
"Syifa, tunggu!" seru Nafisa.
"Ada apa, Sa?" tanya Syifa terkejut saat Nafisa memanggilnya.
Nafisa turun dari mobil dan berjalan mendekat ke arah Syifa. "Fa, jika kamu memiliki rasa pada abangku, bilang saja yang sejujurnya pada abi. Jika kalian saling menyimpan rasa, Abi pasti akan mengalah untuk kalian!" tuturnya. "Aku pulang dulu, ya. Assalamualaikum!"
Nafisa mengusap pelan lengan Syifa, lalu beranjak kembali masuk ke dalam mobil.
"Waalaikumussalam," jawab Syifa lirih.
Mobil yang ditumpangi Nafisa berlalu pergi. Syifa pun beranjak masuk dengan langkah gontai menuju kamar kostnya.
Saat ia membuka pintu kamar kostnya ia melihat ibunya yang duduk terdiam seolah memikirkan sesuatu. Syifa beranjak masuk ke dalam dan mendekat ke arah mamanya.
“Apa yang Mama pikirkan?” tanya Syifa.
“Beberapa hari yang lalu Mama sempat bermimpi, Fa. Mama bermimpi saat akan berangkat ke ruko Ummi Syarifah memanggil Mama agar mampir ke rumahnya. Mama menurut saja dan sama sekali tidak ingat jika beliau sudah tiada. Beliau memberi Mama sesuatu pada telapak tangan Mama. Dan, Mama menggenggamnya tanpa tahu apa yang ia berikan. Apakah mungkin mimpi itu adalah sebuah pertanda akan hal ini ya, Fa. Mama benar-benar tidak menyangka ummi Syarifah menginginkan hal ini!” Rosa mulai kembali terisak.
Dulu ia memang pernah mengagumi sosok Imron saat awal ia datang di kampung Arab. Wajar jika ia mengagumi Imron karena saat itu ia belum tahu jika lelaki itu telah memiliki istri. Yang ia tahu hanyalah Imron sosok laki-laki yang telah menolongnya dan mempertemukannya dengan ummi Fatimah. Pemilik suara merdu yang menggetarkan hati lewat suara adzannya hingga hatinya tergugah untuk masuk islam.
Namun, saat ia tahu jika Imron mempunyai istri, Rosa segera membuang jauh-jauh perasaannya pada lelaki itu. Ia tahu bahwa ia tidak boleh memiliki perasaan yang lebih pada lelaki itu. Terlebih Syarifah begitu baik padanya. Syarifah juga yang berbaik hati memberinya baju-baju bekasnya yang masih layak pakai. Memperlakukannya selayaknya seorang adik perempuannya dan sekaligus sahabat baginya. Keluarga besar Imron juga adalah salah satu keluarga yang berbaik hati melindunginya disaat semua orang mencaci makinya karena kedapatan hamil di luar nikah dan hampir di usir dari kampong itu. Ia pun merasa seolah menemukan saudara di tempat tinggal barunya itu.
__ADS_1
Syifa hanya terdiam mendengar hal itu, lalu memeluk mamanya menenangkan. Tanpa ingin berkata apa pun karena pikirannya masih kalut dengan semua yang terjadi belakangan ini pada dirinya. Ia butuh waktu untuk mencerna segalanya.
Malam semakin larut, namun matanya masih enggan untuk terpejam. Ia masih memikirkan perkataan abi Imron, nasihat Nafisa dan juga cerita mamanya. Ia juga kembali mengingat kata-kata Ilham sebelum berangkat ke Kairo saat itu, yang meminta ia untuk menunggunya. Sampai kemarin ia masih berpikir untuk menolak lamaran Arjuna dan menunggu hingga Ilham kembali.
Namun, dengan adanya lamaran abi Imron pada sang mama membuatnya harus memikirkan ulang perihal semua yang terjadi pada dirinya. Jika ia mengatakan perihal Ilham pada mamanya ia yakin mamanya pasti akan memilih mundur dan menolak lamaran abi Imron. Tapi jika ia diam saja itu artinya ia telah mengecewakan Ilham. Mungkin Ilham akan membenci dirinya.
Tiba-tiba ia merasakan pergerakan dari mamanya. Syifa buru-buru memejamkan mata berpura-pura tidur. Ia tidak ingin membuat mamanya khawatir jika mamanya tahu ia tidak dapat tidur. Ada sebuah pergerakan dari arah sampingnya. Rupanya mamanya beranjak bangun. Tak berapa lama terdengar pintu kamar mandi tertutup. Syifa menilik jam di layar ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul satu lewat. Ia pun mencoba untuk memejamkan mata dan mulai tidur.
