
Sofia bercerita jika setelah bercerai dengan Edward, lima tahun kemudian Rosita menikah lagi dengan suami keduanya. Dan bercerai setelah sepuluh tahun menikah. Dua tahun kemudian Rosita menikah lagi dengan Anthony. Dan, usia pernikahan mereka sekarang sudah berjalan dua tahun. Dari ketiganya Rosita belum memiliki anak.
Kini Rosita sudah berusia 39 tahun sedangkan suaminya baru berumur 28 tahun. Mata pencaharian yang jalankan Rosita dan suaminya adalah bank keliling milik pribadi ke kampung-kampung. Mereka akan meminjamkan sejumlah dana kepada nasabahnya dengan bunga yang sudah ditentukan tanpa jaminan. Dan akan menagihnya setiap hari ke rumah-rumah mereka atau tempat usahanya. Sasarannya adalah pedang kecil dan ibu-ibu rumah tangga.
"Astaghfirullahaladzim!" pekik Syifa saat Rosa menceritakan hal itu kepadanya. "Ma, itu riba. Mulai dari pemilik dana, pencatat hingga peminjam semuanya berdosa. Karena itu adalah bisnis haram. Ma, Mama harus menasehati Tante Rosita!" tutur Syifa.
"Hal itu tidak mudah, Syifa. Aku tahu betul bagaimana tabiat Kakakku jika sedang dinasehati. Dia mudah marah dan tempramen," ujar Rosa yang nampak bingung.
"Tapi, Mama harus tetap menasehati tante, Ma. Seandainya tante Rosi sudah dinasehati tapi kembali melakukan itu, maka bukan salah kita. Mama coba dulu pelan-pelan, Ma," pinta Syifa.
"Baiklah, nanti Mama coba pikirkan bagaimana cara memberitahunya ...."
"Ma, aku ingin pulang! aku tidak nyaman tinggal di sini. Terlebih ada suami tante Rosita, Ma. Rasanya sangat canggung ketika serumah dengan laki-laki yang bukan muhrim," rengek Syifa.
"Iya Syifa, sabar dulu ya, Nak. Besok kita coba cari kontrakan yang tidak terlalu mahal!" tutur Rosa seraya memeluk putrinya untuk menenangkan.
"Aku merindukan rumah nenek Fatimah, Ma. Bagiku di sanalah rumahku!" tutur Syifa dengan sendu.
Rosa pun setuju dengan apa yang diutarakan putrinya. Ia pun merasa sangat nyaman ketika berada di antara sesama muslim. Ia menyadari jika hikmah dibalik kemalangan yang pernah menimpanya dulu adalah ia menemukan Allah yang sesungguhnya. Jika tidak mungkin sampai sekarang ia masih menjadi kafir.
Hadirnya Syifa pun adalah karunia yang telah Allah berikan kepadanya. Tidak semua wanita beruntung bisa mengandung seorang anak dari rahimnya. Jika ada yang tega membuang anaknya atau membunuh janinnya karena hamil di luar nikah, sungguh perempuan itu telah menyia-nyiakan anugerah yang Allah berikan. Dan tentunya dosanya akan semakin besar.
Karena Syifa, ia tetap tegar menjalani hidupnya. Syifa adalah satu-satunya harta titipan dari Allah yang diamanahkan untuknya. Dan ia bangga bisa melihat putrinya tumbuh menjadi anak yang salihah.
......................
Di sepertiga malam Syifa terbangun dari tidurnya. Dia hendak melaksanakan mengambil wudhu untuk melaksanakan salat tahajud. Syifa keluar dari kamar dan menuju kamar mandi yang terletak di belakang dekat dapur.
Betapa terkejutnya Syifa saat melihat Anthony keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Syifa segera memalingkan wajahnya.
"Mau ke kamar mandi juga? Silakan!" ujar Anthony dengan ramah.
__ADS_1
Syifa hanya menganggukkan kepala dan terus menunduk tanpa melihat pada lawan bicaranya.
Sepeninggal Anthony, Syifa kemudian masuk ke dalam kamar mandi itu. Di rumah ini hanya ada satu kamar mandi. Sehingga mau tidak mau mereka harus berbagi kamar mandi.
Seusai mengambil wudhu Syifa segera kembali ke kamarnya dan menunaikan salat. Usai salat Syifa mengaji untuk menunggu waktu subuh.
