
Saat Rosa keluar dari rumah Mia, bertepatan dengan hal itu Edward tiba sepulang dari kantornya. Melihat Rosa keluar dari rumahnya dengan tergesa-gesa, dan dengan mata sembab, Edward segera keluar dari mobil dan menghampirinya.
"Ros, kamu mau ke mana?" tanya Edward seraya mencekal lengan tangan Rossa.
"Aku mau pulang. Sebaiknya kamu segera masuk dan jelaskan apa yang sesungguhnya terjadi diantara kita kepada istrimu, Kak. Sebab karena kebohongan yang kamu ciptakan kini istrimu salah paham terhadapku!" tutur Rosa dengan menahan rasa kesal terhadap laki-laki di hadapannya itu.
"Maksudmu ... Mia sudah tahu?" tanya Edward yang terkesiap dengan perkataan Rosa.
"Ya. Aku juga tidak tahu dari mana ia tahu, tapi saat dia pulang dia langsung marah-marah dan salah paham kepada ku. Tapi semua itu wajar mengingat apa yang telah kamu sembunyikan darinya. Pantas saja jika dia marah. Karena kamu sungguh keterlaluan, Kak!"
"Sekarang, aku mohon kepadamu, Kak ... tolong jelaskan yang sesungguhnya terjadi kepada istrimu. Agar semuanya jelas. Jika tidak, aku terpaksa akan melarangmu untuk menemui Syifa lagi. Sebab, aku tidak mau Syifa terkena imbasnya!" ucap Rosa dengan nada meninggi. Rosa lalu beranjak pergi tanpa menunggu tanggapan dari Edward.
Edward menghela napas beratnya sembari melihat dengan sendu ke arah punggung Rossa yang semakin menjauh. iya merasa bersalah karena Rossa terkena imbas dari perbuatannya.
Setelah Rosa menghilang dari pandangan, Edward lalu beranjak ke dalam rumah untuk menemui istrinya.
Mia langsung memberondong Edward dengan berbagai pertanyaan yang sejak tadi berkecamuk di dalam benaknya. Amarahnya tak bisa dibendung lagi saat menyadari bahwa suaminya telah berbohong. Pertengkaran di antara mereka pun tak bisa terelakkan. Karena Mia tentunya tak mudah percaya apa yang dikatakan suaminya itu lagi.
__ADS_1
"Kita adalah suami istri, Mas. Seharusnya kamu mengatakan semua itu kepadaku sejak awal! Tidak seharusnya kamu menutupi hal itu dariku! aku berhak tahu tentang masa lalumu. Apalagi kamu sampai memiliki anak dari wanita lain. Apa kamu tidak memikirkan betapa sakitnya aku mengetahui hal ini? kamu sudah menodai kepercayaanku dengan kebohonganmu itu. Bahkan karena hal itu akhir-akhir ini kamu sampai mengabaikan aku dan anak-anak kita. Sebegitu pentingnya kah anak haram itu melebihi rasa sayangmu kepada kami, hingga kamu selalu mengedepankan kepentingannya dan memilih terus membuat anak-anak ku kecewa? padahal kami lah keluargamu yang sesungguhnya, Mas!" seru Mia melupakan seluruh amarahnya pada Edward.
"Mia ... Aku tahu kamu sangat terluka akan hal ini. Tapi, tidak seharusnya kamu mengatainya anak haram. Akulah yang salah dalam hal ini. Tolong jangan memusuhi mereka. Dia dan Rosa sama sekali tidak bersalah. Rosa tidak tahu jika aku adalah suamimu. Dia bekerja di sini murni keinginannya untuk bekerja agar mandiri. Dia tidak mau memanfaatkan aku sepenuhnya. Dia bahkan tidak pernah menuntut pertanggungjawaban dariku atas anak itu. Akulah yang ingin memberikan sedikit tanggungjawab ku pada anakku dengan membiayai kuliahnya. Aku sendiri yang ingin melakukannya tanpa ada paksaan dari siapa pun untuk bertanggung jawab pada anakku. Akulah yang salah karena menunda untuk mengatakan hal ini padamu. Aku hanya mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya!" seloroh Edward dengan perlahan untuk menenangkan istrinya.
"Cukup, Mas! Semakin kamu terus membelanya membuatku semakin merasa sakit hati, Mas. Aku semakin merasa tidak berharga di matamu. Sikapmu akhir-akhir ini pun menunjukkan bahwa kamu lebih menyayanginya daripada anak-anak kita!" tutur Mia.
