
Ketika hawa dingin menyeruak ke dalam kulit, Mia serasa enggan untuk membuka matanya. Dia meraba selimut dan menariknya hingga menutupi seluruh tubuhnya dan hanya menyisakan bagian kepalanya. Rintik-rintik hujan di pagi itu membuatnya malas beranjak dari tempat tidur.
Mia meraba ke samping berniat memeluk suaminya mencari kehangatan. Namun, kosong. Ia seketika membuka matanya dan terkejut tidak mendapati sang suami di sampingnya.
"Di mana Mas Edward?" gumamnya pelan.
Mia segera beranjak duduk lalu melihat ke arah jam di dinding. Jam baru menunjukkan pukul 05.00 pagi. Tapi, ke mana suaminya itu pergi. Sebab tidak biasanya Edward sudah bangun sepagi ini.
Mia menyingkap selimutnya dan beranjak turun dari tempat tidur. Lalu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah membasuh muka dan membuang hajatnya, Mia bergegas ke luar kamar untuk mencari suaminya. Mungkin saja suaminya itu berada di bawah untuk mengambil minum, pikirnya.
Namun, setelah sampai di bawah, ia tidak menemukan keberadaan suaminya di mana pun.
"Mas Edward... di mana kamu, Mas?" gumam Mia lirih lalu menjatuhkan dirinya di kursi ruang makan.
"Sedang apa kamu, Mia?" tanya ibunya.
"Em, Bu. Aku hendak memasak tapi kepalaku sedikit pusing, Bu!" jawabnya beralasan. Beberapa hari ini ia terbebani oleh pemikirannya tentang sang suami yang bersikap aneh membuatnya banyak berpikir.
"Ya sudah kamu istirahat saja ke kamarmu. Biar Ibu yang menyiapkan sarapannya! " perintah ibunya.
"Baik, Bu. Maaf jadi merepotkan Ibu!" tutur Mia.
"Tidak masalah. Sudah sana kembali ke kamarmu dan beristirahat lah!" perintah ibunya. "Jangan lupa minum obat!"
"Baik, Bu."
Mia pun segera beranjak menuju kamarnya. Sesampainya di kamar ia mengambil ponselnya di atas nakas dan segera melakukan sambungan telepon pada nomor suaminya.
"Halo, Mia!" terdengar sahutan dari seberang.
"Mas, kamu di mana?" tanya Mia.
"Aku di rumah sakit. Semalam tidurmu sangat lelap. Aku tahu kau kecapean setelah menemani anak-anak berlibur kemarin, karena itu aku tidak membangunkanmu," tutur Edward.
"Di rumah sakit mana, Mas? Boleh aku menjenguknya? nanti setelah mengantar anak-anak sekolah aku akan mampir untuk menjenguk anak buahmu," ujar Mia menyelidiki.
"Tidak perlu, sebentar lagi aku akan pulang! sudah ya, nanti kita bertemu di rumah saja!" tutur Edward.
"Mas.... " Belum sempat ia berbicara Edward sudah memutuskan teleponnya.
__ADS_1
Mia menghela napas beratnya. Suaminya itu semakin terlihat mencurigakan. Ia semakin yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya darinya.
Mia bergegas menuju ke kamar anak-anaknya untuk membangunkan mereka dan juga supaya mereka segera bersiap untuk ke sekolah. Setelah anak-anaknya bangun ia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Usai membersihkan diri ia membantu anaknya bersiap, lalu turun untuk sarapan bersama.
Saat tidak melihat kehadiran Edward, sang ayah mempertanyakan keberadaan menantunya itu. "Di mana suamimu?"
"Mas Edward, semalam kembali ke rumah sakit, Yah!" ujarnya jujur.
"Hemm ... dia sangat peduli pada anak buahnya. Memang tidak salah aku menjadikannya menantu!" ucap sang ayah merasa bangga.
Sebab, yang ia ketahui adalah meskipun duda tapi Edward masih sangat muda, mapan dan sukses ketika ia menjodohkan putrinya dengan anak dari sahabatnya itu. Dan kini ketika melihat rumah tangga putrinya terlihat harmonis, tentu ada sebuah kelegaan bagi dirinya.
Mia hanya diam tidak menanggapi ucapan ayahnya. Memang selama dua belas tahun berumah tangga, sebelumnya semua baik-baik saja. Namun, tidak dengan akhir-akhir ini. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya darinya.
Ditengah-tengah sarapan, terdengar ada suara orang membuka pintu dan berjalan masuk. Mia segera menghentikan makannya.
