Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Akhirnya tersungkur juga.


__ADS_3

Sore itu ba'da salat ashar acara ijab qobul pun dilaksanakan di masjid kampung Arab. Rosa sangat terharu dengan mas kawin yang diberikan Imron untuknya. Sertifikat rumah almarhumah nenek Fatimah beserta isinya. Seketika Rosa dan Syifa menangis tersedu-sedu saking bahagianya.


Rupanya beberapa minggu yang lalu Imron bertemu dengan keponakan nenek Fatimah. Dan dia berniat untuk menjual rumah itu. Mendengar hal itu Imron lantas bermaksud untuk membelinya. Ia ingat saat almarhumah istrinya pernah bercerita jika Rosa dan Syifa sangat ingin kembali ke rumah itu namun keponakan nenek Fatimah tidak mau menjualnya.


Imron pun lantas membelinya. Toh rumah itu dijual dengan harga yang cukup murah. Selain karena pekarangannya yang tidak terlalu luas, juga karena bangunannya mulai rusak dan kotor karena lama tidak dihuni. Ia cukup merenovasinya nanti agar terlihat layak huni kembali.


Usai acara ijab qobul semua tamu yang hadir berpindah ke halaman masjid untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia. Nenek Sofia dan Rosita pun turut hadir pada hari bahagia Rosalina. Namun, mereka tidak ikut masuk ke dalam melainkan menunggu di halaman masjid.


Edward yang mendengar kabar itu dari Syifa pun turut hadir. Ia datang bersama Mia dan kedua anak mereka. Selain karena merindukan Syifa, Mia ingin dipertemukan dengan Rosa dan Syifa. Mia menyampaikan permintaan maafnya kepada Syifa dan juga Rosa atas permasalahan yang pernah terjadi di antara mereka dulu. Mia sudah mengetahui bagaimana keadaan Syifa dan Rosa saat itu. Mereka tidak bersalah, melainkan suaminya lah yang bersalah. Namun, ia akhirnya memaafkan suaminya atas kegigihannya memperjuangkan rumah tangga mereka. Dan, memulai lembaran baru demi keutuhan rumah tangga mereka.


Hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan bagi Rosa. Semua bebannya terasa ringan karena Allah memberikan banyak kejutan baginya. Permasalahan hidup yang pernah ia lalui kini menemui titik terang. Hubungan dengan ibu dan kakaknya pun tetap terjalin dengan baik. Begitu pun dengan laki-laki yang pernah menorehkan luka dihidupnya, kini hubungan mereka bagaikan saudara.


Rosa yang awalnya datang di kota ini sebatang kara dan bagaikan sampah yang mengotori kampung, kini ia seolah diangkat derajatnya oleh Allah menjadi istri seorang habib yang disegani di kampung ini. Ia kini memiliki keluarga yang lengkap. Allah telah memberikan pendamping hidup yang terbaik baginya. Dan memiliki anak-anak yang salih dan salihah. Sungguh begitu indah rencana Allah baginya.


......................


Beberapa bulan telah berlalu dengan suka cita. Syifa tinggal bersama mamanya di rumah Abi Imron. Syifa pun lebih fokus pada kuliahnya. Ia menyibukkan diri dengan belajar dan aktif di organisasi kerohanian. Jika waktu senggang ia akan memilih mengajar mengaji bersama Nafisa.


Kehamilan Nafisa yang sudah besar membuatnya harus mengambil cuti dari kuliahnya. Sehingga ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah abinya jika suami sedang bekerja. Sedangkan Ilham, ia memilih mengabdi di pondok pesantrennya dulu untuk mengajar para santri. Selain untuk memulihkan kondisi hatinya ia dapat mengamalkan ilmu yang telah ia dapatkan di Kairo.


Hubungan antara Syifa dan Ilham pun berangsur-angsur membaik. Ilham berusaha ikhlas dengan kehendak Allah yang menginginkan mereka menjadi saudara. Menjaganya sebagai seorang adik. Ia yakin jika Allah akan memberikan yang terbaik baginya nanti disaat yang tepat.

__ADS_1


......................


Sore itu ba'da salat Ashar, Syifa dan Nafisa berangkat ke masjid untuk mengajar mengaji. Mereka berjalan menyusuri lorong diantara dua tembok pembatas antara kampung Arab dan tembok Keraton. Kali ini Syifa tidak ingin menaiki sepeda motor untuk pergi ke masjid. Ia rindu berjalan kaki menyusuri jalanan kampung Arab.


