Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Takdir


__ADS_3

Menyeduh kopi Syifa duduk merenung sembari menatap pot-pot berisi tanaman hias yang basah oleh embun di taman samping dapur. Ia masih memikirkan perkataan mamanya tadi malam.


Merasa kehilangan sebuah lentera harapan yang menjadi impian. Terasa ada yang perih di dalam relung hati mengetahui kenyataan pahit tentang takdir yang Allah gariskan padanya. Hingga tanpa ia sadari jika Dion sudah duduk di sampingnya sembari memperhatikannya.


Padahal Syifa akan sangat menjaga jarak dan selalu menghindar untuk berduaan dengannya. Tapi kali ini Dion heran karena Syifa hanya diam saja bahkan saat ia duduk di hadapannya seraya memandangi netra indah gadis bercadar itu. Dion menyadari jika pandangan gadis itu kosong. Ia sangat penasaran dengan apa yang tengah dilamunkan Syifa hingga tidak menyadari kedatangannya.


"Ekhm ... ekhm ...!" Dehem Dion membuyarkan lamunan Syifa.


"Astaghfirullah!" pekik Syifa kaget. Ia segera mengalihkan pandangannya saat menyadari Dion terus menerus memandang ke arahnya sembari menertawakannya.


"Melamun apa sih, Mbak?" tanya Dion sembari menahan tawa. Gemas melihat ekspresi Syifa yang terlihat malu-malu saat kepergok melamun.


"Maaf, saya permisi!" Tanpa menjawab Syifa beranjak bangkit dari duduknya sembari membawa secangkir kopi yang masih tersisa setengahnya. Ia memilih pergi karena ia tidak ingin berdua-duaan dengan Dion. Terlebih Dion bukanlah orang yang tepat untuknya berbagi cerita perihal apa yang saat ini terjadi padanya.


"Mbak ...!" ucap Dion seraya ikut berdiri. Hampir saja ia refleks hendak memegang lengan Syifa untuk menghentikannya.


"Jangan sentuh saya!" seru Syifa seraya mundur memberi jarak di antara mereka.


"M-maaf, nggak sengaja, Mbak. Sumpah!" kilah Dion sembari mengangkat dua jarinya. "Tadi aku cuma mau bilang ... kalau Mbak butuh bantuan bilang aja ke aku, Mbak. Mungkin aku bisa bantu!"


Syifa menatap sekilas wajah Dion yang memang terlihat tulus. Syifa tahu bahwa Dion sebenarnya anak yang baik meski memang terlihat urakan. Tapi tetap saja Syifa harus menjaga jarak dengan pemuda itu. Selain bukan mahram ia tidak terlalu mengenal sifatnya.


"Terima kasih!" ucap Syifa singkat. Ia berlalu pergi melanjutkan langkahnya menuju kamarnya berada.


Tepat saat ia hendak masuk ke dalam kamarnya, lagi-lagi langkahnya terhenti saat mendengar suara yang menyerukan namanya.


"Syifa ...!"


Asyifa segera menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari halaman depan.


"Kak Juna ...," ucap Syifa lirih.


Syifa memperhatikan langkah juna yang semakin mendekat. Ia bisa menebak apa maksud dan tujuan pemuda itu datang menemuinya kali ini.


"Assalamu'alaikum!" sapa Juna dengan senyum manis yang terpampang di wajah tampannya.


"Wa'alaikumussalam. Duduk, Kak!" Syifa beranjak duduk di teras depan kamarnya, usai Arjuna duduk di bangku teras di seberangnya.

__ADS_1


"Syifa, kamu ada kuliah nggak hari ini?" tanya Arjuna berbasa-basi memulai percakapan.


"Ada, Kak. Nanti agak siangan," jawab Syifa. "Em ... Oh ya, Kak. Sekalian saja aku mau jawab soal lamaran Kakak waktu itu. Maaf, Syifa .... nggak bisa terima lamaran, Kak Juna. Untuk saat ini Syifa bertekad tidak ingin menikah terlebih dahulu, Kak. Syifa ingin menamatkan kuliah dulu dan meraih impian Syifa!"


Syifa menundukkan kepala dengan wajah sendunya. Jujur sangat berat baginya mengatakan hal itu pada Arjuna. Ia paling tidak tega membuat orang sebaik Arjuna kecewa. Tapi, ia tidak mungkin terus menggantungkan Arjuna lebih lama lagi, toh ia tidak berniat sedari awal untuk menerimanya.


Syifa sudah memikirkan hal itu dengan matang. Sebenarnya ia menolak lamaran dari Arjuna demi menjaga hubungan antara Arjuna dan Hanif. ia tidak ingin merusak hubungan baik keduanya. Ia memutuskan untuk fokus pada kuliahnya dan membuat mamanya bangga akan prestasinya.


Arjuna nampak terdiam sesaat. Tentu saja ia sangat kecewa dengan penolakan dari Syifa. Meskipun ia sangat menyayangi Syifa dan yakin jika ia sanggup memberikan hidup yang lebih layak untuk Syifa. Namun, ia tidak boleh egois untuk memaksakan kehendaknya pada Syifa.


"Oke. Jika itu keinginanmu aku akan menerima keputusanmu, Syifa. Aku akan menunggu hingga saat itu tiba. Semoga kamulah jodohku," ucap Arjuna mantap.


Syifa terbeliak mendengarnya. Sebegitu kerasnya Arjuna ingin mereka tetap berjodoh. Syifa diam tidak ingin membantahnya lagi. Ia tidak ingin semakin menyakiti hatinya. Biarlah waktu yang membuktikan. Yang seharusnya terjadi pasti akan terjadi jika Allah menghendakinya.


