Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Pemakaman


__ADS_3

Syifa terbaring di tempat tidur namun netranya menatap kosong pada langit-langit kamar. Air matanya sudah kering karena terlalu banyak menangis. Menangisi dirinya dan menangisi keadaan nenek Fatimah.


Sejak tadi sore belum ada kabar dari mamanya tentang keadaan sang nenek. Hampir setiap Antika mendekatinya ia akan bertanya, "Bagaimana keadaan nenekku, Tik?"


Antika sendiri bingung, sebab ia juga belum mendapatkan kabar apa pun dari mamanya Syifa. Syifa juga belum mau bercerita tentang apa yang terjadi kepadanya. Di saat dia datang Syifa masih menangis di dalam kamar mandi sementara mamanya sudah pergi ke rumah sakit untuk mengantar nenek Fatimah. Sehingga ia sama sekali tidak tahu apa yang tengah terjadi di rumah ini hingga menyebabkan nenek Fatimah mengalami serangan jantung.


Namun, yang membuatnya bingung adalah mengapa Syifa terlihat sangat berbeda dari biasanya. Syifa bahkan tidak mau makan tidak menyisir rambutnya dengan benar, terkadang mencengkeram bajunya sembari meneteskan air mata dan sejak tadi Syifa terus bungkam. Bahkan ketika melaksanakan salat pun air matanya tak putus-putusnya mengalir dari sudut matanya.


"Fa, ini aku buatkan mie instan. Ayo makan dulu, Fa!" bujuk Antika.


Syifa tetap diam saja dan hanya menggeleng kecil tak bertenaga.


"Fa, nenek pasti baik-baik saja. Ayo makanlah dulu barang sesuap dua suap, Fa. Kalau kamu gak mau dua mangkuk ini aku habiskan sendiri lhoh!" ancam Antika bercanda.


Namun, lagi-lagi Syifa tak bergeming. Ia baru pertama kalinya melihat Syifa terlihat sangat terpuruk seperti ini. Sepertinya ada sesuatu yang telah menimpanya, namun Antika tidak tahu itu apa.


Antika menyantap makanannya dengan malas. Ia pun menjadi tidak berselera. Padahal itu adalah makanan kesukaannya yang tidak pernah ia tolak, meskipun tidak baik jika mengkonsumsinya terlalu sering.


Drrrttt drrrtt


Tiba-tiba handphonenya berbunyi tanda ada panggilan masuk dari mama Syifa. Antika pun segera pergi menjauh kemudian baru mengangkatnya.


"Halo, Assalamu'alaikum, Tante!" jawab Antika.


"Wa'alaikumussalam, Antika. Bagaimana keadaan syifa saat ini?" tanya Rossa.


"Syifa dari tadi tidak mau makan Tante, bahkan dia terus menangis. Dia hanya diam saja di tempat tidur sembari melamun. Sebenarnya apa yang terjadi padanya, Tante?"


"Saat ini aku tidak bisa menjelaskannya, Antika. Tante mohon tolong jaga Syifa baik-baik ya? Nanti aku akan segera pulang," ujar Rosa.


"Iya Tante, bagaimana dengan keadaan nenek Fatimah, Tante? sejak tadi Syifa terus menanyakan keadaan nenek Fatimah."


"Hiks ... hiks ....!" Rosa tidak segera menjawabnya, tapi terdengar isakan tangis di seberang. "Ummi telah tiada, Tik ...," ujar Rosa lirih.


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un!" pekik Antika lalu segera menutup mulutnya agar tidak terdengar sampai ke kamar Syifa.

__ADS_1


"Tolong jangan katakan ini dahulu pada Syifa ya, Tik. Tante tidak ingin Syifa semakin terpuruk ketika mendengar jika neneknya sudah tiada!"


"Baik, Tante. Saya tidak akan memberitahukan tentang hal itu kepada Syifa!" ujar Antika patuh.


"Tante tutup dulu ya, Tik. Aku harus mengurus administrasi untuk kepulangan Ummi! Assalamu'alaikum," tutur Rosa.


" Baik, Tante. Wa'alaikumussalam."


Antika semakin bingung harus berbuat apa. Mengingat keadaan Syifa saat ini ditambah ketika ia mengetahui neneknya telah tiada nanti.


Tok tok tok.


"Assalamu'alaikum!"


Terdengar ada yang mengetuk pintu, Antika segera menuju ke depan untuk membukakan pintu.


"Waalaikumussalam, Fisa!" Antika terkejut melihat kedatangan Nafisa. Namun, ia sangat senang Nafisa datang.