Sesekali senyumnya terkembang ketika mengingat masa kecilnya yang sangat senang bersepeda menyusuri jalanan ini. Begitu banyak kenangan indah yang ia lalui di tempat ini. Dan kedua tembok yang menjulang tinggi inilah saksi hidupnya. Memori masa kecilnya seperti kembali tergambar kembali di depan matanya.


"Kamu kenapa, Fa?" tanya Nafisa yang melihat Syifa berjalan sembari tersenyum.


"Emh, gak ada apa-apa, Sa. Ayo jalan lagi!" ucap Syifa lalu menggandeng jemari tangan Nafisa.


Kini keduanya telah sampai di tangga depan masjid. Sebelum melawati batas suci Nafisa melepas sendalnya diikuti Syifa dari arah belakang. Setelah melepas sendal tiba-tiba Syifa terdiam saat melihat sosok seseorang yang tengah duduk di tangga teratas masjid.


Syifa memastikan dengan seksama jika orang yang dilihatnya adalah sosok yang dikenalnya. Namun, ia sedikit ragu melihat penampilannya dan bagaimana bisa laki-laki itu berada di sana. Tiba-tiba saja Syifa merasakan dirinya tidak baik-baik saja. Debaran di jantungnya bahkan dapat ia rasakan berdegup dengan kencang.


Laki-laki itu memang Iqbal. Namun, yang membuat terlihat berbeda karena Iqbal mengenakan kemeja koko dan kupluk yang membuatnya terlihat tidak jauh berbeda dengan pemuda keturunan Arab. Dan ini bukan seperti stylenya yang pernah Syifa tahu.


"Fa! Ngapain bengong di situ? gih buruan!" seru Nafisa saat menengok kebelakang dan Syifa masih bengong di bawah.


Syifa segera memutus pandangannya terhadap Iqbal dan berjalan pelan menaiki tangga.


Sementara Iqbal, laki-laki itu beranjak berdiri dan menuruni tangga dengan santainya. Bahkan seolah tak mengenal Syifa. Pandangannya fokus ke depan seolah tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Syifa menghembuskan nafas kasarnya melihat sikap Iqbal. Ia sekarang yakin bahwa tidak salah lagi yang dilihatnya memang betul-betul Iqbal. Sikap dingin dan introvertnya benar-benar tidak berubah. Cowok paling cuek dan menyebalkan yang pernah ia temui.


"Kamu kenal sama cowok itu, Fa?" tanya Nafisa saat Syifa sampai di atas.


"Hah? Enggak. Yuk, masuk!" kilah Syifa.


Keduanya pun segera masuk ke dalam masjid untuk mengajar mengaji. Hari-hari berikutnya Syifa tidak pernah lagi bertemu Iqbal dilingkungan kampung Arab atau di mana pun. Mungkin saja Iqbal hanya sekedar lewat dan numpang salat di masjid waktu itu.


......................


Akhirnya kabar baik pun datang. Suami Nafisa memberi kabar pada abi Imron jika Nafisa telah melahirkan seorang anak perempuan. Syifa dan mamanya turut bahagia mendengarnya. Ilham yang saat itu tengah berada di rumah pun turut bahagia mendengar kabar baik itu. Mereka segera bersiap-siap menuju rumah sakit untuk menjenguk Nafisa dan bayinya.


Sesampainya di rumah sakit abi Imron dan mama Rosa terlebih dulu masuk menuju kamar Nafisa. Beliau langsung memeluk Nafisa dengan haru. Merasa bahagia melihat putrinya telah melahirkan seorang cucu perempuan untuknya. Ia yakin almarhum ummi Syarifah pasti turut bahagia melihat putrinya telah memiliki seorang anak.


Ilham dan Syifa menyusul di belakang membawa serta dua buah bingkisan yang sudah mereka beli demi menyambut ponakan baru. Di tengah jalan Ilham berhenti mendadak karena hampir saja ia terjerembab karena menginjak tali sepatunya.


Namun, beberapa detik kemudian ia justru tersungkur ke depan saat ada seseorang yang mendorongnya dari arah belakang.


Takk!


Sebuah handphone meluncur ke lantai dari arah belakang bersamaan jatuhnya Ilham.

__ADS_1


"Arrghh! Astaghfirullah ...!" pekik seorang perempuan.


..._______Ney-nna_______...


__ADS_2