Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Gadis Baik


__ADS_3

Syifa berdiri di atas trotoar di samping gerbang sembari melihat ke halaman sekolah. Jam pelajaran telah usai, tapi Antika belum juga nampak batang hidungnya.


"Hai Asyifa!" sapa seseorang murid laki-laki dengan mengendarai sepeda motor. Dia berhenti tepat di hadapan Syifa berdiri.


"Maaf, kamu ngomong sama saya?" ujar Syifa dengan ragu. Dia nampak kebingungan pada sosok laki-laki di depannya. Sebab, dia merasa tidak mengenalnya dan Syifa yakin bahwa dia bukan teman sekelasnya.


"Iyalah kamu, 'kan aku manggil namamu!" jawab murid itu.


"Maaf, tapi saya nggak kenal sama kamu!"


Dia mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan Syifa. "Devan Anggara, kelas XII PA2," ujarnya.


"Dari mana Kakak tahu nama saya?" tanya Syifa tanpa membalas uluran tangannya.


"Ya ampun Syifa, aku rasa semua murid yang bersekolah di SMA kita pasti tahu siapa kamu!" ujar Devan.


Syifa menghela napas beratnya. Dia merasa tidak nyaman dengan laki-laki di depannya yang jelas sekali terlihat ada maunya.


"Ada perlu apa, Kak?" tanyanya.


"Kamu pulang naik apa?" tanya Devan.


"Naik bus, Kak," jawabnya singkat.


"Rumah kamu di mana? aku antar yuk!"


Syifa sudah menduganya, pasti cowok itu mau PDKT sama dia. Namun, Syifa sudah cukup hapal dengan tabiat laki-laki playboy seperti Devan. Dia adalah cowok kesekian yang pernah menawarkan untuk diantar pulang.


"Makasih, Kak. Nggak usah!" tolak Syifa secara halus.


"Kamu pasti berpikiran yang aneh-aneh deh. Aku nggak ada maksud apa-apa lhoh! Aku rasa rumah kita searah, jadi aku bisa sekalian anter kamu, kan lumayan menghemat uang buat bayar bus," rayu Devan.


"Memangnya Kakak tahu di mana rumahku? di mana?" tanya Syifa menyelidik.


"Em, itu ... a-aku ...." Devan nampak kebingungan menjawab karena dia memang tidak tahu.


"Hey Fa, maaf ya lama! tadi disuruh bawain tugas dulu ke kantor guru," ujar Antika yang baru datang sembari menepuk bahu Syifa.


"Gak apa-apa, Tik. Yuk, kita pulang sekarang?"


Antika mengangguk, lalu melirik pada Devan yang masih tak bergeming dari hadapan Syifa.


"Eh iya, temen Syifa udah datang nih, Kak. Kita pulang duluan ya, Kak. Sampai jumpa!" ujar Syifa lalu melenggang pergi bersama Antika menuju halte bus yang berada di seberang jalan.


Devan menatap lesu pada kepergian Syifa. Dia merasa gagal untuk mendekati Syifa. Rupanya Syifa tidak mudah untuk di dekati. Namun dia tidak akan menyerah.


Syifa dan Antika terkekeh saat mereka sampai di halte bus. Syifa merasa senang karena Antika datang tepat waktu, sehingga dia tidak perlu berlama-lama untuk mengobrol basa-basi dengan kakak kelasnya yang sok kenal sok dekat itu.


......................


Sore harinya Syifa telah usai bersepeda di sekitaran desanya. Baginya sangat menyenangkan bersepeda sembari melihat pemandangan sekitar di bawah langit senja.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," ujar Syifa saat memasuki rumahnya.


"Wa'alaikumussalam," jawab nenek Fatimah yang sedang duduk santai di atas kursi goyangnya.


"Nek, lihat Syifa bawa ikan!" seru Syifa dengan tersenyum lebar sembari menenteng kantong kresek berisi beberapa ekor ikan di tangannya.


"Dari mana?" ujar Rosa yang baru ke luar dari kamarnya ikut nimbrung.


"Dikasih sama abi nih, Ma. Tadi waktu lewat depan rumahnya, Fisa manggil aku, terus ada abi juga di kolam samping lagi panen ikan. Tiba-tiba saat Syifa mau pulang udah dimasukin satu kresek ikan di keranjang sepeda," tutur Syifa bercerita.


Sejak kecil Syifa sudah dekat dengan keluarga Nafisa, Syifa terbiasa memanggil ayah dan ibunya Nafisa dengan sebutan sama dengan Nafisa ketika memanggil orang tuanya.


"Alhamdulillah, sudah berterima kasih 'kan, sama abi?" ujar Fatimah.


"Sudah dong, Nek!" jawab Syifa.


"Ya udah, sini biar Mama goreng ikannya!" ujar Rosa seraya mengambil alih kantong kresek berisi ikan dari tangan Syifa, lalu membawanya ke dapur untuk di masak.


"Yah, Fa. Minyak gorengnya habis. Kamu beli dulu ya di minimarket depan!" seru Rosa dari dapur.


Syifa segera pergi ke dapur untuk menjumpai mamanya. "Mana uangnya, Ma?"


Rosa merogoh lembaran uang dari kantong dasternya. Kemudian menyerahkan uang lima puluh ribuan kepada Syifa. "Nih, hari-hati saat menyeberang!"


"Iya, Ma! Syifa kan sudah SMA, kenapa nasehatnya gak jauh beda dari sejak Syifa SD," protes Syifa dengan memajukan bibirnya ke depan.


