Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Tawaran Edward


__ADS_3

"Kau memang ayah biologisnya, tapi kau tidak berhak atas dirinya. Pergilah dari hidup kami! Biarkan Syifa hidup bahagia!" ujar Rosa.


"Rosa, tolong ijinkan aku bertemu dengannya ...! aku tidak akan pernah berniat untuk merebutnya darimu, Ros. Ijinkan aku untuk membantu menjaganya. Setidaknya biarkan aku menunaikan tanggungjawabku sebagai ayah kandungnya yang selama ini belum sempat untuk memberinya kasih sayang seorang ayah," tutur Edward.


"Mama, jadi benar Tuan Edward papaku?" ujar Syifa yang akhirnya mendengar percakapan mereka, setelah nekat berlari keluar dari pengawasan tantenya.


"Syifa, kau ...." Rosa terkejut dan menggantungkan ucapannya.


"Mama, Syifa berhak tahu siapa papa Syifa, Ma. Tolong katakan yang sesungguhnya!" ujar Syifa memohon sembari memegang lengan ibunya.


Sesaat Rosa terdiam dengan pikirannya. Semua sudah terlanjur seperti ini dan ia tidak mungkin bisa mengelak lagi. Syifa cukup pintar untuk memaknai situasi mereka saat ini. Ia sudah tidak dapat menyembunyikan hal itu lagi kepada putrinya.


"Ros, aku mohon!" ujar Edward kembali.


"Ya, dia ayahmu ...," ucap Rosa dengan lirih.


Syifa beralih menatap ke arah Edward dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa terharu sebab akhirnya ia tahu siapa ayah kandungnya.


Edward mengulurkan kedua tangannya kehadapan Syifa. "Kemarilah, Nak!" ujarnya.


Syifa segera beranjak menghambur ke arah Edward berdiri dan memeluknya. Edward membalasnya dan mendekap Syifa dengan erat. Rasa haru menyelimuti keduanya. Syifa menangis tersedu-sedu dalam dekapan Edward. Merasa sangat bahagia karena akhirnya bisa dipertemukan dengan ayah kandungnya.


Mata Edward pun sembab, ia merasa sangat bahagia saat mengetahui jika ia mempunyai seorang putri dari wanita yang menjadi cinta pertamanya itu.


Rosa dan Rosita yang menyaksikan hal itu pun turut merasa haru dan menumpahkan air matanya.


Setelah beberapa saat berlalu Edward kemudian mengecup pucuk kepala putrinya dan mengelus lembut punggung Syifa.


"Kau sangat cantik, putriku. Ijinkan Papa menjagamu!" ujarnya lirih di samping telinga Syifa.


Syifa kemudian berangsur-angsur mengendurkan pelukannya dan menyeka air matanya yang sudah membasahi niqobnya.

__ADS_1


"Papa ...," ucap Syifa untuk yang pertama kalinya.


"Iya, Sayang. Mulai sekarang Papa akan menjagamu. Maafkan Papa yang selama ini kurang berusaha lebih keras untuk menemukan kalian!" ujar Edward.


Syifa mengangguk seraya meneteskan air mata bahagia. Apapun yang dulu terjadi di antara papa dan mamanya, Syifa memang tidak tahu menahu. Namun, sejauh ini ia merasa ayahnya adalah orang yang baik.


"Aku berikan kau kesempatan untuk berbicara dengan Syifa. Setelah dirasa cukup segeralah pulang!" sarkas Rosa seraya memandang kepada Edward sejenak.


Setelah itu Rosa beranjak pergi ke dalam rumah meninggalkan mereka. Ia mengajak Rosita untuk berbicara di dalam rumah. Ia merasa perlu tahu tentang apa yang terjadi hingga membawa Edward ke rumah ini.


Sesampainya di ruang tengah Rosa dan Rosita segera mendudukkan diri di sofa.


"Kak, apa yang membuatnya bisa datang ke rumah ini?" tanya Rosa seraya menyandarkan bahunya pada sandaran sofa.


