Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Kepulangan Ilham


__ADS_3

“Sa, please aku mohon jangan pernah katakan apa pun pada abi atau mamaku tentang perasaan Kak Ilham padaku. Dan, sebaiknya pernikahannya dilangsungkan secepatnya, nggak masalah meskipun hanya ijab qobul saja!” ujar Syifa.


"Fa, jujur deh sama aku, kamu juga memiliki rasa kan dengan bang Ilham? menikah dengan saudara tiri itu diperbolehkan. Hanya tinggal kamu yang harus jujur dengan perasaanmu!" ujar Nafisa.


"Aku tahu itu, Sa. Tapi, aku ... aku tidak bisa menikah dengan Kakakmu ...," lirih Syifa.


"Kenapa?" cecar Nafisa. "Ada laki-laki lain yang kamu sukai?" tanyanya lagi.


Kak Ilham adalah satu-satunya laki-laki yang aku kenal sangat baik dan memiliki kriteria ideal untuk dijadikan sebagai pendamping hidup. Bahkan aku tahu banyak gadis-gadis di kampung Arab yang mengidolakannya. Tapi, aku sadar diri tentang musibah yang menimpaku saat itu, aku tidak yakin bahwa aku pantas untuk kak Ilham. Terlebih mama dulu pernah bilang agar aku tidak jatuh hati dengan kak Ilham! batin Syifa.


"Bukan begitu, Sa. Kak Ilham berhak mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari aku," kilah Syifa.


"Dengan begitu sama saja kamu menolak abangku, Fa. Sudah sore, aku harus pulang sekarang, suamiku sudah menjemput. Aku duluan, Fa. Assalamualaikum!" tutur Nafisa pamit.


"Waalaikumussalam." Syifa hanya menatap sendu kepergian Nafisa.


......................


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini sudah sebulan berlalu. Sore tadi Arjuna datang ke tempat kostnya. Pemuda itu mulai menanyakan kembali tentang jawaban Syifa atas lamarannya. Syifa yang saat itu ditemani oleh sang mama akhirnya menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa menerima lamarannya. Dengan alasan Syifa belum siap untuk berumah tangga. Hal itu juga Syifa lakukan demi menjaga hubungan baik di antara Arjuna dan Hanif. Ia tidak ingin hubungan adik ipar dan kakak ipar itu memburuk hanya karena dirinya.


Rosa yang mengerti atas keputusan putrinya pun turut menyampaikan permohonan maaf kepada ummi Farida, sebab tidak bisa membujuk Syifa memilih Hanif. Ia menyampaikan alasan yang sama dengan yang Syifa berikan untuk Arjuna. Alika yang turut mendengar merasa kecewa dengan hal itu. Bocah itu menangis tersedu-sedu dan hampir seharian tidak mau makan. Syifa merasa sangat bersalah kepada Alika. Namun, ia tetap tidak akan merubah keputusannya.


Bocah itu sampai tidak mau bertemu Syifa berhari-hari. Alhasil Hanif harus bersusah payah membujuk putrinya agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan.


...----------------...


Menjelang tidur Syifa mengecek status WA di ponselnya. Tepat di saat itu ia melihat status WA Nafisa yang menyatakan kepulangan Ilham. Kabar kedatangan Ilham malam itu membuat Syifa bahagia sekaligus cemas. Setelah sekian lama tidak bertemu tentu saja ada rasa rindu pada sosok laki-laki yang dikaguminya itu. Namun, ia juga cemas reaksi apa yang akan ditunjukkan Ilham nantinya atas rencana pernikahan abi Imron dengan mama Rosa.


"Ada apa, Fa?" tanya Rosa pada putrinya yang tengah terdiam melamun.

__ADS_1


"Eh, Mama. Ini Ma, dari status WA Nafisa sepertinya kak Ilham sudah pulang," ujar Syifa.


"Alhamdulillah ...," ucap Rosa seraya merebahkan diri di atas tempat tidur, di sebelah putrinya.


"Mama, tidak menyangka, Fa. Ternyata kalian memang ditakdirkan untuk menjadi saudara. Dibalik musibah yang Mama alami, rupanya ada rencana Allah yang begitu indah buat kita," tutur Rosa. "Mama dulu sempat khawatir kalau kamu jatuh cinta sama Ilham atau sebaliknya. Kamu masih ingat kan pesan Mama agar kamu tidak menaruh hati pada Ilham?" sambungnya lagi.