“Ya Allah jika mas Imron adalah jodoh yang Engkau takdirkan untukku. Maka berikan kemudahan bagi kami menuju pada ikatan suci yang engkau ridhoi. Bimbinglah hamba agar menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya, ya Allah.”
Tepat di saat itu Syifa sayup-sayup mendengar gumaman lirih yang mamanya panjatkan dalam doanya usai melaksanakan salat malamnya. Air matanya menetes begitu saja dari sudut matanya mendengar doa sang ibu. Mana mungkin ia sanggup mematahkan harapan indah yang terucap dari doa sang mama.
Tidak, aku nggak boleh egois. Mama berhak untuk bahagia dan ini adalah saatnya. Aku akan mengalah demi mama. Jalanku masih panjang dan masih banyak kesempatan yang bisa aku dapatkan. Kak Ilham, tolong maafkan aku! Gumam Syifa di dalam hati.
“Ma, Syifa setuju jika Mama menikah dengan abi Imron!” tuturnya dengan lirih. Ada sedikit nyeri di dadanya saat mengucapkan kalimat itu dari mulutnya.
“Syifa…, kamu yakin kamu tidak keberatan Mama menikah?” tanya Rosa.
Syifa menggelengkan kepalanya. “Syifa akan bahagia melihat Mama juga bahagia. Apalagi abi orang yang baik. Syifa yakin abi bisa menjaga Mama dan membahagiakan Mama!”
“Terima kasih atas supportnya, Sayang. Tanpa restu dari kamu, Mama tidak akan menerima lamaran itu Syifa. Kamu adalah yang terpenting bagi, Mama!” tutur Rosa.
__ADS_1
Benar dugaan Syifa, jika Syifa mengatakan perihal Ilham sudah pasti mamanya akan menolak lamaran itu. Mamanya akan melakukan apa pun untuk kebahagiaannya. Lantas jika Syifa tidak mau mengalah akan hal ini itu artinya dialah yang egois karena tidak memberikan kesempatan agar mamanya bahagia.
Saat di kampus Syifa kembali bertemu Nafisa yang saat itu usai melaksanakan salat.
“Assalamualaikum, Syifa. Gimana?” tanya Nafisa langsung pada intinya.
“Waalaikumussalam, Sa. Kebetulan sekali bertemu kamu di sini. Mengenai lamaran abi Imron, insyaaAllah mama menerimanya,” ucap Syifa lirih.
“Kamu yakin, Fa? Lalu bagaimana dengan kamu sendiri?” tanya Nafisa sedikit terkejut.
“Aku juga menyetujuinya. Kebahagiaan mama adalah bahagiaku juga. Kelak kita benar-benar akan menjadi saudara kan, Sa. Tentu saja aku akan sangat bahagia,” ucap Syifa seraya tersenyum getir.
Nafisa terdiam sesaat. Ia menelisik ke dalam mata Syifa yang nampak berkaca-kaca saat menuturkan kata-katanya. Nafisa yakin ada kesedihan yang tidak ingin Syifa perlihatkan padanya. Ia menghela napas beratnya mencoba mengerti. Syifa pasti memilih mengalah untuk mamanya.
“Jika mamamu sudah setuju, aku akan menyampaikan hal ini pada abi. Rencananya abi akan menggelar ijab qobul secara sederhana setelah kepulangan bang Ilham. Kamu tahu sendiri kan, ummi belum lama perginya. Jadi Abi tidak ingin menggelar acara yang besar-besaran. Hanya ada tasyakuran kecil mengundang kerabat dan tetangga dekat saja,” tutur Nafisa.
“Jadi, pernikahannya akan dilaksanakan setelah Kak Ilham kembali? Kenapa tidak secepatnya aja, Sa?” Syifa nampak terkejut mengetahui hal itu. Jika Ilham hadir sebelum hari pernikahan dilaksanakan Syifa khawatir pernikahannya akan gagal dilaksanakan.
“Iya, Fa. Kenapa?” tanya Nafisa yang jadi bingung melihat reaksi Syifa.
“Sa, please aku mohon jangan pernah katakan apa pun pada abi atau mamaku tentang perasaan Kak Ilham padaku. Dan, sebaiknya pernikahannya dilangsungkan secepatnya, nggak masalah meskipun hanya ijab qobul saja!”
__ADS_1
...______Ney-nna______...