"Mungkin itu Mas Edward sudah pulang. Aku akan melihatnya. Jessy, Exel... segera selesaikan sarapan kalian!" ucapnya lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri ke arah depan.
Benar saja, Edward terlihat berjalan memasuki rumah. Mia mencoba untuk tetap bersabar melayani suaminya itu. Ia tidak ingin memperlihatkan pertengkaran di depan anak-anaknya dan orang tuanya.
"Aku tadi sudah sarapan di rumah sakit. Aku ke atas dulu. Aku masih ngantuk rasanya ingin beristirahat sebentar sebelum ke kantor!" jawabnya.
"Baiklah!"
Mia menatap sendu pada punggung suaminya yang berjalan semakin menjauh. Lalu memutuskan kembali melanjutkan sarapan bersama anak dan orang tuanya.
Usai sarapan Mia kembali ke kamarnya untuk mengambil tas selempang nya dan kunci mobil. Ia melihat Edward masih tertidur dengan lelapnya. Ia pun memutuskan untuk tidak berpamitan kepada suaminya itu.
Sesampainya di bawah ia melihat Rossa sudah datang.
"Mbak, aku mau mengantar anak-anak ke sekolah dulu ya. Tolong jaga rumah baik-baik!" ujarnya, "Oh ya, di atas ada suamiku yang masih tidur. Nanti kalau dia sudah bangun katakan saya mengantar anak-anak jika dia bertanya!"
"Baik, Bu!" ujar Rossa patuh.
"Siapa dia, Mia?" tanya sang ibu.
"Mbak Rosa yang bantu-bantu aku beres-beres rumah, Bu. Mbak Rosa kerja pagi sampai sore saja," ujarnya menjelaskan.
__ADS_1
"Oh, ya sudah. Ibu dan ayah akan pulang sekarang. Apa suamimu belum bangun?" tanya sang ibu.
"Belum, Bu."
"Ya sudah, ayo kita berangkat!" ujarnya lalu melirik sejenak ke arah Rossa.
Rosa menundukkan kepala dengan rasa hormat. Lalu beranjak ke belakang untuk melaksanakan pekerjaannya.
"Apa dia bisa dipercaya?" tanya sang ibu.
"Mbak Rossa cukup baik selama menjadi ART di rumah ini, Bu. Aku percaya padanya!" ujar Mia.
"Ya, sudah. Kamu harus tetap waspada. Ibu berharap rumah tanggamu akan selalu bahagia. Ayahmu sudah menunggu di mobil, ibu pamit!"
"Baik, Bu. Hati-hati di jalan, Bu!" ujar Mia setelah menyalami ibunya dan mencium pipinya.
Kedua mobil pun meluncur pada tujuannya masing-masing.
......................
Pagi itu, Syifa hanya seorang diri datang ke rumah sakit. Ia membawa jaket almamater yang sejak dulu di simpan nya dengan baik. Jaket yang bertuliskan nama Iqbal di bagian dada.
Setelah papanya pulang ini adalah kesempatan baginya untuk berbicara empat mata dengannya.
"Aku bisa makan sendiri dengan tangan kiri jika kamu enggan untuk menyuapi ku makan!" ujar Iqbal saat Syifa tidak segera menyuap makan untuknya.
Syifa menghela napas beratnya. Lalu ia membuka kotak makan itu dan mulai menyuap satu sendok makan lalu menjulurkan tangannya ke arah laki-laki di hadapannya.
"Aku benar-benar heran, bagaimana orang hidup tidak memiliki teman barang seorang saja di dalam hidupnya!" ujar Syifa tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
"Apa kamu sungguh sangat penasaran?" Iqbal balas bertanya.
"Tentu saja, ini sudah hari ketiga dan tidak ada seorang pun yang datang mencarimu. Apa kamu sangat menyebalkan hingga tidak ada seorang pun yang mengkhawatirkan keadaanmu?" tutur Syifa.
"Aku punya alasan untuk tidak merepotkan mereka, karena itulah aku tidak memberitahukan hal ini pada mereka. Kalau kamu merasa keberatan tidak usah datang lagi!" ujar Iqbal dengan ketus.
Dia benar-benar menyebalkan!
"Aku memang tidak akan peduli padamu setelah kamu menjelaskan hal ini padaku!" ujar Syifa lalu menaruh jaket almamater yang tadi dibawanya kehadapan Iqbal.
__ADS_1
..._______Ney-nna_______...