Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Anak Bau Kencur


__ADS_3

"Wa'alaikumussalam!" Hanif beranjak membukakan pintu. "Arjuna, ayo masuk!"


Hanif segera mempersilakan adik iparnya itu untuk masuk ke dalam rumah.


Belum sempat Arjuna duduk ia dibuat terkejut melihat sosok perempuan yang tengah terpaku menatap ke arahnya juga.


"Syifa!" pekik Arjuna.


"Kak Juna!" ujar Syifa lirih tanpa suara.


Keduanya sama-sama terkejut setelah sekian lama tidak bertemu.


"Kalian saling kenal?" tanya Hanif seraya menatap keduanya secara bergantian.


"Ia, Bang. Syifa, adik kelas aku sewaktu SMA, Bang!" ujar Arjuna.


"Oh, begitu. Arjuna ini adik kandung almarhum istri saya!" ucap Hanif menjelaskan saat melihat Syifa yang nampak kebingungan.


"Oh ... iya, Pak. Maaf saya permisi pulang dulu. Assalamualaikum!" ujar Syifa bergegas pamit seraya membungkukkan kepala.


Arjuna dengan berat hati melepas kepergian Syifa. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia ajukan tentang gadis itu yang menghilang beberapa bulan yang lalu. Lantas, sedang apa pula Syifa berada di rumah kakak iparnya malam-malam begini?


"Duduk, Juna!" perintah Hanif membuat Arjuna refleks memutus pandangannya terhadap Syifa.


"Em ..., iya, Bang. Kalau boleh tahu untuk apa Syifa datang kemari, Bang?" tanya Arjuna yang tidak bisa menyembunyikan rasa keingintahuannya tentang kehadiran Syifa di rumah ini beberapa saat yang lalu.


"Oh, dia guru lesnya Alika. Dia juga ngekost di samping. Apa ada sesuatu di antara kalian sampai kamu tidak sabaran untuk menanyakan hal ini dibanding menyampaikan maksud kedatanganmu ke rumah, Abang?" tanya Hanif menyelidik.


Arjuna seketika menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Emm, nggak juga sih, Bang. Hanya Syifa dulu memang cukup terkenal karena selain pintar dia juga siswi yang cantik. Wajar jika menjadi idola di sekolah!" tuturnya.


Arjuna kenapa seperti salah tingkah begitu ditanya soal Syifa? jangan-jangan dia menyukai Syifa! gumam Hanif dengan sorot mata menyelidik pada adik iparnya itu.


"Ekhm!" Hanif menetralkan diri dengan berdehem. "Kamu, ada perlu apa datang kemari malam-malam begini?"

__ADS_1


"Oh iya, maaf sampai lupa, Bang. Besok mama akan mengadakan syukuran atas usaha barunya. Mama, mengundang Abang sekeluarga untuk datang besok bakda salat maghrib untuk peresmiannya, Bang!" tutur Arjuna. "Emm, sekalian ya ajak Syifa dan mamanya, Bang!"


Arjuna mendadak sungkan. Namun, ia pikir ini adalah kesempatan yang bagus agar dia bisa bertemu dengan Syifa dan mengobrol perihal kepergiannya selama ini.


"Baiklah. Besok akan saya sampaikan padanya!"


Setelah menyampaikan maksudnya, tak lama Arjuna pamit. Sebab, keponakannya ternyata juga sudah tidur sepeninggal Syifa tadi.


......................


Selepas subuh, Syifa bergegas menuju ke dapur umum di tempat kostnya. Kemudian dia bergantian dengan sang mama yang hendak melaksanakan salat. Dilihatnya adonan kuenya sudah jadi. Syifa kebagian memasukkan adonan kue ke dalam loyang. Tak butuh waktu la sudah menyelesaikan tugasnya, lalu untuk sentuhan terakhir ia taburkan irisan kacang almond di atas adonan.


"Huftt ... akhirnya selesai juga!" ucapnya seraya mengelap sedikit lelehan adonan yang jatuh ke meja dapur.


Di masukkannya satu persatu loyang ke dalam oven, lalu disetelnya oven itu selama tiga puluh menit.


Sembari menunggu Syifa memasak air untuk menyeduh kopi. Gadis itu berniat membuat kopi untuk dirinya sendiri. Syifa memang sangat gemar minum kopi, apalagi di pagi hari yang dingin seperti saat ini. Hal itu bermula dari kebiasaannya mencicip kopi nenek Fatimah diwaktu kecil hingga menjadi kebiasaan pula baginya.