"Aku pun tak tahu bagaimana mereka bisa bertemu. Namun, Syifa sendirilah yang membawanya pulang ke rumah ini. Mereka belum lama ini datang. Dan tak lama kau pun datang!" ujar Rosita.


Mendengar hal itu, Rosa menghela nafas beratnya. Ia tidak menyangka Allah begitu cepat mempertemukan mereka. Ada kekhawatiran pada diri Rosa setelah Syifa mengetahui jika Edward adalah ayah kandungnya. Ia berharap semoga hal itu tidak menimbulkan hal buruk bagi dirinya dan putrinya.


"Mama sedang istirahat. Tadi terjadi hal buruk di rumah ini." Rosita kemudian menceritakan kekacauan yang terjadi di rumah ini beberapa saat yang lalu.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun!" pekik Rosa seraya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Apa yang Anthony lakukan kepada Syifa. Kak?" tanya Rosita dan seketika menegakkan punggungnya saking terperanjat mendengar kabar yang disampaikan kakaknya saat itu. Ia khawatir jika Syifa mengalami hal buruk lagi.


Masih lekat diingatannya ketika Syifa berulang kali mendapat perlakuan yang tidak pantas hingga yang terakhir kalinya hingga membuat Syifa depresi.


"Entahlah, yang itu aku belum mengkonfirmasi kepada Syifa. Namun, sepertinya Syifa berhasil lari dari Anthony dan Edward lah yang menolongnya," ujar Rosita.


Rosa kembali menghela nafas beratnya. Ia merasa perlu untuk menenangkan diri barang sejenak untuk memikirkan semua hal yang terjadi di hari ini. Apalagi ia cukup lelah setelah seharian berada di tempat pelatihan.


......................

__ADS_1


Sementara di luar Syifa mengobrol banyak hal dengan Edward.


"Syifa, selama ini kalian tinggal di mana?" tanya Edward.


"Kami tinggal di kota XXX, Pa. Sejak Syifa lahir Syifa tinggal di sana. Namun, sekarang dengan terpaksa kami harus pergi dari rumah itu karena ahli warisnya memintanya kembali," ujar Syifa.


"Syifa, Papa tidak akan membiarkan kalian menderita lagi. Mulai sekarang Papa akan selalu menjaga kalian!" ujar Edward.


"Terima kasih, Papa. Syifa merasa sangat senang memiliki Papa!" ujar Syifa.


"Sama-sama, Sayang. Oh ya, apa kegiatanmu saat ini, Syifa?" tanya Edward.


"Syifa hanya di rumah saja menjaga nenek, Pah. Mungkin nanti Syifa akan mencari kerja jika ada kesempatan," ujarnya.


"Kau tidak ingin kuliah?" tanya Edward.


Syifa menggeleng dengan lesu. "Syifa tidak punya biaya, Pa. Syifa harus membantu mama untuk mencari uang demi biaya hidup kami sekarang," tutur Syifa.


"Syifa, kuliah lah! Papa yang akan membiayai biayanya!"


Syifa tertegun mendengarnya. Tidak dipungkiri ia merasa senang jika hal itu akan terwujud. Namun, ia tidak akan dengan mudah menerimanya. Ia harus mendiskusikan hal itu terlebih dahulu dengan mamanya.


"Pah, Syifa harus mendiskusikan hal itu terlebih dahulu dengan mama. Syifa tidak bisa memutuskan hal itu tanpa persetujuan dari mama."


"Tentu, katakan pada mamamu, Sayang. Mulai saat ini jangan sungkan untuk meminta bantuan dari Papa, karena Papa akan dengan senang hati membantu kalian!" ujar Edward.


Setelahnya Syifa bertukar nomor handphone dengan Edward. Karena hari sudah mulai sore, Edward berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Dan berjanji akan sering berkunjung.


Setelah kepergian Edward Syifa menceritakan tawaran Edward pada mamanya.


"Bagaimana, Ma? apa boleh?" tanya Syifa pada mamanya.

__ADS_1


..._____Ney-nna_____...


__ADS_2