Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Honeymoon


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Iqbal dan Syifa sudah bersiap untuk perjalanan mereka ke suatu tempat. Iqbal sudah mempersiapkan segala sesuatunya yang harus mereka bawa. Pada perjalanan kali ini bahkan Iqbal sama sekali tidak melibatkan asisten Tom atau pun memakai supir.


"Semoga perjalanannya lancar sampai tujuan dengan selamat ya, Bos!" ucap Tom saat mereka hendak berangkat.


"Jaga rumah dan nenek untukku, Tom. Kabari jika ada sesuatu yang penting. Jika tidak bermutu akan aku potong gajimu!" ancam Iqbal.


"Siap, Bos!" ucap Tom seraya memberi hormat.


Meskipun sering berkata demikian Iqbal tak pernah sekalipun memotong gajinya. Justru selalu memberinya bonus setiap bulannya.


Iqbal pun segera menyalakan mesin mobilnya dan perlahan meninggalkan kediamannya menuju jalanan. Mereka membutuhkan waktu 4 jam agar sampai di tempat tujuan. Syifa merasa penasaran akan dibawa kemana oleh suaminya itu. Sebab Iqbal menutup mulutnya rapat-rapat sebagai kejutan untuk Syifa.


Sesekali Syifa nampak menguap. Ia merasa lelah saat sudah berjam-jam duduk di dalam mobil. Terlebih Iqbal sangat jarang mengajaknya bicara. Hanya sesekali menawarinya mampir ke mini market atau ke toilet yang ada di pengisian bahan bakar. Cukup sulit bagi Syifa untuk menyesuaikan diri dengan Iqbal yang pendiam.


Berbeda jika ia bepergian dengan Dina, asistennya di kantor Advokat. Perempuan itu tak akan bosan untuk mengoceh sehingga Syifa terbawa oleh suasana yang menyenangkan di sepanjang perjalanannya. Berkendara pun jadi mengasyikkan.


"Tidur lah. Nanti aku bangunkan ketika sudah sampai," ujar Iqbal seraya memalingkan pandangannya ke arah Syifa.


Syifa hanya mengangguk menanggapi. Sungguh seperti orang yang baru kenal. Keadaannya sangat canggung. Padahal sudah menjadi suami istri.


Tanpa terasa beberapa saat kemudian Syifa terlelap juga. Iqbal yang juga lelah memutuskan berhenti sejenak di depan mini market. Ia memperhatikan Syifa yang sedang tidur. Sungguh nyenyak hingga tidak terbangun saat mobil berhenti.


Diam-diam Iqbal mengambil foto Syifa yang sedang tidur dengan ponselnya. Ia seolah tertarik untuk mengagumi wajah cantik Syifa tanpa diketahui orangnya. Sebelumnya Syifa sudah menurunkan cadarnya karena berada di dalam mobil. Sehingga Iqbal bisa leluasa memandangi wajah Syifa yang tengah tidur. Setelah puas, barulah ia kembali melanjutkan perjalanannya.


Tepat saat adzan dzuhur berkumandang mereka tengah sampai di tempat tujuan. Meski siang hari suasana di tempat ini sangatlah sejuk dan asri. Iqbal menepuk pelan hidung Syifa untuk membangunkannya.


Bukannya segera membuka mata, Syifa justru hanya bergerak sedikit mengubah posisi tidurnya karena merasa terganggu. Hal itu membuat Iqbal semakin gemas.


Sayangnya sudah ada dua pasang mata yang sudah menunggu mereka untuk turun. Perlahan Iqbal bermaksud membenarkan letak cadar Syifa, namun hal itu justru membuat Syifa terbangun.


"Emhh ...!" lenguh Syifa dan seketika membuat keduanya sama-sama terkejut.


"Em, sudah sampai. Ayo turun!" ucap Iqbal lalu segera membenarkan posisi duduknya.


Syifa nampak mengamati suasana di sekitarnya. Di hadapannya, nampak sebuah rumah yang tidak terlalu besar, indah dan menyenangkan untuk ditempati. Sebab disekitar rumah banyak tanaman bunga dan pepohonan yang rindang. Hawanya sangat sejuk meski disiang hari.


Mereka kemudian turun dari mobil. Kedatangan mereka disambut oleh sepasang suami istri yang ditugaskan untuk menjaga villa.

__ADS_1


"Selamat datang Pak Iqbal!" ucap keduanya.


"Ini Bu Siti dan Pak Bejo, mereka yang menjaga villa ini!" tutur Iqbal memperkenalkan mereka pada Syifa.


"Asyifa!" ucap Syifa seraya menyalami Bu Siti.


"Istri saya!" imbuh Iqbal.


"Oh, mari silakan masuk, Bu!" ucap Bu Siti pada Syifa.


Meskipun terasa aneh dipanggil 'Bu' oleh orang yang lebih tua, Syifa akhirnya hanya mengangguk mengiyakan. Mereka semua pun beranjak ke dalam rumah. Sedangkan Pak Bejo memilih menuju bagasi untuk membawa barang-barang bawaan mereka.


