
Mia benar-benar terkejut saat melihat sosok wanita yang berada tak jauh dari hadapannya itu. Wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Rossa. Namun, ia yakin bahwa itu bukan Rossa sebab Rosa memakai hijab.
Mia seketika ingat kejadian tadi pagi saat ia baru sampai di rumah usai mengantar anaknya ke sekolah. Ia yakin keributan yang ia dengar antara Rossa dan Edward pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya. Sebab, baru saja Edward nampak biasa saja berbincang dengan wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Rossa ini.
Kini perasaan Mia semakin tak menentu. Merasa telah dibohongi oleh suaminya dan juga Rossa yang sudah ia percayai. Ia semakin penasaran apa hubungan Edward dengan wanita-wanita ini.
"Bisa bicara sebentar?" ujar Mia kepada Rosita. Ia menatap tajam pada Syifa dan Rosita secara bergantian. Gadis yang tadi sempat dipeluk oleh suaminya.
Dia memang membayar orang untuk mengikuti suaminya, lalu ia menyusulnya karena sangat penasaran dengan kemana suaminya itu pergi. Sebab orang suruhannya mengatakan jika Edward tidak mengarah ke kantor melainkan ke tempat lain. Hingga akhirnya Mia melihat segalanya. Ia melihat saat Syifa dipeluk oleh Edward lalu digiring masuk ke dalam mobil.
"Silakan duduk!" ujar Rosita mempersilakan tamunya untuk duduk di kursi teras rumahnya.
Mia beranjak maju dan tiba-tiba ia mencekal lengan Syifa lalu mengguncangnya dengan sekuat tenaga. "Katakan! katakan ada hubungan apa kamu dengan suamiku?!" serunya lantang seraya diiringi dengan isak tangis.
Syifa yang tiba-tiba mendapat perlakuan tersebut pun terkejut dengan mata membola menatap ke arah tamu dadakannya itu penuh dengan tanya. Namun, saat mencerna perkataan wanita itu, Syifa dapat menduga jika wanita ini pasti istri dari papanya.
"Hei, hentikan! siapa kamu tiba-tiba datang langsung mengamuk? dasar gila!" umpat Rosita dan dengan sigap melerai cekalan tangan Mia di lengan Syifa. Ia lalu memasang badan di depan Syifa saat cekalan tangan Mia terlepas.
"Aku istri dari Mas Edward. Ada hubungan apa kalian dengan Mas Edward?" selorohnya.
Ternyata benar dugaan Syifa, wanita itu memang benar istri dari papanya. dan itu artinya selama ini papanya telah menyembunyikan tentang keberadaan ia dan mamanya dari keluarganya. Syifa mengerti dengan keadaan wanita itu yang tiba-tiba menyerangnya. Ia yakin saat ini istri papanya itu benar-benar terluka setelah mengetahui hal ini.
"Tenangkan diri Anda, Nyonya. Kita bisa bicara baik-baik tentang hal ini. Jangan marah-marah seperti ini! kita bisa menjelaskannya!" tukas Rosita.
Sementara Syifa hanya diam saja dengan sedikit ketakutan di balik tubuh tantenya.
"Baiklah, cepat katakan apa yang sesungguhnya terjadi di antara kalian dan suamiku!" ujar Mia.
"Duduklah dulu, Nyonya!" ujar Rosita memintanya untuk duduk agar mereka bisa berbicara dengan baik.
Mia menyetujuinya, lalu ia duduk di salah satu kursi teras rumah itu.
__ADS_1
"Jadi Anda adalah istrinya Edward, dan Edward tidak mengatakan apapun kepadamu tentang anak ini?" ujar Rosita seraya menepuk punggung tangan Syifa memulai percakapan setelah mereka semua duduk.
Mia mengangguk. "Ya, selama ini aku bisa merasakan kalau ada sesuatu yang ditutupi oleh suamiku, karena itulah aku mengikutinya hari ini dan melihat apa yang sejak tadi dia lakukan dengan suamiku!" ujarnya sambil menatap tajam pada Syifa.
"Gadis ini adalah anak kandung Edward, Nyonya!" ungkap Rosita.
"Anak!" Mia seketika terperangah dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Ya. Seharusnya Edward lah yang harus menjelaskannya bukan kami. Untuk lebih detailnya sebaiknya kamu bertanya sendiri kepada suamimu. Namun, perlu Anda ingat ... anak ini tidak bersalah. Edward lah yang bersalah. Dan, kenyataannya anak ini adalah darah daging suamimu. Dia layak untuk mendapatkan pertanggungjawaban dari papanya. Dia hadir di dunia ini atas kesalahan suamimu. Dan, sudah sepantasnya Edward bertanggung jawab kepada anak ini!" tutur Rosita panjang lebar.
"Lantas Anda ibunya?" tanya Mia.
"Bukan! saya tantenya. Ibunya adalah saudara kembar saya. Dia sedang tidak ada di rumah, dia sedang bekerja."
Deg!
Pikiran Mia seketika tertuju pada Rosa. Ia teringat kembali tentang percakapannya dengan Rosa beberapa hari yang lalu. Rosa memiliki seorang anak namun ia tidak menjawab saat ditanya tentang suaminya.
