
Menjelang sore Nafisa sudah pulang. Membujuk Nafisa ternyata lebih mudah dari pada Antika. Nafisa yang merupakan anak yang patuh hanya butuh didengarkan keluh kesahnya tanpa dinasehati pun dia sudah tahu dengan apa yang harus dilakukan.
Nafisa pasrah dan mencoba merelakan keputusan ayahnya. Ia pun sesungguhnya sudah tahu dengan aturan yang diterapkan baginya itu. Tentang menikah dengan kafa'ah nasabnya. Namun, mengagumi sosok Adam adalah hal yang manusiawi. Dan, cinta bisa datang kepada siapa saja tanpa pandang bulu.
Usai mengantar Nafisa pulang ke rumahnya, Syifa mengajar TPQ di masjid jami' kampung Arab. Di sepanjang jalan ia masih kepikiran apa yang dikatakan Ilham. Melihat anak-anak yang terbata-bata membaca iqro membuatnya teringat akan masa kecilnya. Meskipun masa kecilnya kurang menyenangkan karena ia berbeda dari yang lain, namun pada akhirnya ia bersyukur karena lahir di kampung ini. Ia merasa segala yang dialaminya itu membawa hikmah. Berkat semua pengalaman pahit yang ia alami akhirnya ia menjadi Asyifa yang seperti sekarang.
"Permisi!" Tiba-tiba terdengar suara bariton yang membuyarkan lamunannya.
Syifa segera menoleh ke arah sumber suara.
"Iya, ada apa?" tanya Syifa seraya menoleh ke arah pintu. Terlihat seorang pemuda tengah berdiri di ambang pintu.
"Habib Imron ada?" tanyanya.
"Coba saja cari di dalam masjid!" ujar Syifa memberitahu.
Sebab biasanya abi Imron berada di dalam masjid bersama dengan murid laki-laki.
"Nggak ada!" ujarnya.
"Kamu mencariku?" tanya Habib Imron yang baru keluar dari kamar mandi. "Ada apa?"ujar Habib Imron.
Syifa tidak lagi mempedulikan obrolan keduanya. Syifa memilih untuk kembali masuk ke dalam ruangannya lgi untuk mengakhiri belajar mengajinya. Sebab, hari sudah menjelang maghrib.
"Baiklah anak-anak, berhubung sudah menjelang maghrib mari kita akhiri belajarnya sore ini. Mari kita tutup dengan doa bersama-sama!"
Usai membaca doa tutup majelis anak-anak berhamburan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Syifa pun pulang dengan berjalan kaki menuju rumahnya.
Belum sempat iya masuk ke dalam pekarangan rumahnya iya melihat mamanya duduk di teras rumah dengan berwajah sendu.
"Assalamualaikum, Ma. Kenapa berada di luar? apakah ada tamu?’’ tanya Syifa pada mamanya.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam. Iya benar, tadi ada yang datang," ujar Rosa membenarkan hal itu.
"Siapa yang datang, Ma?" tanyanya.
"Kamu ingat tidak tentang keponakan nenek Fatimah yang tinggal di Mekah? tadi beliau datang dan marah-marah,"
"Marah-marah kenapa, Ma?" tanya Syifa seraya ikut duduk di samping mamanya.
"Dia merasa kesal karena tidak ada yang memberi tahukan hal itu kepadanya. Padahal mama tidak tahu tentang nomor handphonenya dan di mana beliau tinggal. Lantas bagaimana mau memberitahu coba? Ini beliau mendatangi rumah Habib Imron hendak meminta penjelasan kepada mereka. Mama tidak habis pikir dengannya Syifa, firasat Mama tidak baik tentangnya," ujar Rosa.
"Sudah, Ma. Sebaiknya kita masuk ke dalam rumah. Sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Ayo , Ma!" Syifa mengajak mamanya masuk ke dalam.
Tak berapa lama adzan berkumandang Syifa dan mamanya segera melaksanakan salat berjamaah.
******
Keesokannya saat hendak berangkat bekerja keponakan nenek Fatimah kembali datang. Rosa pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Maksud Anda mau mengambil alih rumah ini begitu?" tanya Rosa.
"Iya, Ente benar. Rumah, dan juga kepemilikan kios tante Ane saya yang berhak memilikinya!"