"Bagi Mama kamu tetap bayi Mama. Mama tidak ingin kamu kenapa-napa. Sudah sana pergi ... jadi goreng ikan nggak nih!" tutur Rosa serata mendorong bahu Syifa untuk keluar dari dapur.


"Syifa keluar dulu ya, Nek. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, hati-hati, Fa!" ujar Fatimah.


"Iya, Nek!" seru Syifa menyahut dari luar rumah sembari menggiring sepedanya ke halaman.


Syifa kemudian mengayuh sepedanya menuju ke jalan Raya. Tepat saat itu ada bus antar kota yang berhenti di halte. Terlihat Ilham yang baru turun dari bus dengan menenteng tas besar di tangannya.


Melihat hal itu lantas Syifa menghentikan sepedanya tepat di hadapan Ilham.


"Kak Ilham, udah pulang, ya!" sapanya dengan riang.


"Assalamu'alaikum," ujar Ilham mengingatkan.


"Hehe, wa'alaikumussalam. Kelupaan ...," ujar Syifa seraya nyengir saat diingatkan untuk mengucap salam terlebih dahulu saat bertemu. "Tumben bawa tas gede isinya apa, Kak?"


"Baju-baju, kan mulai sekarang udah nggak tinggal di pondok lagi, jadi ya di bawa pulang!" jawab Ilham.


"Oh iya, Kak Ilham kan udah lulus. Mau lanjut kuliah lagi apa kerja, Kak?" tanya Syifa.


"Emm, insyaa Allah lanjut, aku dapat beasiswa untuk melanjutkan studi ke Universitas Al Azhar, Fa," ujar Ilham.


"MasyaaAllah, barakallahu fiik ya Kak! Kak Ilham pasti senang banget deh, itu kan impian Kakak dari dulu," ujar Syifa seraya tersenyum lebar.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Kamu mau ke mana, Fa?" tanya Ilham.


"Oh iya, sampai lupa! Syifa di suruh mama buat beli minyak goreng ke minimarket, Kak. Ya udah Syifa ke minimarket dulu ya, Kak!"


"Kebiasaan. Ya udah gih, hati-hati!"


"Iya, Kak. Assalamu'alaikum!" ujar Syifa seraya mengayuh kembali sepedanya.


Ilham geleng-geleng kepala melihat Syifa yang berlalu pergi. Kemudian dia berjalan pulang menuju ke rumahnya.


Sesampainya di minimarket Syifa kemudian melihat-lihat pada label harga minyaknya. Dia mencari yang harganya sedang promo di hari ini. Setelah menemukan dengan harga termurah Syifa menuju kasa untuk membayarnya.


"Terima kasih, ditunggu kunjungannya kembali ya, Dek," ujar karyawan toko sembari membukakan pintu dengan ramah.


Syifa hanya tersenyum menanggapi tanpa menjawabnya.


"Ishh, lihat yang bening langsung melek aja kamu!" celetuk karyawan perempuan yang berada di depan monitor.


"Habisnya unyu banget sih tuh, cewek!" ujar karyawan laki-laki yang berada di depan pintu seraya memandang ke luar saat Syifa berjalan ke luar minimarket.


Percakapan itu masih dapat terdengar oleh Syifa. Syifa hanya menghembuskan napas beratnya saat mendengar hal itu seraya berjalan menuju ke sepedanya terparkir.


Saat akan menaiki sepeda tanpa sengaja pandangannya menangkap sosok pemuda yang tengah duduk di kursi depan minimarket. Dia nampak kesulitan untuk membuka segel botol minuman yang dipegangnya oleh tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya mengenakan kain penyangga siku, yang biasa digunakan bagi orang yang sedang mengalami patah tulang pada siku tangannya.


Merasa iba, Syifa kembali turun dari sepedanya, lalu beranjak menuju pemuda itu berada. "Mas, boleh saya bantu!" ujarnya lirih.


Pemuda itu seketika mendongak ke arah Syifa sembari tertegun.


"Mau buka tutup botolnya 'kan? biar saya bantu membukanya," ujar Syifa memperjelas maksudnya.


"Oh, iya. Ini!" ujarnya seraya menyodorkan botol air mineralnya ke hadapan Syifa.


Syifa menerimanya kemudian membuka tutup botol itu. Setelah terbuka ia mengembalikan kembali kepada pemuda itu.


"Terima kasih, ya!" ujar pemuda itu.


"Sama-sama. Ada lagi?" tanya Syifa seraya melirik pada roti yang bertengger di atas meja.


"Oh iya, yang ini juga," ujarnya.


Syifa kemudian membuka pembungkus plastik pada roti itu lalu diserahkan kepada pemuda itu lagi.


"Terima kasih lagi, ya? maaf merepotkan!" ujar pemuda itu.


"Ngga repot kok, ini akan mudah ketika tangan itu sudah sembuh. Semoga lekas sembuh, ya! Dahh, Assalamu'alaikum!" ujar Syifa kemudian kembali menuju sepedanya.


"Wa'alaikumsalam."


Pemuda itu menatap kagum pada Asyifa. Jarang ada orang yang peduli dengan keadaan orang lain di sekitarnya, terlebih ketika tidak mengenal orang tersebut.


Gadis yang baik, cantik secantik hatinya! gumamnya di dalam hati seraya tersenyum melihat kepergian Syifa.

__ADS_1


...________Ney-nna________...


__ADS_2