
Sepulang sekolah Syifa kemudian pulang bersama Antika dengan menaiki bus seperti biasanya. Meskipun Devan terus menawarinya untuk mengantar namun sifat tetap tidak mau.
"Fa, apa kak Devan melakukan hal-hal yang tidak baik selama kamu berpura-pura jadi pacarnya?" tanya Antika setelah mereka sudah menaiki bus.
"Nggak sih sampai sejauh ini kak Devan paling cuma ngeliatin aku atau manggil-manggil sayang, tapi kalau nyentuh-nyentuh sih nggak pernah. Dia menepati janjinya untuk tidak menyentuhku!" ujar Syifa.
"Syukur deh kalau gitu, pokoknya lo hati-hati ya? Kalau dia ngajak pergi-pergi sepulang sekolah lo jangan pernah mau! Pokoknya kalau ada sesuatu lo harus cerita ke gue, biar gue bisa ngawal lo!" tutur Antika yang merasa khawatir akan sahabatnya itu.
"Iya-iya, kayak putri aja aku pakai dikawal segala!" canda Syifa.
"Kita harus tetap waspada. Aku takut kalau Kak Devan merencanakan sesuatu yang tidak baik sama kamu, Fa!"
"Iya sih bener, aku juga sebenarnya takut kalau dia melakukan segala cara biar aku tunduk sama dia tapi untungnya sampai sekarang dia masih menepati janjinya. Yang aku tahu motif dia kayak gini itu hanya ingin membuat kak Juna merasa kalah karena dia bisa menjadi pacar aku. Dia tidak ingin dikalahkan dan selalu ingin menjadi pemenang. Aku jadi kasihan sama kak Juna. Beberapa kali dia pengen ngomong sama aku. Aku tahu dia pasti pengen kasih tahu ke aku jika kak Devan itu nggak baik buat aku. Tapi, kak Devan itu terus saja mengawasiku dari jauh. Jadi aku nggak bisa berbuat apa-apa!" tutur Syifa panjang lebar.
"Sebenarnya lo suka nggak sama kak Juna?" tanya Antika.
"Sejauh ini aku nggak suka sama siapa pun. Dan aku nggak mau Tik mikirin cowok. Aku cuma pengen fokus untuk menuntut ilmu di sekolah, aku pengen sukses dan bikin mama bangga. Tapi, aku malah terseret ke pergaulan yang nggak sehat. Jika mama tahu pasti mama akan panik!"
"Oh ya, katanya mau jenguk Umminya Nafisa. Gimana kalau nanti sore kita ke sana?" tanya Antika.
"Iya Fa, habis ini aku mau bantuin mama dulu di tokonya Abi Imron. Nanti jam empat sore aku tunggu di dekat gang ya?"
"Oke, dah sana masuk! Tuh kayaknya ada tamu di rumah lo!" Antika mengintip sedikit ke pekarangan rumah Syifa lalu ia beranjak pulang ke rumahnya.
Benar saja yang dikatakan Antika ada seorang tamu yang datang.
"Baik Tante saya pamit dulu!" ujar seorang laki-laki keturunan arab yang belum pernah Syifa ketahui sebelumnya.
"Assalamu'alaikum," ujar Syifa kemudian mencium punggung tangan nenek Fatimah.
"Wa'alaikumussalam. Sudah pulang, Fa," tutur nenek Fatimah.
"Siapa dia, Tante?" tanya laki-laki itu.
"Dia cucuku, putri dari anak angkatku!" jawab nenek Fatimah.
Laki-laki itu memilin jenggotnya yang panjang seraya bersedekap melihat ke arah Syifa.
"Dia keponakanku yang baru datang dari mesir. Cepat masuk dan ganti bajumu. Mamamu pasti sudah menunggumu!" ujar nenek Fatimah.
Syifa mengangguk patuh kemudian masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Aku pikir anak angkat Tante keturunan Arab atau jawa. Tapi kelihatannya dia berbeda. Sungguh menarik!" ujar laki-laki itu.
"Jangan macam-macam, dia masih kecil!" ujar nenek Fatimah.
"Baiklah saya pamit. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam!"
Setelah kepergian laki-laki itu nenek Fatimah masuk ke dalam rumah di saat itu Syifa sudah selesai mengganti bajunya.
"Makan siang dulu, Fa. Baru menyusul mamamu!" ujar nenek Fatimah.
"Makanannya Syifa bekal aja ya, Nek. Syifa mau langsung ke toko buat nemenin mama jualan," ujar Syifa.
"Oh, ya sudah kalau begitu hati-hati, ya!" ujar nenek.
"Iya, Nek. Syifa pergi dulu. Nenek istirahat saja. Assalamu'alaikum!"
Sudah dua hari nenek Fatimah tidak enak badan sehingga nenek Fatimah tidak berangkat ke rukonya.
"Iya, Fa. Wa'alaikumussalam!"