"Aku paham kamu pasti shock setelah mengetahuinya, dan pasti perasaanmu sangat hancur saat ini tapi tidak seharusnya kamu menyalahkan kami. Karena kami juga tidak tahu jika suamimu telah menyembunyikan hal ini darimu. Hanya ini yang bisa aku katakan padamu selebihnya tanyakan sendiri kepada suamimu, dia yang berhak untuk menjelaskan semua ini padamu!" ujar Rosita panjang lebar.
Mia mulai paham atas semua ini, tapi ia tidak habis pikir mengapa Edward selama ini tidak pernah jujur padanya tentang masa lalunya itu. Ia semakin penasaran apa yang terjadi di masa lalu suaminya itu. Begitupun dengan Rosa, apa tujuannya bekerja di rumahnya, jika ia tahu itu adalah rumah Edward.
Aku tidak akan membiarkanmu merebut suamiku, Rosa! gumam Mia di dalam hati.
"Baiklah! Aku permisi!" ujar Mia lalu bangkit berdiri.
Mia segera meninggalkan tempat itu dan memilih untuk pulang ke rumahnya. Ia meminta saudaranya untuk menjemput anaknya di sekolah, lalu membawa mereka ke rumah orang tuanya. Hari ini ia ingin menuntaskan masalahnya dengan suaminya. Ia tidak ingin anaknya melihat pertengkaran diantara kedua orang tuanya. Barulah setelahnya ia akan menyusul anak-anaknya di rumah orang tuanya.
Mia beberapa kali menghubungi Edward untuk mengajaknya berbicara namun Edward tidak mengangkat teleponnya. Ia kemudian menelepon ke kantor suaminya. Sekretarisnya mengatakan jika Edward tengah melakukan rapat dengan rekan kerjanya. Ia pun kemudian berpesan kepada sekretaris Edward agar suaminya itu segera pulang ke rumah setelah rapatnya usai.
Sesampainya di rumah, ia bergegas mencari keberadaan Rossa. Begitu ia menemukannya Mia langsung berjalan mendekat ke arah Rossa lalu menamparnya.
__ADS_1
Plak!
Rossa benar-benar terkejut dibuatnya. Reflek ia memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan dari Mia.
"Bu Mia ... apa yang Anda lakukan?" tanya Rossa yang merasa bingung karena tiba-tiba dia mendapatkan tamparan dari majikannya itu.
"Selama ini aku menganggap mu adalah wanita baik-baik dan aku percaya padamu. Tapi, aku tidak menyangka ternyata kamu menyimpan kebohongan di belakangku. Katakan apa tujuanmu sebenarnya bekerja di rumahku, hah!" sarkas Mia.
"Membohongi Anda? apa maksud Anda? saya tidak mengerti dengan apa yang Anda katakan. Saya tidak pernah membohongi Anda, Bu Mia!" jawab Rossa.
"Munafik! kamu tidak usah berpura-pura lagi aku sudah tahu kebusukan kalian. Kau memiliki hubungan dengan suamiku bukan? bahkan kalian memiliki anak. Bisa-bisanya kamu datang ke rumahku dan berpura-pura bekerja di sini. Pasti kamu berniat untuk menghancurkan rumah tanggaku, kan?!" cerocos Mia meluapkan amarahnya.
Rossa seketika paham ia mengerti mengapa Mia melakukan ini padanya. Mia pasti sudah mengetahui tentang kebohongan Edward. Namun, yang ia tidak mengerti adalah tuduhan yang dilayangkan kepadanya. Sepertinya Mia telah salah paham kepadanya.
"Tunggu, Bu Mia. Anda salah paham terhadap saya. Ini tidak seperti yang anda pikirkan. Saya tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan suami Anda selain menjadi korban atas perlakuan tidak pantas yang suami Anda lakukan di masa lalu terhadap saya!" ungkap rosa.
"Saya juga tidak mempunyai tujuan yang buruk bekerja di rumah Anda. Saya bekerja di rumah ini benar-benar ingin bekerja untuk menghidupi saya dan anak saya. Dan, saya baru mengetahuinya hari ini jika ternyata Kak Edward adalah suami Anda," tambahnya.
"Lantas, mengapa tadi pagi kamu dan suamiku seolah-olah tidak saling mengenal? aku tidak akan tertipu oleh kebohonganmu lagi. Kamu berpura-pura polos nyatanya kamu menyimpan kebusukan di belakang ku!" Mia menjeda sejenak perkataannya. "Sekarang juga pergi dari rumah ini! aku tidak mau lagi melihatmu di rumahku! kamu dipecat!" seru Mia dengan lantang.
"Tidak, Bu Mia. Saya tidak membohongi Anda. Saya bisa menjelaskan ini semua. Tolong beri kesempatan saya untuk menjelaskannya kepada, Anda!" ujar Rosa memohon.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Sekarang juga pergi dari rumahku! Pergi!" ujar Mia seraya mendorong tubuh Rossa hingga tersungkur di lantai.
Mia yang sejatinya berhati lembut, kini ia kalap akibat tersulut emosi. Ia meluapkan kemarahannya kepada Rossa akibat kebohongan Edward.
Mia langsung beranjak menaiki tangga menuju kamarnya meninggalkan Rosa seorang diri yang masih tertegun dengan apa yang dilakukan oleh Mia terhadapnya.
Rosa bangkit dengan isak tangis yang mengalir di kedua pipinya. Ia beranjak menuju dapur, lalu mengambil tas selempangnya di loker penyimpanan. Dengan perasaan sedih Rosa keluar dari rumah itu tanpa berpamitan lagi dengan Mia.
...______Ney-nna______...
__ADS_1