"Kamu sejak tadi ada di sini? mana Syifa?" tanya Nafisa.


"Iya, aku sejak sore ada di sini. Siapa yang menjaga Ummimu jika kamu tinggal ke mari?" tanya Antika.


"Ssstttt! Iya, jangan beritahu Syifa dulu. Syifa sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja!" ucap Antika dengan setengah berbisik.


"Apa yang terjadi? Di mana Syifa?" tanya Nafisa dengan lirih.


"Aku tidak tahu, tapi ada sesuatu yang terjadi sebelum aku datang dan menyebabkan nenek Fatimah terkena serangan jantung. Syifa sekarang ada di kamarnya. Coba saja kamu tengok dia!" pinta Antika.


"Baiklah, ayo ke sana!"


Mereka berdua kemudian menuju ke kamar Syifa.


"Assalamu'alaikum, Syifa!" ucap Nafisa seraya mendorong pelan pintu kamar Syifa yang sudah terbuka sedikit.


Syifa hanya melirik sedikit ke arah pintu kemudian kembali melihat ke arah langit-langit kamarnya lagi.

__ADS_1


"Bujuk dia makan dulu!" bisik Antika ditelinga Nafisa.


Nafisa mengangguk pelan. Lalu ia masuk ke dalam kamar Syifa intuk membujuk Syifa makan.


"Syifa, kamu tidak senang aku datang. Aku sedang libur lhoh dari pondok.


Syifa masih tak bergeming.


"Bagaimana keadaan nenekku, Sa!" ujar Syifa kemudian.


Nafisa terperangah mendengar pertanyaan Syifa. Dia tidak tahu harus berkata apa. Seolah-olah Syifa mempunyai firasat buruk tentang neneknya.


"Nenek ...." Nafisa yang tidak pandai berbohong pun tak mampu membohongi Syifa, ia pun akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan perkataannya.


"Kenapa kalian tidak ada yang mau mengatakan tentang kondisi nenekku yang sesungguhnya! katakan apa yang terjadi pada nenekku, Sa, Tik! katakan!" seru Syifa dengan suara meninggi meluapkan kesedihannya.


Nafisa segera merengkuh Syifa ke dalam pelukannya. Tangis mereka pun pecah, begitupun dengan Antika yang menyaksikan hal itu di ambang pintu kamar Syifa.


Hal itu membuat Syifa yakin jika keadaan neneknya memang tidak baik.


"Nenek, jangan tinggalkan Syifa, Nek! Nenek ...!"


Syifa kembali menangis sejadi-jadinya. Dadanya terasa semakin sesak tak sanggup lagi menampung kesedihan yang bertubi-tubi datang kepadanya. Hingga akhirnya Syifa jatuh pingsan di pelukan Nafisa.


Tak berapa lama beberapa tetangga dekat berdatangan. Abi Imron yang turut mengantar nenek Fatimah mengabari perangkat desa setempat untuk menyiapkan acara pemakaman nenek Fatimah yang akan dilaksanakan malam itu juga. Beberapa tetangga terlihat merapikan rumah dan juga untuk mempersiapkan acara pemakaman nenek Fatimah.


Suara sirine mobil jenazah membuat suasana haru semakin kentara. Jenazah nenek Fatimah segera dibaringkan pada tempat yang sudah disiapkan. Syifa yang sudah siuman langsung menghambur memeluk tubuh neneknya yang sudah terbujur kaku itu. Isak tangis pun mulai memenuhi rumah Syifa.


Syifa merasa sangat kehilangan sosok nenek Fatimah yang sudah dianggapnya seperti neneknya sendiri itu. Terlebih nenek Fatimah meninggal karena sangat mengkhawatirkan keadaannya.


Pelayat yang datang menyaksikan itu pun ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Syifa, tak terkecuali Nafisa dan Antika.


"Syifa, kamu harus ikhlas agar nenek kembali dengan tenang. Sekarang biarkan nenek dimandikan terlebih dahulu, ya Sayang!" bujuk Rosa dengan lembut seraya menepuk pelan bahu putrinya.


Meski ia pun tidak kuasa menahan tangis namun ia harus kuat demi menguatkan Syifa yang pastinya sangat terpuruk dengan serentetan kejadian di hari ini.

__ADS_1


Jenazah nenek Fatimah segera dimandikan dan dikafani. Tak lama para pelayat mulai berdatangan. Acara takziah pun disegerakan mengingat waktu yang sudah mulai larut. Nenek Fatimah kemudian dikebumikan ditempat pemakaman umum yang tak jauh dari tempat tinggalnya.


...________Ney-nna________...


__ADS_2