
Air mata Antika pun luruh. Sekarang ia tahu betapa pedihnya hati ayahnya kala itu. Dan betapa susahnya beliau ketika ditinggalkan oleh sang istri terlebih harus mengurus anaknya seorang diri.
Antika bertanya-tanya mengapa ibunya tega meninggalkannya. Kemarin saat ibunya menemuinya di kampus, ibunya hanya mengatakan jika ia terpaksa harus bercerai dengan ayahnya. Dan, ayah Antika tidak mengijinkan untuk membawanya. Lantas selama ini ke mana saja ibunya?
Keesokkannya seperti biasa ia memasakkan sarapan untuk ayahnya. Namun, terlihat masih utuh hingga menjelang siang. Rupanya ayah pergi tanpa sarapan. Antika merasa bersalah karena telah menguak kembali luka lama ayahnya.
Antika kemudian bersiap hendak pergi ke kampus. Saat ia sampai di dekat jalan raya, ibunya menghentikannya.
"Antika, tunggu!" seru wanita paruh baya itu mengalihkan perhatiannya ke sisi jalan yang hampir dilewatinya.
"Ibu!" pekik Antika segera menepikan sepeda motornya. Ia turun kemudian mendekat ke arah ibunya.
"Ibu. Assalamu'alaikum. Ada apa, Bu?" tanyanya seraya mencium punggung tangan ibunya.
"Waalaikumsalam. Ini Ibu masakin bekal makan siang yang ibu buat khusus untukmu. Di makan ya!" ujarnya seraya menyerahkan sebuah lunch bag ke hadapan Antika.
"Terima kasih, Bu. Ibu, bisa kita bicara sebentar!" pinta Antika.
Sejenak ia terdiam melihat pada putrinya itu. "Baiklah, ayo!"
Ibu Antika masuk ke dalam mobil mewahnya. Lalu, menyuruh sopirnya untuk mengikuti ke mana Antika pergi.
Tak jauh dari tempat semula, Antika lalu berhenti di depan sebuah cafe. Ia memarkirkan motornya kemudian segera turun untuk menuggu ibunya. Ia memperhatikan ibunya yang tengah menuruni mobil mewahnya itu. Dia tidak menyangka jika ia terlahir dari wanita seperti itu. Yang terlihat cantik dan elegan meski usianya sudah tidak muda lagi.
Semua yang dikenakannya terlihat jelas bahwa itu adalah barang-barang mahal. Bisa dipastikan bahwa ibunya merupakan kalangan berada. Bertolak belakang dengan kehidupannya dengan ayahnya yang cukup sederhana.
__ADS_1
Mereka kemudian masuk ke dalam cafe itu bersama.
Antika memperhatikan raut wajah ibunya yang terlihat senang saat bersamanya membuatnya merasa di sayangi.
"Ibu, apa keluarga ibu tahu aku?" tanya Antika membuka suara.
Senyum di wajah ibunya nampak pudar. Bisa dipastikan jika ibu pasti merahasiakan masa lalunya dari keluarganya yang sekarang.
"Em, ibu belum bercerita pada mereka. Tapi ibu janji nanti jika waktunya sudah tepat ibu akan mengenalkanmu pada anak-anak ibu yang lain," tuturnya.
"Iya, tidak usah dipaksakan jika itu berat bagi ibu. Aku juga tidak ingin menjadi beban bagi Ibu. Bisa mengetahui seperti apa ibu yang melahirkanku saja aku sudah bersyukur!" tutur Antika menohok.
"Antika, percayalah bahwa ibu sangat menyayangimu. Meskipun kita berada di tempat yang jauh tapi ibu selalu mendoakanmu!" tutur ibu Antika dengan sendu.
"Entahlah, Bu. Sejak kecil aku tidak pernah tahu rasanya kasih sayang seorang ibu! Yang Antika tahu hanya ayah yang suka mengomel dan kasar tapi aku tahu dibalik semua itu ayah sangat menyayangiku!" ucapnya getir.
Ibu Antika mulai terisak mendengar perkataan Antika yang sangat mirip dengan ayahnya. Selalu blak-blakan dan apa adanya. Rasanya sangat perih mendengar secara langsung bahwa putrinya itu kecewa padanya.
"Antika, Ibu tahu ibu memang bersalah padamu. Kamu pasti merasa Ibu tega meninggalkanmu. Tapi, semua itu terpaksa ibu lakukan demi menolong orang tua ibu."