Setelah berpamitan Syifa segera pergi menuju ke ruko abi Imron untuk membantu mamanya berjualan di sana. Syifa mengayuh sepedanya menuju ke jalan raya hingga sampai di rukonya Abi Imron. Terlihat mamanya sedang sibuk melayani pembeli. Syifa pun segera membantunya.
"Oke siap, Ma. Tapi, Syifa boleh makan dulu ya? Syifa baru pulang sekolah, tadi belum sempat makan. Nih, makanannya Syifa bekal biar bisa dimakan di sini!" ujarnya seraya menunjukkan kotak nasi bekalnya miliknya.
"Iya, tadi yang pesan minta diantar sebelum jam empat sore kok, jadi masih keburu," tutur Rosa.
"Ya udah Syifa makan dulu, ya, Ma!" ujar Syifa kemudian segera menyantap makanannya dengan lahap.
Setelah makan Syifa membantu mamanya untuk mengemasi kue Ontbijtkoek yang nantinya harus diantarkannya ke pelanggan. Setelah semua siap Syifa meminta alamatnya kepada sang mama. Ternyata rumahnya tidak jauh dari rumah Antika.
"Mah, nanti habis nganter pesanan kuenya, Syifa langsung ke rumah ummi Syarifah, ya? tadi sudah janjian sama Antika mau jenguk ummi," tutur Syifa.
"Baiklah hati-hati di jalan!" ujar Rossa.
Syifa kemudian mengayuh sepedanya menuju ke kampung sebelah yang merupakan rumah keturunan abdi dalam Keraton. Syifa kemudian mencocokkan nomornya dengan alamat yang diberikan oleh mamanya. Ternyata rumahnya hanya berjarak dua rumah di samping rumah Antika.
Syifa memarkirkan sepedanya di samping pagar rumah itu. Ia lalu mengetuk dengan ring besar yang menempel pada pintu pagar yang menjulang tinggi itu. Kemudian tak berapa lama keluarlah seorang pemuda membukakan pintu.
"Ada apa? tanya laki-laki itu.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Saya mau mengantar pesanan kue yang dipesan oleh ibu
Miranti. Betul ini rumahnya?" tanya Syifa.
"Oh, masuk saja, ibu ada di belakang!" ujarnya seraya memandangi Syifa dari atas sampai bawah.
"Em, bagaimana kalau saya titipkan kepada anda saja," tutur Syifa.
"Belum dibayar 'kan? Aku buru-buru mau keluar!" ujarnya.
"Tapi, Mas-." Ucapan Syifa terpotong oleh pemuda itu.
"Sudah masuk saja! Dari sini lurus aja ke belakang, ibu ada di dapur!" ujar laki-laki itu lagi.
Setelahnya dia berjalan keluar melewati gerbang rumahnya yang terbuka lebar.
"Assalamual'aikum, Bu Miranti! Permisi Bu, saya mau mengantar kuenya!" seru Syifa di ambang pintu. Namun, tidak ada jawaban dari dalam.
Syifa sejenak ragu untuk masuk ke dalam rumah yang asing baginya. Namun, karena laki-laki tadi memintanya untuk menemui ibunya di dalam rumah, akhirnya Syifa memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu.
"Permisi, Bu. Bu Miranti ...!" seru Syifa seraya melangkahkan kaki masuk ke dalam. Lagi-lagi tidak ada sahutan dari dalam.
Nggiiik ..., glekk!
Tiba-tiba terdengar seperti suara pintu kayu yang sedang ditutup. Syifa kaget seketika ia berbalik melihat ke arah belakangnya. Terlihat laki-laki itu berdiri menyeringai seraya memunggungi pintu utama yang ia tutup barusan.
"Mas, sebenarnya di mana ibu Miranti?" tanya Syifa dengan netra mendelik. Ada perasaan takut yang seketika muncul saat melihat laki-laki itu berjalan mendekat ke arahnya.
"Kan sudah aku bilang, ibu ada di belakang ...," jawabnya.
"Tapi sudah aku panggil beberapa kali tidak ada sahutan. Mas bohongin aku, ya? dan, mengapa pintunya ditutup?" Syifa memberondongnya dengan banyak pertanyaan dengan gelisah.
Kekhawatiran dan rasa gugup mulai menggelayutinya. Tangannya sudah mulai gemetaran. Dia mempunyai firasat jika pemuda itu hendak berniat jahat kepadanya.
Benar saja, laki-laki itu semakin memutus jarak di antara mereka. Ia menyergap tubuh Syifa dan memaksa untuk menciumnya.
Tidak hanya itu bahkan dia melepaskan paksa kerudung yang dipakai oleh Syifa dan melemparkannya ke lantai.
"Tolong ...! Tolong ...! Jangan ! Lepaskan aku!" Syifa terus saja berteriak sembari meronta.
Hingga sebuah suara mengagetkan mereka.
__ADS_1
Brakk!
..._______Ney-nna______...