Mendengar hal itu Syifa yang tadinya memejamkan mata seketika membuka matanya dan menoleh ke arah mamanya berada. Ia penasaran apa maksud dari perkataan mamanya itu.


"Ma ... memangnya kenapa jika hal itu terjadi, Ma?" tanya Syifa penasaran.


"Hampir aja Mama lupa bilang ke kamu, Fa ...," ucap Rosa.


Rosa lalu menceritakan alasannya mengapa Syifa dan Ilham tidak diperbolehkan untuk menikah.


Syifa seketika terkesiap mendengarnya. Ia tidak menyangka jika takdir menggariskan ia dan Ilham tidak dapat bersatu menjadi sepasang kekasih halal seperti harapannya.


...----------------...


Mendengar kepulangan Ilham, warga kampung Arab pun menyambutnya dengan penuh suka cita. Mereka datang ke rumah untuk menyambut kedatangan Ilham. Pemuda itu memang cukup dikenal baik di kampung Arab. Apalagi ia adalah penerus dari keturunan Habib Akbar, kakeknya. Yang tersohor dikalangan warga keturunan Arab. Tidak hanya di kampungnya, namun almarhum Habib Akbar juga cukup dikenal di Nusantara hingga ke negara asalnya di Yaman.


Sepulang para tetangga yang datang, Imron meminta Ilham untuk beristirahat. Ia yakin putranya itu pasti sangat lelah setelah perjalanan jauh. Besok pagi barulah ia akan mengajak putranya itu berbicara.


Keesokkan harinya seusai melaksanakan salat subuh berjamaah di masjid, Imron menahan Ilham agar tidak langsung pulang.


Ia segera mendekati putranya saat jamaah yang lain mulai meninggalkan masjid.


"Ham, Abi ingin bicara penting padamu!" ucap Imron dengan sangat hati-hati.


Ilham menoleh ke arah abinya dengan tersenyum. "Ilham juga ada sesuatu yang ingin saya katakan, Bi!"

__ADS_1


"Benarkah? kalau begitu kamu dulu saja yang mengatakannya!" pinta Imron.


"Tidak, Bi. Abi saja dulu yang bercerita. Pasti hal itu sangat penting bukan?" ujar Ilham malu-malu.


Akhirnya Imron menceritakan tentang pesan terakhir umminya agar abinya itu menikah lagi.


Mendengar hal itu Ilham cukup terkejut. Namun, ia berusaha mengerti akan keinginan umminya yang tentunya adalah demi kebaikan abi.


"Lantas dengan siapa, Bi?" tanya Ilham.


"Ummi, menginginkan Abi menikah dengan Rosa ...," ucap Imron dengan hati-hati.


"Ap-a?" Ilham merasa sangat terkejut mendengarnya.


Padahal ia ingin meminta ijin kepada abinya untuk melamar Syifa.


"Kamu tidak keberatan kan jika Abi menikah dengan Rosa? Abi sudah melamarnya beberapa minggu yang lalu, jika kamu setuju Abi akan menggelar ijab qobul dalam waktu dekat," ujar Imron panjang lebar.


"Apa Syifa dan mamanya sudah setuju?" Ilham balik bertanya.


Imron mengangguk sebagai jawaban.


"Baiklah, jika semua sudah setuju Ilham akan mendukung keputusan kalian," ucap Ilham pasrah. Meskipun dalam hati ia masih merasa berat menerima orang lain hadir menggantikan posisi umminya. Namun ia akan berusaha untuk menerimanya karena ini adalah permintaan umminya sendiri.


"Syukurlah ... Abi lega mendengarnya. Lalu apa yang ingin kamu katakan?" tanya Imron.


"Em, Ilham lupa, Bi. Nanti Ilham ingat-ingat dulu ...," kilah Ilham. Sebaiknya ia menahan lebih dulu keinginannya untuk melamar Syifa. Ia juga perlu bertemu Syifa terlebih dahulu untuk memastikan sesuatu.


..._______Ney-nna_______...

__ADS_1


__ADS_2