
Dua setengah tahun berlalu, Syifa telah lulus dari pondok pesantren. Syifa pun mengemasi barang-barangnya dan pulang ke rumahnya. Ada yang berbeda kali ini, sebab Syifa mengenakan penutup di wajahnya. Ya ia mulai mengenakan niqob.
"Assalamu'alaikum," serunya saat sampai di depan pintu rumahnya
"Wa'alaikumussalam!" terdengar sahutan dari dalam. Rosa segera meninggalkan dapur dan berjalan ke depan.
"MasyaAllah, ini Syifa? benarkah ini anak Mama?" tanya Rosa dengan mata berkaca-kaca mendatangi putrinya yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Iya, Ma. Ini Syifa," ucapnya sambil tersenyum.
Rosa merengkuh Syifa kedalam pelukannya dengan sangat erat meluapkan rasa rindunya pada putri semata wayangnya itu.
"Ayo masuk, kenapa harus menunggu dulu tidak langsung masuk?" tanya Rosa sembari melerai pelukannya.
"Aku pikir Mama nggak akan ngenalin aku saat aku memakai niqob," jawabnya.
"Mana mungkin Mama tidak mengenalimu, dari perawakan dan warna kornea matamu saja Mama sudah yakin itu kau!" tutur Rosa.
Saat di ponpes Syifa belajar banyak dari seorang ustadzah yang juga mengenakan niqob. Melihat wanita dengan niqobnya membuat mata dan hati Syifa merasa sejuk dan tenang. Hingga akhirnya kini tekadnya semakin bulat dan ia memutuskan untuk mengenakan niqab di wajahnya.
Semua itu bertujuan untuk menjaga dirinya dari fitnah laki-laki yang bukan mahramnya ataupun pandangan buruk dari orang lain yang iri dan dengki akan paras wajahnya.
Begitupun di pesantren. Meskipun di sana dibina dengan banyak ilmu agama yang cukup, namun tak dipungkiri ada beberapa santri yang masih saja berperilaku tidak baik dan menyalahi aturan.
Beberapa kali Syifa diperlakukan buruk oleh seniornya. Hanya karena merasa iri dan tidak suka saat Syifa lebih dekat dengan salah seorang pembina mereka. Syifa dianggap sok cantik, sok pintar dan suka caper. Syifa yang notabene memiliki paras cantik seringkali mendapat tatapan yang tidak baik dari santri yang lain maupun seniornya.
Padahal Syifa selalu bersikap rendah hati dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan teman dan berusaha menghormati seniornya. Namun ada saja sebagian dari mereka yang merasa tersaingi.
Syifa mencoba bersabar dan menguatkan diri. Dia bukanlah wanita lemah yang harus diam saja saat diperlakukan tidak baik. Beruntunglah Syifa memiliki Nafisa dan teman lain yang selalu menguatkannya.
Hanya satu yang masih membuatnya tidak nyaman yaitu laki-laki. Pengalaman buruk yang pernah ia alami membuatnya tidak mudah untuk percaya dengan yang namanya laki-laki.
"Syifa, kamu sudah membawa semua baju-bajumu?" tanya Rosa.
"Iya, Ma. Mulai sekarang Syifa akan tinggal bersama Mama," tutur Syifa.
"Kamu yakin tidak akan mengambil beasiswa untuk lanjut kuliah di mesir?" tanya Rosa.
"Enggak, Ma. Syifa nggak akan tega meninggalkan Mama sendirian. Syifa hanya punya Mama, Syifa nggak mau jauh dari Mama!" tutur Syifa.
"Syifa, maafkan Mama karena membebanimu!" ucap Rosa dengan sedih.
__ADS_1
"Enggak, Ma. Syifa ingin mengabdi saja sembari menjaga Mama," tuturnya.
Karena tidak memiliki uang untuk kuliah Syifa memilih untuk mengabdi di Raudhatul Athfal atau taman kanak-kanak.
"Baiklah, sekarang istirahatlah Mama akan memasak yang enak untuk menyambut kepulangan mu!"
"Ma, Syifa undang Antika ya? aku sudah Rindu dengannya."
"Tentu saja. Mama ke dapur dulu ya!"
"Iya, Ma. Nanti Syifa bantuin setelah mengirim pesan pada Antika."
Rosa kemudian kembali ke dapur untuk melanjutkan kegiatan memasaknya.
Sejak nenek meninggal dan ia mengalami depresi Syifa belum pernah bercerita pada Antika dengan apa yang terjadi saat itu. Ada yang mengganjal di hatinya yang membuat ingin menanyakan hal itu pada Antika.
