
Semua kue sudah dikemas dengan rapi kedalam masing-masing box. Tersisa dua box yang tidak dimasukkan ke dalam kantong besar . Satu box untuk Alika dan satu box lagi untuk Dion.
"Punya Dion kamu antarkan sekarang gih, Fa! Katanya mau buat sarapan kan? Mama mau mandi dulu!" titah Rosa pada putrinya.
Syifa pun menurut. Ia memasukkan satu box kue Ontbijtkoek itu ke dalam kantong plastik berwarna putih lalu ditentengnya menuju kamar kost paling ujung, kamar Ali.
Tok tok tok.
Syifa berdiri tepat di depan pintu kamar itu sembari mengetuk pintu. Beberapa saat tidak ada sahutan. Syifa hendak menggantungkan kuenya di gagang pintu, namun terurung karena pintu itu tiba-tiba terbuka.
"Astaghfirullah!" pekik Syifa kaget dan seketika berbalik badan seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Eh, maaf, Mbak! Baru selesai mandi sih!" ujar Dion sambil cengengesan.
Syifa tidak menjawabnya dan segera pergi setelah meletakkan kantong berisi kue itu asal di atas teras depan kamar kost itu.
"Eh, uangnya, Mbak!" seru Dion.
Namun, Syifa enggan untuk menggubrisnya. Batinnya kesal akibat ulah Dion yang sungguh menjengkelkan. Tanpa malu, Dion membukakan pintu hanya dengan memakai handuk yang terlilit di pinggangnya seraya bertelanj*ng dada. Membuat netra Syifa ternoda, karena tanpa sengaja melihatnya. Meskipun hanya sekilas saja.
"Huhhh!" Syifa mendengus pelan seraya merebahkan badannya di atas tempat tidur. Diturunkannya niqob yang ia kenakan hingga ke bawah dagunya. Pagi-pagi Syifa sudah dibuat kesal oleh anak remaja labil yang sering menggodanya itu.
"Kenapa, Fa? Muka kamu kayak kesal gitu?" tanya Rosa.
"Nanti uang kue punya Dion, Mama yang minta aja! Aku nggak mau berurusan lagi sama anak itu!" ujar Syifa dengan kesal.
"Oh, gampang lah itu! Tapi, kenapa kamu sepertinya kesal sekali sama anak itu? Kamu digodain lagi sama dia?" tanya Rosa menelisik.
"Mama ... pokoknya Syifa nggak mau nganter kue ke sana lagi!" tukas Syifa tanpa mau membahas hal itu lagi, meskipun dengan sang Mama. "Syifa mau tidur dulu sebentar, Ma. Nanti siang ada kuliah. Syifa ngantuk!" tuturnya.
Bangun tidur sebelum subuh dan membantu mamanya membuat kue membuat Syifa lelah. Ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak sembari membaca novel online kegemarannya.
"Ya udah, Mama berangkat dulu ya, Fa! Ini ada sedikit uang saku untuk ongkos dan jajan!" tutur Rosa. Ia menyerahkan selembar uang berwarna merah itu untuk jatah beberapa hari ke depan.
Syifa jarang sekali jajan di kampus. Ia sangat pandai berhemat dan menabung sisanya. Jika perlu sesuatu ia akan berusaha untuk membeli sendiri kebutuhannya dengan uang tabungannya, tanpa harus meminta pada sang mama. Ia sadar betul jika penghasilan mamanya tidaklah seberapa.
Bersyukur karena nasib baik masih berpihak kepadanya. Meskipun tidak memiliki cukup banyak harta, Syifa merasa Allah selalu memberikan kemudahan dan mencukupkan rezekinya pada setiap kali ia membutuhkannya.
__ADS_1
"Makasih, Ma. Mama hati-hati di jalan ya, Ma!" Syifa beranjak duduk dan mencium punggung tangan ibunya.
Drrrrtttt drrtttt.
Syifa melirik ponselnya yang bergetar tanda jika ada pesan masuk. Dengan cepat dibukanya pesan tersebut yang ternyata dari Hanif.
[ Pak Hanif : Syifa, Arjuna mengundang kamu dan mamamu untuk datang di acara grand opening resto milik mamanya. Nanti berangkat bareng saja. Jam 5 dari rumah. ]
[ Me : Baik, Pak. ]
Setelah membalas pesan itu Syifa kembali merebahkan diri di kasur dan melanjutkan aktivitasnya membaca novel online. Sedikit penghiburan bagi dirinya. Bahkan tidak jarang ada pelajaran yang menarik yang dapat dipetik yang terkandung dari sebuah cerita yang dibacanya.
Hal itu terkadang membuatnya terpacu untuk mencoba melahirkan sebuah karya juga. Sedikit banyak ia mulai belajar dari membaca.
"Sepertinya perlu dicoba!" tuturnya.