"Awalnya ibu terdesak untuk bercerai dengan ayahmu karena desakan dari orang tua Ibu. Ibu tahu orang tua Ibu keterlaluan memperlakukan ayahmu yang saat itu keadaan perekonomian kami sedang sulit. Namun orang tua ibu terus menuntut banyak hal. Akhirnya kami menjadi sering bertengkar karena ayahmu tidak bisa mencukupi kebutuhan kami. Orang tua ibu memaksa Ibu agar bercerai dengan ayahmu."
"Terlebih ternyata orang tua Ibu terbelit hutang yang sangat besar pada seorang saudagar kaya. Ibu dipaksa untuk menikah dengannya sebagai ganti untuk melunasi hutang-hutang orang tuaku. Dan, setelah menikah ke mana pun ibu pergi akan ada pengawal yang mengikuti. Karena itulah ibu tidak bisa menemuimu!"
"Dan, sekarang suami ibu tengah sakit yang cukup serius, makanya ibu bisa menemui kamu. Namun, anak-anak Ibu, mereka belum tahu tentang masa lalu Ibu, karena sejak awal suami ibu melarang untuk bercerita tentang masa lalu ibu. Suatu saat ibu akan tetap jujur pada mereka jika waktunya sudah tepat!" tutur ibu antika sembari terisak.
__ADS_1
Antika sekarang mulai mengerti keadaan ibunya yang serba sulit. Ia menjadi kasihan juga mendengar cerita ibunya. Ibunya pun tidak sepenuhnya salah. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Dia harus menukar dirinya demi melunasi hutang-hutang orang tuanya pada seorang saudagar kaya. Rupanya ibunya pun mengalami penderitaan juga.
"Ibu, mulai sekarang kita mulai lembaran baru kita. Kita tidak perlu memaksakan diri harus bersama. Ibu tetap bersama keluarga Ibu dan aku tetap tinggal dengan ayah. Walaupun tidak tinggal bersama tapi kita bisa tetap saling menyayangi dan saling support. Apa pun yang terjadi ibu tetaplah ibuku!" tutur Antika seraya menggenggam telapak tangan ibunya.
"Terima kasih, Sayang. Karena sudah mengerti keadaan, Ibu!"
"Iya, Bu! Antika harus ke kampus, Bu. Lain kali kita bertemu lagi jika Ibu senggang. Berapa nomor handphone ibu?" Antika menjulurkan handphonenya ke hadapan ibunya.
Ibu Antika mengambil handphone Antika dan segera menyimpan kontaknya dan menuliskan namanya.
Ibuku Purbasari.
"Baiklah, Sayang! Jika ada apa-apa beritahu ibu ya, Nak. Ibu menyayangimu!" ujar ibu Antika seraya mengembalikan handphonenya.
"Iya, Bu!" ujar Antika beranjak berdiri dan memeluk ibunya dengan erat. Setetes air matanya pun lolos begitu saja dari sudut matanya. Setelah itu ia berpisah dengan ibunya. Antika pergi ke kampus dan ibunya pulang ke rumahnya.
......................
Di tempat lain Syifa tengah berada di atas kereta menuju ke Surabaya. Kota kelahiran mamanya. Ya, mereka memutuskan untuk pergi ke Surabaya setelah tiga hari berturut-turut Rosa bermimpi bertemu dengan mama kandungnya.
Sudah sembilan belas tahun ia meninggalkan rumahnya dan tidak pernah bertemu dengan keluarganya. Perasaannya sekarang campur aduk antara rasa rindu yang mendalam pada mamanya, dan rasa kesal jika harus bertemu dengan kakaknya yang telah membuatnya jauh dari mamanya tanpa mendengar apa yang sesungguhnya terjadi waktu itu.
Namun, Rosa berharap tidak akan bertemu dengan kakak iparnya. Laki-laki yang sudah merenggut kesuciannya dan merusak masa depannya.
Tak terasa kereta yang mereka tumpangi sudah sampai di stasiun. Syifa dan mamanya segera turun. Rosa terdiam sejenak mengingat masa lalunya.
__ADS_1
Kakanya yang gelap mata setelah melihat suaminya berada di kamarnya melakukan aktifitas hina itu, Rosita langsung mengasingkan saudara kembarnya itu ke kota yang asing bagi Rosalina. Saat itu ia langsung di seret dengan paksa oleh kakaknya itu untuk naik ke kereta. Tanpa sepengetahuan mamanya. Hingga Rosalina terdampar di kampung Arab dan bertemu seorang laki-laki yang menolongnya sebelum ia dipertemukan dengan nenek Fatimah.
..._______Ney-nna_______...