
Di saat jam istirahat kedua, Syifa menyempatkan waktu untuk melaksanakan salat terlebih dahulu, di musala sekolah. Ia berjalan bersama Laila menuju musala.
"Fa, sebenarnya dari tadi aku pengen tanya sama kamu," ujar Laila.
"Tanya apa, La?" jawab Syifa seraya menoleh ke arah Laila.
"Gimana ceritanya sih, kok kamu bisa jadian sama kak Devan?" tanya Laila penasaran.
"Em, itu ... aku cuman pengen supaya dia menjadi pribadi yang lebih baik. Aku hanya mencoba untuk dekat dengan kak Devan agar dia berubah!" ujar Syifa beralasan.
"Tapi apa harus dengan cara kamu jadian sama dia? kamu tahu sendiri kan, seperti apa kak Devan itu! bagaimana kalau dia memanfaatkan mu? aku takutnya kamu diapa-apakan sama dia!" tutur Laila khawatir kepada teman baiknya itu.
"InsyaaAllah nggak akan terjadi apa-apa, La. Kak Devan udah janji sama aku kalau dia akan berubah," tutur Syifa berbohong agar Laila tidak curiga.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya? tapi rasanya aku kok masih nggak rela lihat kamu jadian sama dia. Apa Antika tahu tentang hal ini?" tanya Layla lagi.
"Tentu saja, mana mungkin aku bisa menyembunyikan hal ini dari Antika. Kamu tahu sendiri 'kan, dia seperti apa?"
"Lantas Antika setuju kamu pacaran dengan kak Devan?" tanya Laila seolah tak percaya.
"Sama sepertimu, Antika sebenarnya juga khawatir. Tapi, aku tidak ingin orang-orang terdekatku menderita karena aku!" jawab Syifa ambigu.
"Maksudnya?" tanya Layla yang bingung dengan jawaban Syifa.
"Sudah-sudah tidak usah bahas itu lagi. Ayo cepat salat, keburu waktu istirahatnya habis loh!"
Syifa memperingatkan agar pembicaraan mereka tidak merambah kemana-mana. Sebab, jika sampai ada yang mendengar dia pasti akan ketahuan jika hanya pura-pura berpacaran dengan Devan.
Usai melaksanakan salat Syifa dan Laila hendak kembali ke kelas mereka.
Namun, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil dari arah belakang. "Syifa!"
Syifa dan Laila segera menoleh ke arah sumber suara, dan nampaklah
Arjuna yang tengah berjalan kecil ke arah mereka.
"Ada apa, Kak? tanya Syifa.
__ADS_1
"Fa, bisa kita bicara sebentar?" Arjuna balik bertanya.
Syifa melihat ada Devan yang tengah berdiri di lapangan basket belakang musala. Devan nampak marah dan menatap tajam ke arahnya.
"Em ... maaf Kak, aku buru-buru. Ada tugas yang belum selesai aku kerjakan di jam terakhir," ujar Syifa berbohong. Ia tidak ingin memancing kemarahan Devan jika melihat dia berbicara dengan Arjuna.
"Sebentar saja kok, Fa!" pinta Arjuna.
"Maaf, Kak. Tapi, aku benar-benar sedang terburu-buru. Iya kan, La?" tanya Syifa seraya memegang lengan Laila dan menatapnya penuh harap agar mengiyakan saja.
Laila pun mengerti jika Syifa tengah berbohong, akhirnya ia mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya.
"Duluan ya, Kak!" Syifa segera berbalik tanpa menunggu jawaban Arjuna.
Arjuna menghela nafas kasarnya melihat kepergian Syifa. Ia merasa aneh karena Syifa seolah sedang menghindarinya. Syifa nampak tidak seperti biasanya. Arjuna menduga ini semua pasti karena Devan.
Devan yang menyaksikan hal itu merasa sangat puas melihat Syifa mengacuhkan Arjuna.
......................
Keesokannya saat jam istirahat pertama Devan kembali datang ke kelas Syifa untuk mengajak siswa ke kantin.
Dalam hati dia sangat senang bisa memanggil Syifa dengan sebutan 'Sayang'. Hal itu pun membuat Devan tertantang ingin membuat Syifa benar-benar menjadi pacarnya.
Sebab, berada di dekat Syifa membuatnya semakin terpesona dari hari ke hari. Berada di samping Syifa membuatnya leluasa memandangi wajah cantik gadis itu yang tidak pernah membuatnya bosan.
Hal itu pun membuatnya berhayal seandainya dapat menyentuhnya, memeluknya, dan menciumnya. Pikiran kotor mulai menggerogoti otaknya. Ia berpikir bagaimana cara agar bisa membuat Syifa bertekuk lutut dipelukannya.
