Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Tangisan Nafisa


__ADS_3

Panji menatap kesal ke arah Syifa. Ia merasa Syifa telah pilih kasih. Beberapa kali ia menawarinya untuk mengantarnya kerja. Tapi Syifa selalu menolak. Panji pikir karena Syifa gadis shalihah yang kekeuh menjaga diri dan menjaga jarak dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.


Namun apa yang dilihatnya sekarang Syifa turun dari sebuah mobil mewah yang dikemudikan oleh seorang pemuda. Bahkan pemuda itu memberikan sesuatu pada Syifa. Dan, mereka terlihat sangat akrab. Namun, anehnya tidak diantar sampai ke rumah melainkan diturunkan di jalan.


"Lihat, Bro. Jangan-jangan jilbab besarnya dan cadarnya itu hanya kedoknya saja agar tidak dikenali oleh orang-orang kalau diluar sana dia buka-bukaan. Jangan-jangan dia itu cewek nggak bener makanya dikasih uang tuh barusan!" ujar teman Panji mengompori.


"Jangan sembarangan, kamu! Kita tidak tahu yang sesungguhnya terjadi pada mereka. Bisa jadi apa yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataannya!" Meskipun kesal tapi Panji masih membela Syifa, berharap Syifa tidak seperti apa yang dikatakan teman nongkrongnya di warung pinggir jalan raya itu.


Setelah mobil itu berlalu Syifa beranjak berjalan pulang ke rumahnya.


Panji menatap kepergian gadis yang dikaguminya itu dengan sendu. Meskipun Syifa sudah menutup wajahnya dengan cadarnya, namun wajah cantik Syifa yang pernah dilihatnya saat peristiwa dua tahun silam itu masih terbingkai rapih di benaknya. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Syifa. Bahkan dia mencoba memperbaiki diri agar pantas bersanding dengan Syifa. Namun, kali ini dia ingin mengejar cintanya itu dengan cara yang benar.


Panji bergegas menaiki motornya dan perlahan mensejajarkan posisinya dengan langkah Syifa.


"Assalamu'alaikum, Syifa," ucap Panji.


Syifa segera menoleh ke arah sumber suara.


"Waalaikumussalam," jawab Syifa.


"Baru pulang ngajar ya, Fa?" tanya Panji.


"Iya, Mas," jawab Syifa singkat. Sungguh di dalam hatinya ia masih merasa tidak nyaman berdekatan dengan panji.


"Yang barusan nganter, siapa?" tanya Panji lagi.

__ADS_1


"Temen aku waktu SMA, Mas. Kebetulan kami tadi nggak sengaja bertemu," tutur Syifa jujur.


"Oh, begitu!"


Tak terasa Syifa sudah sampai di depan rumahnya. Ia lalu berpamitan dengan Panji.


"Maaf, Mas. Aku masuk dulu, ya! Permisi. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Syifa segera masuk ke rumahnya. Tidak lupa ia mengunci pintu. Semenjak peristiwa yang pernah menimpanya saat itu Syifa selalu waspada. Ia takut jika ada yang nyelonong masuk ke dalam rumahnya lagi.


Syifa bergegas mengganti bajunya. Setelah itu ia beranjak beristirahat sebentar di kamarnya. Sebelum nantinya ia harus pergi mengajar TPQ sorenya.


Tok tok tok.


Syifa yang hampir terlelap pun kembali bangkit dari tidurnya dengan malas.


"Siapa sih, astaghfirullah bikin nggak tenang aja mau tidur!"


Syifa lalu berjalan keluar dan membuka pintu. Nampak Nafisa tengah berdiri di depan pintu.


"Fa!" ujar Nafisa menghambur memeluk Syifa. Ia menangis sesenggukan menumpahkan kesedihannya di bahu Syifa.


"Ada apa, Naf? ayo masuk dulu ke dalam dan ceritain apa yang udah bikin kamu menangis!" bujuk Syifa seraya mengelus punggung Nafisa untuk menenangkan.

__ADS_1


Nafisa pun menurut. Mereka segera masuk ke dalam rumah. Syifa menggiring Nafisa untuk duduk di kursi ruang tamu.


"Sekarang kamu tenangkan dirimu dulu, Naf. Sebentar aku ambilkan minum yah!" ujar Syifa lalu beranjak bangkit menuju ke dapur untuk membuat minuman buat Nafisa.


Syifa membuatkan es syrup untuk mendinginkan suasana hati sahabatnya itu.


"Ini di minum dulu, Naf!" ujar Syifa seraya menaruh dua gelas minuman di atas meja.


"Terima kasih, Fa!" Ujar Nafisa dengan lirih.


"Iya, sama-sama. Ada masalah apa, Naf? cerita pelan-pelan saja!" tutur Syifa.


Flashback On ...


Tok tok tok.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumussalam." Nafisa segera beranjak keluar untuk melihat pada tamu yang datang.


Nafisa seketika tekejut melihat Ummi Rosyidah di hadapannya bersama keluarganya.


"U-umi mari silakan masuk!" ujar Nafisa dengan gugup. "Em, maaf ada perlu apa ya, Ummi!" tanya Nafisa.


"Kami ingin bertemu dengan orang tuamu ada?" tanya ummi.

__ADS_1


"Oh, tentu, Ummi! tunggu sebentar saya panggilkan," jawab Nafisa kemudian beranjak berdiri. Nafisa lalu ke dalam rumah memanggilkan abi dan umminya.


...________Ney-nna_______...


__ADS_2