......................
Pukul 5 sore kurang, Syifa dan mamanya sudah mendatangi rumah Hanif sesuai dengan pesan tadi pagi. Hanif sudah siap di dalam mobil tengah mempersiapkan mobilnya. Sementara itu dari arah dalam terlihat Alika berlari kecil dengan senyum merekah ke arah Syifa.
"Pelan-pelan, Alika!" tegur Syifa lembut. Ia khawatir jika Alika terjatuh karena tersangkut gaun yang dipakainya yang cukup panjang dan mengembang. Alika memakai dress tutu berwarna biru muda yang nampak cantik bak princess di negeri dongeng.
Dari arah belakang nampak ummi Farida berjalan pelan-pelan.
"Eh, kalian sudah datang. Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang!" ajak Farida.
Alika memilih duduk di jok belakang bersama Syifa dan mamanya. Sedangkan di depan ummi Farida duduk berdampingan dengan Hanif yang tengah mengemudi.
......................
Tiga puluh menit berkendara, mereka telah sampai di resto milik mama Arjuna yang merupakan mertua Hanif. Meskipun Amanda sudah tiada, hubungan baik tetap terjaga di antara menantu dan mertua. Terlebih ada Alika yang menjadi pengikat hubungan dua keluarga itu.
Maya sangat menyayangi Alika. Dulu sewaktu Amanda pergi, Maya menawarkan diri untuk merawat cucunya itu. Namun, Hanif menolaknya. Ia ingin merawat sendiri putrinya itu. Terlebih ada mamanya juga yang akan membantunya merawat putrinya.
"Cucu, Oma!" seru Maya seraya merentangkan kedua tangan menyambut kedatangan Alika.
Alika berlari kecil menghampiri omanya itu. "Oma!"
__ADS_1
Dipeluknya dengan penuh kerinduan pada cucunya itu.
"Kak Alika!" salah seorang anak perempuan yang seumuran berlari kecil menghampiri Alika.
"Khanza!" ucap Alika seraya tersenyum senang.
Mereka kemudian berpelukan. Sejak datang Syifa tidak menyangka jika Hanif adalah kakak iparnya Arjuna.
"Eh, itu ustadzah Syifa, 'kan?" tunjuk Khanza saat melihat seorang perempuan yang berdiri tidak jauh di belakang Alika.
Syifa tersenyum dibalik cadarnya. "Hai, Khanza. Kita ketemu lagi!"
Khanza berlari dan memeluk Syifa. Melihat hal itu Alika pun terkejut.
"Loh, memangnya kamu kenal sama Kak Syifa?" tanya Alika menghampiri Khanza. Ada sedikit rasa tidak suka ketika Khanza dekat dengan Syifa.
"Tentu saja, Ustadzah Syifa kan guruku di sekolah!" ujar Khanza.
Keduanya tampak berebut untuk menggandeng Syifa.
Dari kejauhan Arjuna tersenyum melihat hal itu. Ia pun merasa senang bisa berjumpa kembali dengan Syifa. Gadis yang sempat mengisi ruang di hatinya yang belum tergantikan meski sudah sekian lama tidak bersua.
Mereka pun menempati meja khusus yang diperuntukkan untuk anggota keluarga. Sementara yang lain tengah mengobrol sembari menunggu maghrib, Syifa memilih melihat-lihat pemandangan sekitar resto yang terdapat pemandangan outdoor yang sangat indah. Ada sebuah taman bunga yang terdapat di samping resto.
Syifa tersenyum ke arah Khanza dan Alika yang tengah bercanda tawa sembari berlarian di area taman.
Tiba-tiba Arjuna datang dan ikut berdiri di sampingnya dengan masih memberi jarak.
Arjuna mulai bertanya ke mana saja Syifa menghilang sejak pertemuan terakhir mereka saat itu. Syifa pun menceritakan apa yang terjadi pada dia dan mamanya hingga harus meninggalkan kampung Arab dan akhirnya ke Surabaya.
Keduanya nampak asyik mengobrol hingga membuat Hanif yang melihat hal itu nampak gelisah. Ada yang tidak baik-baik saja di dalam dirinya. Hingga ia tidak begitu fokus mendengarkan obrolan dari Maya dan Farida yang tengah asyik mengobrol.
Pikirannya pecah memandang ke arah dua anak muda yang seumuran itu. Nampak serasi dan terlihat cukup akrab dalam mengobrol. Sangat berbeda sekali jika dibandingkan ketika Syifa berhadapan dengannya. Selalu saja gadis itu bersikap formal selayaknya dosen dan mahasiswanya. Meskipun tengah berada di rumah.
Bagaimana ini? Sepertinya aku harus cepat-cepat melamarnya jika tidak ingin keduluan oleh Arjuna! ucap Hanif dalam hati.
...______Ney-nna______...
__ADS_1