"Tidak, Mia. Itu hanya perasaan mu saja. Sayangku pada mereka sama. Hanya saja yang saat ini urgent adalah keadaannya. Belasan tahun mereka hidup dalam kemiskinan karena diusir dari keluarganya atas kesalahanku. Dengan memberinya uang tak akan sebanding dengan penderitaan mereka selama ini hidup dalam kemiskinan dan serba kekurangannya. Kamu salah paham terhadap mereka Mia, tolong mengertilah dengan keadaan mereka. Aku tidak condong terhadap siapapun. Kalian semua sama pentingnya bagiku, kalian adalah keluargaku dan aku menyayangi kalian semua. Tolong terimalah dia sebagai darah dagingku. Karena aku tidak mungkin untuk memungkiri kehadirannya dalam hidupku. Tolong terima dia sebagai darah dagingku ya? aku berjanji untuk selanjutnya aku tidak akan menutupi apapun darimu!" tutur Edward.
"Kamu yakin, Mas? kamu tidak akan berbohong lagi padaku? kalau begitu tolong jawab pertanyaanku kali ini dengan sejujur-jujurnya. Apa kau masih memiliki rasa kepada ibunya? kamu masih mencintai Rossa?" tanya Mia seraya memandang lekat ke arah mata Edward.
"Tolong, katakan sejujurnya, Mas! kali ini aku mohon jangan ada kebohongan lagi di antara kita!" ucap Mia lagi dengan lantang.
"Mia, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Kedepannya aku janji aku tidak akan mengabaikan kalian lagi. Aku sangat mencintai kamu dan juga anak-anak kita. Aku pastikan kehadiran Syifa tidak akan mengganggu keluarga kita. Aku akan berusaha adil untuk membagi kasih sayangku kepada kalian semua dengan rata!" Edward tidak menjawab pertanyaan Mia. Ia justru mengalihkan pembicaraan dengan sebuah permohonan.
"Tolong jangan mengalihkan pembicaraan! Jawab pertanyaanku, Mas!" pinta Mia. "Apa kamu masih mencintai Rosa, Mas?" tanya Mia.
"A-aku ... aku memang merasa iba padanya, karena aku yang telah menyebabkannya hidupnta menderita selama ini. Dan aku dihantui rasa bersalah karena telah membuat masa depannya hancur. Jujur aku ingin bertanggung jawab padanya juga, aku ingin melindunginya ...," ucap Edward dengan gugup.
__ADS_1
"Melindungi seperti apa, Mas? tolong jangan berbelit-belit. Yang kamu maksudkan adalah kamu ingin menikahinya begitu?" tanya Mia yang semakin tidak sabaran.
"Mungkin, bisa dibilang begitu. Aku tidak tega melihatnya mencari nafkah seorang diri, aku ingin membuatnya bahagia dan menukar penderitaan yang ia lalui dahulu dengan kebahagiaan," ujar Edward dengan lirih.
"Lalu menukar kebahagiaanku dan anak-anakmu dengan penderitaan, begitu? iya Mas? aku benar-benar kecewa padamu, Mas. Sampai kapanpun aku tidak mau berbagi suami dengan perempuan lain! jika kamu melakukan itu kepadaku lebih baik kamu ceraikan aku saja!" Mia mengusap air matanya dengan kasar lalu dengan cepat menyambar tas selempangnya yang tergeletak di atas tempat tidur.
"Mia, bukan seperti itu yang aku maksudkan! Mia ... kamu mau ke mana?" tanya Edward panik karena Mia terlihat seolah akan pergi.
"Aku butuh waktu untuk sendiri, Mas. Aku mau menenangkan diri di rumah orang tuaku!" ujar Mia lalu menyambar kunci mobilnya yang terletak di atas nakas. Lalu ia menuju keluar dari kamar itu.
Edward mengejarnya dari belakang dan mencoba untuk membujuknya agar tidak meninggalkan rumah. Namun, Mia memaksa untuk tetap pergi.
......................
Sementara Syifa setelah kepergian Mia, ia terus merasa sedih. Ia yakin istri papanya itu pasti sangat terluka mengetahui kenyataan yang terjadi di masa lalu suaminya. Ia merasa bersalah terhadap Mia dan anak-anaknya. Kini Syifa merasa semakin insecure pada sosok laki-laki.
..._______Ney-nna_______...
__ADS_1