Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Di rumah sakit


__ADS_3

Syifa menunggu dengan perasaan cemas di koridor rumah sakit bersama dengan seorang wanita paruh baya yang tengah menggendong anaknya. Sementara di dalam ruang UGD, seorang laki-laki terbujur di salah satu brangkar rumah sakit dengan luka di beberapa bagian tubuhnya.


Tak berapa lama Edward muncul dari ujung koridor dengan berjalan tergesa-gesa. Melihat itu Syifa merasa lega karena akhirnya papanya datang juga.


"Papa ...!" serunya saat Edward menghampirinya.


"Syifa, kamu tidak kenapa-napa, kan?" tanya Edward dengan nafas yang memburu.


"Syifa baik-baik saja, Pa!"


"Ini ... kenapa dengan telapak tanganmu?" tanya Edward saat melihat ada sedikit lecet di telapak tangan Syifa.


"Hanya lecet sedikit, Pa. Sudah diobati. Tapi yang di dalam sepertinya lukanya serius dan harus segera dioperasi, Pa," tutur Syifa dengan pilu.


"Keluarganya belum datang?" tanya Edward memastikan.


"Syifa juga tidak tahu, Pa. Sejak tadi belum ada yang datang mencarinya. Syifa juga belum berbicara dengannya karena dia di dalam masih dalam tindakan oleh dokter," ujar Syifa.


Edward menghela nafasnya pelan. Sedikit lega sebab setidaknya putrinya baik-baik saja.


"Memangnya bagaimana kejadiannya?" tanya Edward.


Flashback On ...


Seorang balita yang umurnya kira-kira kurang dari tiga tahun berjalan cepat dari trotoar menuju ke tepi jalan. Entah di mana orang tuanya, Syifa tidak melihatnya.


Syifa yang saat itu tengah menunggu bus di halte tanpa sengaja melihatnya. Syifa seketika berdiri lalu berlari ke arah balita itu berada. Sebab ia tidak melihat ada orang dewasa di sana yang terlihat hendak menolongnya.


Sekuat tenaga ia berlari dengan kencang saat melihat balita itu perlahan-lahan berjalan menuju ke tengah jalan saat melihat sebuah benda jatuh di tengah jalan berbentuk bulat kecil yang berkilau.


"Dek, awas! kemarilah!" teriak Syifa sembari terus berlari.

__ADS_1


Mendengar teriakan dari Syifa, balita itu pun menoleh, namun bukannya kembali ia malah setengah berlari menuju ke tengah jalan tanpa menghiraukan teriakan dari Syifa.


Saat hampir sampai, dengan sekuat tenaga Syifa berusaha menjangkau balita itu. Namun, ia terhuyung ke depan hingga lutut dan telapak tangannya menimpa pada aspal. Syifa mengulurkan tangannya dan segera meraih lengan balita itu dan menariknya ke dalam dekapannya.


Brakk.


Tepat di saat itu seorang pengendara motor jatuh ke ruas jalan hingga menabrak pembatas jalan.


Beruntungnya kendaraan di belakangnya segera mengerem dan berhenti sebelum menabrak pengendara motor itu. Syifa menduga pengendara motor itu terjatuh sebab ia hendak menghindari balita yang kini sudah berada di dekapan Syifa.


"Innalillahi wa inna illaihi rojiun!" pekik Syifa terkejut.


Terlihat beberapa orang berlari ke arah pengendara motor itu. Mereka segera menolongnya dan membawanya ke tepi jalan. Pria itu terlihat merintih kesakitan dan memegangi lengan tangan kanannya yang terluka. Darah segar terlihat membasahi bagian kemeja yang dikenakannya.


"Sayang! Syukurlah kamu baik-baik saja, Nak?" seru seorang wanita dengan isak tangis di kedua pipinya, mengambil alih balita itu dari Syifa dan membawanya ke dalam dekapannya.


Syifa tak dapat berkata apa-apa melihatnya. Yang jelas ia cukup shock dengan apa yang terjadi beberapa saat lalu.


"Terima kasih ya Mbak, sudah menolong anak saya!" ucap si ibu itu dengan rasa bersalah yang tergambar jelas di wajahnya.


Syifa merasa agak sedikit terasa perih di lutut dan telapak tangannya, kemungkinan ada luka. Namun Syifa tak mungkin mengeceknya saat ini di tempat umum begini. Ia hanya melihat sendu pada pengendara motor itu yang pasti lukanya jauh lebih parah.


