
Nafisa segera masuk ke dalam rumah untuk menjumpai orang tuanya. Di dalam hati Nafisa merasa sangat senang mendapat kunjungan dari Ummi Rosyidah dengan suami dan anaknya.
Flashback On, empat tahun yang lalu di pondok pesantren XXX.
"Ummi ...! Ummi, kenapa?" tanya Nafisa saat melihat ummi Rosyidah duduk di lantai sembari memegangi kepalanya. Mukanya pucat seolah menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Nafisa, tolong antar Ummi pulang! Kepala Ummi rasanya pusing berkunang-kunang. Dipakai berdiri rasanya seolah mau jatuh!" tutur ummi Rosyidah.
"Baiklah, Ummi. Pegangan sama Nafisa ya, Ummi!" ujar Nafisa segera memapah lengan ummi Rosyidah di bahunya.
Nafisa mengantar Ummi Rosyidah hingga ke depan pondoknya.
"Assalamu'alaikum," ucap Nafisa saat sudah sampai.
"Ayo masuk saja Nafisa. Suami Ummi sedang pergi," ujar ummi Rosyidah.
Nafisa segera membuka pintu rumah ummi dan membawanya masuk menuju ke kamarnya. Nafisa membantu Ummi Rosyidah berbaring di tempat tidurnya.
"Nafisa tolong ambilkan obat Ummi di laci!" pinta ummi Rosyidah yang tengah kambuh vertigonya.
"Baik, Ummi!" jawab Nafisa kemudian melakukan apa yang diperintahkan oleh ummi Rosyidah.
"Ini obatnya, Ummi!" ujar Nafisa menunjukkan obat yang sudah diambilnya. "Sebentar saya ambilkan minumnya!"
Nafisa bangkit dari duduknya menuju ke dapur mengambil gelas dan mengisinya.
Saat ia hendak kembali tiba-tiba pintu kamar sebelah terbuka.
Klek!
Nampak seorang laki-laki keluar dari dalam kamar.
"Kami siapa?" tanya Adam.
"Saya Nafisa. Anda siapa?" Nafisa bertanya balik.
Adam tidak menjawabnya dan berlalu menuju kamar ibunya.
"Ummi kenapa?" ujarnya seraya berjalan masuk ke dalam kamar ibunya.
"Adam, kamu di rumah?" tanya Ummi.
"Iya, Ummi," jawab Adam yang sudah lulus dari ponpes. Ia boyongan pulang ke pondokan orang tuanya sebelum berangkat ke Khairo.
__ADS_1
"Alhamdulillah!"
Nafisa yang mendengar hal itu pun paham jika laki-laki tersebut adalah putra ummi Rosyidah yang sudah lulus dari pondok putra.
"Nafisa, ini anak Ummi. Terima kasih ya sudah mengantar Ummi pulang. Letakkan saja minumnya di meja. Biar Adam yang mengurus Ummi. Sekarang kamu bisa kembali ke asrama," ujar ummi.
"Baik, Ummi. Permisi. Assalamu'alaikum," ucap Nafisa seraya meletakkan gelas yang tadi diambilnya ke atas nakas. Setelah itu Nafisa bergegas keluar rumah dan kembali ke asramanya.
Beberapa hari kemudian.
"Ummi, sudah sembuh?" tanya Nafisa pada ummi Rosyidah saat bertemu di pesantren putri.
"Sudah Nafisa, terima kasih karena sudah menolong Ummi. Selain cantik kamu anak yang baik Nafisa. Nanti kalau sudah dewasa insyaAllah Ummi jodohkan sama anak ummi ya?" canda ummi pada Nafisa yang kala itu masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (SMP) kelas akhir.
"Ummi bisa saja!" jawab Nafisa seraya tersipu.
Candaan itu nampak membekas di benak Nafisa. Sebab, di dalam hati dia mengagumi sosok Adam yang selain good looking, juga diketahuinya jika Adam adalah pemuda yang salih dan patuh. Tentu saja Nafisa tahu hal itu dari cerita ummi Rosyidah yang seringkali menceritakan prestasi putranya itu sebagai penyemangat kami dalam menuntut ilmu di ponpes.
Dan, saat mengantar ummi Rosyidah itu adalah hal kebetulan dan pertama kalinya ia melihat Adam, setelah itu tidak pernah lagi.
Flashback Off.
"Abi, ada tamu di depan. Pembina Nafisa sewaktu di pondok berkunjung bersama keluarganya," ujar Nafisa kepada orang tuanya.
"Ada perlu apa, Naf?" Tanya Ummi.
Namun, hal itu cukup membuat jantung Nafisa berdetak kencang dan merasa gugub. Sebab, ada Adam juga.
"Ya sudah, ayo kita ke depan, Bi!" tutur ummi Syarifah.
Ummi dan abi Nafisa bergegas keluar menuju ruang tamu. Sedangkan Nafisa membuatkan minum di dapur untuk tamu mereka.
Abi Imron dan Ummi syarifah dengan ramah menyambut kedatangan ummi Rosyidah sekeluarga. Tidak lama Nafisa datang sembari menghidangkan minuman untuk tamunya. Setelah itu Nafisa kembali masuk ke dalam rumah.