Deg!
Rosa seketika terkejut. Selama ini dia tidak memikirkan hal itu.
Astaghfirullahaladzim cobaan apa lagi ini, Ya Allah! gumam Rosa di dalam hati.
Rosa terdiam memikirkan hal ini. Memang benar semua yang dikatakannya. Rumah ini memang bukan haknya. Selama ini dia lupa jika dia hanya menumpang di rumah nenek Fatimah.
Namun, setelah bertahun-tahun tinggal di rumah ini rasanya sangat berat jika harus meninggalkan rumah ini. Sebab ia telah menempati rumah ini sudah cukup lama. Bahkan rumah ini sudah dianggapnya bagaikan rumahnya sendiri. Banyak kenangan di rumah ini ketika pertama kalinya ia datang hingga hadirnya Syifa.
__ADS_1
"Tuan, apa tidak ada cara lain? Bagaimana jika Anda menjualnya kepada saya? toh Anda tinggal di luar negeri," bujuk Rosa.
"Hah, membelinya? apa ente sanggup membayarnya?" tanyanya menohok.
Rosa memang tidak memiliki banyak simpanan uang. Jika harus membayar rumah ini secara langsung tentu dia tidak sanggup.
"Bagaimana jika ijinkan saya mencicilnya?" pinta Rosa.
"Hahaha... mau mencicil sampai kapan? buang-buang waktuku saja. Begini saja, aku memberimu penawaran. Bagaimana jika Ente menikah dengan Ane? jika Ente bersedia Ane akan menyerahkan harta warisan ini kepada Ente sebagai maharnya!" ujarnya.
"Mama, ada apa ini?" tanya Syifa yang baru saja keluar dari kamarnya. Syifa baru saja selesai bersiap untuk pergi kerja. Namun, ia mendengar jika sudah ada yang bertamu sepagi ini.
"Oh, ya Ane hampir lupa. Ente bahkan memiliki putri yang cantik jelita. Jika Ente tidak mau, anak Ente juga boleh!" ujarnya dengan tersenyum licik.
"Jaga bicara Anda. Saya tidak akan pernah mau menikah dengan Anda apalagi menyerahkan putriku kepada Anda. Tolong beri kami waktu untuk berkemas. Saya lebih baik meninggalkan rumah ini dari pada harus menjadi istri Anda!" ujar Rosa dengan geram.
"Kenapa Ente marah-marah sama Ane? Ane hanya ingin memberikan solusi yang bagus buat Ente. Jika Ente menikah dengan Ane, itu akan mengangkat derajat Ente. Bukankah Ente hamil tanpa suami? Ane di sini menawarkan hal yang mulia kepada Enta. Menjadikan Ente sebagai seorang istri untuk Ane. Seharusnya Ente bersyukur bisa menjadi istri Ane!"
"Lihatlah putri Ente bahkan sudah sebesar ini, tapi Ente masih saja melajang selama bertahun-tahun lamanya. Tidak ada yang mau menikahi Ente bukan?"
Rosa semakin merasa kesal dengan perkataan orang di depannya yang semakin melantur saja bicaranya. Rasanya ia ingin merobek-robek mulutnya. Namun, sebisa mungkin Rosa tetap tenang menghadapinya.
"Cukup! Silakan Anda pergi, kasih saya waktu sehari untuk berkemas barang-barang pribadi saya. Besok saya akan meninggalkan rumah ini. Besok Anda bisa mengambil rumah ini dan juga kios ummi Fatimah. Saya pastikan tidak akan membawa barang-barang Ummi Fatimah yang bukan hak saya!"
"Ma," ujar Syifa seraya memegangi lengan ibunya.
Ia masih tidak mengerti kenapa harus pergi meninggalkan rumah ini. Tempat kelahirannya. Tempat ia dibesarkan dari kecil hingga kini ia beranjak dewasa. Rasanya sangat sedih jika harus meninggalkan rumah ini.
"Nanti, Mama akan jelaskan Syifa!" ujar Rosa kepada putrinya.
"Baiklah jika itu mau Ente, Ane akan pergi untuk kembali besok! Assalamu'alaikum," ujarnya dengan tersenyum licik.
__ADS_1
..._____Ney-nna_____...