"Semua yang saya minta sudah di siapkan, Bu?" tanya Iqbal.


"Sudah, Pak. Semuanya sudah saya persiapkan. Bapak sama Ibu mau istirahat atau makan dulu? makan siangnya juga sudah saya persiapkan!" ucap Bu Siti.


"Kita akan solat dulu saja, Bu Siti. Kalian sudah bisa pulang. Terima kasih dan selamat berlibur!" ucap Iqbal.


Selama seminggu ke depan mereka tidak akan datang melainkan Iqbal memberi mereka waktu satu minggu untuk berlibur selama Iqbal menempati villa itu.


"Baik Pak, Bu. Kami permisi!"


"Ya, Bu Siti. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya!" ucap Iqbal ramah.


Syifa menatap heran pada suaminya itu Sikap Iqbal benar-benar ramah pada bawahannya. Sangat berbeda jika dengannya yang terasa dingin dan kaku.


Sepeninggal mereka Iqbal menunjukkan kamar mereka. Dan mengatakan jika seminggu ke depan mereka akan tinggal di villa itu.


"Kamu bisa masak?" tanya Iqbal.


"Ya. Aku terbiasa membantu mama masak setiap hari!" jawab Syifa.


"Bagus. Karena seminggu ini kamu harus memasak untuk kebutuhan makan kita berdua. Bersih-bersih rumah dan segala sesuatunya akan kita kerjakan sendiri. Kamu tidak keberatan?" tanya Iqbal.


"Enggak masalah. Aku juga terbiasa melakukannya sendiri sebelumnya," jawab Syifa.


"Oke, sekarang kita salat dulu saja. Beres-beres barang bawaannya nanti saja setelah makan siang!" ucap Iqbal.

__ADS_1


Syifa mengangguk mengiyakan.


Usai makan siang. Iqbal mengajak Syifa duduk santai di samping rumah sembari menikmati suasana sekitar villa.


"Kamu sering datang ke sini?" tanya Syifa.


"Baru dua kali. Yang pertama saat membeli villa ini. Yang kedua adalah saat ini bersama kamu!" tutur Iqbal.


"Oh ya? kapan kamu membelinya?" tanya Syifa lagi.


"Sebulan yang lalu. Dua hari setelah kamu menerima khitbahku!" ungkap Iqbal.


Syifa seketika terkejut mendengarnya. Sebab itu artinya Iqbal sengaja membeli villa ini untuk mereka berdua.


Tiba-tiba turun hujan. Iqbal dan Syifa akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Iqbal meminta waktu untuk beristirahat karena ia merasa lelah setelah berjam-jam menyetir. Syifa yang sudah tidur di mobil memilih untuk membereskan barang-barang bawaan mereka dan memasukkan baju-baju ke dalam almari.


Menjelang sore Syifa ke dapur berniat untuk memasak. Di kulkas ternyata sudah terisi penuh bahan makanan. Syifa teringat saat usai acara pernikahan kemarin Iqbal terlihat sibuk dengan handphonenya. Rupanya suaminya itu sudah mempersiapkan dengan matang kunjungan mereka ke villa ini sejak saat itu. Sebab jika urusan kantor pasti ia sudah meminta asisten Tom untuk mengurusnya.


Usai memasak Syifa kembali ke kamar. Ternyata Iqbal sudah bangun dan sedang berada di kamar mandi. Syifa menuju almari untuk mengambil baju ganti. Ia berniat mandi setelah itu baru melaksanakan salat.


Cklek!


Syifa reflek menoleh ke kamar mandi, dan terkesiap saat melihat Iqbal keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sepinggang. Syifa segera berpaling dan kembali fokus pada isi almari. Meskipun sesungguhnya ia merasa sangat gugup dan bingung harus bagaimana.


Iqbal pun tak kalah terkejutnya melihat Syifa sudah berada di dalam kamar. Tidak ada niatan untuk menunjukkan bagian tubuhnya yang polos itu. Namun karena sudah kepalang tanggung, ia bersikap seolah biasa-biasa saja. Toh mereka adalah suami istri.


Usai mengambil baju Syifa segera beranjak masuk ke kamar mandi dengan melewati Iqbal begitu saja. Sesampainya di kamar mandi barulah ia bisa bernafas lega.


......................


Usai salat maghrib dan qiroah, mereka makan malam. Ini adalah pertama kalinya Iqbal akan makan masakan Syifa. Dengan sigap Syifa melayani Iqbal untuk mengambilkan nasi dan lauk pauk ke piring Iqbal.


Saat menerimanya Iqbal memperhatikan masakan Syifa dengan seksama. Sebenarnya ia tidak yakin untuk memakannya, namun karena tidak ingin membuat Syifa kecewa Iqbal memaksakan diri untuk mencicipinya.


Namun yang Iqbal khawatirkan benar-benar terjadi.


..._____Ney-nna_____...

__ADS_1


__ADS_2