[ Syifa : Assalamu'alaikum, Tik. Aku di rumah, Nih. Kamu ke rumah aku ya! ]
Chat sudah terkirim ke nomor Antika. Tak berapa lama ada balasan yang masuk dari Antika.
[ Antika : Wa'alaikumsalam. Aaaa kangen banget sama lo 🤗, oke bentar lagi gue ke sana. Ini lagi nanggung goreng ikan buat lauk makan malam Ayah. ]
Usai berkirim pesan dengan Antika, Syifa membantu mamanya memasak.
......................
Tok tok tok.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam!" sahut Syifa dari dalam rumah.
Ia merapikan niqabnya dan berjalan keluar membuka pintu.
Antika terkesiap saat melihat penampilan baru Syifa. "Syifa, 'kan?"
"Tentu saja, Tik!"
"MasyaAllah, lo anggun banget lhoh pakai baju syar'i begini, pakai cadar pula. Aku pikir bidadari syurga yang turun ke bumi!" ujar Antika dengan hebohnya.
"Jazakillah atas pujiannya. Tapi itu berlebihan!"
__ADS_1
Antika kemudian memeluk Syifa. Merasa rindu dengan sahabatnya itu. Karena seringkali ketika Syifa libur mereka tetap tidak bisa bertemu karena kesibukan masing-masing.
"Keadaan lo baik-baik aja 'kan, Fa?" tanya Antika. Ia masing ingat betul keadaan Syifa terakhir sebelum masuk ke pondok. Syifa masih insecure pada orang yang dijumpainya.
"Alhamdulillah, aku baik kok, Tik. Kamu lulus, 'kan?" tanya Syifa.
"Aduh ... masa Antika nggak lulus, bisa ditempeleng bokap gue!" ujar Antika yang membuat Syifa terkekeh dengan sahabatnya yang satu ini.
"Alhamdulillah, kita duduk di teras ya, Tik. Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu. Tapi, ada sesutu yang ingin aku perlihatkan sama kamu, tunggu ya!" ujar Syifa kemudian berjalan masuk ke kamarnya.
"Apa sih lo, kayak yang penting banget aja!" timpal Antika lalu berjalan menuju teras.
Tak lama Syifa keluar sembari membawa sebuah kain yang terlipat. Namun Antika tidak ading dengan benda yang dibawa oleh Syifa.
"Itu jaket almamater sekolah kita 'kan?" tebak Antika.
"Iya," ujar Syifa seraya mengulurkannya pada Antika.
Antika menerimanya dengan sedikit ragu. Ia kemudian membuka lipatan jaket itu.
"Igbal!" pekik Antika terkejut. "Kok punya Iqbal ada di elo, Fa?"
"Itu yang aku temukan saat aku siuman sore itu, Tik. Siapa Iqbal, Tik?" tanya Syifa.
"Iqbal itu temen sekelas gue waktu kelas X. Dia juga yang dulu kasih bukti video waktu lo dicium sama kak Devan!" ujar Antika dengan antusias.
"Yang mana orangnya, Tik? kamu ada fotonya nggak?" tanya Syifa.
"Aduh! sayangnya gue nggak ada fotonya, Fa!"
"Di album kenangan nggak ada?" tanya Syifa lagi.
"Nggak ada, Fa. Dia udah pindah sejak kelas X. Seinget gue dia pindah sekolah berbarengan dengan kak Devan waktu itu. Mereka tiba-tiba pindah tanpa pamit dan hanya pihak sekolah yang tahu. Lo yakin Iqbal yang mencoba melecehkan lo?" tanya Antika menyelidik.
"Aku nggak tahu, Tik. Setahu aku kak Devan yang saat itu tiba-tiba datang saat aku lagi tiduran di ruang tamu. Aku berusaha lepas dari dia tapi kepalaku terbentur oleh meja hingga aku pingsan. Setelah itu aku nggak tau apa yang terjadi pada diriku, Tik. Ketika aku siuman jaket itu yang menutupi tubuhku!" tutur Syifa sembari terisak mengingat kejadian itu.
"Aku sebenarnya juga curiga dengan Iqbal. Tapi aku tidak pernah menyangka jika ia dan kak Devan bersekongkol!"
Tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berhenti di halaman rumah Syifa. Antika dan Syifa seketika berpaling ke arah mobil yang datang.
...________Ney-nna________...
__ADS_1