
"Aku memang tidak akan peduli padamu setelah kamu menjelaskan hal ini padaku!" ujar Syifa lalu menaruh jaket almamater yang tadi dibawanya kehadapan Iqbal.
Iqbal seketika terkesiap dibuatnya. Bagaimana tidak, ia tidak menyangka jika Syifa masih menyimpannya dengan baik barang miliknya yang terpaksa ia tinggalkan saat itu. Padahal seharusnya dengan bukti itu Syifa bisa saja saat itu melaporkan dirinya ke polisi atas tindakan percobaan pelecehan. Karena itulah ia pindah dari kota kelahirannya itu.
Iqbal beralih melirik kerah Syifa yang tengah memandangnya tajam dengan mata yang berkaca-kaca. Iqbal sejenak merasa tidak tega dengan gadis malang itu. Tapi ...
"Aku tidak tahu apa yang kamu tanyakan!" ujar Iqbal dengan wajah datar setelah mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Bohong! Kamu pasti ada di sana saat kejadian waktu itu, kan? apa yang terjadi padaku saat aku tidak sadarkan diri? Dan mengapa jaketmu ini yang menutupi tubuhku?" cecar Syifa dengan terisak.
"Jaketku hilang! Dan, aku tidak paham dengan apa yang kamu katakan!" kilahnya.
Syifa semakin terisak mendengar jawaban dari Iqbal. Syifa lalu berlari ke luar untuk meluapkan kesedihannya.
Syifa merasa kecewa mendengar jawaban dari Iqbal. Ia yakin jika Iqbal mengetahui sesuatu, tapi Iqbal terus saja menyangkalnya. Syifa merasa sangat sedih karena hal ini turut membangkitkan rasa rendah dirinya kala mengingat apa yang menimpanya saat itu.
Setelah merasa cukup tenang. Syifa kemudian memutuskan untuk pergi ke musala untuk melaksanakan salat sunnah agar hatinya merasa tenang. Ia ingin mengadu kepada Sang Pencipta atas kegelisahan di hatinya.
Sementara di ruang rawat inap, Iqbal nampak tengah menelepon seseorang.
"Sekarang!" ujarnya pada seseorang di seberang telepon.
................
Setelah merasa cukup beristirahat, Edward beranjak bangun. Tidur selama satu jam cukup membuatnya merasa segar dan mengobati rasa kantuknya.
Edward lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak berapa lama ia sudah nampak rapih dengan stelan kemeja putih dan celana bahan hitam panjang. Tidak lupa ia menyemprotkan parfum Georgio Armany Di Gio ke tubuhnya sebagai penyempurna penampilannya.
Setelah mematut diri di depan cermin Edward pun keluar dari kamarnya dan beranjak menuruni tangga menuju dapur.
Sesampainya di dapur Edward melirik ke arah dapur yang menampakkan seorang wanita yang tengah berdiri di depan wastafel membelakanginya.
__ADS_1
"Ekhm ...!" Edward berdehem untuk memberitahukan keberadaannya secara tidak langsung. "Maaf, bisakah Anda membuatkan saya kopi?" tanyanya kemudian.
Deg.
Suara itu! batin Rosa.
Merasa familiar dengan suara itu, Rosa seketika berbalik ketika mendengarnya.
Pyarr.
Rosalina terkesiap dengan sosok yang dilihatnya saat ini. Mangkuk yang berada di tangannya tanpa sadar terlepas dan terjatuh ke lantai hingga pecah, tatkala Rosa terkejut melihat sosok pria yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Rossa!" pekik Edward dengan mata membola tak kalah terkejutnya dengan wanita itu.
Keduanya saling tatap dengan pandangan tak percaya. Sesaat waktu seolah berhenti dan keduanya larut dengan pemikiran masing-masing.
Sepersekian detik Edward segera tersadar dan segera melangkah mendekat ke arah Rosalina berada.
"Kak, bagaimana kamu ...." Rosa menggantungkan kata-katanya. Ia tidak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya.
Bagaimana jika Bu Mia tahu akan hal ini, ya Allah! gumam Rosa di dalam hati.
"Rosa, menyingkirlah dari tempat itu! awas ... hati-hati terkena pecahan beling!" ujar Edward dengan cemas.
Rosa menggeleng. "Kau yang harus menjauh, Kak. Ini adalah tugasku untuk membereskannya!" tuturnya.
"Oke ... oke ..., berhati-hatilah!" Edward sedikit mundur tanpa mengalihkan pandangannya dari Rosa. Ia menatap sendu pada Rosa yang tengah membereskan pecahan beling itu dengan sapu dan pengki di tangannya dengan raut mukanya yang terlihat gelisah.
Mengapa dunia sempit sekali? Mengapa harus Rosa yang menjadi ART di rumahku sendiri? bahkan ia sangat layak menjadi Nyonya di rumah ini, bukan asisten rumah tangga untuk istriku! batin Edward.
