Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Menjelaskan


__ADS_3

"Nak Iqbal dan Bu Maryam. Saya ucapkan terima kasih sudah berkenan hadir di rumah kami!" ucap Imron ramah.


"Saya juga sangat senang dapat berkunjung ke rumah Anda, Habib. Ini adalah hal yang saya tunggu-tunggu sejak lama. Saya ingin sekali melihat cucu saya menikah!" tutur nenek Maryam dengan antusias.


"Insyaallah, Bu. Semoga hal itu dapat segera terlaksana. Itu juga harapan kami untuk Iqbal dan Syifa," tukas Rosa menanggapi.


"Maksudnya, lamaran cucu saya diterima begitu, Nak Rosa?" tanya nenek Maryam menangkap ucapan mama Syifa.


"Benar, Bu. Nak Iqbal kami sekeluarga telah sepakat untuk menerima khitbah dari nak Iqbal ...," ucap abi Imron seraya menyunggingkan senyum.


Iqbal sejenak terpaku mendengar lamarannya diterima. Entah mengapa ia tiba-tiba tak mampu berkata-kata.


Syifa melirik sejenak ke arah Iqbal untuk memastikan ekspresinya mendengar hal itu. Namun dimata Syifa, Iqbal seperti tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Hal itu sedikit membuat Syifa bertanya-tanya. Apakah Iqbal benar-benar tulus ingin menikahinya?


"Alhamdulillah!" pekik nenek Maryam. Beliau begitu bahagia mendengar hal itu.


"Baiklah karena kita sudah sepakat untuk menuju ke jenjang yang lebih serius dan bukan berta'aruf lagi, saya rasa alangkah baiknya jika niat baik nak Iqbal kepada putri kami segera ditentukan pelaksanaannya. Hal itu bertujuan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan," tutur Imron dengan tegas. Ia tidak ingin hal buruk terulang lagi atau semacamnya.


"Baik. Saya akan segera mengurus segala sesuatunya untuk pelaksanaan akad dan pesta pernikahannya. Silahkan Anda tentukan tanggal dan harinya. Atau ada permintaan khusus yang harus saya penuhi, mari kita bahas mulai dari sekarang!" ucap Iqbal mantap penuh semangat.


Imron dan Rosa saling pandang dengan tersenyum senang. Mereka tidak menyangka Iqbal sesigap itu untuk menunjukkan keseriusannya.


"Assalamu'alaikum!"


Sebuah suara terdengar dari arah pintu depan. Semua berpaling memandang ke arah sumber suara.


"Wa'alaikumussalam!" jawab semua orang.


Betapa terkejutnya Syifa saat melihat siapa yang datang berkunjung. Ia terpaku melihat sesosok yang tengah berdiri tegak tanpa alat bantu apa pun.


Imron dan Rosa juga nampak terkejut melihatnya. Mereka tidak menyangka Arjuna akan kembali setelah menghilang tanpa kabar selama bertahun-tahun lamanya. Dan kini datang disaat yang tidak tepat.

__ADS_1


"Kak Juna!" ucap Syifa lirih. Air matanya seketika terpupuk di pelupuk netranya serasa tak mampu untuk dibendung.


"Maaf atas kelancangan saya datang disaat yang tidak tepat. Tanpa sengaja saya ikut mendengarkan obrolan kalian. Jika diperkenankan saya ingin meminta ijin untuk berbicara sebentar dengan Syifa. Saya berjanji hal ini tidak akan mempengaruhi rencana yang kalian sudah sepakati barusan!" tutur Arjuna dengan tenang.


"Tidak! Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan!" seru Rosa dengan lantang. Matanya memerah menunjukkan betapa marahnya ia terhadap orang yang telah membuat putrinya menderita selama bertahun-tahun.


"Istighfar, Ma!" ucap abi Imron menenangkan istrinya.


"Aku tidak akan membiarkan dia menghancurkan hidup putriku lagi, Bi. Dia sendiri yang meninggalkan, lantas untuk apa sekarang dia kembali?" tutur Rosa meluapkan segala amarah yang berkecamuk di dalam hatinya.


"Iya, aku paham apa yang kamu khawatirkan, Ma. Tapi tetaplah tenang dalam menghadapinya. Kita bisa bicarakan hal ini dengan baik-baik ...," bujuk Imron pada istrinya.


Rosa menjatuhkan dirinya di kursi dengan memegangi dadanya sembari beristighfar. Sebisa mungkin ia menekan amarahnya mengingat ada nenek Maryam dan juga Iqbal.


"Bagaimana menurut kamu, Syifa?" tanya abi Imron.


"Ijinkan kami berbicara sebentar, Ma, Abi. Syifa tidak ingin masa lalu Syifa menjadi ganjalan bagi masa depan Syifa. Biarkan Syifa selesaikan hal itu lebih dulu," ucap Syifa memohon.


