak siangan," jawab Antika.


"Tik, boleh Tante numpang ke kamar mandi?" tanya Rosa.


"Tentu boleh, Tante. Silakan langsung ke belakang aja, Tan!" ujarnya sembari menunjuk ke arah belakang rumahnya.


Antika lalu menuju dapur hendak membuatkan minum untuk Syifa dan mamanya.


"Nggak usah repot-repot, Tik!" ujar Syifa.


"Repot apanya? masa kedatangan tamu dari jauh nggak dikasih minum!" ujarnya sembari membuat dua gelas teh untuk tamunya.


"Boleh deh kalau gitu sekalian keluarin camilannya ya, Tik!" celoteh Syifa bercanda.


"Fa, by the way tetangga depan rumah masih suka nanyain tentang kabar, lo. Doi kayaknya belum bisa move on dari, lo!" tutur Antika.


"Apa sih, aku gak mau ya berurusan sama dia lagi!" tukas Syifa dengan wajah cemberut.


"Iya gue tahu lo maunya sama abangnya Nafisa, kan? tapi lo harus sabar menunggu karena bang Ilham nggak akan datang di pernikahannya Nafisa!" tutur Antika.


Tiba-tiba Syifa jadi teringat Ilham. Seperti apa ya kak Ilham sekarang? gumamnya di dalam hati.


"Yaelah malah ngelamun!" tegur Antika.


"Tik, di Surabaya tanpa sengaja aku ketemu sama temen kamu yang namanya Iqbal itu," tutur Syifa mulai bercerita.


"Igbal? bagaimana bisa? terus gimana ceritanya?" tanya Antika dengan antusias.


Syifa kemudian menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Iqbal hingga ia bertemu dengan Devan.

__ADS_1


"Oh, my God! bagaimana bisa?" pekik Antika


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi, aku rasa mereka memiliki hubungan. Apa mungkin mereka bersaudara? dan dia pasti turut membantu kak Devan saat waktu itu!" tutur Syifa.


"Itu nggak mungkin, Fa. Ya meskipun Iqbal orangnya pendiam dan tertutup tapi gue tahu dia itu sebenarnya care dan baik. Buktinya waktu itu dia nolongin lo kan pas kasus lo dicium Devan. Iqbal justru malah mengungkap kejahatan Devan. Dan, gue rasa waktu lo dilecehkan Devan saat itu dia yang nolongin lo dari Devan!"


"Gue ingat betul, dulu dia pernah bilang sama gue kalau terjadi sesuatu dengan lo karena ulah Devan, dia meminta gue untuk segera mengabarinya. Dia itu peduli sama lo, Fa. Jadi nggak mungkin dia jahatin lo!" tukas Antika.


Syifa terdiam mencerna perkataan dari sahabatnya itu. Jika benar Iqbal yang menyelamatkannya kenapa dia tidak mau menjelaskan yang sesungguhnya terjadi saat berada di rumah sakit. Dan, sebenarnya apa hubungannya dengan Devan?


"Terima kasih ya, Tik!" ujar Rosa saat kembali dari kamar mandi.


"Sama-sama, Tante. Oh ya, kalian akan tinggal di mana?" tanya Antika melihat Syifa dan Rosa bergantian.


"Kita akan mencari tempat penginapan saja, Tik!" Rosa yang menjawab.


Antika mengangguk. Sebab tidak mungkin juga untuk menawari mereka tinggal di rumahnya. Sudah pasti mereka tidak mungkin mau tinggal di rumahnya karena ada ayahnya yang garang itu.


"Oh, kebetulan, Tante. Saya tahu tempat kost yang tidak terlalu jauh dari sini dan cukup murah. Teman saya juga ngekost di sana," ujar Antika. "Kalau kalian mau saya bisa mengantar kalian ke sana!"


Mereka kemudian mencari tempat penginapan yang di tunjukkan oleh Antika. Syifa dan mamanya naik taxi sementara Antika naik motornya.


Sesampainya di tempat kost, pemilik kost-kostan itu mengantar mereka ke salah satu kamar yang masih kosong. Tempatnya bersih dan tidak terlalu mahal. Yang lebih penting jaraknya tidak terlalu jauh dari kampung Arab. Sayangnya itu adalah tempat kost campur dengan keluarga. Jadi penghuni kostnya ada yang laki-laki dan ada juga suami istri.


Setelah mereka setuju untuk menempati tempat kost itu, Antika undur diri karena harus berangkat kuliah.


"Ma, bagaimana kalau kita tetap tinggal di sini saja. Mama bisa berjualan kue kembali di ruko seperti dulu. Kemudian Syifa akan mencari kerja juga!" usul Syifa.


"Memangnya kamu tidak ingin lanjut kuliah?" tanya Rossa.


"Biayanya dari mana, Ma. Syifa tidak mau merepotkan papa lagi. Syifa tidak mau papa terkena masalah dengan keluarganya, hanya karena kehadiran Syifa. Syifa juga tidak mau Mama menderita karena dituduh yang bukan bukan oleh keluarga papa. Syifa lebih nyaman tinggal berada di sini, Ma. Meskipun di rumah nenek Sofia Syifa juga sudah merasa nyaman, tapi Syifa tidak ingin tinggal di kota itu, Ma!"


"Kenapa, Fa? karena papamu?" tanya Rosa.


"Bukan hanya karena itu, Ma. Tapi karena kak Devan tinggal di Surabaya juga. Aku takut bertemu dengannya lagi, Ma!"


"Devan? yang kamu bilang kakak kelasmu yang melakukan--," ucap Rosa terpotong.


"Iya benar, Ma. Dia tinggal di sana. Aku bertemu dengannya kemarin. Saat aku mendatangi alamat yang tertera pada lembar pembayaran milik Iqbal. Aku bermaksud mendatangi tempat tinggal Iqbal karena dia kabur dari rumah sakit. Tapi, ternyata saat aku sampai pada alamat yang tertera itu bukan tempat kost seperti yang Iqbaal katakan, Ma. Melainkan rumah yang sangat mewah dan megah. Tapi, yang lebih mengejutkan lagi di luar rumah itu justru aku bertemu dengan kak Devan. Untungnya papa segera datang dan menolongku!"


"Syukurlah kamu baik-baik saja, Fa!"


"Tapi ternyata papa sama saja dengan kak Devan. Iya kan, Ma? Syifa sudah tahu semuanya dari tante Rosita, Ma. Tante menceritakan apa yang terjadi antara Mama dan papa di masa lalu. Karena itu Syifa tidak ingin terlalu bergantung dengan uang papa lagi, Ma. Papa sudah memiliki keluarga, Syifa tidak mau karena hadirnya Syifa di kehidupan papa, mama justru akan mendapatkan masalah lagi keluarga papa!" tuturnya panjang lebar.


"Saat ini Syifa masih memegang uang yang Syifa kumpulkan dari sisa uang saku yang diberikan oleh papa. Dan ada juga sisa uang yang ditinggalkan oleh Iqbal sebagai ganti biaya rumah sakit waktu itu. Papa memberikannya pada Syifa. Kita bisa menggunakannya sebagai modal usaha Mama berjualan kue!" seloroh Syifa.


"Baiklah kalau begitu, kita harus menyusun rencana awal dengan sebaik-baiknya agar kita bisa mempergunakan uang itu sebaik-baiknya demi bertahan hidup jika ingin ditinggal di kota ini," tutur Rosa.


..._____Ney-nna_____...

__ADS_1


__ADS_2