Begitupun dengan Rosa, ia tidak fokus. Pikirannya jauh melanglang ke mana-mana memikirkan hal buruk yang mungkin saja terjadi pada dirinya maupun dengan Syifa kedepannya. Ia jelas tahu jika selama ini Mia tengah memendam rasa kecewanya pada suaminya yang terlalu sibuk hingga tidak ada waktu untuk keluarga. Itu artinya Edward lah yang membuat Mia dan anak-anaknya merasa terabaikan. Dan alasan Edward mengabaikan keluarganya adalah karena ia terlalu sibuk dengan Syifa.
__ADS_1
Rosa tidak sanggup membayangkan jika hal ini nantinya diketahui oleh Mia. Ia khawatir jika Mia salah paham terhadapnya dan juga pada Syifa. Ia tahu betul jika selama ini Edward masih menyembunyikan kebenaran dari Mia. Suatu kebohongan pastinya akan berdampak buruk jika kebohongan itu terungkap.
Jika Mia salah paham, ia dan Syifa pasti akan terkena imbasnya.
Usai membersihkan pecahan beling itu, Rosa kembali ke dapur. Dilihatnya Edward yang tengah duduk di meja makan dengan wajah tertunduk dengan pandangan lesu ke arah meja di hadapannya.
"Rosa, kita harus bicara!" ucapnya. Pandangannya seketika beralih ketika melihat Rosa sudah kembali.
"Keadaan ini sangat rumit, Kak. Dan, akan bertambah kacau dengan ketidak jujuranmu selama ini pada istrimu. Aku tahu selama ini istrimu sangat kecewa pada sikapmu akhir-akhir ini yang mengabaikan keluargamu. Lantas bagaimana ketika istrimu tahu jika selama ini alasan kamu mengabaikan mereka adalah karena kamu tengah sibuk memperhatikan Syifa. Seorang anak dari masa lalumu yang tengah kamu sembunyikan keberadaannya dari keluargamu saat ini?!" tutur Rosa panjang lebar.
"Aku tahu ini adalah salahku, Rosa. Kamu jangan khawatir ... aku akan berusaha untuk menyelesaikan masalah ini dengan caraku!" tutur Edward.
"Jangan kamu menutupi kebohongan dengan kebohongan yang lainnya, Kak! Kamu harus berkata yang sesungguhnya pada istrimu, Kak. Kenyataan ini pasti cukup sulit untuk dia terima, namun jika kakak sampai berbohong lagi aku tidak akan segan melarang kamu bertemu dengan Syifa lagi, Kak!" ujar Rosa.
"Ada apa ini?" tanya Mia yang baru saja datang. Ia melihat ke arah Rosa dan suaminya secara bergantian.
................
Sementara di rumah sakit, usai kembali dari musala Syifa dibuat terkejut karena ia tidak menemukan Iqbal di atas tempat tidurnya.
Syifa beralih mencari ke dalam toilet. Namun, toiletnya pun kosong. Syifa bergegas menuju tasnya yang tadi ia tinggalkan. Dan betapa terkejutnya Syifa saat menyadari jika jaket almamater milik Iqbal yang tadi dibawanya pun tidak ada di dalam tasnya. Ia justru mendapat sebuah amplop coklat berisi uang yang cukup besar nilainya di dalam tasnya.
"Kemana dia? apa dia kabur?" gumam Syifa dan mulai bingung.
Syifa pun segera mengkonfirmasi pada pihak rumah sakit atas hilangnya Iqbal. Dari CCTV tidak terlihat Iqbal keluar dari rumah sakit. Namun setelah dilakukan pencarian pun tidak ditemukan keberadaan Iqbal di mana pun.
Syifa lantas membayar kekurangan biaya rawat inap Iqbal seusai operasi dengan uang yang ia temukan di dalam tasnya tadi. Sedangkan biaya operasi sudah dibayarkan oleh Edward sebelumnya. Namun uang yang ia temukan di dalam tasnya yang di duga dari Iqbal itu, lebih dari jumlah biaya keseluruhan perawatan Iqbal selama berada di rumah sakit ini.
"Kamu pasti selama ini berpura-pura Iqbal. Bisa-bisanya kamu kabur dengan membawa jaket itu, aku semakin yakin jika kamu sesungguhnya mengetahui sesuatu dari peristiwa yang menimpaku saat itu!" gumam Syifa lirih.
Syifa melihat data pasien milik Iqbal yang terlampir bersama kwitansi pelunasan biaya perawatan Iqbal. Mata Syifa berbinar tatkala menemukan sebuah petunjuk di sana.
__ADS_1
"Aku pasti menemukanmu!" gumam Syifa sembari menarik sudut bibirnya yang tertutup cadarnya.
...______Ney-nna______...