"Benar apa yang dikatakan Syifa, Ma. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka terlebih dahulu. Sehingga tidak menimbulkan masalah lagi dikemudian hari," ucap Imron kembali membujuk istrinya.


"Bagaimana nak Iqbal, bu Maryam? Apakah kalian keberatan jika mereka diberi kesempatan untuk berbicara sebentar?" tanya Imron.


Nenek Maryam memandang kepada Iqbal. Ia menyerahkan keputusan itu pada cucunya.


"Silakan. Saya tidak akan keberatan untuk hal itu. Syifa sudah cukup dewasa untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan. Terlebih saya belum menjadi suaminya. Saya rasa saya tidak berhak untuk melarangnya," jawab Iqbal dengan tenang.


"Terima kasih atas pengertiannya, Nak Iqbal!"


Imron mengangguk kepada Syifa sebagai tanda jika Syifa boleh menemui Arjuna.


Syifa beranjak menuju ke depan dan membawa Arjuna untuk berbicara di teras rumah. Mereka duduk bersebelahan dengan dibatasi sebuah meja bundar di bagian tengahnya. Di tepi jalan terlihat ada asisten Juna yang tengah menunggu di dalam mobil.

__ADS_1


"Syifa, aku baru datang dari Singapura dua hari yang lalu. Barusan bang Hanif datang ke rumah untuk menjenguk. Dari sanalah aku tahu semua tentang kamu dari semenjak aku pergi hingga kabar jika kamu telah dilamar oleh Iqbal."


"Kedatanganku ke sini hanya untuk meminta maaf atas kesalahan yang aku perbuat selama ini hingga membuatmu menderita. Dan yang kedua, aku hanya ingin memberi selamat karena sebentar lagi kamu akan menikah. Aku berharap kamu bahagia dengan pernikahanmu nanti!" ucap Juna.


"Semudah itu, Kak? Tiba-tiba Kak Juna datang setelah bertahun-tahun lamanya dan hanya bilang maaf tanpa penjelasan apa pun?" tanya Syifa dengan suara tercekat menahan tangis.


Arjuna menatap Syifa dengan perasaan hancur. Bertahun-tahun ia mencoba melupakan wanita yang sangat ia cintai itu dan sekarang saat bertemu kembali, ternyata masih sama. Ia kembali terhanyut dalam perasaannya yang selama ini berusaha ia lenyapkan. Bahkan rasa tidak rela seketika muncul ketika mengingat sebentar lagi Syifa akan menjadi milik orang lain.


"Syifa, aku tahu waktu itu kamu tidak bahagia saat kita akan menikah. Kamu menerimaku dengan terpaksa karena aku berulang kali mengatakan jika akan menunggumu sampai kapanpun kamu siap menikah denganku. Kamu juga terpaksa menerimaku karena terdesak oleh orang-orang terdekat kita, bukan? Karena itulah aku memilih membatalkan untuk menikahimu."


"Sebelum kecelakaan itu terjadi, aku sudah mendapatkan firasat dari sebuah mimpi. Beberapa kali aku bermimpi melihatmu menikah tapi bukan dengan aku. Melainkan bersama orang lain. Di mimpiku kamu terlihat sangat bahagia. Hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi."


"Aku tidak ingin membuatmu menderita setelah menikah denganku. Terlebih harus membuatmu hidup tanpa rasa cinta dengan pria lumpuh sepertiku!" tutur Arjuna menjelaskan.


"Tapi bukan seperti itu caranya untuk mengakhiri hubungan kita, Kak. Seharusnya kamu berbicara tentang hal itu denganku terlebih dulu waktu itu. Alih-alih kamu malah pergi begitu saja tanpa mau bertemu denganku, Kak!"


"Meskipun aku belum memiliki rasa cinta terhadapmu saat itu, bukan berarti aku tidak bisa belajar untuk mencintai pria yang ditakdirkan menjadi suamiku. Kamu terlalu picik menilai ku, Kak!" ucap Syifa dengan sendu.


Arjuna terdiam mencerna perkataan Syifa. Ia merasa menyesal karena telah meninggalkan Syifa.


...______Ney-nna______...


Assalamu'alaikum reader's,,


Terima kasih atas dukungannya selama ini buat Neyna. Mohon dukungannya agar Neyna bisa menuntaskan novel Aku Perawan Tua Berkualitas ini dengan segera. Sehingga Neyna bisa melanjutkan untuk menuntaskan kisah Naima & Reynand juga pada novel Dinikahi Cinta Pertamaku.


Jika berkenan Neyna juga minta dukungannya di karya terbaru Neyna yang berjudul Terdampar di Surga Impian.



Terima kasih atas perhatiannya, salam sayang dari Neyna untuk kalian 💞💞💞

__ADS_1


Wassalamu'alaikum wr, wb.


__ADS_2