
Syifa berulang kali membuka tutup sebuah box yang terdapat cincin emas pemberian seseorang. Selama bertahun-tahun ia masih menyimpannya. Tidak mungkin ia kenakan, tapi juga tidak bisa ia kembalikan. Sementara di atas meja sebuah cincin berlian tengah menunggu untuk dipakai olehnya. Keduanya sama bagus dan bernilai jual tinggi. Namun, ia merasa terbebani dengan adanya kedua benda itu.
Syifa mengambil handphone dan mencoba menghubungi seseorang. Namun tidak diangkat. Dilihatnya jam di dinding ternyata sudah larut malam. Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB. Antika pasti sudah tidur. Ia tidak mungkin mengganggunya selarut ini hanya untuk sekedar curhat.
"Mendingan besok langsung ke rumah Antika aja deh!" gumamnya.
Syifa kembali menyimpan dua cincin itu ke dalam nakas dan bergegas tidur.
......................
Keesokan paginya usai membantu mamanya memasak Syifa segera mandi dan bersiap. Bukan untuk ke kantor melainkan berkunjung ke rumah Antika. Kesibukan masing-masing membuat ia dan Antika jarang bertemu. Terlebih Antika yang sudah berkeluarga dan memiliki anak.
__ADS_1
"Mau pergi, Fa?" tanya mama Rosa ketika Syifa mulai bergabung di meja makan.
"Iya, Ma. Mau ke rumah Antika sebentar," jawab Syifa sembari menuang nasi ke atas piring.
Rosa seketika menghentikan aktivitas makannya. Diletakkannya kembali sendok berisi sesuap nasi yang hendak ia makan ke atas piring.
"Kamu masih ingin mencari tahu kabarnya? hentikan memikirkan keadaannya, Syifa! kalau dia masih mengharapkanmu menikah dengannya, dia tidak akan meninggalkanmu tanpa kabar hingga bertahun-tahun lamanya!"
"Bagaimana jika selama ini dia hidup menderita, Ma?" tukas Syifa.
"Istighfar, Ma. Istighfar ...!" ucap Imron sembari mengusap lembut bahu istrinya.
__ADS_1
Derai air mata pun tak terbendung lagi diantara mereka. Suasana pagi itu seketika berubah memanas. Rosa tidak melanjutkan makannya. Ia meninggalkan meja makan dan memilih masuk ke dalam kamarnya.
Melihat hal itu Syifa merasa bersalah. Sarapan pagi yang biasanya terasa hangat dengan canda tawa, kini berubah sendu. Ia menyesal telah membuat suasana hati mamanya seketika memburuk karenanya.
"Syifa, jangan berlarut-larut menyalahkan dirimu akan hal yang sudah terjadi. Itu adalah takdir yang sudah Allah tentukan. Perkataan mama mu ada benarnya. Mama mu begitu karena dia sangat menyayangimu," ucap abi menasehati.
Syifa mengangguk dengan penuh penyesalan. Selama ini ia kurang memahami jika bukan hanya ia yang menderita. Orang-orang terdekatnya pun turut merasakan apa yang ia rasakan. Terutama mamanya yang selama ini berusaha menguatkannya, padahal beliau juga terluka melihat anaknya menderita.
"Maafkan Syifa, Abi. Maaf sudah melukai hati mama. Tolong sampaikan pada mama Syifa minta maaf. Syifa janji nggak akan mencari tahu tentang keberadaan kak Juna lagi. Syifa akan mempertimbangkan khitbah dari Iqbal," ujar Syifa sembari terisak.
Imron mengangguk seraya menepuk pelan bahu Syifa. Beliau kemudian masuk ke dalam kamar untuk menyusul istrinya.
__ADS_1
Syifa akhirnya memutuskan untuk mengurungkan niatnya berkunjung ke rumah Antika. Ia berjanji untuk bangkit demi masa depannya. Ia segera membereskan meja makan dan tidak jadi sarapan. Ia kembali masuk ke dalam kamarnya untuk merenungkan kesalahannya.
...______Ney-nna______...