
Syifa memeluk erat sang papa. Yah papanya lah yang telah menyelamatkannya dari anak buah Devan. Anak buah Devan babak belur dihajar oleh Edward. Kemudian bergegas kabur kembali ke tempat semula di rumah mewah yang Syifa datangi tadi.
"Papa, sudah biarkan saja. Ayo sekarang kita pulang, Pah. Syifa ingin pulang, Pa!" tutur Syifa dengan suara bergetar penuh kegelisahan.
Pertemuannya dengan Devan membuatnya kembali mengingat peristiwa yang pernah ia alami dulu. Syifa benar-benar takut saat melihat Devan ada di hadapannya.
"Baiklah ayo papa antar pulang!" ujar Edward.
Melihat raut wajah Sifa yang sudah pucat, Edward segera merangkul tubuh Syifa dan membawanya masuk ke dalam mobil. iya lalu segera menyalakan mesin mobilnya dan mulai melaju ke rumah Syifa.
Selama di perjalanan Syifa terus saja diam sembari menangis tanpa mengeluarkan suara. Syifa memejamkan mata dan tangannya gemetar. Melihat hal itu Edward menjadi khawatir dengan putrinya. Sesekali ia mengusap pucuk kepala putrinya yang tertutup hijab untuk menenangkan. lalu ya usap dengan lembut punggung tangan putrinya.
"Syifa, apa kamu baik-baik saja? sebenarnya ada apa? apa yang terjadi sebelum papa datang?" tanya Edward.
Syifa hanya menggeleng tanpa menjawabnya.
Edward pun tak bisa memaksa. Ia tak ingin Syifa lebih tertekan lagi dengan keadaannya saat ini.
__ADS_1
Setelah sampai, Edward bergegas turun memutari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Syifa. Ia merangkul pundak putrinya dan menentunya menuju ke teras rumah.
Edward pendudukan Syifa di kursi teras, lalu berteriak memanggil Rosita.
Tak berapa lama Rosita muncul dari dalam rumah. Melihat Syifa sesenggukan ia pun terkejut.
"Ada apa Edward apa yang terjadi pada Syifa?"ujarnya sembari melangkah cepat menuju ke arah Syifa. Seketika Syifa memeluknya dengan erat sambil sesenggukan.
"Aku juga tidak tahu aku sedikit terlambat," ujar Edward.
Rosita mengelus dengan lembut pundak Syifa untuk menenangkan.
"Syifa mendatangi rumah anak laki-laki yang kemarin jatuh dari motor. Dia kabur dari rumah sakit. Syifa berniat mengunjungi alamat tempat tinggalnya karena anak itu bilang kalau dia itu yatim piatu dan hanya seorang diri di tempat kost. Dan Syifa minta aku untuk menyusulnya. Namun, belum sempat aku sampai di tempat tujuan, aku melihat Syifa berlarian di jalanan dan ada seorang laki-laki yang mengejar di belakangnya. Keadaannya sudah seperti ini dan aku tidak tahu apa yang membuat Syifa begitu saat ketakutan," ujar Edward menjelaskan.
"Apa terjadi sesuatu padamu, Fa? apa mereka melakukan sesuatu padamu?" tanya Rosita dengan cemas.
Syifa mengendurkan pelukannya dari tantenya lalu menggeleng sebagai jawaban.
__ADS_1
"Tante, aku ingin istirahat. Dan, sebaiknya Papa kerja saja. Aku butuh waktu untuk sendiri!" ujar Syifa sembari mengusap air matanya. Ia sudah mulai tenang dan tidak menangis lagi.
"Baiklah, Papa akan ke kantor dulu. Jika ada sesuatu kamu kabari Papa ya?" ujar Edward.
Syifa mengangguk pelan.
Edward lalu beranjak berdiri dan melangkah menuju mobilnya berada. Setelah berbalik ke arah putrinya, ia lalu masuk ke dalam mobil. Dan perlahan mobil Edward pun melaju meninggalkan rumah itu.
Rosita lalu menuntun Syifa masuk ke dalam rumah. namun belum sempat mereka benar-benar masuk ke dalam rumah, ada seseorang yang datang bertamu.
"Permisi!" Terdengar suara seorang wanita dari arah teras rumah.
Syifa dan tantenya mengurungkan langkahnya dan berbalik melihat ke arah sumber suara. Dilihatnya seorang wanita paruh baya yang nampak cantik dan terlihat berasal dari kalangan orang berada.
"Cari siapa ya?" tanya Rosita.
Wanita itu tidak menyahut namun terlihat sangat jelas wajahnya nampak memperlihatkan keterkejutannya.
__ADS_1
...______Ney-nna______...