"Anda, kemana saja? lihat itu akibat kelalaian Anda, pria itu menjadi korbannya!" celetuk seseorang yang turut menyaksikan hal tersebut.


"Maaf, saya tidak menyadari jika anak saya pergi terlalu jauh dari sisi saya!" ucap ibu itu dengan isak tangis di wajahnya. Orang-orang mulai terus mencibirnya.


Mendapati jika pengendara motor itu terluka, warga membawanya ke rumah sakit terdekat. Syifa turut serta untuk mendampingi ibu balia tersebut ke rumah sakit untuk bertanggung jawab.


"Mbak, saya tidak mampu untuk membayar biaya rumah sakitnya. Saya hanya seorang janda yang membesarkan ketiga anak saya seorang diri. Rumah saya jauh di pelosok desa, Mbak. Saya datang ke kota berniat mencari rumah kerabat saya, namun sudah pindah entah kemana," tutur ibu itu memelas.


Syifa tidak tega juga mendengar pengakuan ibu itu. "Ibu tenang dulu ya, saya akan mencoba mencari bantuan!" tutur Syifa.

__ADS_1


"Terima kasih, Mbak!" ujar ibu itu dengan mata masih berkaca-kaca. Sedangkan anaknya sudah terlelap di dalam gendongannya.


Flashback Off.


"Ya sudah, biar Papa yang mengurusnya. Ibu itu kamu suruh pulang saja. Dua anaknya yang lain tengah menunggunya di rumah bukan? sekalian berikan uang ini padanya!" perintah Edward seraya menyerahkan dua lembar uang dari dompetnya.


"Terima kasih, Pa!" Syifa menerima uang itu dan segera mendatangi ibu itu untuk menyampaikan pesan dari papanya.


Sementara Edward mencoba mencari tahu dari seorang perawat tentang kondisi pengendara motor tersebut. Rupanya pemuda itu adalah anak yatim piatu. Satu-satunya keluarga yang dimiliki adalah pamannya, namun tengah berada di luar negeri. Edward pun akhirnya mengurus administrasinya karena ia harus segera dioperasi di bagian lengan atasnya yang mengalami patah tulang.


Syifa dan Edward menunggui di rumah sakit itu hingga malam. Rosa turut hadir untuk mencari tahu apa yang terjadi.


"Kak, sebaiknya kau pulang. Biar aku dan Syifa yang menunggunya!" ujar Rosa.


"Tidak, kau saja dan Syifa yang pulang. Biar aku yang berjaga!" kekeuh Edward.


"Baiklah nanti setelah operasinya usai kami akan pulang," ujar Rosa.


"Oh ya, Kak. Kemarin kamu menawari aku pekerjaan bukan? jika kamu tidak keberatan tolong carikan pekerjaan untuk kak Rosita saja. Aku tidak ingin dia menjalankan usaha simpan pinjam ke desa-desa lagi. Aku rasa pekerjaan itu kurang baik untuknya," tutur Rosa.


"Baiklah nanti aku pertimbangkan soal itu."


Pukul sembilan malam operasinya telah usai. Pemuda itu ditempatkan di ruang rawat jalan usai menjalani operasi patah tulangnya. Syifa dan mamanya masuk ke dalam untuk melihat keadaannya sebelum pulang.


Syifa mendekat hendak memastikan keadaannya. Pemuda itu nampak masih belum sadar karena pengaruh obat biusnya. Kening Syifa seketika mengkerut ketika melihat dengan seksama wajah pemuda itu.


Siapa dia ya? kenapa aku merasa tidak asing. Sepertinya aku pernah bertemu dengannya! gumam Syifa di dalam hati. Namun, ia masih belum bisa mengingatnya.


Setelah itu, Syifa dan mamanya berpamitan pulang ke rumah dengan menaiki taxi.


Di sela-sela menunggu itu, Edward menyempatkan untuk mengabari Mia, agar istrinya itu tidak khawatir.

__ADS_1


Edward merasa sangat bersalah pada istri dan anak-anaknya. Namun, saat ini kondisinya sedang tidak memungkinkan juga untuk menjelaskan semua hal pada Mia ditelepon.


...______Ney-nna______...


__ADS_2