"Ekhm!"


Tiba-tiba dari arah belakang sebuah deheman membuatnya sedikit terkejut. Buru-buru ia benarkan posisi cadarnya.


"Pagi, Mbak!" sapa seseorang dari arah belakangnya. "Wah, pagi-pagi udah nyium bau adonan kue, bikin laper aja nih!" selorohnya lagi.


Syifa menoleh ke arah samping pada pemuda yang baru saja melewatinya dan kini tengah menuang air putih ke dalam gelas.


Dion, anak SMA yang acap kali menggodanya dengan memetik gitar dan senandungnya.


Dion bukan penyewa kamar, melainkan teman dari si penyewa kamar yang sering nebeng di kostan temennya. Dan anehnya ia cukup kenal dekat dengan mamanya. Beberapa kali mamanya bercerita tentang candaan Dion saat beberapa kali bertemu dengan Rosa.


Syifa tidak menanggapinya. Ia memilih beranjak untuk membereskan sisa-sisa bahan kue yang tersisa dan membersihkan area dapur bekas mamanya membuat adonan.


Dion tidak menyerah begitu saja. Ia selalu saja punya cara membuat Syifa bersuara.

__ADS_1


"Mbak, boleh request satu box nggak nih? buat sarapan ...," cicitnya.


"Nanti aku bilang ke mama!" jawab Syifa datar tanpa melihat ke arahnya dan lebih memilih untuk fokus membereskan meja dapur.


"Oke! Makasih, Mbak!"


"Hmmm!" jawab Syifa dengan gumamannya.


"Aku balik ke kamar duluan ya, Mbak!" pamit Dion.


"Hmmm!" lagi-lagi hanya itu yang keluar dari mulut Syifa. Dia enggan untuk bercakap-cakap panjang lebar pada pemuda itu.


Sepeninggalnya, dapur kembali hening. Gerimis selepas subuh membuat suasana sekitar kost terasa sunyi. Syifa kembali duduk dan menikmati secangkir kopi hangat miliknya seraya mengendus aroma tanah yang basah. Dapur itu terletak di paling ujung kamar kost. Ruangannya terbuka tanpa tembok di bagian depannya dan tentunya tanpa pintu.


Syifa memandang ke arah depan yang langsung berhadapan dengan lahan kosong sebagai area taman. Terkadang jika siang hari, ada yang menggunakan tempat itu untuk menjemur kasur. Suasana pagi itu senyap karena tidak jarang beberapa orang lebih memilih kembali bergelung di dalam selimut, usai melaksanakan sembahyang subuh.


Berbeda dengan Syifa dan mamanya, apa pun cuacanya mereka harus tetap sesegera mungkin terjun ke dapur untuk memulai pekerjaan. Yakni, membuat kue yang nantinya akan di jual Rosa di pusat perbelanjaan.


"Fa, sudah selesai ya!" ucap sang mama yang baru datang.


"Iya, Ma. Tinggal mencuci peralatannya saja!" jawabnya. "Oh ya, Dion pesan satu box. Katanya mau buat sarapan!"


"Alhamdulillah, sudah dapat calon pembeli pertama!" ujar Rosa seraya mengulas senyum, lalu duduk di hadapan Syifa. "Nanti kamu yang antar ya!" titahnya.


"Iya, Ma!"


"Oh ya, mama jadi ingat. Tempo hari masa dia tanya ke Mama ...." Rosa menjeda ucapannya. "Katanya, 'Tante ...., Mbak Syifa umurnya berapa?' sebentar lagi dua puluh tahun, jawab Mama. 'Oh, ya? berarti cuma selisih dua tahun dong sama saya, Tante. Boleh tidak daftar jadi calon menantu, Tante' ucapnya lagi. Mama seketika terkekeh. Langsung deh mama nasehatin panjang lebar sama anak itu. Dia naksir kamu tuh. Anak itu emang suka sekali bercanda. Masih bau kencur sudah gaya-gayaan mau daftar jadi menantu!" tutur Rosa panjang lebar seraya terkekeh.


"Ishh, Mama sih, kaya gitu nggak usah ditanggepin. Syifa, aja risih tiap kali papasan sama tuh anak!"


"Kalau sama Hanif, bagaimana? Mama lihat gelagatnya kamu bakalan dilamar sama dia. Entah cepat atau lambat. Itu yang Mama tangkep dari obrolan tempo hari dengan ummi Farida!" tukas Rosa.


...______Ney-nna______...

__ADS_1


__ADS_2