......................


Sore itu Imron mengundang Syifa dan mamanya untuk makan malam di sebuah rumah makan yang tak jauh dari kampung Arab. Berhubung Ilham sudah pulang ke tanah air, seperti rencana awal maka tiba saatnya untuk membicarakan penyelenggaraan acara akad nikah antara dirinya dengan Rosa.


Sore itu, Imron sudah menunggu di lokasi yang sudah ditetapkan beserta Ilham, Nafisa dan juga sang suami serta ada beberapa kerabat Imron yang turut hadir. Tak lama Syifa dan mamanya pun datang.


Syifa dan mamanya pun dipersilahkan duduk. Mereka mulai mengobrol ringan sebelum memulai membahas ke acara inti. Sesekali Ilham bertanya kepada Syifa, dan Syifa hanya menjawab seperlunya. Dari situlah, Nafisa menangkap ada kesedihan di mata Syifa.


Imron memulai pembicaraan pada acara inti. Hingga akhirnya kesepakatan mengenai penyelenggaraan acara akad pun terjalin dengan baik. Kemudian acara dilanjutkan dengan makan malam.


Seusai acara Ilham menawarkan diri untuk mengantar Syifa dan mamanya ke tempat kost.


"Ilham, terima kasih ya?" ucap Rosa begitu mereka sampai.


"Sama-sama, Tante," jawab Ilham ramah. "Tante, boleh saya bicara sebentar dengan Syifa?" tanyanya.


Rosa melirik sejenak ke arah Syifa sebelum menjawab. "Kalau begitu, Mama masuk dulu, Fa!" ucapnya setelah melihat Syifa mengangguk.


Sebenarnya Ilham pun menangkap ada yang aneh sejak tadi dari sikap Syifa padanya. Mungkin karena lama tidak bertemu Syifa berubah canggung dengannya.


"Fa, ini ada sedikit oleh-oleh buat kamu dan mama kamu!" ucap Ilham seraya menyerahkan dua buah paperbag ke hadapan Syifa.


"Terima kasih, Kak!" ucap Syifa lirih masih dengan menunduk.

__ADS_1


Ilham mengangguk menanggapi.


"Syifa, apa kamu ingat dengan janjiku sebelum aku berangkat ke Kairo?" tanya Ilham dengan hati-hati.


Syifa seketika mendongak menatap ke arah Ilham sejenak. Ia tidak menyangka Ilham benar-benar akan mempertanyakan hal itu. Ia mengangguk pelan dengan perasaan sendu.


"Bolehkah aku mengkhitbahmu selepas akad abi dan mamamu nanti terlaksana?" tanya Ilham dengan lirih.


"Tidak, Kak!" jawab Syifa cepat.


Ilham seketika terkejut mendengarnya. Ia menoleh ke arah Syifa dengan penuh tanya.


"Sudah ada laki-laki lain yang lebih dulu mengkhitbahmu, Fa?" tanya Ilham.


Syifa mengangguk.


Ilham nampak menunduk dengan kecewa. Ia tidak menyangka Syifa lebih memilih laki-laki lain ketimbang dirinya.


"Tapi bukan karena itu alasannya aku menolak khitbah dari, Kak Ilham. Melainkan karena kita saudara sepersusuan, Kak. Waktu bayi, aku pernah disusui oleh Ummimu, Kak!" ucap Syifa seraya meneteskan air mata.


Ilham terkejut tak percaya. Sebab, ia tidak pernah diberatuhu tentang hal itu oleh ummi dan abinya. Dadanya bergemuruh, begitu perih mendengar kenyataan pahit itu.


"Kamu bohong kan, Fa? Kamu berbicara seperti itu hanya untuk menolak ku kan?" tanya Ilham berusaha menyangkal ucapan Syifa.


Syifa semakin merasa sedih melihat reaksi Ilham yang nampak tidak bisa mempercayai hal itu. Terlihat kekecewaan yang begitu besar tergambar di wajahnya. Syifa semakin tak dapat membendung air matanya yang sudah tertahan sejak tadi.


"Tanyakan saja pada abi jika Kak Ilham tidak percaya padaku. Assalamualaikum!" Syifa berjalan cepat menuju halaman kostnya meninggalkan Ilham. Air matanya terus mengalir dengan derasnya menyertai rasa sesak di dada nya. Perih di hatinya semakin terasa mengingat betapa kecewanya Ilham mengetahui takdir yang tak berpihak pada mereka.


..._______Ney-nna_______...


Assalamu'alaikum,


Kepada reader's tercinta 💕, mohon maaf 🙏 karena Neyna sangat slow Up pada novel ini. Dikarenakan suatu kondisi yang mengharuskan Neyna lebih concern pada reallife. Untuk kedepannya Neyna usahakan untuk Up bab baru seminggu 3x ya.


Oh ya, Neyna akan adakan giveaway bagi 3 orang yang beruntung. Silahkan beri ulasan mengenai novel Aku Perawan Tua Berkualitas dari awal bab hingga bab ini dibuat di kolom komentar (min. 1 paragraf). Untuk 3 ulasan yang terpilih akan berkesempatan untuk mendapatkan pulsa senilai 50rb. Pengumuman pemenangnya nanti akan saya sertakan pada bab berikutnya di tanggal 5 April 2023. Kalian harus ikutan ya!


Wassalamu'alaikum, Wr. Wb. 👋👋💞

__ADS_1


__ADS_2