"Kak, bisa tidak jangan melihatku seperti itu!" ujar Syifa lirih. Ia merasa risih karena Devan terus melihat ke arahnya.
"Kenapa sih, Sayang? bukannya harusnya kamu senang aku hanya melihat ke arahmu seorang?" ucap Devan yang seketika membuat teman-temannya yang berada di sampingnya berdecih.
Syifa sangat jengah mendengar ocehan Devan yang terus-terus saja menggombal di depan orang-orang yang ada di kantin. Devan tak henti-hentinya menunjukkan bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang romantis.
"Kak, sudah belum makannya? Aku ingin ke perpus!" ujar Syifa.
"Oh, udah kok. Ayo ke manapun kamu mau pasti aku antar!" ujar Devan.
__ADS_1
Arjuna yang juga mendengar hal itu semakin hari semakin jengah. Iya benar-benar tidak habis pikir bagaimana mungkin Syifa betah berpacaran dengan Devan. Arjuna tidak bisa melakukan apa-apa karena Syifa tidak pernah memberinya kesempatan untuk berbicara dengannya. Padahal dia sangat yakin jika Syifa merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu oleh Devan.
Sesampainya di perpustakaan, Syifa mengambil beberapa buku dari rak penyimpanan. Sedangkan Devan menunggunya di sebuah bangku di sudut ruangan tempat untuk membaca. Tak berapa lama Syifa kembali dengan membawa beberapa buku.
"Kak sebentar lagi Kakak ujian 'kan?" tanya Syifa.
"Iya, memangnya kenapa?" jawab Devan datar. Dia paling malas jika membahas soal ujian.
"Daripada nongkrong di kantin nggak jelas mendingan aku bantu kamu belajar aja, gimana?" ujar Syifa.
"Gue tinggal beli kunci jawaban ke orang yang bisa dipercaya, nggak perlu repot-repot belajar kayak gini, Sayang!" tutur Devan seraya tersenyum kecut.
"Kak, bisa nggak kalau lagi di sini nggak usah panggil, sayang! nggak ada yang dengar, kok!" protes Syifa.
"Gimana ya, habisnya udah terlanjur nyaman sih manggil sayang ke kamu, mendingan kita beneran pacaran aja kenapa sih! toh nggak ada ruginya kan buat kamu? Justru kamu semakin tenar punya cowok keren dan berpengaruh di sekolah kayak aku. Kamu nggak perlu capek-capek naik bus, aku bisa antar jemput kamu ke manapun kamu mau. Dan, apapun yang kamu mau bisa aku belikan!" ujar Devan dengan percaya diri tinggi.
"Jangan ngayal deh, Kak. Aku begini hanya demi menepati janji aku sama kamu, Kak. Aku nggak tertarik buat jadi pacar kamu!" tutur Syifa kemudian beranjak berdiri.
"Hahaha ...!" Devan tertawa kecil mendengar jawaban Syifa yang meremehkannya. "Mau ke mana?" tanyanya.
"Aku mau balik ke kelas!" ujar Syifa meninggalkan Devan sendirian.
Kamu belum tahu aja seperti apa Devan, apa yang aku inginkan pasti aku dapatkan! suatu saat nanti aku pastikan kamu akan menjadi milikku dengan cara apa pun! gumamnya di dalam hati.
Di tempat lain Antika sedang duduk di belakang aula seorang diri. Semenjak Syifa harus berpura-pura menjadi pacar Devan, mereka tidak bisa lagi berkumpul saat istirahat. Antika memakan camilan sembari melihat ke lapangan basket. Tiba-tiba saja Iqbal duduk di sampingnya.
"Bagaimana bisa teman kamu itu berpacaran dengan Devan?" tanya Iqbal teman satu kelas Antika.
"Elo, tiba-tiba muncul bikin kaget aja!" sungut Antika.
"Elo harus waspada menjaga teman lo itu. Devan nggak akan puas sampai di situ!" ujar Iqbal.
"Lo kok kayak sok tahu banget sih! Lo tu sebenarnya ada hubungan apa sih sama Devan?" tanya Antika penasaran.
"Gue hanya memperingatkan. Devan itu sangat nekad. Sebisa mungkin lo pantau sahabat lo itu ketika di luar sekolah. Kalau sampai ada yang mencurigakan yang terjadi sama temen lo, lo hubungin gue secepatnya!" ujar Iqbal kemudian beranjak pergi meninggalkan Antika.
Antika semakin bingung dibuatnya iya masih belum bisa mencerna dengan baik perkataan Iqbal kepadanya. Namun, Antika menduga jika Iqbal tahu banyak tentang Devan.
__ADS_1
..._______Ney-nna_______...