Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Bertemu Nafisa


__ADS_3

Beberapa kali ummi Farida sudah membujuk Hanif untuk meminang Syifa. Dia sendiri kagum dengan segala apa yang gadis itu miliki. Di kampus Syifa sangat terlihat kepintarannya. Nilainya selalu bagus, membuatnya bangga di hadapan teman-temannya sesama dosen.


Terlebih kesabarannya saat menghadapi Alika yang terkadang rewel. Di saat Hanif dan Farida sulit untuk membujuk Alika untuk melakukan sesuatu, Syifa justru memiliki cara tersendiri hingga Alika menurut. Dan, kini mereka semakin dekat hingga membuat Hanif semakin yakin untuk menjadikan ia istri dan ibu pengganti untuk anaknya.


Saat menghadiri grand opening kemarin, Maya juga mengungkapan tidak keberatan jika Hanif ingin berkeluarga kembali. Mertuanya itu bahkan menyarankan Hanif untuk segera menikah. Namun, ia berpesan agar mencari calon istri yang bisa menerima kehadiran Alika. Tentu saja Syifa adalah wanita yang paling cocok dengan kriteria berikut.


"Ummi, sebaiknya bagaimana? aku melamar Syifa langsung, atau menanyakan hal ini terlebih dahulu kepada Alika?" tanya Hanif.


"Ajak bicara saja Alika. Anak itu sudah pasti akan setuju!" tutur Farida.


Hanif menatap ke arah putrinya yang tengah bermain. Bocah itu tidak mendengar apa yang diobrolkan papa dan omanya, karena terlalu asyik dengan mainannya.


Menjelang malam Hanif meminta Alika untuk membereskan mainannya. Ia lalu mengajak Alika ke kamar karena sudah waktunya untuk tidur. Diturunkannya anak itu dari gendongan dan direbahkan di atas tempat tidur.


"Alika, Papa pengen bicara sama Alika!" ucap Hanif pelan.


"Bicara apa, Pa?" Anak itu langsung mendongak melihat ke arah sang papa.


"Alika pengen punya mama baru, nggak?" tanya Hanif.


"Pengen, Pa. Teman Alika juga ada yang punya mama baru. Cita punya dua mama, sekarang kalau ke sekolah diantar sama mama baru. Alika juga pengen punya mama baru!" tutur Alika dengan polosnya.


Hanif cukup mengenal papa Cita yang merupakan rekan bisnisnya. Papa dan mama Cita sudah bercerai. Mamanya pergi ke luar negeri untuk mengejar karir. Sedangkan papa Cita akhirnya sudah menikah lagi belum lama ini. Ia tidak menyangka jika rupanya Alika juga mendambakan memiliki mama pengganti. Namun, selama ini Alika belum pernah mengatakan hal itu padanya.


"Alika setuju tidak kalau mama barunya kak Syifa?" tanya Hanif.


"Mau mau, Pa. Kak Syifa baik dan cantik. Alika mau kakak jadi mama Alika!" Bocah itu langsung antusias dan nampak senang. Bahkan Alika sampai bangkit dari tidurnya dan beranjak duduk.


"Tapi ini masih rahasia ya. Alika jangan bilang dulu sama kak Syifa. Nanti kalau sudah tepat waktunya papa akan tanyakan hal itu dulu sama kak Syifa!" tutur Hanif.


Alika nampak mengangguk-anggukkan kepala serta memberi gerakan tangan seolah tengah mengunci bibirnya.


"Bagus! Sekarang Alika bobo dulu. Mau Papa bacakan dongeng?" tanya Hanif.


"Mau, Pa. Alika yang pilih bukunya ya?" ujar bocah itu, lalu beranjak turun mengambil salah satu buku cerita yang ada di rak penyimpanan buku-buku anak miliknya.


Hanif yang cukup sibuk di pagi hingga sore berusaha menyempatkan waktu untuk membacakan dongeng untuk putrinya di kala menjelang tidur. Dan, setelah putrinya terlelap dia barulah keluar dari kamar putrinya setelah membenarkan selimut pada Alika dan mengecup kening putrinya.


"Amanda, putrimu sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Ijinkan aku untuk memberinya mama pengganti!" gumamnya lirih sembari mengusap lembut pucuk kepala Alika.

__ADS_1


......................


Keesokannya Hanif ijin pulang lebih cepat dari biasanya. Ia berniat untuk membeli cincin untuk melamar Syifa. Kebetulan saat ini adalah jadwal les Alika dengan Syifa. Ia menitipkan Alika pada Syifa, sementara ia dan Farida pergi ke salah satu toko perhiasan untuk membeli cincin. Sebab ia sendiri agak kesulitan untuk memilih cincin yang pas.


Pada saat les membaca iqro' Alika nampak senang dan bersemangat. Bocah itu nampak tidak sabar untuk bertanya.


"Kakak Alika punya rahasia sama papa!" ujar bocah itu.


"Oh ya? kalau rahasia tidak boleh dikasih tahu ke siapa-siapa dong!" ujar Syifa.