"Jadi begini Pak, Bu. Kedatangan kami ke sini selain ingin bersilaturahmi, yang kedua kami ingin memastikan apa Nafisa sudah ada yang mengkhitbah apa belum? Jika belum kami berniat untuk menjodohkan putri Anda, Nafisa untuk bertaaruf dengan putra kami Adam. Kebetulan putra kami sudah lulus kuliah dan sekarang mengajar di pondok. InsyaAllah putra saya ini sudah siap untuk berumah tangga," tutur suami ummi Rosyidah yang menyampaikan maksud kedatangan mereka.
Abi dan ummi Nafisa seketika berpandangan. Mereka cukup terkejut mendengar hal itu.
"Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih atas itikad baik Anda sekeluarga dalam menyampaikan niat baik kepada putri kami. Saya merasa tersanjung ada pemuda salih yang hendak mengkhitbah putri kami. Saya juga yakin dengan kesalihan putra Anda. Dan, sampai saat ini Nafisa pun sebetulnya belum ada yang mengkhitbah."
"Namun, mohon maaf saya tidak bisa menerima permintaan ta'aruf ini. Bukan karena ada kekurangan dari pihak Anda, bukan. Melainkan kami masih berpegang teguh pada prinsip untuk menikahkan anak kami dengan yang sekufu. Keluarga kami adalah keturunan Arab dari hadramaut Yaman yang memiliki kafa'ah nasab dari keturunan Rasulullah dari Fatimah Az-Zahra, dan untuk menjaga nasab agar tidak terputus maka kami berusaha untuk kekeuh menikahkan Nafisa dengan pemuda keturunan Arab yang kafa'ah nasabnya sama dengan kami juga. Saya yakin Anda dan Nak Adam pasti paham dengan hal itu, bukan?" tutur abi Imron menjelaskan panjang lebar.
"Oh jadi begitu. Baik saya mengerti. Kami menghormati prinsip Anda. Jika memang begitu kami mohon maaf karena tidak mengetahui latar belakang keluarga Anda dengan baik," ujar suami ummi Rosyidah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Pak. Saya harap hal ini tidak menjadikan permusuhan di antara kita. Dan, untuk Nak Adam mohon untuk tidak patah semangat dalam berikhtiar mencari jodoh yang tepat. Saya doakan semoga untuk kedepannya dimudahkan untuk mendapatkan jodoh yang terbaik dari Allah," ujar Abi Imron.
Nafisa yang mendengar hal itu pun seketika meneteskan air mata. Ada rasa kecewa ketika tidak bisa bersatu dengan orang laki-laki yang dikaguminya sejak lama.
......................
Usai bercerita Nafisa menangis tersedu-sedu di pelukan Syifa. Syifa pun ikut merasa haru mendengar kisah itu. Dia mengelus punggung Nafisa untuk menenangkan. Hal ini tidak terpikirkan olehnya sebelumnya. Padahal ia sudah merelakan Adam untuk sahabatnya itu, namun ternyata mereka tidak bisa bersatu juga.
Drrrttt drrrttt drrrtt.
Handphone Nafisa bergetar ada sebuah panggilan masuk. Nafisa melihat ke arah layar handphonenya, rupanya abangnya yang menelepon. Namun, Nafisa enggan untuk menjawabnya.
"Fa, kamu saja yang bicara sama abangku. Abang pasti disuruh oleh ummi untuk membujukku. Aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun, Fa. Kamu saja yang bicara dengannya!" pinta Nafisa.
Syifa hanya bisa menghela nafas beratnya. Merasa iba kepada Nafisa yang tengah merasa sangat kecewa ketika harapannya terpatahkan begitu saja.
"Halo. Assalamu'alaikum, Kak. Ini Syifa," jawab Syifa mengangkat telepon dari Ilham.
"Wa'alaikumussalam, kamu apa kabar, Fa?" tanya Ilham.
"Alhamdulillah, aku baik, Kak. Kak Ilham sendiri bagaimana?" tanya Syifa.
"Alhamdulillah, aku juga baik. Nafisa ada di rumahmu?" tanya Ilham.
"Iya, Kak. Dia ada bersamaku."
"Syukurlah kalau begitu. Dia tidak mau bicara denganku, ya?" tanya Ilham.
"Iya, Kak. Nafisa sedang butuh waktu untuk sendiri. Berikan kesempatan untuk Nafisa memikirkan semuanya. Aku yakin Nafisa akan membaik setelahnya," tutur Syifa.
"Baik, Syifa. Tolong jaga Nafisa!"
"InsyaAllah, Kak. Apa benar-benar tidak boleh menikah dengan yang bukan keturunan Arab, Kak?" tanya Syifa.
"Tidak boleh, Syifa. Perempuan (Syarifah) hanya bisa menikah dengan laki-laki (Sayyid). Jika tidak maka nasabnya akan terputus di situ!" Ilham menegaskan.
"Berarti Kak Ilham juga harus menikah dengan perempuan keturunan Arab, dong?" tanya Syifa.
"Benar. Anjurannya seperti itu. Tapi, untuk laki-laki berbeda, laki-laki boleh menikah dengan selain golongannya. Jadi misalkan aku nikahnya sama kamu anak kita nasabnya tetap ikut aku. Sebab garis keturunan itu diambil dari pihak laki-laki. Jadi boleh-boleh saja," canda Ilham.
"..."
Mendengar hal itu Syifa seketika membulatkan mata. Ia pun tersipu mendengar perumpamaan yang dipaparkan oleh Ilham.
__ADS_1
"Halo, Syifa. Masih di situ 'kan?" tanya Ilham.
...______Ney-nna______...