Ditengah-tengah mengaji tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Syifa berpaling melihat ke arah pintu dan mengernyit heran. Perlahan kemudian ia bangkit dari duduknya dan beranjak menuju pintu. Saat pintu terbuka ternyata tantenya yang berada di balik pintu dengan baju yang sangat tipis dan bahu yang terbuka yang panjangnya tidak seberapa.
"Tante, ada apa?" tanya Syifa.
"Syifa, kamu sedang apa malam-malam begini?" tanya Rosita dengan raut wajah yang tidak menyenangkan.
"Syifa sedang mengaji, Tante," jawabnya.
"Pergilah tidur, di luar masih gelap!" ujar Rosita kemudian kembali ke kamarnya seraya ngedumel yang tidak jelas.
Syifa hanya bisa menghela napas beratnya dan mengurut dadanya perlahan. Setelah itu Syifa kembali mengaji namun dengan suara yang sangat pelan. Sebab mau tidur lagi pun tidak mungkin. Hanya tinggal beberapa menit menuju waktu subuh.
......................
Sejumlah orang yang mereka temui menatap penuh tanya pada Rosa dan Syifa. Ada pula yang terlihat berbisik-bisik di belakang.
"Mbak ini warga baru, ya? Tinggal di mana?" tanya si pemilik warung.
"Di rumah ibu Sofiya, Bu," jawab Rosa apa adanya.
"Oalah rek, saudaranya mbak Rosi, ta? Pantes aja mirip sekali wajahnya ...," ujarnya.
Rosa hanya mengangguk pelan seraya tersenyum menanggapinya. Usai berbelanja mereka segera memasak. Sedangkan Rosita belum nampak keluar dari kamarnya.
"Syifa, coba lihat nenekmu! jika nenek sudah bangun bawa nenek ke luar agar beliau bisa menghirup udara pagi yang segar!" perintah Rosa.
__ADS_1
"Baik, Ma!" ujar Syifa.
Syifa pun bergegas menuju kamar neneknya.
Tok tok tok.
"Nek, ini Syifa!" ujarnya.
"Masuk, Syifa!" sahutan dari dalam.
"Nenek sudah bangun? Kita keluar yuk, Nek!" ajak Syifa pada wanita tua yang masih terlihat cantik meski dengan banyak kerutan di wajahnya.
Sebelum membawa neneknya keluar , Syifa mengelap tubuh neneknya dan memakaikan sweater yang hangat agr neneknya tidak kedinginan. Lalu, Syifa mendorong kursi roda neneknya menuju teras rumah. Udara pagi yang segar membuat suasana hati menjadi cerah. Kicauan burung bersautan terbang di antara pepohonan. Perlahan-lahan sinar mentari pun muncul dari balik awan.
"Syifa, terima kasih telah membawa nenek keluar. Nenek sangat bosan berada di kamar terus," ujar nenek Sofiya.
"Iya, Nek. Syifa juga senang bisa mengajak Nenek keluar."
Cuaca pagi itu sangat cerah dan matahari bersinar dengan terangnya. Syifa mendorong kursi roda itu hingga ke halaman agar nenek bisa berjemur di bawah sinar matahari untuk menghangatkan tubuh.
"Syifa, tidak adakah yang ingin menikahi Mamamu?" tanya nenek Sofia.
"Dulu, kata nenek Fatimah pernah ada beberapa kali yang datang melamar mama, tapi mama selalu menolaknya. Syifa pun tidak pernah tahu tentang papa Syifa. Mama tidak pernah bercerita pada Syifa. Apa Nenek tahu siapa papa Syifa, Nek?" tanya Syifa penasaran. Ia yakin neneknya pasti tahu.
"Kamu sudah dewasa, Syifa. Kamu berhak tahu. Tapi Nenek tidak tahu bagaimana mempertemukan kalian. Semenjak sakit, Nenek sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya. Dulu dia sering datang untuk menanyakan kabar tentang mamamu. Meskipun caranya salah, tapi sesungguhnya dia sangat baik dan sangat mencintai mamamu. Nenek lah yang bersalah dalam hal ini!" tutur nenek Sofiya dengan isak tangis.
"Mama, kenapa?" tiba-tiba Rosa muncul dari arah belakang.
"Tidak apa-apa, Ros. Aku hanya sedih saat mengenang masa lalu!" kilah nenek.
"Sarapannya sudah siap, ayo Ma aku suapi makan!" ujar Rosa kemudian mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
..._______Ney-nna_______...