"Yah, padahal Alika pengen tanya!" anak itu terlihat sendu.


"Kalau tanya boleh, dong. Tanya apa?" tanya Syifa. Ia menatap serius pada anak perempuan di hadapannya itu.


"Kakak mau jadi mama baru Alika tidak?" tanya Alika yang seketika membuat Syifa terperangah.


Deg.


Entah harus bagaimana ia menjawab pertanyaan bocah itu. Menjadi mama barunya itu artinya ia harus menikah dengan Hanif. Ia sendiri belum terpikirkan untuk menikah. Terlebih ada seseorang yang tengah memintanya untuk menunggu. Syifa jadi teringat sesuatu.


Saat di kampus kemarin, tanpa sengaja Syifa bertemu dengan Nafisa di masjid area kampus. Kala itu Syifa mendekati Nafisa yang tengah memakai sepatu seusai salat. Melihat Nafisa yang nampak lebih berisi membuat Syifa penasaran untuk bertanya. Lalu Nafisa bercerita jika ia tengah hamil muda. Usia kandungannya sudah menginjak empat bulan. Itu artinya dua bulan setelah menikah Nafisa langsung dipercaya untuk hamil. Syukur Alhamdulillah, mendengar hal itu sebagai seorang sahabat ia ikut bahagia.


"Alhamdulillah, Kak Ilham sehat, kan?" tanya Syifa. Ada perasaan senang mendengar hal itu.


"Alhamdulillah kabarnya sehat. Fa, apa kamu menyukai Bang Ilham?"


Hal itu sontak membuat Syifa membulatkan mata. "Hah, kenapa tiba-tiba menanyakan itu?" Syifa balik bertanya.


"Jawab saja, Fa!" Desak Nafisa dengan raut muka yang nampak serius.


"Apa sih, Sa? Aku nggak tahu. Kak Ilham itu baik. Dari kecil dia memperlakukan aku sama seperti denganmu. Kak Ilham itu seorang kakak yang baik bagi aku," jawab Syifa. Jujur ia sendiri tidak tahu seperti apa perasaannya pada Ilham. Namun ia sangat menantikan kepulangan laki-laki itu. Yang sedari kecil sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri.


Nafisa tampak terdiam sesaat. Membuat Syifa mengernyit heran.


Nafisa kenapa terlihat sedih begitu, apa jawabanku kurang tepat ya? batin Syifa.


Drrrtt drrrttt.


Tiba-tiba Nafisa mengeluarkan ponselnya. Rupanya suaminya menelepon dan mengatakan jika sudah menunggu di tempat parkiran dekat masjid. Obrolan pun seketika berhenti di sana dan Nafisa pamit untuk pulang karena sudah dijemput oleh suaminya.

__ADS_1


"Kakak, kok malah bengong! kakak mau tidak?" tanya Alika lagi.


"Alika, Kakak ...." Syifa menggantungkan kalimatnya. Ia bingung harus menjawab apa pada Alika.


"Alika!" seru ummi Farida dari arah pelataran kost. Keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara. Rupanya ummi Farida dan Hanif sudah pulang dari bepergian.


"Oma!" seru anak itu girang.


"Nungguin Oma, ya?" tanya Farida saat sudah berada di depan teras kamar kost Syifa.


"Iya, dong!" jawab Alika.


"Sekarang kita mandi dulu ya, sudah sore, Sayang!" bujuk Farida.


Bocah itu pun menurut, lalu pulang bersama omanya.


......................


Hari ini weekday. Syifa membersihakn lingkungan kostnya sekaligus merapikan tanaman miliknya di teras depan. Tiba-tiba Arjuna datang.


"Assalamualaikum, Syifa!" sapanya.


"Eh, Kak Juna. Waalaikumussalam, Kak!" jawab Syifa ramah.


"Lagi sibuk nggak? aku pengen bicara sesuatu sama kamu?" ujar Arjuna.


"Enggak sih, Kak. Silakan duduk dulu, Kak. Sebentar ya, aku cuci tangan dulu!" Syifa mempersilakan Arjuna untuk duduk di teras depan kostnya. Sementara ia masuk ke dalam kamar untuk mencuci tangan.


Beberapa saat syifa sudah kembali keluar seraya membawa secangkir teh untuk Arjuna.


"Diminum, Kak!" ujarnya seraya menaruh segelas teh di samping tempat Arjuna duduk.


"Terima kasih, Syifa. Kenapa harus repot-repot, sih. Makasih ya!" ujar Arjuna.


"Syifa seharusnya kedatangan aku nggak sendiri. Dan harusnya aku ajak mama dan ada mama kamu juga. Tapi karena ini di tempat kost aku takut mengundang perhatian mereka!" ujar Arjuna yang masih ambigu.


"Maksudnya, Kak?" tanya Syifa yang kurang paham dengan maksud dan tujuan Arjuna mendatangi tempat kostnya.


...______Ney-nna______...

__ADS_1


__ADS_2